Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
101. Samuel masih hidup


__ADS_3

“Saya ke sini atas utusan oleh seseorang.” Jawaban yang terlalu singkat membuat Anisa semakin bingung karena lelaki itu tidak menjabarkan dengan jelas.


“Bisa dijelaskan secara detail dan tidak berbelit." Kata Anisa yang tidak tahan karena sudah banyak membuang waktu, nyatanya belum ada titik terang yang didapatkan dari pemuda tersebut.


“An, Mama mana?” tanya Yuda yang tiba-tiba menanyakan keberadaan bu Susi.


“Ada di atas Kak, karena dari tadi pagi Akbar rewel jadi Mama yang menggantikan aku menggendong.” Tanpa bertanya lagi, Yuda langsung naik ke atas.


Sedangkan Anisa masih curiga dengan pemuda yang terlihat begitu bingung dari awal masuk ke dalam rumah.


“Maaf, apa Akbar itu anak kamu?” tanya lelaki itu pada Anisa.


“Iya, anak saya dengan suami saya yang kini sudah tidak akan pernah kembali lagi.” Ucapan dari Anisa membuat lelaki tersebut merasa nyeri, karena tidak menyangka jika dirinya sudah salah paham dengan seseorang. Yang sempat dianggapnya perusak hubungan orang, nyatanya keluarganya sendiri begitu sempurna.


“Kenalkan saya Bowo,” ucap lelaki tersebut saat mengenalkan dirinya pada Anisa yang kini masih, diselimuti oleh keanehan karena kedatangan lelaki yang tak pernah ia lihat.


“Saya Anisa,” balasnya pada Bowo.


“Oh ya, ada maksud apa dengan Anda tiba-tiba datang ke rumah ini, lalu sebenarnya tujuan Anda juga apa?” cercah Anisa pada lelaki yang bernama bowo karena lelaki itu sedikit susah untuk berinteraksi.


“Saya diutus untuk menjemput Anda dan pergi bersama saya!” ucap Bowo memberitahu tujuan dan maksud kedatangannya di rumah Anisa.


“JIka alasan Anda jelas, mungkin saya bisa mempertimbangkan. Kenyataannya Anda terlalu bertele-tele hingga membuat saya tidak nyaman.” Jelas Anisa karena ia takut jika ada maksud terselubung di diri Bowo, dengan mengatasnamakan utusan.


"Maaf untuk nama, saya tidak akan mengatakannya, karena semua itu atas kehendak dari orang yang menyuruh saya."


Belum sempat Anisa membalas ucapan dari Bowo, Yuda langsung menyela dan membela lelaku asing tersebut.


“An, nanti juga kamu akan tahu. Sekarang lebih baik kamu bersiap untuk ikut bersama dengan kita,” sahut Yuda setibanya di bawah tangga.


“Kak, lalu Akbar bagaimana? Tidak mungkin aku mengajaknya karena kasihan dan juga, belum cukup umur untuk diajak keluar!” Entah apa yang sedang disembunyikan oleh Yuda, karena tidak ada yang mau mengatakannya dan memberikan alasan yang jelas kepadanya.


“Ada bi Wati, ada Mama juga. Kita tidak akan lama dan mungkin hanya dua hari di sana,” kata Yuda dengan penuh perjuangan membujuk Anisa agar mau ikut dengannya dengan tujuan menemui seseorang yang selama ini dirindukan.


“Lalu, Akbar … aku tidak bisa meninggalkannya Kak,” ucap Anisa yang masih ragu-ragu untuk ikut apalagi harus meninggalkan Akbar.


“Sekarang bersiaplah karena sudah tidak ada waktu, untuk sekarang kamu bisa menyetok Asi agar kamu tidak kekurangan di saat Akbar ingin menyusu. Sampai kita pulang dan nanti akan kakak cari ibu susu bila memang dibutuhkan,” ucap Yuda yang tak tahu harus membujuk dengan cara.


"Tidak Kak, aku tidak mau Akbar minum Asi dari orang lain!" tolak Anisa dengan tegas.

__ADS_1


“An, jangan khawatir. Mama akan menjaga Akbar dan sekarang kamu ikut dengan mereka,” bu Susi pun ikut menimpali dan menyuruh Anisa untuk ikut juga karena ia sudah diberitahu oleh Yuda, maka dari itu sekarang tinggal Anisa yang masih susah ketika dibujuk.


