
Keesokan paginya, saat Anisa tengah bersiap-siap untuk pulang, karena dokter juga sudah mengizinkannya.
Tiba-tiba saja, sebuah suara membuat ke-empat orang yang berada di dalam ruangan, seketika menoleh. " An, bagaimana keadaan kamu sayang, Mas sangat khawatir!" kata Dirga saat mendekati Anisa dengan wajah tanpa dosa.
"Seperti yang kamu lihat Mas, aku sudah sehat." Jawab Anisa dengan mengangkat kedua bahunya.
"Maaf, aku tidak bisa menemani kamu karena—."
"Karena Elsa, maksud kamu!" dengan cepat Anisa langsung menyambar ucapan Dirga, karena ia sudah hafal jika senjata yang digunakan, adalah nama Elsa.
"Maaf An, Elsa marah padaku saat aku ingin menjenguk." Jawab Dirga lirih penuh penyesalan.
"Jadi, meski aku terbujur kaku pun kamu akan tetap menemani Elsa, dan memilih tetap berbahagia dengan istri barumu itu. Itu maksud kamu!" tak ada rasa takut sedikitpun saat Anisa berbicara pada suaminya, dulu Anisa sangat patuh dan tidak berani membangkang karena tidak mau dibilang istri durhaka. Namun, sekarang keadaannya sudah berbeda dan tak seperti surga yang pernah dijanjikan.
"An, jangan bicara seperti itu! Bukannya aku sudah minta maaf, tapi kenapa masih saja membahas yang tidak-tidak. Mas kesini mau menjenguk kamu, An." Dirga memegang lengan Anisa, berusaha meminta maaf. Sayangnya di luar dugaan karena tangan Dirga di hempaskan oleh Anisa dengan sangat kasar.
"Apa kamu masih marah padaku, An?" ucap Dirga lagi. Yang masih tidak menyadari bahwa saat ini Anisa tak lagi membutuhkannya.
"Tidak," jawab Anisa cepat.
"Lantas kenapa sikapmu aneh, An. Kalau kamu masih marah dan Mas benar-benar minta maaf," ucap Dirga yang masih berusaha untuk membujuk Anisa.
"Sudah aku bilang kan Mas, aku maafkan kesalahan kamu saat ini, dan selamanya. Hubungan kita telah selesai dan aku menyerah," ucap Anisa nyaris tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Tidak An, kamu tidak akan bisa meminta cerai padaku?" kata Dirga yang tidak menerima keputusan dari Anisa.
"Kenapa tidak bisa Mas? Jelas bisa, karena sampai detik ini pun kamu tidak bisa adil padaku, dan kamu tahu? Jika aku membawa kasus ini ke pengadilan maka semuanya selesai." Dengan langkah mengitari Dirga, Anisa berbicara tanpa rasa ragu sedikitpun. Setelah benar-benar yakin, bahwa keputusan ini adalah jalan yang terbaik untuknya.
"An, beri Mas kesempatan, tolong pertimbangkan semua ini." Dirga yang terus memohon agar Anisa tak pergi dari hidupnya, dan berusaha menyakinkan hati wanita itu. Agar tidak memutuskan secara sepihak.
"Kesempatan yang keberapa kali? Bukannya aku sudah cukup sabar menantikan kamu yang akan berubah dan berusaha memberikan aku keadilan, bukan adil yang aku dapat. Namun, rasa kecewa yang sudah mendarah daging di sini." Anisa berucap dengan dada bergetar, ia yakin jika semuanya akan baik-baik saja, dan tak akan mengundang keributan lagi.
"Ingat An, kalau saja kamu tidak aku jadikan istri. Apa mungkin masih bisa hidup enak tanpa aku!"
Akhirnya sifat asli dari Dirga keluar juga, dan itu membuat Anisa tidak salah dalam ambil keputusan karena terlalu muak.
"Kamu cukup menikmati hasil kerja kerasku tanpa bersusah payah bekerja, menerima semua aturanku. Apa susahnya tinggal bilang 'Iya' saat aku menikah lagi!" ucap Dirga lagi, seakan lelaki itu memang sengaja memaksakan kehendaknya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan kamu, ingat itu!" seperti sebuah ancaman yang diberikan oleh Dirga. Namun, lagi-lagi Anisa tidak gencar akan semua itu.
