
Sebuah tamparan mendarat begitu sangat terasa, sehingga membuat Ferdy merasakan panas di sekujur pipinya, tapi anehnya lelaki itu sama sekali tidak membalas dan memilih untuk diam.
"Jangan harap kamu bisa mengantongi restu dariku, jika kamu ingin menikah. Kenapa harus dengan Anisa, memangnya tidak ada wanita lain selain adikku!" hardik Yuda yang terlanjur dibutakan oleh amarah karena permintaan konyol Ferdy, bahkan jika memang ingin menikah, bukanlah perkara sulit baginya. Itu karena Ferdy termasuk golongan lelaki yang tampan dengan sejuta pesona dan mudah untuknya saat ingin mencari istri? Tapi kenapa justru Anisa yang harus berada di posisi pertama.
"Bang, saya mohon." Seketika Yuda berangsur mundur saat Ferdi bersimpuh di kakinya, karena semua orang yang melihat pasti mengira jika sedang terjadi sesuatu pada keduanya dan mengakibatkan citra Yuda berada diposisi jelek.
"Saya bukan Tuhan yang tidak seharusnya kamu sembah, jadi berdirilah karena saya tidak mau jika orang berpikir kalau kamu telah mendapatkan perlakuan tidak baik dariku." Sayangnya Ferdy tidak memperdulikannya dan terus bersimpuh dihadapan Yuda hingga membuatnya menghempaskan kedua tangannya karena merasa risih.
"Meski kamu bukan Tuhan, tapi nyawa Ayahku ada di tangan Abang."
Ckckck.
Yuda berdecak kesal karena ia yakin jika semua ini sudah direncanakan agar bisa mendapatkan restu, Yuda bisa menjamin juga kalau ucapannya tidak salah dan menjadikan orang tua sebagai sasaran obsesi Ferdy untuk dapat menikahi Anisa.
"Sekarang berdirilah," titah Yuda masih bisa memelankan suaranya karena semua orang sudah mengalihkan pandangan terhadapnya, karena tidak ingin orang yang ada disekitarnya bisa saja menghakimi dengan bertubi-tubi.
"Tidak Bang—."
"Saya bilang berdiri!" bentak Yuda yang sudah kehabisan kesabaran untuk kedua kalinya, tidak peduli bahwa semua pasang mata tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka karena sekarang titik kesabarannya sudah habis.
"Bang, tolong saya sekali saja. Saya berjanji jika setelah Ayah saya sembuh maka sandiwara akan berakhir," ucap Ferdy dengan sangat dan berharap Yuda akan membantunya.
Ada perasaan tidak tega saat Ferdy memohon dengan begitu menyedihkan, tapi … apakah mungkin Yuda harus menyerahkan Anisa pada Ferdy? Sedangkan ada Samuel yang lebih berhak atas diri adiknya sekarang maupun nanti.
"Ya Tuhan, kenapa engkau membawaku ke dalam masalah yang sulit ini. Jika aku harus dihadapkan dengan dua pilihan antara pekerjaan dan masalah tak kunjung selesai, maka aku akan memilih setumpuk laporan." Seperti itulah isi di dalam hati Yuda, menyerah itu yang ada dipikirannya karena merasa sudah tidak sanggup lagi.
"Kita bicarakan nanti, sekarang saya harus pulang." Dengan suara datar nyaris tanpa ekspresi Yuda langsung meninggalkan Ferdy, yang kini masih menatap kepergian lelaki yang begitu sangat diharapkan. Untuk menyelamatkan hidup ayahnya sekarang.
Sesampainya di luar, terlihat Arum yang sudah menunggu Yuda, karena tadi sempat mengirimkan pesan singkat pada kekasihnya itu. "Maaf Ya Rum, lagi-lagi aku membuat kamu seperti ini." Arum yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum kecil karena merasa jika apa yang dilakukan bukanlah masalah baginya.
__ADS_1
"Yuk, naik." Mendengar ajakan dari Arum, membuat Yuda langsung membuka pintu mobil.
Sedangkan di lain tempat, pada saat Anisa pulang dari Kafe. Saat masuk dirinya tidak menemukan satu orang pun. Walau itu adalah Kakaknya, entah lelaki itu pergi ke mana hingga membuat Anisa mencarinya, tapi sayang ia sama sekali tidak menemukan sang Kakak karena mobil juga masih terparkir di garasi.
"Kenapa sepi dan sama sekali tidak ada orang? Bukannya mobil Kakak ada di garasi, tapi kemana perginya sampai di belakang pun tidak aku temukan?" dalam gumamnya Anisa bertanya-tanya soal hilangnya Yuda.
Lelah mencari hingga membuat Anisa memilih menyirami bunga di halaman depan. Sampai pada akhirnya netranya menangkap sebuah mobil yang diyakini jika itu adalah milik Arum.
"Bukankah itu mobil Arum?" gumam Anisa.
Benar saja, Arum dan Yuda keluar dari mobil dan segera meminta penjaga untuk membukakan gerbang.
Sedangkan keduanya yang melihat Anisa gegas menghampiri karena mereka bertiga perlu bicara, semoga saja Anisa bisa menerima kenyataan lagi dan menjauh dari orang-orang yang tidak ada hubungan dengannya.
"Kalian darimana?" tanya Anisa dengan tangan yang masih memegang selang.
Sesampainya di dalam. Yuda memberi isyarat pada Anisa untuk duduk.