“Baiklah, aku akan ikut dengan kalian dan aku harap semua ini bukanlah jebakan.”


“Aku menunggumu An, setengah jam lagi kita akan berangkat menggunakan pesawat. Jadi, cepatlah dan jangan membuang waktumu.” Meski dengan hati bertanya-tanya serta perasaan yang tak karuan, Anisa berusaha untuk tetap tenang. Namun, yang memenuhi isi pikirannya jika sebenarnya tujuannya ke mana? Anisa sama sekali tidak mendapatkan jawaban walau dua kata.


Akhirnya dengan perasaan berat hati karena terpaksa meninggalkan Akbar bersama oma nya sendiri di rumah. Membuat Yuda berusaha menenangkan Anisa jika semua akan baik-baik saja.


“Kak, kita ke mana sih memangnya. Terus kenapa bandara yang kita tuju berada jauh dan belum pernah kita singgahi?” sebuah pertanyaan lagi-lagi membuat Yuda harus bisa menahan agar tidak memberitahu tentang tujuannya sekarang, karena ia anggap jika kepergiannya adalah kado spesial untuk sang adik.


“Diamlah nanti juga kamu akan tahu ke mana, kita akan pergi dan tujuan kita datang ke desa yang cukup menyita waktu. Kalau kamu lelah lebih baik tidurlah, nanti jika sampai kakak akan membangunkan kamu," ucap Yuda yang tak mau kalau Anisa terus bertanya dan meminta penjelasan.


Setelah berucap, Yuda menyuruh Anisa untuk tidur agar tidak sampai kelelahan. Sedangkan untuk Bowo sendiri sekarang sudah basah oleh keringat. Rasa takut yang kian menjadi karena berada di ketinggian dan Bowo pun berujar jika ini kali pertama dia menaiki pesawat.


Beberapa jam kemudian, Pesawat yang mereka tumpangi kini telah landing. Anisa pun dengan cepat dibangunkan oleh Yuda dan mereka bertiga mulai keluar dari bandara, untuk secepatnya menunggu jemputan yang sudah dihubungi oleh Bowo untuk membawanya ke tempat tujuan.


“Bang, saya kemarin naik kapal memakan waktu dua hari, kenapa waktu naik pesawat hanya butuh hitungan jam sudah sampai.” Dengan polosnya Bowo mengatakan hingga membuat Anisa dan Yuda terpaksa tertawa, karena lelaki yang terlihat sangar itu nampaknya punya rasa takut yang begitu besar.


“Wo, kamu yakin ini tempatnya?” tanya Yuda memastikan.


“Iya Bang, dia tinggal di sini setelah ditemukan para nelayan beberapa bulan lalu.” Jawab Bowo dengan jujur dan tidak ada yang di tutup-tutupi karena itu adalah kenyataannya.


“Kak, maksudnya apa! Siapa yang ditemukan oleh nelayan, kenapa kalian berdua begitu kompak untuk tetap bungkam.” Dengan wajah kesal Anisa terus memarahi dua lelaki yang tak mau jujur.


Degh.


“Kak, kenapa lelaki itu mirip dengan Samuel?” tanya Anisa dengan suara bergetar.


“Iya An, kakak juga merasa jika dia adalah Samuel.” Kakak beradik itu rupanya masih sulit untuk percaya akan lelaki yang masih belum menyadari siapa orang yang tidak jauh darinya. Sedang El sendiri sedang bersama dengan Lastri, lalu dengan sengaja wanita itu bergelayut manja di lengan El.


“Dia mengaku namanya Samuel, kita memanggilnya El karena lebih muda untuk menyebutnya.”


“Ka-kamu tidak bohong kan, lelaki itu benar Samuel. Di mana dulu pernah mengalami kecelakaan kapal?” dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi, Anisa mencoba memastikan jika lelaki yang sedang duduk bersama dengan seorang wanita adalah suaminya.


Bowo mengangguk itu berarti benar, lelaki itu adalah Samuel, suami dari Anisa.


Dengan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan, Anisa langsung berlari dan memeluk tubuh kurus Samuel. "Mas!"


Suara isak tangis tak terbendung lagi karena apa yang ada di dalam pikirannya adalah nyata.

