Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
59. Periksa kandungan


__ADS_3

Samuel seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Anisa, lalu mencoba menghiburnya karena tidak mau mempengaruhi kandungannya.


"Sayang, itu dulu dan belajar dari kesalahan itu penting." Ucapan Samuel membuat Anisa merasa tenang, karena pada saat wanita itu mengingat perlakuan mertuanya maka Samuel akan terus memeluk untuk menenangkannya.


"Maaf ya An, bukan kakak egois. Hanya ingin menunjukkan bahwa semua itu butuh proses," ujar Yuda.


Anisa pun tersenyum dan memang apa yang dikatakan oleh Yuda memang benar. Nanti akan ada saatnya Anisa menerima kabar baik dari sang Kakak.


"Ya sudah, sepertinya masalah sudah selesai dan kita juga akan pulang. Ingat jangan lupa untuk minum obat agar tidak semakin pikun," ejek Yuda sebelum meninggalkan kediaman Samuel.


Hari-hari pun telah berganti dan bulan pun silih berganti. Kini usia kandungan Anisa sudah menginjak di usia lima bulan. Hari ini Samuel sudah berencana libur kerja untuk menemani Anisa cek kandungan, sekaligus ingin mengetahui jenis kelamin anak yang dikandung oleh istrinya.


Melihat Anisa yang tengah bercermin membuat Samuel semakin gemas karena terlihat istrinya itu semakin cantik. Samuel yang sudah ada diambang pintu, buru-buru berjalan ke arah Anisa dan melingkarkan kedua tangannya di perut.


"Sayang, kamu membuatku sesak." Anisa langsung protes karena memang membuatnya susah untuk bernafas.


"Maaf Sayang, kamu semakin cantik dan beruntungnya aku memiliki istri seperti kamu." Samuel begitu bahagia dan terus melingkarkan tangannya di perut Anisa.


"Gombal, kamu tidak kerja?" tanya Anisa karena tadi Samuel sempat berpamitan untuk berangkat, tapi malah kembali lagi.


"Sepertinya kamu lupa kalau hari ini adalah jadwal untuk periksa kandungan," ujar Samuel dan benar saja jika Anisa lupa akan hal itu.


"Astaghfirullah ... maaf aku lupa," balas Anisa yang langsung menepuk jidatnya karena sama sekali tidak ingat jika hari ini, adalah hari di mana ada janji dengan dokter Sera.


"Tuh kan, ya sudah yuk." Samuel pun langsung mengajak Anisa untuk segera berangkat karena jadwal yang ditentukan adalah jam sembilan.


"Sebentar, ya. Aku mau ambil tas dulu," ucap Anisa.


"Kalau gitu aku tunggu di bawah," timpal Samuel dan Anisa pun mengangguk.


Setelah itu keduanya berangkat untuk periksa kandungan sekaligus ingin tahu hasil dari USG nanti, karena biar bagaimanapun Samuel ingin tahu bayi yang dikandung perempuan atau laki-laki.


Sedangkan di lain tempat, sosok wanita dengan angkuhnya tengah duduk di sisi ranjang. Tidak lupa dengan setelan khas baju tidur wanita itu menunggu berita dari anak buahnya, yang sudah ia nanti-nanti.


Tidak berapa lama. Terdengar suara ketukan pintu dan wanita itu pun menyuruhnya untuk masuk. "Kalian masuklah," sahut dari dalam kamar.


"Jadi, bagaimana dengan tugas yang aku beri. Aku harap kalian datang membawa berita yang membuatku puas," cercah wanita itu pada dua orang anak buahnya.

__ADS_1


"Kita yakin jika berita pagi ini akan membuat Bos senang," kata salah satu anak buahnya.


"Cepat katakan jangan membuatku lama menunggu," ujar wanita tersebut.


"Iya Bos, wanita itu hamil dan hari ini mereka berdua ada di rumah sakit. Keduanya sudah berada diperjalanan untuk menuju ke sana lantas, kita harus berbuat apa?" sebuah pertanyaan membuat wanita itu tersenyum licik karena hari-hari yang ditunggunya sudah ada di depan mata.


"Lakukan seperti perintahku kemarin, aku menginginkan wanita itu hancur seperti yang pernah aku rasakan." Dengan sorot mata yang tajam, wanita itu berujar.


