
“Ma, kenapa semua ini harus terjadi lagi. Apa memang aku ditakdirkan untu sendiri dengan menggenggam luka!”
“Tidak sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Mama yang melahirkan Samuel nyatanya mama juga harus mengikhlaskan dengan kejadian semua ini,” ucap bu Susi yang mencoba untuk menenangkan menantunya yang kini sedang berduka, ketika separuh jiwanya telah pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali. Meski di hatinya yang paling dalam Anisa menolak ketika Samuel diberitakan meninggal Namin, ia yakin jika suaminya masih hidup, tapi Anisa juga tidak mungkin mengatakan apa yang selama ini dirasakan olehnya.
“Kamu kuat, kamu masih ada nyawa yang harus dipertahankan.” Anisa semakin terisak ketika anaknya lahir, maka sosok ayah tidak akan dirasakan olehnya kelak dan bu Susi masih mencoba menguatkan Anisa, meski dirinya hancur berkeping-keping ketika satu sosok pergi meninggalkannya dan menyusul sang ayah.
Luka hati itu sedikit demi sedikit telah pulih dan sekarang Anisa telah memulai kehidupan baru, dengan tinggal bersama mertuanya di kota B, karena hanya itu yang diinginkan oleh bu Susi ketika kehilangan sang anak, maka Anisa lah yang sekarang menjadi gantinya dan tidak membiarkan pergi jauh darinya lagi. Sudah cukup bu Susi ditinggalkan suami lalu sekarang anak satu-satunya juga telah pergi, hanya Anisa yang bisa dijadikan sandaran untuk sekarang maupun nanti.
“Ma … perutku semakin sakit, sepertinya aku akan melahirkan!” teriak Anisa saat berada di kamar dan bu Susi ketika ingin mengambilkan minuman untuk Anisa, maka saat itulah wanita yang begitu berarti setelah bu Ning berjalan tertatih untuk melihat keadaan menantunya, ketika teriakan itu sampai di telinganya.
“Sayang, kamu sabar ya, sebentar lagi Yuda sampai dan akan membawa kamu ke rumah sakit.” Ucapan bu Susi di respons dengan baik meski Anisa sudah tidak mampu untuk menahannya, dan ia tidak boleh memperlihatkan jika dirinya kesakitan.
Yah, selang beberapa bulan hilangnya Samuel. Anisa sudah memasuki usia ke sembilan dan sudah waktunya untuk melahirkan meninggalkan kota di mana ia dibesarkan dan memilih meninggalkan rumah yang selama ini ia tempati, meninggalkan sejuta kenangan bersama dengan Samuel karena semakin diingat maka akan membuat Samuel semakin tidak bisa melupakan kenangan terindah, tapi berakhir dengan kesedihan.
Bu Susi yang sedang harap-harap cemas menunggu Yuda, karena ingin menjemput Arum dan sampai sekarang belum ada pulang, hingga membuat bu Susi di ujung kegelisahan.
Beberapa saat kemudian, Yuda sudah sampai dan dengan keadaan tergesa-gesa ia langsung menaiki tangga agar bisa secepatnya membawa Anisa ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari bu Susi.
"Ma, bagaimana keadaan Anisa?" ketika sampai Yuda langsung bertanya untuk mengetahui kabar adiknya.
"Lebih baik kamu segera membawanya Yud, mama tidak mau jika Anisa sampai terjadi sesuatu." Jawab bu Susi dengan rasa takut yang kian menjadi.
Tidak dipungkiri jika Arum khawatir juga pada saat sahabatnya itu ingin melahirkan, akhirnya dengan langkah mengikuti Yuda yang saat ini sedang menuju kamar Anisa.
“An, kamu bertahan ya, aku dan kakakmu akan membawamu ke rumah sakit.” Ucapan Arum diangguki oleh Anisa.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka semua sudah berada di rumah sakit dan kali ini yang menemaninya adalah Arum.
Sesampainya di ruang bersalin, tim dokter sudah mulai bergerak untuk menangani Anisa yang sudah siap untuk proses melahirkan secara normal.
“Ahhhhh … sakit Dokter!” teriakan yang menyakitkan terdengar ngilu di telinga Arum.
“Sedikit lagi Bu, tarik napas yang kuat … ayo Bu terus!” Saat dokter menyuruh Anisa untuk mengatur napas dan setelah itu di suruh untuk mengejan. Siapa sangka Arum dibuat merinding ketika seorang ibu tengah berjuang melawan maut.