"Sekarang jawab, siapa lelaki yang ada di hati kamu sekarang?" tanya Yuda dan menatap dalam ke arah sang adik.
"Jawab, kamu bisa bicara, kan!" bentak Yuda yang sudah terlalu lelah dengan persoalan ini.
Anisa hanya diam meski Yuda terus berusaha untuk membuat adiknya berkata jujur.
"Samuel, kenapa aku tiba-tiba ingat pada nama itu. Bukankah aku sangat membencinya, tapi kenapa tiba-tiba saja sekelebat wajahnya membayangiku." Anisa masih bergelut dengan hati dan pikirannya, yang kini telah dihantui oleh lelaki yang bernama Samuel.
"Jawab sekarang dan jangan membuang waktuku!" Yuda pun mengulang pertanyaannya.
"A-ku mencintai Ferdy."
__ADS_1
"Apa kamu yakin," sahut Yuda.
"Kenapa Kakak berkata soal itu. Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Ferdy, itu artinya cuma Ferdy yang kini ada di hatiku." Jawab Anisa dan hal sangatlah kentara, jika ada setitik keraguan di hatinya dan Yuda bisa melihat semua itu.
"Aku hanya memastikan bahwa kamu sedang tidak membohongi hati dan pikiran kamu saja," ujar Yuda dengan menatap lekat ke arah Anisa.
"Antara bibir dan hati aku bisa memastikan jika dengan bismillah dengan pilihanku sekarang." Sesaat Yuda terlihat mengepalkan kedua tangannya, merasa gagal menjadi seorang Kakak. Gagal menjadi seorang yang berperan Ayah, karena Anisa masih tetap dengan pilihannya. Yang mana akan menikah dengan Ferdy, lelaki setahun sudah dikenal oleh Anisa.
"Lalu, dengan cara apalagi Kakak membuktikan jika memang kamu benar-benar istrinya Samuel." Anisa melirik sekilas ke arah Yuda, mencari kebohongan dari wajahnya. Sayangnya semua itu tidak ditemukan dan Anisa sepertinya masih pada pendiriannya.
"Kakak dan Samuel, termasuk Arum, kalian bertiga adalah teman jadi aku yakin jika ini semua keinginan Kakak yang ingin menikahkan aku dengan Samuel kan? Sayangnya sebuah perasaan tidak bisa dipaksa. Hati beserta tempat sudah ada nama Ferdy, tidak ada nama lain selain kekasihku."
"An, tolong. Apa kamu tidak bisa mempercayai kita," ucap Arum yang sedari tadi hanya diam dengan sesekali menyimak, tapi sekarang bibirnya mencoba menyakinkan Anisa dengan sebuah kejujuran pada sahabat masa kecilnya tersebut.
"Nyatanya aku sama sekali tidak merasa kehilangan saat lelaki yang kalian banggakan pergi. Tidak ada rasa sedikitpun saat aku dan dia berdekatan, malah kata tidak nyaman yang selalu terjadi padaku. Bahkan Samuel tidak kembali pun aku tidak peduli," pekik Anisa yang sudah terlanjur marah pada Yuda, karena merasa dirinya selalu ditekan dengan hal yang tak pernah ia ingat.
"Berarti kamu siap kehilangan seseorang yang benar-benar memperjuangkan kamu, memperjuangkan hak yang seharusnya didapatkan oleh Samuel, jika dia tidak pernah kembali maka jangan pernah menyesal di kemudian hari." Sebuah kalimat sederhana, tapi mampu membuat Anisa bagai tertusuk jarum. Rasa perih perlahan menghampirinya dan menolak sebuah kenyataan yang berada di depan mata, sakit itulah yang terjadi pada hatinya dan sayangnya lagi-lagi Anisa menolak perasaan itu.
"Samuel bukan siapa-siapa bagiku, kenapa aku harus merasa kehilangan!" sela Anisa karena merasa jika antara dirinya dan Samuel hanya sebatas teman biasa dan tidak lebih.
"An, sekarang aku cukup tahu. Aku kira kamu akan mencoba mencari jati dirimu yang sesungguhnya, ternyata aku salah menilaimu. Mau sebesar apa pun pengorbanan yang sudah aku dan Kakakmu lakukan, nyatanya sama sekali tidak membuahkan hasil."
"Memangnya apa istimewanya Samuel? Sehingga kalian semua membelanya! Di sini aku ini siapa sih bagi kalian. Kenapa tidak ada satupun yang berpihak padaku," ucap Anisa dengan nada sedikit tinggi.
Entah, apa mungkin mereka harus berpisah dengan keadaan yang berbeda, meski Samuel begitu sangat mencintai Anisa dengan segenap jiwa. Rasa yang tak akan pernah ditinggal oleh Samuel dan akan membawanya kemanapun ia pergi hingga di penghujung jalan.
"An, dengarkan ini." Arum pun meletakkan ponsel yang sedari tadi menyala, karena memang niat kesengajaan.
📱"Jika memang kita tidak ditakdirkan bersama, maka biarkan aku membasuh luka yang telah kamu berikan. Pergilah Sayang, kejarlah lelaki yang kamu beri tempat di hatimu. Sekarang tidak ada gunanya aku berjuang jika kamu tidak pernah menerima kenyataan tentang siapa aku, semoga kamu bahagia dengan hidupmu yang baru bersama pilihan hatimu."
__ADS_1