"Baik, Bos. Kita akan mengerjakannya," jawab dua orang anak buah dari wanita tersebut.


Sedangkan Anisa dan Samuel sudah berada di rumah sakit dan menunggu antrian. "Sayang, kamu haus?" tanya Samuel.


"Tidak, nanti kalau aku haus maka akan memintanya darimu." Jawabnya dengan senyuman yang mengembang.


"Baiklah."


"Dengan Ibu Anisa!" panggil seorang perawat.


"Iya, Sus." Jawabnya pada suster.


"Silahkan masuk, jika ingin ditemani juga bisa." Suster itu pun lantas mempersilahkan Anisa dan juga Samuel untuk masuk.


Keduanya sudah berada di ruangan dan dokter pun menjelaskan jika kandungan Anisa baik dan sehat.


"Untuk jenis kelamin semoga sesuai yang kita lihat ya, Bu, Pak. Ini letak bayi kalian dan wajahnya begitu cantik," terang dokter tersebut saay menjelaskan mengenai kandungan Anisa dan juga kelaminnya.


"Sayang, anak kita perempuan." Dengan rasa bangga Samuel memeluk Anisa.


"Iya, semoga kelak anak kita lahir dengan selamat dan tidak kekurangan apapun." Anisa pun menimpali ucapan Samuel.


"Oh ya, saya akan membuatkan resep bisa segera di ambil Ya Bu, jangan lupa rutin minum vitaminnya," ucap dokter tersebut.


"Baik, Dok."


Lepas dari ruang periksa Anisa dan Samuel gegas pergi dari rumah sakit dan di jalan terlihat Anisa nampak murung. Samuel yang menyadari langsung berhenti berjalan sebelum masuk ke dalam mobil.


"Sayang, kenapa? Apa ada hal yang ingin kamu katakan?" tanya Samuel menghentikan langka Anisa.

__ADS_1


Terlihat dari mimik muka dari wanita tersebut, tampak ragu untuk mengatakan keinginannya. Samuel dengan segera menaikkan kepala Anisa agar bisa menatapnya. "Coba katakan, apa yang ingin kamu mau?" ulang Samuel.


"Aku mau makan bakso." Dengan wajah memelas Anisa berucap.


"Ya Allah, Sayang. Kenapa gak ngomong dari tadi," keluh Samuel.


"Takut," ujar Anisa.


"Ya sudah kalau gitu sekarang masuk mobol. Kita akan mencari makanan yang kamu mau," ucap Samuel.


Cup.


"Makasih, Sayang."


Sedangkan Samuel hanya terdiam sembari memegang pipinya. "Mimpi apa aku semalam, dapat ciuman dari istri tercinta." Samuel terus mengumbar senyuman dalam hati karena perlakuan romantis dari Anisa.


Lantas dengan sumringah Anisa langsung mengajak Samuel untuk masuk ke dalam mobil. "Ayo!" ajaknya.


Samuel pun yang tersadar langsung berjalan ke arah mobil dan sekarang mereka sudah berada di dalam, dengan senyuman yang mengembang Anisa terus mengedarkan pandangannya untuk melihat kedai bakso.


"Sayang, sepertinya di sana ada!" tunjuk Anisa dari arah kanan jalan.


"Kita putat balik kalau gitu," kata Samuel.


Eum.


Hanya itu yang di dengar oleh Samuel dari bibir Anisa.


Sesampainya di dalam, Anisa menelisik satu persatu tempat yang akan di duduki, hingga ada satu meja yang menghadap ke arah samping jalan. "Sayang, kita duduk di sana!" ajak Anisa.


Kini dua porsi bakso sudah ada di depan meja dan siap untuk si santap.


Tidak jauh mereka berada sebuah keluarga, sosok lelaki yang sedang mencari tempat duduk. Tengah menatap Anisa dan juga Samuel dan ingin memastikan jika pandangannya tidak keliru.


Hingga sosok wanita yang ada di sampingnya dibuat heran, karena netra sang suami tengah tertuju pada satu meja yang menghadap ke arah samping. "Mas!" panggilnya.


"Eh, iya. Maaf karena terlalu fokus," timpal lelaki tersebut.

__ADS_1


Seorang Ibu-ibu pun tidak lupa mempertanyakannya siapa sosok yang di lihat oleh sang anak. "Kamu lihat siapa?" tanya nya.


__ADS_2