Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
87. Pria misterius


__ADS_3

"Ka-kamu!" Anisa begitu terkejut saat mendapati sosok yang ada di depan matanya.


"Maaf, kalau kedatanganku sangat membuatmu terganggu." Jawab lelaki tersebut yang tak lain adah Ferdy.


"Ada keperluan apa kamu datang ke sini?" dengan keadaan canggung. Anisa berusaha bersikap tegas dan melupakan kejadian yang sangat melakukan beberapa waktu lalu.


"Saya minta maaf karena sudah membuat kamu—."


"Sudahlah, bagiku hal itu sangat memalukan dan saya harap kamu tidak mengungkitnya. Anggap kejadian itu tidak pernah ada, lalu di antara kita tidak pernah terjadi sesuatu." Anisa berbicara penuh penekanan. Agar Ferdy tidak membuka kejadian yang tak pantas untuk dibicarakan.


"Baiklah, saya ke sini cuma ingin meminta maaf. Maaf karena sudah membuat berantakan," ucap Ferdy.


"Tidak, saya yang meminta maaf karena saya juga terpaksa melakukan ini semua. Kejadian waktu itu telah selesai dan saatnya menata masa depan," ujar Anisa dengan wajah bijaknya ia berkata.


"Tentu, kalau begitu saya izin pamit. Namun, sebelum itu saya ingin kita bisa berteman."


"Kita masih berteman, tapi tidak sedekat waktu itu." Anisa menjawab dengan hati-hati karena tidak ingin salah dalam bicara, sudah cukup kebodohan yang ia alami dan untuk sekarang harus lebih bisa menjaga perasaan orang-orang yang ada disekitarnya.


"Kalau begitu saya pergi."


Anisa menatap punggung lelaki yang sempat akan menjadi suaminya waktu itu dan bersyukurnya. Kedatangan Dirga telah menyadarkan kegilaan yang hampir saja terjadi, hingga dengan perlahan semuanya pulih.


Anisa pun kembali ke ruang keluarga dengan langkah lunglai, meski begitu ia tetap berjalan untuk menemui Arum kembali.


"Siapa yang datang, An?" tanya Arum saat melihat kedatangan Anisa.


"Ferdy."


"Ferdy!" ulang Arum.


"Iya, dia ke sini untuk meminta maaf atas kejadian waktu itu." Jawab Anisa dengan suara seraknya.


"Oh, syukurlah kalau lelaki itu mau meminta maaf." Respons Arum membuat Anisa langsung menghela napas, karena ia tahu betul jika antara Arum dan Yuda sama-sama tidak menyukai Ferdy, entah apa alasannya. Yang jelas seperti itulah kenyataannya.


"Sudahlah, itu semua hanya masa lalu. Aku pun sudah menganggap telah selesai detik itu juga," ucap Anisa yang memilih untuk tidak lagi membahas soal Ferdy.


Sebulan kemudian.


Tidak terasa jika Samuel pergi meninggal Anisa sudah cukup lama dan tidak ada kabar sama sekali. Lelah rasanya karena terus mencari tentang Samuel, tapi seperti sebelum-sebelumnya. Tidak satupun yang informasi tentang keberadaan Samuel meski sudah berbagai cara telah dilakukan.


Kali ini Anisa memutuskan untuk berhenti mencari Samuel, karena semua terasa sia-sia. Tak ada yang tahu posisinya sekarang, entah bagaimana kabarnya Anisa juga tidak tahu. Sepertinya suaminya suaminya benar-benar marah hingga tidak ingin kembali, karena bisa saja dengan pulang akan membuka luka lamanya.

__ADS_1


"An, apa kamu tidak ingin melanjutkan pencarian lagi?" sebuah pertanyaan lolos begitu saja, hingga membuat Anisa langsung menolehnya.