Sesaat kemudian.
Oe …oe … oe.
Terdengar tangisan seorang bayi mungil berjenis laki-laki dan hal itu membuat Arum begitu terharu, akan perjuangan Anisa yang begitu besar setelah proses yang begitu melelahkan.
“Mas, lihatlah anak kita lahir dengan wajah tampan seperti kamu. Aku harap kamu bisa merasakan itu meski sekarang kamu tidak ada lagi dari bagian di tengah-tengah kita,” ucap Anisa di dalam hati ketika seorang bayi mungil telah terlahir di dunia ini.
__ADS_1
“An!” tegur Arum.
“Aku baik-baik saja Rum, hanya ingin mengenang saat bersama Samuel. Pasti dia senang ketika sosok yang dinanti telah hadir di dunia ini, tapi sayangnya ….” Anisa dian dan sejenak mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
“Aku yakin jika di atas sana Samuel sedang melihat kalian,” ucap Arum yang ikut sedih ketika hari bahagia itu datang, tapi seseorang telah pergi dan tak akan pernah kembali.
Anisa menatap langit-langit atap, seakan ada wajah sang suami telah menghiasi pandangannya.
“Aku berjanji Mas, jika aku akan merawat anak kita hingga menjadi seorang yang sukses seperti kamu.” Dengan seulas senyuman, Anisa berbicara dalam hati, karena sampai kapan pun. Nama Samuel tidak akan pernah terganti di hatinya.
Anisa masih ada di ruang rawat dan bayi mungil itu sekarang ada di gendongan bu Susi. Dengan sangat gemas beliau sesekali menciumi pipi malaikat kecil tersebut. Sosok yang telah hadir mewarnai hari-harinya, membuat ingatannya berada di beberapa tahun silam karena bayi yang ada di gendongannya itu. Persis dengan Samuel ketika masih bayi. Hal itu juga yang sudah membuatnya teringat dengan anaknya hingga kini tak akan pernah kembali. Hanya ada sejuta kenangan yak tak akan terlupakan meski nyawa telah tiada, tapi memori yang terkumpul akan selaku dikenang.
"Lihatlah An, cucuku ini kenapa bisa persis dengan papanya waktu bayi." Dengan gemas bu Susi menunjukkan jika anaknya persis dengan suaminya saat bayi kala itu.
"Benarkah Ma, jika Mas Sam seperti dedek bayi ini?" ucap Anisa menyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang dijabarkan oleh mertuanya.
"Iya An, masa mama bohong." Anisa bahagia ketika mendengar pengakuan dari mertuanya. Hal yang begitu membahagiakan adalah bisa melahirkan dan nantinya akan merawat anaknya sendiri meski berat tanpa adanya sosok suami di sampingnya.
Setelah dua hari berada di rumah sakit, Anisa sudah diizinkan untuk pulang, karena kondisinya beserta anaknya sudah cukup baik.
"An, selamat datang di rumah dan selamat karena sudah menjadi seorang Ibu." Arum dengan bangga menyambut kepulangan Anisa, tidak lupa memeluknya begitu erat.
"An, selamat ya. Sekarang kamu sudah bergelar seorang Ibu dan kakak begitu bahagia, karena sudah mendapat bonus keponakan yang ganteng." Tidak hanya Arum, Yuda pun memberikan selamat pada Anisa dan memeluknya dengan begitu erat.
"Terima kasih Kak, maaf selama ini sudah banyak merepotkan kalian."
Yuda tersenyum karena semua itu bukanlah apa-apa baginya dan merasa jika gunanya seorang kakak, ialah sudah sepatutnya membantu meski dalam keadaan suka dan duka.
"An, terima kasih karena kamu sudah memberi ibu cucu." Terdengar suara yang begitu ia kenal, sejenak Anisa menoleh untuk memastikan dan benar. Anisa seketika menghamburkan pelukan pada bu Ning yang kini terlihat begitu bahagia, ketika Anisa berhasil memberikannya seorang cucu yang tampan.
"Bu, aku sangat merindukan Ibu." Anisa memeluk dengan sangat lama karena sudah lama juga keduanya tidak pernah bertemu dan sekarang, akhirnya ia bisa melihat wajah orang tuanya meski bukanlah ibu kandungnya, tapi sosok wanita kuat itu sudah banyak berjasa untuk Anisa.
"Ibu juga."
