
Hati seorang wanita itu terlalu lemah. Meski mencoba untuk tegar, tapi pada kenyataannya tetaplah rapuh.
"Iya Mas, aku ada di sini." Anisa menimpali panggilan Dirga dengan perasaan yang tidak karuan.
Berjalan menghampiri sang suami. Siapa tahu jika lelaki yang sempat terlelap tengah membutuhkan sesuatu.
"Aku kira kamu ke mana? Sini, sudah lama kita gak tidur bareng?" ajak Dirga dan menepuk king size tersebut.
Dengan perasaan yang tidak karuan, antara perasaan bahagia dan juga sedih. Akhirnya Anisa menuruti kemauan Dirga, di samping itu juga, Anisa sudah mulai mengantuk.
Beberapa saat kemudian
"Maaf ya sayang, Mas lelah jadi sekarang kita tidur saja." Sebuah kalimat yang membuat Anisa seperti barang yang terjatuh dari atap. Hancur, bercampur marah. Ia kira jika suaminya menginginkan malam spesial. Namun, semua tak seperti yang dimau oleh Anisa.
"Sebenarnya apa sih mau mu Mas, kamu terus mengabaikan aku. Apa aku ada salah sama kamu?" batin Anisa bertanya-tanya karena rasa ingin. Harus sirna lagi, karena Dirga memberi alasan jika dirinya sedang lelah, dan selalu kata-kata itulah yang kerap dijadikan alasan.
Tanpa punya salah sedikitpun. Dirga terlelap lagi, dan Anisa meringkuk bersama kehampaan karena menjadi sosok yang terabaikan.
...........
Keesokan paginya.
Saat Samuel ingin berangkat bekerja. Tanpa sengaja netranya menemukan sesuatu dari bawah kursi penumpang.
"Apa itu?" lirih Samuel.
Samuel yang penasaran memilih untuk mengambil amplop dengan logo rumah sakit.
Meski lancang karena Samuel sengaja membuka kertas tersebut dan rasa ingin tahu mengalahkan imannya.
"Jadi ... wanita itu kemarin baru saja selesai cek kesuburan? Bukannya semua hasilnya bagus, tapi kenapa aku melihat jika Nisa tengah tertekan?" ucap Samuel bertanya-tanya sampai tidak mendengar jika seseorang tengah memanggilnya.
"Den, Aden!" panggil mbok Yem pada tuan mudanya yang tengah serius menatap lembaran kertas yang ada di tangannya.
"Eh Mbok Yem, ada apa memangnya?" timpal Samuel setelah beberapa panggilan diabaikan.
"Ponsel Aden ketinggalan," ujar mbok Yem, lantas menyodorkan benda pipih tersebut pada Samuel.
__ADS_1
"Maaf Mbok, aku lupa." Jawab Samuel dengan diiringi sebuah senyuman.
"Iya Den, tidak apa-apa." Setelah mbok Yem memberikan ponselnya pada Samuel. Lantas beliau kembali masuk dan mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Apa aku harus mengembalikan hasil pemeriksaan ini pada Nisa? Aku yakin jika sekarang wanita itu tengah mencarinya," gumam Samuel karena ia yakin. Kalau kertas laporan sangatlah penting untuknya.
"Lantas bagaimana cara aku mengembalikan?" saat ini Samuel tengah berpikir untuk dapat mengembalikan.
Dirasa sudah yakin. Samuel langsung tancap gas dan menunggu di gang rumah milik Anisa. Siapa tahu dengan begitu wanita itu nantinya akan keluar dan memudahkan Samuel untuk memberikan hasil Lab.
Beberapa saat kemudian.
Samuel hampir setengah jam menunggu. Namun, Anisa tak kunjung keluar dan Samuel pun menyerah. Tetapi, pada saat dirinya sudah siap untuk pergi. Terlihat seorang wanita tengah menenteng yang dirasa itu adalah sampah.
Buru-buru Samuel menghampiri.
"Nisa!" panggil Samuel dan pemilik nama tersebut langsung menoleh.
"Kamu! Mau apa ke sini? Barangmu masih aku jemur, kenapa tidak bisa sabar sedikit." Anisa menatap tidak suka pada Samuel karena lelaki itu. Sama sekali tidak sabar untuk mengambil barang yang sempat dipinjamkan kepadanya.