"Lantas aku harus apa Kak, aku sudah mencari ke mana-mana dan lihat … tidak ada petunjuk sama sekali dan aku yakin jika Samuel benar-benar marah padaku," ucap Anisa dengan wajah frustasinya.


"Bisa juga jika di lain tempat Samuel memiliki kekasih lain, kan."


Uhuk.


Uhuk.


Seketika Anisa tersedak karena sebuah ucapan dari Yuda, yang mana membuatnya semakin tak karuan. Ketakutan Anisa semakin bertambah ketika benar akan perkataan dari kakaknya, yang mengatakan jika Samuel telah memiliki seorang kekasih.


"Kak, apa kamu sengaja menakutiku dengan sebuah lelucon yang kamu ciptakan?"


"Kakak tidak menakutimu, bisa saja hal itu terjadi, bukan. Lantas apa yang salah dari ucapan kakak!" Anisa diam dan tidak berkutik karena besar kemungkinan benar.


"Tidak, Samuel tidak akan tega berbuat seperti itu padaku." Di dalam hati Anisa terus bergumam karena rasa takut itu semakin menjadi.


"An!" panggil Yuda, karena sedari tadi Anisa tidak merespons dan hanya diam lantaran melamunkan apa.


"Eh iya Kak, ada apa?" tanya Anisa sedikit kikuk bagai orang bodoh.


"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu sedang memikirkan Samuel?" ujar Yuda.


"Sudahlah, ini sudah jam lima, lebih baik sekarang kita pulang." Yuda pun kembali mengeluarkan suara karena sudah waktunya untuk pulang.


"Sebentar aku ambil tas dulu," ucap Anisa.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah sampai di rumah dan sengaja Anisa kembali ke rumah Yuda, karena tidak mungkin juga dirinya kembali di mana surga yang telah tercipta dengan apik. Tiba-tiba dihantam badai dan hancur seketika, hingga tertinggal rasa penyesalan sampai akhirnya, Anisa tidak pulang ke rumah masa lalunya dan memilih tinggal dengan Yuda kembali.


Sedangkan di lain tempat, seseorang dengan wajah tampannya. Tengah berdiri di balkon, menatap ke arah langit.


Gelap, tapi terlihat cantik karena langit tersebut tengah berhiaskan bintang-bintang yang begitu indah. Tidak lupa bulan yang selalu ada di setiap malam dan mencoba memberi penerangan di gelapnya waktu malam yang tiba.


Sosok lelaki yang tak henti-hentinya tersenyum dengan mata telanjangnya terus memperhatikan indahnya langit, dengan sesekali menyesap kopi yang ada di cangkirnya.


"Sayang, aku harap kamu bahagia dengan kehidupanmu serang. Meski kamu sudah melupakanku, tapi tidak denganku yang selalu membawa namamu di setiap perjalanan hidupku sekarang maupun di masa depan." Lelaki itu berbicara dengan menampilkan seulas senyuman, meski kecewa lelaki tersebut mecoba kuat dan tegar.


Seseorang yang sangat di rindunya telah melupakannya. Hingga menutup semua akses agar dirinya bisa memulai dengan kehidupan barunya. Meski sulit, tapi lelaki tersebut berusaha untuk kuat dan yakin bisa untuk melakukannya.


"Ingat, sampai kapan pun cincin ini tidak akan terlepas dari jariku. Semua ini adalah akhir perjuangan untuk mendapatkan kamu, tetapi sekarang aku menyerah meski sakit harus tetap kuat." Lelaki tersebut masih asyik dengan kesendiriannya, dengan sesekali mengingat sosok perempuan yang kini telah mempunyai kehidupan lagi.

__ADS_1


Mungkin nanti, jika hatinya sudah kuat dan menerima sebuah kesalahan. Mungkin sudah waktunya untuk memberi kebebasan dengan kata talak.


