Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
31. Aku menyerah, Mas


__ADS_3

"Apa kabar, An?" tanya Dirga ramah.


"Seperti yang kamu lihat, Mas." Jawab Anisa nyaris tanpa ekspresi, karena rasanya malas hanya untuk meladeni sosok Dirga.


"Syukurlah," ucap Dirga dengan senyuman yang terus mengembang.


"Maaf Mas, apa ada yang ingin Mas sampaikan?" Anisa bertanya dengan nada dingin. Seakan malas untuk bertemu dengan Dirga, karena sikapnya lah yang membuat Anisa enggan walau hanya menatap wajahnya.


"Apa bisa kita bicara sebentar, dan rasanya sangat tidak nyaman jika kita bicara dengan cara berdiri." Dirga berucap dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana, berharap jika Anisa mau diajak untuk bicara akan rasa yang sedari kemarin ia simpan.


Sesaat netra Anisa menatap wajah Brian. Wajah yang dulu pernah membuatnya candu, tapi sekarang. Sekarang tidak lagi dan rasa itu telah hilang bagai daun yang diterpa angin.


"Hanya sebentar, karena aku harus membantu Ibu memasak untuk adik-adikku." Jawab Anisa yang mencoba memberi kesempatan untuk Dirga bicara, karena nanti sudah tidak akan terjadi karena hubungan keduanya akan berakhir.


"Semoga Anisa mau menerima permintaanku," batin Dirga penuh harap. Akan apa yang nantinya disampaikan olehnya.


"Sekarang bicaralah, tidak ada waktu banyak untuk aku meladeni kamu," Mas." Ucapan Anisa sedikit membuat Dirga tidak percaya dengan penuturan dari wanita itu, yang masih sah menjadi istrinya.


Namun, sekarang nampak wajah dinginnya semakin terlihat, pelit dalam berucap membuat Dirga merasa jika adalah orang lain.


"Aku ingin kamu mencabut gugatan itu An, karena belum adanya sidang maka kita bisa memperbaikinya."


Sungguh muda saat pria itu berkata, dan tidak ada rasa berdosa dengan apa yang dikatakannya, seperti itulah yang ada dipikiran Anisa.


Seperti seseorang tengah menjilat ludahnya lagi, begitu enteng dan tanpa beban. Saat Dirga mengutarakan keinginannya.


Anisa menatap tajan ke arah Dirga karena menurutnya. Lelaki itu sudah mempermain perasaannya, hingga emosi yang sedang meluap, ia coba tahan agar tidak menimbulkan masalah.

__ADS_1


"An, bagaimana?" tanya Dirga lagi.


"Kamu tahu Mas, aku sudah tidak ingin merajut benang yang kamu rusak, karena hal itu akan tetap aku lakukan."


"Apa kita tidak bisa memperbaikinya? Aku mohon pikirkan sekali lagi," ujar Dirga yang terus memaksa agar Anisa mencabut gugatan tersebut.


"Semanis itukah kamu berkata, setelah apa yang kamu lakukan padaku?" Anisa terus menatap Dirga, aura kebencian semakin terlihat.


"Aku salah, dan aku minta maaf." Dirga masih berusaha membujuk Anisa.


"Simpan kata maafmu, dan sekarang pergilah." Anisa pun secara perlahan mengusir Dirga, bukan karena apa. Anisa tidak mau sampai emosinya kian memuncak karena sudah dipermainkan, oleh lelaki yang sekarang tengah digugatnya.


"An, Please ... apa tidak ada kata kesempatan untuk Mas An, Mas janji akan adil seadil-adilnya." Dirga tidak menyerah dan terus berusaha membuat Anisa luluh. Sedangkan Anisa sendiri yang mendengar hal itu. Membuatnya semakin muak karena rasa kecewanya pada Dirga sudah terlalu dalam.


Sedangkan di luar panti, sosok wanita terus mengawasinya. Dengan tatapan kebencian pada Anisa, wanita itu terus mengepalkan kedua tangannya, dan merekatkan gigi-giginya hingga menimbulkan suara.


"Sepertinya aku harus memberi pelajaran pada wanita gatel itu," gumam wanita itu lagi. Menunggu waktu yang pas untuk meluapkan kekesalan yang ditimbulkan oleh Anisa, membuat hati seseorang meradang.


