Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
79. Ketika hukuman Tuhan itu nyata


__ADS_3

"Ada orang yang mengirim bunga kepadaku." Sejenak Arum menatap dalam ke arah Anisa dan rasanya tidak perlu diambil pusing, karena hal itu bukanlah masalah serius.


"Paling juga Samuel," kata Arum dengan yakin.


Sayangnya Anisa menggeleng dan hal itu membuat Arum menjadi penasaran. "Lalu siapa?" tanya Arum.


"Tidak tahu, karena tidak ada nama di kartu ucapan." Jawab Anisa karena memang tidak ada nama di kertas kecil dan hanya ada kata ucapan dari pengagum rahasia.


"Kamu sudah tanya sama kurir?" ucap Arum.


"Sudah, karena sesuai permintaan konsumen. Kurir tersebut tidak mengungkapkan identitas dari siapa pengirimnya," jelas Anisa yang semakin membuat Arum penasaran.


"Apa kamu ada pengagum rahasia?" sejenak Anisa berpikir soal ucapan Arum.


"Aku rasa tidak ada." Jawab Anisa setelah beberapa menit memikirkan dan benar, ia sama sekali tidak mempunyai sosok pengagum rahasia.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirin. Siapa tahu memang ada pengagum rahasia yang kamu sendiri tidak tahu," ucap Arum dengan tanggapan santai. Ia berusaha untuk membuat Anisa terlalu memikirkan hal itu.


Tidak ada tanggapan dari Anisa, karena wanita itu langsung berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Arum.


"Pulang, karena sekarang sudah jam lima." Jawab Anisa dengan langkah yang siap berjalan.


"Baiklah, sampai bertemu besok." Anisa tersenyum dan tidak lupa melambaikan tanga pada Arumi.


Akhirnya keduanya pun berpisah karena memang sekarang sudah pukul lima, tapi Arum masih berada di taman biarpun sudah tidak ada siapa-siapa, pikirannya masih kacau karena semua ini ada hubungannya dengan Anisa, biar bagaimana pun Arum tidak bisa mengabaikan masalah sahabatnya, barang sekecil apa pun itu.


"Semoga tidak ada yang iseng sama kamu An, karena aku tidak akan membiarkan orang itu mempermainkan sahabatku, yaitu kamu." Dalam hati Arum bergumam karena untuk pertama kalinya Anisa menerima kiriman bunga, dari seseorang tanpa inisial.


Waktu pun kian berlalu dan hari-hari telah berganti, sayangnya sudah berbagai cara telah dilakukan oleh Yuda, Samuel, dan juga Arum, hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali dan bukan sekali dua kali, sudah hampir habis titik kesabaran mereka, nyatanya tidak ada perubahan dan hubungan antara Anisa dengan Ferdy sekarang cukup lumayan dekat, karena sebuah pertemanan yang semakin akrab.


"Sam!" sapa Yuda.


"Kenapa?" imbuh Yuda lagi.


"Rasanya aku ingin menyerah, tapi kenapa aku tidak bisa melakukan hal itu. Semua ini terlalu berat buatku," ucap Samuel dengan wajah lesunya.


"Apa yang membuat kamu ingin menyerah?" tanya Yuda dengan posisi mengikuti Samuel yang mana ikut duduk di balkon, kamar Yuda.

__ADS_1


"Anisa semakin tidak mengenaliku. Kenapa pernikahanku harus diuji dengan masalah seberat ini, apa kesalahanku terlalu fatal sampai Tuhan menghukum aku."


Yuda tidak bisa mengatakan jika Samuel harus memperjuangkan cintanya pada Anisa, tapi untuk menyerah itu bukanlah alasan yang tepat. Keduanya pernah disatukan oleh tali pernikahan dan kenapa Samuel juga harus terburu-buru untuk mengambil sebuah keputusan?


"Sam, apa kamu tidak bisa bersabar sedikit saja," kata Yuda dengan suara beratnya, karena lelaki tersebut tidak bisa menerima jika Samuel akan menyerah dengan hubungan tanpa kejelasan untuk saat ini.


"Entahlah Yud, jika kamu menjadi aku … untuk sekarang apa yang kamu lakukan? Sedangkan sudah cukup waktu banyak untuk aku menunggu dan mengharap Anisa." Tidak ada jawaban dari Yuda, karena memang ia tidak tahu bisa menjalaninya atau tidak.


Yah, di tengah dinginnya malam. Samuel mencoba mengadu pada Yuda untuk perasaannya saat ini. Perasaan di mana Samuel sudah lama terabaikan oleh keadaan Anisa, yang sama sekali belum pernah bisa mengingat siapa dirinya di masa lalu.


"Sam, kamu mau ke mana?" teriak Yuda karena melihat Samuel seketika berdiri dengan emosi yang sudah terlihat.


"Mau menghampiri Anisa."


"Sam, jangan gegabah. Samuel tunggu!" sayangnya teriakan Yuda tidak digubris oleh Samuel dan lelaki itu pun terus keluar.


Setelah itu.


"Nisa, ikut aku!" ajak Samuel sedikit memaksa.


"Kamu ini apa-apaan sih, kenapa main tarik!" seru Anisa karena merasa jika Samuel sangat tidak sopan.


"Ini penting."


"Sam, kamu jangan lancang ya. Aku bisa berteriak semauku kalau kamu sudah memaksa pergi seorang wanita!" dengan nada tinggi Anisa terus mencoba membuat Samuel sadar, agar bisa melepaskannya kembali.