"Lantas ada urusan apa? Bukannya aku akan menghubungi kamu kalau sudah selesai," ujar Anisa.
"Nih." Samuel tanpa banyak bicara dan tidak ingin di dituduh yang tidak-tidak. Samuel langsung menyerahkan amplop pada Anisa.
"Kenapa kamu bisa mendapatkan ini?" ujar Anisa yang merasa bingung pada saat Samuel memberikan kertas amplop tersebut.
"Sepertinya kamu yang ceroboh dan untungnya aku yang menemukan ini di dalam mobilku." Ucapan Samuel membuat Anisa merasa bersalah, karena sudah berburuk sangka pada lelaki tersebut.
"Aku semalam memang sedang mencarinya. Makasih sudah mau mengantarkan ini padaku," ucap Anisa pada Samuel.
"Tidak masalah, kalau begitu aku pergi karena waktu adalah uang. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku untuk hari ini."
"Cih, sombong sekali dia." Anisa mendengus kesal karena Samuel adalah tipe manusia yang sombong.
.................
Setengah perjalanan dari rumah Anisa. Samuel pun akhirnya sampai dan ternyata di sana sudah ada ada Yuda, asisten Samuel.
__ADS_1
"Tumben Bos baru datang?" kata Yuda saat Samuel menunggu pintu life terbuka.
"Ada kecelakaan kecil, lagian aku tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi dengan pagiku." Jawab Samuel dengan tatapan sinis.
"Baiklah aku salah dan aku juga minta maaf." Yuda tertunduk dan meminta maaf pada atasannya karena sudah lancang. Untuk bertanya yang bukan urusannya.
"Sudahlah, sekarang lebih baik kamu ikut keruangan, karena ada tugas untuk kamu." Ucapan Samuel diangguki oleh Yuda.
Sesampainya di lantai 10, ruangan khusus dan hanya orang penting lah yang dapat masuk.
Samuel dan Yuda sudah berada di ruangan direktur utama, sekaligus pemilik perusahan properti yang sudah berdiri sejak tahun 2015.
Perusahaan milik sang papa, yang sempat gulung tikar karena pesaing bisnis semakin banyak, membuat keluarganya bangkrut. Namun, dengan kegigihan serta memiliki otak cerdas. Akhirnya perusahaan kecil kini tumbuh menjadi besar, sehingga gedung yang tinggi mampu membuat Samuel percaya diri lagi dan merintisnya hingga kini. Diusianya yang masih muda kala itu, Samuel sukses dalam bidang usaha. Namun, tidak dengan percintaannya yang masih nyaman untuk tetap menyendiri, walau usianya sudah lebih dari kepala tiga yakni 33 tahun.
Yuda Adipati, seorang asisten sekaligus teman Samuel. Ikut serta dalam menangani perusahaan, keduanya bertemu saat Yuda sedang pencopet karena terpaksa. Ibunya yang sakit-sakitan membutuhkan obat setelah ditinggal oleh suaminya.
Yuda sendiri berusia 31 tahun, sebuah keberuntungan saat bertemu dengan Samuel yang saat itu sedang dikejar oleh warga. Berkat pertolongan keluarga Samuel juga hingga Yuda menjadi sekarang.
"Memangnya Bos mau memberi tugas apa?" tanya Yuda penasaran.
"Cari informasi wanita ini dan jangan lupa secepatnya kasih kabar padaku." Samuel pun memberi foto sosok wanita pada Yuda, dan menyuruh asistennya mencari informasi tentang wanita tersebut.
"Dia siapa? Nampaknya Bos, sangat antusias pada wanita ini?" ucap Yuda karena itulah kenyataanya yang dilihatnya saat ini.
"Yang pasti dia istri orang."
Seketika Yuda tersedak saat mendengar pengakuan dari bos nya itu.
"Jangan pura-pura terkejut," kata Samuel dengan melirik ke arah Yuda.
"Bos, apa Anda sedang demam? Itu istri orang kenapa harus sampai mencari informasinya?" ujar Yuda yang tak menyangka dengan kelakuan Samuel.
"Memang masalahnya di mana?" jawab Samuel dengan santai.
"Ya jelas jadi masalah dan Bos jangan pura-pura bodoh!" sungut Yuda karena tak habis pikir dengan kelakuan Samuel.
"Aku menyukainya, dan ingin merebutnya dari tangan suaminya."
__ADS_1