
"Kalau begitu ibu akan ke rumah Anisa untuk melihat keadaannya. Ibu khawatir soalnya," ucap bu Ning ketika Arum membawa kabar tentang keadaan Anisa.
"Tentu Bu, kita akan ke sana bersama-samaβ."
"Tidak Rum, kalian ini pengantin baru! Mana boleh keluyuran," sahut bu Ning dengan menolak menggunakan alasan tersebut karena bu Ning sendiri tidak mau merepotkan dua pengantin yang tengah merasakan bahagia, tapi harus diganggu hanya karena keadaan Anisa.
"Bu, tapi kita juga perlu tahu keadaannya!" ucap Arum memaksa dengan memperlihatkan wajah memelasnya.
"Nanti kan bisa ibu kasih tahu. Kalian ini belum dapat sehari menikah. Jadi, fokus untuk urusan kamu saja." Bu Ning tidak tega jika harus melibatkan Arum dan Yuda, secara mereka juga baru setengah hari menjadi suami istri. Apakah harus merepotkannya? Bu Ning tidak setega itu dan ini adalah urusan yang tidaklah serius. Jadi, masih bisa diatasinya sendiri.
"Memangnya Ibu mau berangkat dengan menggunakan angkutan umum? Bu dari perumahan ke jalan raya lumayan jauh. Jadi, sebaiknya Ibu di antar saja."
Benar apa yang dikatakan oleh Yuda, jarak untuk bisa keluar dari perumahan lumayan jauh. Rasanya tidak sanggup juga untuk berjalan karena usia tuanya semakin renta untuk berjalan dan entah, siapa yang harus mengantarkannya kali ini.
"Kalau begitu aku pesankan ojek ya, Bu?" tanya Arum yang sebelumnya meminta persetujuan dari bu Ning, mau atau tidaknya Arum tetap harus bertanya, karena tidak ada cara,lain selain memesan ojek ππ―ππͺπ―π¦.
"Boleh, karena lebih baik secepatnya sampai di sana ketimbang harus menunggu angkutan." Jawab bu Ning yang setuju dengan usul dari Arum karena yang ada di hatinya ingin segera sampai.
Tidak membutuhkan waktu lama. Bu Ning sudah sampai di rumah Samuel dan kedatangannya disambut hangat oleh mbok Yem, yang mana telah membuka pintu untuk beliau.
"Mbok, ke mana mereka?" tanya bu Ning ketika melihat rumah yang sepi.
"Ada Bu, mereka ada di kamar. Nona sedang istirahat, mungkin aden sedang menemani." Jawab mbok Yem dengan sopan.
"Kalau bu Susi, ke mana?" tanya kembali bu Ning.
"Nyonya ada di dapur. Sepertinya sedang ikut membuatkan sesuatu untuk non Anisa," ujar mbok Yem.
"Baiklah kalau begitu saya akan ke dapur." Jawab bu Ning dengan berlaku meninggalkan mbok Yem di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian.
Kabar bahagia sudah sampai di telinga bu Ning, dengan rasa haru wanita tua itu seketika memeluk anak asuhnya tersebut yang kini sudah berada di ruang keluarga, tempat untuk berkumpulnya para orang tua.
"An, selamat ya. Selamat atas kehamilan kamu lagi," ucap bu Ning dengan hati yang bahagia.
"Iya Bu, terima kasih karena udah ngerepotin Ibu dengan jauh-jauh datang cuma kasih selamat aku." Anisa merasa bahagia sekali karena ada banyak orang yang yang menyayanginya saat ini.
"Kamu baik-baik ya. Kalau begitu akan kembali ke panti karena tidak mungkin ibu meninggalkan adik-adik kamu di sana," ucap bu Ning yang hendak ingin pamit dan terlihat jika Anisa merasa berat hati dan tidak lupa bu Susi juga meminta besannya untuk hati-hati.
"Bu Besan, hati-hati ya. Maaf karena sudah merepotkan Besan sampai jauh-jauh datang," Kata bu Susi sembari memeluk bu Ning.
"Tentu Bu, kalau begitu saya izin pamit ya, untuk kamu jangan kecapean biar kandunganmu baik-baik saja." Pesan dari bu Ning, mendapat respons baik dari Anisa dan mengeluarkan seulas senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Bu, kenapa tidak di sini untuk semalam saja!" kata Anisa.
"An, ibu akan sering-sering datang buat nengok kamu dan cucu ibu, tapi untuk sekarang tidak karena di panti butuh sosok ibu." Akhirnya dengan berat hati Anisa pun memperbolehkan bu Ning pulang.
Dengan terpaksa akhirnya Anisa merelakan bu Ning yang pergi. Untuk kembali ke panti asuhan karena hari juga sudah sore, tidak mau anak-anak di panti semakin lama menunggu kepulangannya.
Keesokan paginya.
Tidak ada yang aneh dan bu Susi juga sudah kembali ke kota B, untuk kembali pulang ke rumahnya. Sedangkan saat ini hanya tinggal Anisa bersama suaminya.