"Lihat ini!" dengan nada suara yang tak terkontrol. Samuel memberikan berupa buku kecil yang bertuliskan buku nikah. Berharap Anisa bisa sadar jika apa yang ada di diri wanita tersebut adalah haknya.


"Kenapa kamu memberikan buku ini? Bukannya kamu belum punya istri?" Anisa melunak dan bertanya soal buku nikah yang ia pegang saat ini.


"Teliti dan baca yang benar." Anisa menuruti ucapan Samuel, dengan perlahan membuka lembar demi lembar buku kecil dengan warna sampul hijau dan coklat.


"Tidak Sam, kamu membohongi aku. Aku tahu ini semua hanya akal-akalan kamu supaya bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu! Pada kenyataannya di hatiku sudah ada seseorang dan itu bukan dirimu."


Deg.


Seketika detak jantung Samuel berpacu begitu cepat, ucapan yang tidak ingin ia dengar. Nyatanya kini kedua telinganya telah menerima sebuah kenyataan yang tak sanggup didengar oleh Samuel.


"Nisa, aku Samuel, suami kamu! Apa semua ini tidak cukup bukti sampai kamu tidak percaya dengan apa yang sudah aku tunjukkan."

__ADS_1


"Tidak, semua itu bohong! Bisa saja kamu pakai jasa pembuatan dan berhasil mengelabuiku kan, kenyataannya kamu tidak bisa."


"Apa mau kamu sekarang, aku sudah cukup sabar untuk menanti kesadaranmu, tapi sampai detik ini tidak ada yang berubah dan justru kamu mengatakan bahwa kamu menyukai lelaki lain."


"Jangan pernah menggangguku karena aku sangat membencimu sekarang!" Anisa tidak tahan lagi, hingga akhirnya dengan paksa keluar dari dalam mobil.


"Ingat Nisa, sampai kapanpun kamu tetap istriku. Meski kamu melupakan semua yang terjadi pada kita, sedikitpun aku tidak akan melupakannya."


Ada rasa nyeri di dada Anisa, ketika Samuel berkata sedemikan. Entah perasaan apa yang kini ada di hati Anisa pada lelaki yang mengaku bahwa dia adalah suaminya. Terasa nyaman saat bersanding dengan Samuel, tapi hatinya menolak dan berusaha untuk menerima pinangan dari lelaki yang terus berusaha menyakinkan hatinya saat ini.


Tanpa peduli dengan perasaan Samuel, Anisa kembali masuk ke dalam rumah dengan sejuta kerisauan yang ada di hatinya. Sedangkan Yuda telah menunggu sang adik di ruang tamu, mencoba memberitahu jika apa yang diucapkan oleh Samuel itu adalah fakta.


"An, duduk." Suara tegas dari Yuda, membuat Anisa langsung duduk tanpa banyak menjawab.


"Apa yang dikatakan oleh Samuel?" untuk sesaat Yuda menatap dalam ke arah Anisa, menanti sebuah jawaban yang ingin ia dengar langsung.


"Aku membenci Samuel, jangan membicarakan dia lagi. Lelaki yang sudah berbohong dengan segala ambisi, tapi Kakak masih saja berteman dengannya." Terdengar nada kebencian hingga membuat Yuda menghela napas dengan perlahan.


Kalau saja Samuel sudah mengatakan akan yang sebenarnya, lantas bagaimana dengan Yuda sendiri? Ia tidak yakin jika Anisa mau menerima kata-katanya dan ucapan yang akan disampaikan.


"Ingat Kak, jangan membahas soal dia lagi." Anisa mengulang ucapannya lagi, hal yang yang tak pernah dibantah oleh Anisa kini terdengar begitu menyakitkan, saat seseorang mencari kebenaran justru orang itu menolak mentah-mentah bahkan sampai membencinya.


Setelah mengatakan hal tersebut. Anisa langsung naik ke atas untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya, lelah dengan hari ini. Di mana berbagai masalah pasang surut tengah menghampirinya.


Keesokan paginya.


"Sam, apa kamu serius untuk pergi dari kota ini?" dengan mata membulat dengan lebar, Yuda bertanya saat kepergian Samuel yang begitu mendadak.


"Untuk menangkan hati Yud, rasanya aku tidak sanggup dengan ini semua. Makanya aku ingin mencari kedamaian yang tidak aku dapatkan untuk saat ini.


"Bagaimana dengan Anisa, dia masih istri kamu, Sam!" Yuda mencoba mengingatkan Samuel lagi akan sosok Anisa, karena memang keduanya belum resmi bercerai.


"Kenyataannya dia tidak ingat padaku, lalu dengan gamblang bahwa sekarang ada pria yang ia suka. Aku tidak tahu siapa pria yang telah dimaksud oleh Anisa," terang Samuel dan ia masih ingat dengan ucapan Anisa semalam.


"Apa, kenapa aku baru tahu jika ada seorang pria yang suka dengan Anisa?" dalam hati Yuda bertanya-tanya siapa pria yang berani mendekati adiknya itu.


"Sam, aku bertanya padamu. Apa kamu yakin untuk pergi?"


Samuel hanya mengangguk dan ingin secepatnya meninggalkan kenangan penuh kelukaan, karena sungguh dirinya tidak sanggup menjalankan hukuman dari Tuhan, meski Samuel seorang lelaki pada kenyataannya ia tepat manusia biasa.

__ADS_1


"Apa! Samuel ingin pergi, ke mana lelaki itu pergi?" tanpa diduga, seseorang tanpa sengaja mendengar obrolan tersebut.


"Kenapa hatiku tidak rela, padahal aku sangat membencinya."


__ADS_2