Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
86. Mencari informasi


__ADS_3

Penyesalan selalu datang dari belakang, sekarang Anisa hanya perlu memikirkan soal Samuel dan mencari keberadaannya. Hingga ia rela menemui mertuanya yang ada di kota B, bersama dengan Yuda.


Perjalanan yang cukup melelahkan, tapi ketika sudah sampai di kediaman mama mertuanya. Rasa lelah itu pun hilang seketika karena Anisa tidak sabar untuk segera mencari informasi tentang keberadaan suaminya lewat mama mertuanya.


"Kak, apa nanti Mama akan ikut membenciku karena telah membuat Samuel pergi?" Yuda menatap dalam wajah Anisa, dengan usapan bahu yang diberikan berharap semua akan baik-baik saja.


"Kita masuk yuk," ajak Yuda dengan memberikan seulas senyuman tanpa menjawab pertanyaan adiknya.


Anisa pun memencet tombol yang berada di tembok. Dengan harapan jika mertuanya berada di rumah dan tidak berapa lama.


Terdengar suara langkah seseorang dan hal itu membuat Anisa sedikit merasa lega, karena kedatangannya tidak sia-sia dengan menempuh empat jam perjalanan.


Ceklek.


Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan usia yang masih muda. "Nona! Ini benar kan Nona Anisa?" tanya wanita yang bernama wato, seorang pembantu dari mertuanya.


"Iya Mbak, ini saya." Jawab Anisa dengan senyuman tipis.


"Alhamdulillah, mari Mas Yuda dan Non, silahkan masuk. Saya akan memanggil nyonya di kebun belakang," ucap Wati.


"Iya Mbak, makasih ya."


Setelahnya Wati masuk, Anisa dan Yuda duduk di ruang tamu sembari menunggu mertuanya keluar untuk menemuinya.


Sedangkan di halaman belakang, dengan langkah tertatih Wati sedikit menaikkan roknya. Agar memudahkan dirinya berjalan dan tidak kesusahan karena pastilah akan membuat terjerembab.


"Nyonya, Nyonya!" panggil Wati dengan suara nyaringnya.


"Wat, ada apa sih teriak-teriak!" ucap bu Susi dan langsung meletakkan cangkul yang ada di kedua tangannya.


"Ada nona di depan, Nya!"


Bu Susi mengerutkan keningnya karena Wati berbicara dengan tergesa-gesa.


"Wat, kamu itu ngomong yang jelas kenapa! Saya bingung yang kamu maksud itu siapa." Wati pun menghela napas karena majikannya tidak mengerti.


"Itu loh Nya, nona Anisa ada di depan–."


"Apa! Anisa."


Dengan secepat kilat bu Susi berlari demi bisa menyambut kedatangan Anisa secara tiba-tiba.


"Anisa!" Sesampainya di dalam bu Ning dibuat terharu karena Anisa mau datang ke rumah mertuanya. Dengan sangat antusias bu Susi langsung meraih tubuh menantunya dan memeluknya.


"Ma, Mama sehatkan?" tanya Anisa dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu Sayang, apalagi kalau ada kamu di sini. Oh ya, bagaimana kabar kamu juga dan apa ini artinya …." Bu Susi menjeda kalimatnya karena takut jika kata-katanya akan melukai hati Anisa.

__ADS_1


"Iya Tante, Anisa sudah sembuh." Yuda langsung ikut menyahut karena ia dapat melihat jika ibu angkatnya takut untuk mengeluarkan sebuah pernyataan.


"Yud, sampai kapan kamu akan memanggilku seperti itu?" ujar bu Susi karena Yuda belum pernah memanggilnya 'Mama' sedangkan bu Susi sendiri ingin panggilan tersebut.


"Rasanya aneh saja jika aku memanggil–,"


"Tidak ada penolakan, ini sudah berkali-kali bahkan ratusan yang kamu ucapkan. Untuk sekarang buang jauh panggilan itu!" seru bu Susi dengan penuh penegasan agar Yuda menurutinya.


