
"Dirga!"
Belum sempat Anisa mengatakan sesuatu pada Bu Ning, ternyata Dirga sudah lebih dulu datang dan menghampiri dua orang perempuan. Yang saat ini tengah duduk di ayunan, dengan wajah lesu lantas Dirga memandangi wajah sang istri.
"Iya Bu, saya ke sini untuk menjemput Anisa." Dirga lantas menjawab dengan sebuah senyuman, meski rasanya sulit.
Anisa yang mendengar akan hal itu. Langsung berubah masam, karena rasa sakit di hatinya masih ada. Entah sampai kapan rasa itu akan terus tumbuh. "An, suami kamu sudah datang. Jika ada masalah segera bereskan, agar tidak berlarut-larut." Bu Ning lantas menyuruh Anisa ikut pulang bersama Dirga, dengan begitu masalah yang mereka hadapi bisa segera menemukan jalannya.
"Iya, Bu." Anisa mengangguk patuh dan langsung pergi ke kamar untuk mengambil tas dan beberapa barang penting lainnya.
"An, Mas tunggu di mobil." Hanya itu yang diucapkan oleh Dirga, dan setelahnya lelaki tersebut langsung pergi untuk menuju ke kendaraannya.
Beberapa menit kemudian.
Anisa memeluk Bu Ning dengan sangat erat, seakan tidak rela untuk meninggalkan perempuan paruh bayah tersebut karena meski bukan Ibu kandung, Anisa tetap menyayangi dan menghormatinya.
Bu Ning dengan perlahan melepaskan pelukan Anisa dan berkata. "An, hati-hati di jalan ya. Masalah akan selesai jika kita menghadapinya dengan kepala dingin," ucap bu Ning.
"Iya Bu, terimakasih untuk semuanya. Maaf sudah membuat Ibu repot," ujarnya pada bu Ning.
Setelah melepas pelukan. Anisa perlahan berjalan ke arah mobil, yang mana di dalam sudah ada Dirga menunggunya.
Anisa mengerutkan keningnya saat matanya tak sengaja melihat perubahan pada Dirga. "Apa Mas Dirga puasa, sampai-sampai sedikit berbeda badannya?"
Dalam hati Anisa bertanya-tanya karena perawakan dari suaminya. Mengalami perbedaan, dari yang awalnya berisi kini sedikit kurusan.
Anisa terus menatap, hingga orang yang ditatap pun menjadi salah tingkah. "An, kenapa kamu menatap Mas seperti itu. Atau jangan-jangan sudah rindu, ya?" ujar Dirga dengan bangganya, dan saat mata Anisa tidak beralih sedikitpun. Pantas saja jika Dirga mengira bahwa Anisa tengah merindukannya.
"Selama ini kamu puasa apa bagaimana, Mas?" Anisa sengaja bertanya karena baru seminggu tidak bertemu, tapi tubuh Dirga terlihat kurus.
__ADS_1
Untuk sejenak Dirga terdiam, bagaimana tidak kurus. Kalau dirinya jarang makan, karena tidak ada yang membuatkan makanan. "Semenjak kamu tidak ada di rumah, Mas sering telat makan." Sontak jawaban Dirga membuat Anisa terheran-heran.
"Bukannya ada istrimu? Lantas kenapa bisa telat makan?" tanya Anisa dengan wajah datarnya, dan nyaris tanpa ekspresi.
Bukan jawaban yang diberikan oleh Dirga, tapi suara helaan nafas panjang. "Elsa sedang hamil, dia tidak bisa mencium aroma masakan. Maka dari itu Mas selalu sarapan di kantor jika jamnya masih ada," ujar Dirga yang semakin membuat Anisa menatapnya lekat.
"An, maka dari itu. Mas memintamu untuk pulang, dengan begitu tubuh Mas juga tidak kekurangan gizi."
Anisa hanya diam, tidak menjawab atau pun protes. Untuk saat ini mungkin lebih baik seperti itu.
30 menit telah berlalu, dan mobil yang dikendarai oleh Dirga akhirnya sampai juga. Di depan rumah dan segera menepikan mobilnya dipinggir jalan, karena sengaja tidak di bawa ke dalam garasi.