Setelah cukup puas dengan pemandangan tersebut. Lelaki itu pun masuk karena cuaca cukup dingin juga. Yah, memang saat ini pria tersebut berapa di penginapan yang letaknya ada di puncak. Tempat di mana nanti akan membawa keluarga kecilnya untuk berlibur, tetapi sayangnya sebelum hal itu terjadi. Semuanya hancur bak pasir yang diterjang ombak.


Tidak terasa waktu subuh sudah datang dan adzan pun berkumandang. Sosok lelaki yang kini sudah menghadap Sang Illahi, tidak lupa membawa anak dan istrinya ke dalam doa.


"Sepertinya pagi ini aku akan ke makam untuk melepas rasa rindu karena sudah dua bulan aku tidak mengunjunginya," gumam lelaki yang kini sedang merapikan perlengkapan sholat.


Makam memang tujuan awal, karena merasa sudah merindukannya, jadilah pulang ke negaranya untuk menemui sang putri.


Benar saja, sang fajar telah menjelma, kini sosok lelaki dengan perawakan tinggi dan tampang rupawan nya. Selalu menjadi incaran para wanita, meski begitu tidak ada niatan sedikitpun untuk berdusta, walau kenyataannya dirinyalah yang didustai.


Perjalan yang ditempuh cukup lama, yakni sekitar dua jam untuk bisa sampai di makam. Kesengajaan yang dilakukan karena tidak mau diketahui oleh orang-orang yang dikenalnya. Lantas lelaki dengan hem berwarna hitam dan dilengkapi oleh kaca mata hitam juga.


Jika sosok lelaki tersebut tengah mengendarai mobilnya, agar bisa sampai ke tempat di mana para manusia akan menempati hunian terakhir, rumah yang kekal bagi semuanya para penghuni bumi.


Berbeda dengan Anisa yang kini sedang merasakan hati yang begitu berdebar. "Kenapa dengan jantungku? Aku merasa jika tidak pernah merasakan sakit, tapi kenapa rasanya jika ada sesuatu yang aku juga tidak tahu." Anisa terus memegang dadanya dengan hati dan pikiran tidak karuan, ia terus bergumam di dalam hati.


"Ya Allah, pertanda apa ini?" gumam Anisa, karena tidak sampai disitu. Bahkan ada perasaan tak biasa yang dirasakan hingga pikirannya tiba-tiba melayang kepada sosok lelaki yang tidak lain adalah Samuel.


"An, hari ini kita ada rapat. Aku harap kamu bisa fokus," kata Arum dengan muka terbuang ke arah kiri.


"Kamu menyindirku?" ucap Anisa menatap sebentar ke arah Arum dan setelah itu kembali memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Memangnya kamu merasa?" ujar Arum.


Anisa berdecak kesal karena Arum sedikit menyebalkan pagi ini, tapi biar bagaimanapun Arum lah sosok teman yang selalu ada untuknya.


"Aku ingin ke makam dulu, karena sudah dua minggu aku tidak mengunjungi Ameera." Arun yang melihat hal tersebut hanya mengangguk.


"Jam berapa ke makam?" tanya Arum.


"Mungkin setelah ini, tidak lama kok dan kita bisa memulainya dengan rapat." Jawab Anisa.


"Baiklah, sekarang bersiaplah aku akan mengantarmu dan jangan membuang waktu." Dengan rasa kesal, kala mendengar ocehan dari Arum. Anisa pun bersiap-siap.


Tidak begitu lama, Anisa sudah siap.


"Ayo!" ajak Arum dan Anisa mengangguk.


Keduanya sudah berada di dalam mobil. Pagi cerah ini dan jalanan cukup lumayan rame membuat Arum membawa mobil dengan hati-hati.

__ADS_1


45 menit waktu yang ditunjukkan di pergelangan tangannya, membuat keduanya sudah sampai di makam. Tepat pada saat berjalan sosok lelaki dengan orang pakai serba hitam. Membuat Anisa begitu penasaran tentang sosok lelaki tersebut.


__ADS_2