Melihat Dirga yang sudah berjalan keluar panti. Membuat wanita itu buru-buru mencari persembunyian, agar Dirga tidak tahu jika ada seseorang tengah membuntutinya.


Tidak berapa lama. Sosok Dirga benar-benar pergi dan inilah saatnya wanita itu memberi pelajaran.


Plaaaak.


Auh. Pekik Anisa kesakitan akan tamparan yang tiba-tiba mendarat.


"Kenapa kamu datang dan tiba-tiba menamparku!" seru Anisa karena tanpa diduga. Wanita itu menarik bahunya lalu dengan cepat menamparnya.

__ADS_1


"Karena kamu memang pantas untuk mendapatkan, wanita jala*g." Dengan senyuman licik, wanita itu tanpa berdosa menghina Anisa. Tanpa tahu siapa dirinya sendiri.


Sedangkan Anisa hanya tersenyum simpul melihat kemarahan pada wanita tersebut. "Apa kamu amnesia atau memang sudah kehilangan akal. Harusnya kamu sadar juga siapa yang ja*lang di sini!" tekan Anisa tanpa ragu.


"Apa dia pikir jika aku tidak tahu asal usulnya? Hanya saja aku lebih memilih diam," gumam Anisa dalam hati. Sembari terus mengucapkan istighfar agar tidak semakin termakan, oleh ucapan dari wanita tersebut.


"Di sini yang jala*g itu kamu! Harusnya mikir Mas Dirga sudah mencampakkan kamu, tapi kenapa masih mengejarnya." Untuk saat ini Anisa hanya bisa tersenyum akan apa yang ia dengar barusan, dan sesekali mengangkat sudut bibirnya.


"Ingat, jika kamu masih berani menggoda Mas Dirga maka ... aku tidak segan memberi pelajaran padamu!" tekan wanita itu lagi, dan terdengar sebuah nada ancaman.


"Apa yang harus kamu takutkan. Nyatanya yang menggugat bukan Mas Dirga, tapi aku. Namun, sepertinya kamu belum sadar siapa yang terus menggoda terlebih dulu. Mengingat profesimu sebelumnya, lantas mengorbankan aku demi mendapat keadilan pada anak yang kamu kandung ...." Rasanya Anisa tidak kuat untuk terus mengutarakan semuanya, tapi wanita itu juga harus tahu siapa jati dirinya yang sesungguhnya.


"Ingat, kamu menjadikan Mas Dirga mangsa hanya ingin sebuah marga yang ingin kamu dapatkan lewat anak kamu itu. Aku tidak buta hanya ingin diam karena hal itu percuma, nyatanya Mas Dirga sudah masuk ke dalam perangkap kamu."


Sosok itu pun akhirnya diam seketika, dan berpikir bagaimana bisa Anisa yang terlihat polos, bisa tahu siapa dirinya yang sesungguhnya.


"Kenapa diam, jadi benar ya. Kalau ucapanku itu bukanlah bohong belaka," kata Anisa lagi.


"Ingat, jauhi Mas Dirga!"


Setelahnya, wanita itu pergi dengan hati yang dongkol. Berniat untuk memberi pelajaran, nyatanya dia sendiri yang dibuat kesal oleh Anisa.


"Siapa kamu, aku tahu. Semoga Mas Dirga sadar dan diberi jalan oleh Allah, Amin." Anisa mengadakan kedua tangannya, dan meminta pada Sang Pencipta agar suaminya bisa sadar dengan jalan yang sudah diambil.


Untuk Anisa, bukan tidak mau menyadarkan akan suaminya, hanya saja jika lelaki itu bisa adil. Maka tak masalah jika harus bertahan dengan siapa Dirga menikah, dan ia pun tidak melihat seberapa besar masa lalu yang sudah disembunyikan oleh Elsa.


Hanya saja Anisa memang sudah tidak bisa menerima perlakuan Dirga, dengan menikah diam-diam dan mengatakan bahwa dialah yang mandul. Hingga suaminya memilih menikah lagi dengan keinginan memiliki keturunan.

__ADS_1


__ADS_2