"Baiklah, Mama." Walau sedikit keluh dan canggung. Setidaknya Yuda sudah berusaha untuk mengganti nama panggilan tante, menjadi 'Mama' dan seperti itulah keinginan bu Susi.


Setelah sedikit drama yang terjadi. Sekarang ketiganya duduk di ruang tamu dengan perasaan bahagia yang mengiringi seorang wanita tua yang bernama Ibu Susi.


"Ma, apa kabarnya Samuel?" untuk sejenak bu Susi menatap menantunya dengan sangat intens sebelum menjawab pertanyaan Anisa.


"Mama tidak tahu keberadaannya karena ponselnya tidak bisa dihubungi." Saat itu juga Anisa merasa frustasi karena tidak ada informasi sedikitpun yang didapatkannya, walau bu Susi ibu kandungnya kenyataannya beliau sendiri tidak tahu.


"Ma, jangan membohongiku! Aku tahu jika sekarang Mama sedang berbohong dan membuat seolah-olah tidak tahu tentang keberadaan Samuel." Dengan hari yang terluka Anisa mendesak bahwa bu Susi tahu dan sengaja membuat pernyataan palsu dan entah apa maksudnya itu dengan menutupi keberadaan Samuel.


"Mama tidak bohong An, satu bulan lalu Samuel sempat pulang dan itu pun tidak lama, setelah pulang dari makam Ameera ...." Ucapan itu menggantung karena bu Susi tidak sengaja keceplosan, tentang makam Ameera.


"Aku sudah tahu Ma, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan." Anisa mengungkapkan perihal siapa Ameera dan menjelaskan kalau dirinya sudah ikhlas atas kepergian anak yang dinanti, tapi lagi-lagi Tuhanlah yang berkehendak.


"Sampai sekarang belum ada pulang dan mama juga tidak tahu keadaan Samuel seperti apa," ucap bu Susi menjelaskan karena tidak mau dianggap pembohong.


Sia-sia sudah harapannya untuk mencaritahu dan sekarang yang ada dipikirannya. Harus mencari ke mana? Sedangkan Anisa tidak tahu Samuel ada di kota mana.


"Maafkan aku Ma, aku telah membuat Mama kecewa. Aku salah, aku telah menghancurkan hati semua orang aku ...." Tak sanggup lagi Anisa berbicara, dengan diiringi sebuah isakan ia terus meminta maaf.


"Tidak Sayang, semua manusia pernah berbuat salah. Mama sedikitpun tidak pernah menyalahkan kamu. Anggap semua ini sebagai ujian cinta kalian," balas bu Susi yang kini ikut menangis juga.


Sedangkan Yuda hanya bisa diam melihat dua orang berpelukan dengan dibasahi oleh air mata. Ia tidak tahu harus menenangkan dengan cara apa karena mungkin pikiran antara lelaki dan perempuan berbeda.


"An, ini sudah sore. Kita pulang!" ajak Yuda karena pada saat melihat jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Yud, kenapa kalian tidak menginap saja. Mama masih merindukan kamu dan Anisa," kata bu Susi.


"Ma, di rumah tidak ada siapa-siapa."


"Tolonglah kali ini saja. Besok kalian bisa pulang dan lagian kamu tidak capek membawa mobil dengan perjalanan empat jam," ucap bu Susi.


"Baiklah, kita akan menginap."


Akhirnya Yuda setuju dengan permintaan mama angkatnya, karena memang sedikit lelah. Menempuh empat jam perjalanan dari kotanya ke kota orang tua Samuel.


Keesokan paginya. Keduanya sudah bersiap akan pulang dan sekarang masih berada di meja makan, tapi … Anisa melihat ada yang kurang ketika ada menu kesukaannya yang kebetulan sama dengannya.


"Sayang, kenapa?" tanya bu Susi ketika melihat wajah lesu Anisa.

__ADS_1


"Ma, ini menu kesukaan Samuel, aku …." Anisa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kalimatnya yang begitu sangat menyiksa. Rasa sesal yang hadir kian membuat Anisa tak pantas mendapatkan lelaki sebaik Samuel.