"Kalau kamu tidak mau menjatuhkan talak, maka aku yang akan menggugat kamu. Semua bukti sudah berada di tanganku, jadi secepatnya aku akan memberikan berkas itu padamu." Tak ada tangis, atau rasa berat di hatinya, rasa sakit yang ia terima telah mengajarkannya. Agar bisa memilih jalan yang tepat, saat dirinya ingin melangkah lagi.
"Arum, antar aku ke panti?" pinta Anisa pada Rumi yang tengah berdiri di sampingnya.
"An, kamu tidak bisa pergi. Aku janji akan memperbaikinya," ucap Dirga yang masih tidak rela jika Anisa ingin berpisah dan keluar dari rumah yang bukan lagi hak nya.
"Maaf Mas, keputusanku sudah bulat. Ini soal hati, karena di sini sudah tidak mampu lagi bertahan dengan ego yang kamu ciptakan ...."
__ADS_1
"Bener kata Ibu, jika kamu itu wanita mandul, dan aku bersumpah bahwa tidak ada lelaki yang mau—."
Plak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Dirga dengan bebas. "Maka sumpah mu akan kembali padamu lagi, Mas!" geram Anisa, setelah memberi tamparan pada lelaki tersebut . Anisa berdoa pada Tuhan, agar semuanya berbalik pada lelaki yang sudah menzaliminya.
"Kau ...." Ucapan itu terjeda dan Dirga sudah siap mengayunkan sebuah tamparan pada Anisa untuk membalas. Namun, siapa sangka jika pergerakan Dirga sudah terbaca oleh istrinya.
"Ingat Mas, aku memutuskan pernikahan ini jadi, mau tak mau kamu harus terima. Ingat satu hal lagi, bahwa aku bukan Anisa yang lemah lembut, karena sosok itu sudah mati."
Tangan Dirga dihempaskan oleh Anisa, saat hendak menampar. Sedangkan Samuel yang ingin mencegah agar lelaki itu tidak menyakiti wanitanya, tapi sayang. Hal itu dilarang oleh Yuda karena ia yakin bahwa Anisa bisa lebih kasar dari Dirga untuk menangani lelaki yang tak bisa menghargai seorang wanita.
"Kamu menganggap aku mandul kan, mari kita buktikan diantara kita? Siapa yang mandul karena aku tidak yakin jika kandungan Elsa adalah benihmu," ucap Anisa yang tak takut jika harus menantang Dirga sekalipun, karena sebuah keadilan semua ini harus dilakukan. Agar tidak dianggap perempuan yang tidak berguna, karena tidak bisa menghasilkan seorang anak.
"Kamu memang picik An, Elsa bukan wanita seperti itu. Jika kamu tidak suka padanya, jangan menjelekkan namanya hanya karena kamu tidak bisa hamil," suara ketus Dirga, membuat Anisa tersenyum seakan dirinyalah yang iri pada Elsa.
"Maksud kamu aku iri? Sayangnya tidak, kenapa Tuhan tidak membuat aku hamil Mas, mungkin Tuhan sudah tahu kebejatan kamu dan membuatku lebih membuka mata, jika kamu bukan suami yang baik." Ucapan Anisa semakin membuat Dirga emosi, karena setiap ucapannya. Anisa selalu bisa lolos, dan menyerang kata-kata menyakitkan padanya.
"Baik, akan aku membuktikan bahwa apa yang kamu bilang semua itu tidak benar."
"Jika aku sehat, maka kamu harus menerima Elsa sebagai madu kamu. Akan tetapi, jika aku memang mandul maka talak tiga akan aku berikan padamu." Dirga kembali berucap dan mengiyakan tantangan dari Anisa, bahwa bukan dirinya yang mandul, tapi istrinya.
Maka dari itu Dirga berani untuk mengambil tantangan tersebut, karena ia yakin dengan begitu maka. Anisa akan kembali kepadanya, dan mengakui semua kesalahannya.
__ADS_1
"An, sudah saatnya kita pergi!jangan ada perdebatan di rumah sakit." Arumi mencoba membuat keadaan sedikit tenang, dan sesuai permintaan Anisa juga. Bahwa Arum akan mengantarkannya ke panti, dimana tempat wanita itu berasal dengan sejuta ketenangan.