Semua orang berkumpul dan ada satu yang tidak ada di tengah-tengah mereka, hingga Anisa seketika memandangi wajah suaminya yang ada di bingkai foto. Dengan sangat bahagia lelaki itu ber pose begitu sempurna dan saat ini hanya ada kenangan yang tertinggal di hatinya.
Sedangkan bayi yang ada Box itu masih lelap dengan mimpinya, hingga suara tawa dan orang bicara pun tak membuatnya bangun atau terganggu.
Anisa sudah berada di rumah bu Susi dan sekaranglah Arum dan Yuda izin pamit, karena pekerjaan semakin menumpuk. Apalagi bu Susi meminta Yuda untuk menggantikan Samuel mengelola usahanya, karena tidak ada lagi yang diharapkan selain meminta bantuan Yuda.
Sedangkan untuk usahanya Anisa sendiri. Lagi-lagi Arum lah yang harus menangani ketika sahabatnya fokus untuk mengurus anak, maka semakin membuat Anisa tidak bisa diharapkan karena nyatanya wanita bergelar 'Ibu' itu masih menikmati menjadi orang tua tunggal.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain.
"Sayang kamu kenapa, kok pucat banget?" tanya Yuda ketika melihat Arum tengah terkulai lemas dengan dahi berkeringat.
"Aku tidak tahu, tapi perut dan kepalaku sakit sekali." Jawab Arum lemah.
"Kita ke dokter ya, agar tahu kamu sedang sakit apa!" Arum menggeleng karena merasa jika dirinya hanya butuh istirahat saja dan bisa jadi, jika hanya masuk angin.
"Rum, aku khawatir jika kamu kenapa-napa!" ucap Yuda menekankan.
"Mungkin ini hanya masuk angin. Kamu tahu sendiri, dua bulan ini aku sibuk mengurus usaha adikmu, jadi letak sakitnya sudah jelas ada di situ." Jawab Arum karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan kamu teh ya. Agar perutmu sedikit enakan dan aku juga akan membuatkan kamu makanan," ujar Yuda dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang."
Yuda menimpali dengan sebuah senyuman karena semua itu bukanlah masalah, selagi istrinya bahagia apa pun akan dilakukannya.
Ketika makanan sudah di depan Arum, bukannya memakan justru wanita itu semakin dibuat mual oleh aromanya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Yuda dengan keheranan.
"Kenapa sikap Arum aneh, ini kan cuma nasi dan beberapa lauk. Kenapa bisa seperti ini?" gumam Yuda bertanya-tanya.
"Yud, jauhkan itu dariku. Aku tidak kuat karena begitu sangat tidak enak baunya," kata Arum dengan menutup hidungnya.
"Sayang, tapi ini kan nasi? Kenapa dibuang dan … ini tidak bau," balas Yuda dengan mencium nasi dari sisa Anisa.
"Aku gak mau tahu meski ini makanan sekalipun dan sekarang buang saja!" Yuda mengerutkan keningnya, kenapa istrinya dengan tiba-tiba menyuruh untuk membuang makanan yang sudah diambilnya.
Sedetik kemudian Yuda tersadar jika ada sesuatu yang tidak beres, apa yang dialami oleh Arum dan hal itu pernah terjadi pada Anisa dulu.
"Sayang, aku pergi dulu." Tanpa persetujuan Arum, Yuda pun bergegas keluar dan tidak menghiraukan penampilannya entah seperti apa, yang terpenting baginya untuk sekarang dirinya akan mencari bukti bahwa apa yang ada di pikirannya adalah benar.
Sesampainya di tempat tujuan, tidak banyak orang yang memandangnya dengan aneh, dengan diiringi sejuta senyum. Akhirnya Yuda melihat penampilannya sendiri.
"Oh, sh*it. Pantas saja jika mereka menertawakan aku," gumamnya dalam hati ketika ia tahu bahwa. Pada saat keluar celemek masih tertempel di badannya dan kakinya menggunakan sandal yang sedang selingkuh, alias berbeda.
Sejenak Yuda tidak mempedulikan hal tersebut karena ia akan fokus pada benda yang dibelinya di Apotek.
"Mbak, berapa?" tanya Yuda sembari merogoh saku.
"Oh ya, jangan lupa memberitahu cara penggunaannya yang sudah saya kasih tahu, terus untuk totalnya 30 ribu saja." Seorang petugas Apoteker telah memberikan dua bungkus barang yang sudah dibeli oleh Yuda, lalu dengan cepat membayar agar mata orang-orang tidak menatapnya terus.
__ADS_1