"An, aku yakin jika Samuel di sana baik-baik saja. Kakak bisa memastikan kalau Samuel akan memaafkan semua yang telah kamu lakukan kepadanya. Jadi, sekarang makanlah untuk dapat berpikir ke depannya." Yuda ikut menimpali karena ia tidak mau jika Anisa terus bersedih.


"Betul An, apa yang dikatakan Yuda, kalau kamu harus makan untuk dapat berpikir akan rencana kedepannya seperti apa. Lagipula ini semua juga bukan kemauan kamu menjadi sekarang ini," sahut bu Susi.


Anisa menghela napas dalam-dalam karena merasa begitu berdosa, sudah menelantarkan perasaan Samuel yang terus ada. Nyatanya ia juga yang telah memberikan rasa sakit tersebut pada suaminya.


Sarapan pagi telah usai dan saatnya Anisa izin pamit karena Yuda sudah berada di dalam mobil.


"Kamu hati-hati ya, Sayang."


Anisa mengangguk ketika bu Susi mengucapkan kata perpisahan pada menantunya.


Beberapa minggu kemudian.


Anisa mencoba mencari informasi tentang Samuel, tapi tak sedikitpun kabar yang didapatkan karena semuanya nihil.


"Mas, aku harus mencari kamu ke mana? Maaf telah membuat luka di hatimu," batin Anisa dengan wajah sendunya ia menatap foto di mana saat keduanya resmi menikah kala itu.


"Aku mohon, pulanglah karena rinduku ini sudah mencari tempatnya untuk dituangkan. Aku mohon, aku sangat merindukanmu, Mas." Di dalam gumamannya Anisa terus membelai bingkai foto tersebut hingga kedatangan Arum, membuatnya sedikit merasakan arti sebuah sosok yang berarti.


"An, apa sudah ada kabar tentang kepergian Samuel?" Anisa hanya menggeleng dan menanggapinya dengan wajah sedihnya.


"Apa kamu sudah bertanya pada orang yang sedikit dengan dengannya?" ulang Arum karena memang untuk beberapa hari ini ia sibuk dengan pekerjaannya. Hingga membuatnya tidak bisa menemani Anisa untuk mencari tahu tentang Samuel.


"Rum, aku harus mencarinya di mana lagi. Rasanya aku ingin menyerah karena tidak ada satu petunjuk yang aku dapatkan," ucap Anisa, lalu meletakkan foto itu kembali.


Yah, Anisa kini telah berada di rumah Samuel, rumah di mana ia pernah tinggal dengan membawa sejuta kenangan bersama dengan suaminya waktu itu. Akan tetapi, semua itu telah berubah dalam hitungan waktu. Rumah yang tadinya ramai sekarang terlihat layaknya rumah tak berpenghuni. Sepi, itulah yang dirasakan oleh Anisa saat ini.


"An, coba cek akun suami kamu, siapa tahu ada informasi di dalamnya." Anisa yang mendengar, bergegas mengambil ponsel dan membuka akun 𝘐𝘯𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 suaminya.


Tidak ada apa pun yang diunggah oleh Samuel dan Anisa menutup kembali akun tersebut, sekarang ia mencoba membuka aplikasi dengan logo huruf berwarna biru. Nyatanya tidak ada juga petunjuk yang didapatkan.


"Bagaimana?" tanya Arum.


"Tidak ada satu pun yang diunggah," jawab Anisa tampak lesu.


Saat Anisa dan Arumi sedang berbincang. Terdengar suara ketukan pintu, hal itu membuat Anisa seketika menatap Arum karena berharap itu adalah Samuel.


"Apa itu Samuel?" tanya Anisa.


"Kita lihat saja." Jawab Arum.


Kaki Anisa melangkah dan bibirnya terus menyunggingkan senyuman.


Ceklek.

__ADS_1


Suara pintu terbuka dan di sinilah Anisa menatap sosok tersebut dengan mata terbelalak.


__ADS_2