__ADS_1


"Kamu siapa? Bang El adalah calon suami saya," ujar Lastri yang tak terima dengan kehadiran Anisa dengan tiba-tiba, lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Nis, ini kamu kan, kamu masih setia denganku?" sebuah kalimat yang terucap di bibir Samuel membuat Anisa seketika mendongakkan kepalanya.


"Iya Mas, sampai kapan pun aku akan setia padamu. Pada pernikahan kita," ucap Anisa dengan bibir bergetar ia kembali memeluk Samuel lagi.


"Tidak bisa Mbak, Bang El adalah calon suami saya dan sebentar lagi kita akan menikah!" Tanpa ragu sedikitpun, Lastri terus berbicara dan tidak terima bahwa Anisa adalah istrinya.


"Tidak Las, bukankah kamu dari awal sudah saya beritahu. Jika hanya ada satu wanita yang akan menjadi cinta terakhir saya, yakni istriku Anisa!"


"Bang, kamu berhutang banyak pada keluargaku. Andai Bapak tidak menolongmu, mungkinkah sekarang masih hidup? Rasanya tidak dan aku bisa memastikan."


"Las, kamu masih muda. Ada banyak lelaki yang mau menikahi kamu, bukan malah sibuk dengan lelaki yang sudah beristri!" tegas El.


"Las, aku akan Bowo. Akan selalu mencintai kamu, jika kamu menerimaku maka aku akan membuat kamu bahagia!" Sekarang Bowo maju ke depan mencoba menenangkan keadaan yang tak terkendali.


"Tidak Wo, aku tidak suka denganmu. Aku tidak mencintai kamu karena kamu bukan seleraku," ucap Lastri dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.


"Baik, mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Sudah cukup aku berjuang karena cintaku sama sekali tak terbalas," ucap Bowo yang memilih menyerah untuk mendapatkan hati Lastri.


Sedangkan di dalam. Pak Bagong yang mendengar ramai-ramai di depan rumah memilih untuk keluar, melihat apa yang sedang terjadi sekarang.


"Ini ada apa ramai-ramai, Las, kamu kenapa?" ketika pak Bowo sudah berada di luar, ia melihat anaknya sedang menangis.


"Pak, aku mohon nikahkan aku dengan dia! Karena perbuatannya aku hamil."


Degh.


Nyeri, sesak dan rasanya tak sanggup untuk berdiri tegak. Itulah yang dirasakan oleh Anisa, ketika datang untuk membawa cintanya pulang, tapi kehadirannya justru di sambut dengan luka hati yang menganga lebar.


"Mas, sekarang jelaskan. Benar kamu menghamili gadis ini?" dengan wajah merah padam akibat rasa kecewa, Anisa mencoba mencari jawaban dari mulut Samuel sendiri.


"Tidak Sayang, semua itu tidak benar. Itu fitnah dan aku bersumpah tidak pernah melakukan hal sekeji itu," ujar El dengan wajah ketakutan. Bukan soal tuduhan itu, tapi tentang Anisa yang takut akan hasutan dan membuat semua ini semakin runyam.


"Kenyataanya gadis itu mengatakan jika dia hamil anak kamu! Kenapa kamu masih mengelak Mas, apa ini yang dinamakan kejutan?" dengan sesenggukan Anisa berbicara, karena sekian lama ia menunggu kabar dari suaminya dengan harapan masih hidup, nyatanya sekarang dirinya dihadapkan dengan pilihan yang begitu menyakitkan.


"Sayang, dengar aku. Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu! Demi Allah aku berani bersumpah." El seketika bersujud di kaki Anisa, berharap jika semuanya bisa diselesaikan karena, salah pahan akan membuatnya semakin menjadikan suasana berantakan.


"An, sabar. Alangkah baiknya jika kamu mendengarkan Samuel, lagipula kakak yakin jika suami kamu tidak akan berbuat hal yang di luar batas. Sebelum kamu menikah dengannya, kakak jau lebih tahu sifat dan kelakuannya." Yuda mecoba mengambil jalan tengahnya, agar salah paham ini tidak akan membuat sesuatu yang pernah terjadi dulu, sekarang akan terulang lagi.

__ADS_1


"Las, jujur sama bapak. Kamu memang sedang hamil atau hanya berpura-pura?" suara tegas dari pak Bagong, membuat Lastri terisak.


"Jawab Las, jika kamu terus menangis maka masalah tidak akan selesai."


__ADS_2