"An, yuk." Setelah Dirga membukakan pintu mobil. Lantas laki-laki tersebut menggandeng tangan Anisa.
"Istirahatlah, Mas akan segera pulang." Lagi-lagi Anisa acuh dan tidak menghiraukan ucapan Dirga yang sedang pamit, entah ke mana dan yang jelas Anisa tidak ingin tahu.
Setelah kepergian Dirga, Anisa mulai merogoh tasnya. Lalu mengambil ponsel yang selama seminggu ini tidak ia hidupkan.
Pesan Samuel.
π"Assalamualaikum."
π"An, apa kabar kamu. Aku harap kamu baik-baik saja dan sehat selalu, balas ya."
π"An, kenapa tidak di balas pesanku?"
Sudah tiga pesan yang dikirim Samuel, tapi baru dibuka oleh Anisa. Ada beberapa pesan lagi darinya yang belum sempat terbaca oleh Anisa.
π"An, sekarang kamu ada di mana? Aku ingin ketemu."
__ADS_1
π"An, balas."
Dari 120 pesan, hanya sebuah pertanyaan soal kabar. Lalu keberadaan Anisa, dan meminta balasan.
"Segitunya ini orang. Ganteng sih, tapi sedikit menjengkelkan," gerutu Anisa dan tanpa sadar bibirnya mengukirkan sebuah senyuman.
"Astaghfirullah, Ya Allah. Ampuni hamba!" kata Anisah lirih yang mana tengah mengutuk dirinya sendiri, karena tidak sengaja tengah memujinya. Padahal posisinya sekarang masih istri orang.
Sejenak. Anisa tidak mau terbayang oleh wajah dari pria lain, dan memilih membuka pesan dari Arum. Selain itu juga pesan dari Dirga, suaminya yang terus bertanya kabar kapan pulang dan isi pesan yang sama juga, yang dikirim oleh Arumi.
"Aku harus ketemu sama Arum, untuk bertanya lebih detailnya soal Mas Dirga yang sudah selingkuh. Sampai mempunyai anak sekaligus?" gumam Anisa karena ia berniat untuk mengorek informasi lebih banyak lagi, soal pernikahan antara Dirga dan Elsa.
Belum sempat Anisa menghubungi Arum, terdengar suara langkah sepatu yang ia yakini adalah Dirga.
Anisa melihat untuk memastikan dan ternyata benar. Jika yang pulang adalah Dirga, entah apa yang di bawa oleh lelaki tersebut karena kedua tangannya dipenuhi oleh dua kantong kresek.
"An!" panggil Dirga.
"Ada apa." Jawab Anisa dengan nada ketus.
"Kita makan, Mas tadi sudah beli makanan. Dari pagi ini perut belum terisi, jadi buruan." Rupanya Dirga sudah tidak sabar lagi untuk segera menikmati makanannya, karena benar-benar perutnya minta diisi.
Akhirnya keduanya pun makan bersama. Namun, dengan keadaan yang berbeda dan kali ini keduanya seperti orang lain, terasa kaku dan tidak ada kata-kata yang menemaninya saat makan.
Sedangkan di lain tempat.
Elsa yang sedari tadi pagi merasa gusar, karena sudah satu hari satu malam tidak mengunjunginya. Ia takut, takut jika suaminya akan tunduk pada kakak madunya.
Bagi Elsa, sedikitpun tida rela jika Anisa yang lebih berhak atas suaminya yakni Dirga, yang terus mengemis cinta pada istri tuanya tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mencari cara, agar setiap malam Mas Dirga bisa berada di sini. Yah, sepertinya aku harus karena tidak ada satu pun yang bisa menguasai suamiku, meski Mbak Anisa sekalipun." Dengan mengepalkan kedua tangannya. Elsa berbicara dengan tatapan tajam, dan rahang mengeras. Jika nanti hanya ada dirinya yang menjadi nyonya, dan tidak akan ada lagi nyonya kedua.
Setelah puas mengeluarkan isi hatinya. Elsa kembali merebahkan diri dan tidak lupa mengirim pesan pada sang suami. Agar nanti sore lelaki tersebut bisa datang untuk menemaninya.