Huek.
Huek..
Anisa yang sedang membuatkan kopi untuk Samuel, tiba-tiba dikejutkan dengan suara orang muntah. Hingga Anisa pun mendatangi suaminya yang ada di ππ’π΄π΅π’π§π¦π.
"Mas, kamu ini kenapa sih?" gerutu Anisa dan dengan langkah sedikit tergesa ia bertanya pada sang suami.
"Mas, apa yang terjadi, kenapa terjadi lagi seperti kemarin?" tanya Anisa dengan mengelus lembut punggung Samuel.
"Aku tidak tahu, tapi perutku benar-benar tidak enak." Jawab Samuel dengan nada suara lemahnya, karena terlaku banyak mengeluarkan tenaga.
"Aku buatin teh ya. Biar perut kamu sedikit enakan," ucap Anisa yang saat itu langsung meninggalkan Samuel.
Beberapa menit kemudian, Anisa sudah membawakan teh hangat untuk Samuel. "Ini, minumlah agar perut kamu enakan." Anisa menyodorkan segelas teh pada suaminya.
Tidak ada kata yang terucap. Samuel terus meminum hingga gelas itu kosong, tapi rasa mual itu kembali lagi dan untuk sekarang. Tidak ada ada yang dikeluarkan dan hanya seperti orang masuk angin.
"Mas, apa kemarin ada makan sesuatu hingga membuat perut kamu sakit?" Samuel yang mendengar hal tersebut. Dengan tangan masih memegang perut ia mencoba mengingat, apa yang sudah makannya kemarin hingga membuatnya mual-mual.
Setelah yakin jika tidak memakan sesuatu karena Samuel juga tipe lelaki, yang tidak suka beli makanan sembarangan.
"Tidak ada Sayang, aku merasa jika memang tidak pernah makan apa pun." Jawab Samuel dengan yakin.
"Lalu, kenapa kamu setiap hari seperti ini? Kenapa jadi terbalik, aku yang hamil nyatanya kamu yang teler." Anisa menggeleng pelan karena merasa aneh saja sampai-sampai suaminya tidak dapat bekerja, hanya karena badannya sudah tidak memiliki tenaga.
"Aku tidak tahu. Sudahlah aku mau tidur dan jangan ganggu aku. Oh ya, satu lagi jika nanti kamu keluar tolong belikan rujak mangga." Sambil berlalu, Samuel berkata dan sekarang dirinya telah masuk ke dalam kamar. Sedangkan Anisa yang ada di bawah menatap tidak percaya hingga mulutnya menganga sempurna.
"Sejak kapan suamiku itu suka rujak? Bukannya dia sangat anti dengan makanan itu?" Sebuah pertanyaan timbul dibenak Anisa.
Di dalam kamar pun. Bayang-bayang mangga telah menghantuinya dan entah kenapa dirinya menjadi sosok yang aneh. Dari hal yang tidak disuka sekarang justru ia sukai, saat matanya hendak terpejam tiba-tiba rasa mual itu datang lagi sampai Samuel harus berlari untuk menuju ke kamar mandi.
Hueeek.
__ADS_1
Hueeek.
Lagi dan lagi, rasanya lemas dan tidak sanggup untuk berjalan. Itulah yang dirasakan oleh Samuel, hingga memilih untuk menghubungi mama nya. Dengan begitu siapa tahu bisa membantunya karena ia benar-benar lelah jika harus seperti ini terus.
π²"Halo, Ma. Tolong datang ke sini!" ucap Samuel tanpa basa-basi.
π²"Ada apa memangnya?" tanya bu Susi dengan keheranan.
π²"Mama datang saja ke sini, nanti juga tahu."
Ponsel ditekan tanda ππ§π§ dengan sepihak. Membuat bu Susi khawatir dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk siap-siap.
Sedangkan Wati yang hendak keluar melihat bu Susi tergesa-gesa memilih untuk bertanya karena tidak seperti biasa. "Nyonya! Ada apa kok seperti terjadi sesuatu?" tanya Wati.
"Tadi Sam telepon, katanya saya disuruh ke sana. Entah apa yang terjadi dan saya juga takut jika ada sesuatu pada Anisa," ujar bu Susi memberitahu.
"Saya boleh ikut? Siapa tahu di sana saya dibutuhkan." Bu Susi menoleh lalu mengangguk, memang ada benarnya siapa tahu nanti ada yang membutuhkan bantuan dari wati.
Kali ini bu Susi pergi menggunakan jasa travel karena akan membuatnya cepat sampai.
Benar saja. Beberapa jam kemudian bu Susi dan Wati telah berada di depan rumah Samuel, dengan langkah cepat dua orang wanita itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Empat orang saling beradu pandang dan saling menatap satu sama lain. Ada rasa aneh yang menyelimuti hati bu Susi, hingga memilih untuk bertanya karena rasa khawatir yang ia miliki justru terbalik dengan apa yang ada di depan matanya sekarang.
"Sam, bukannya kamu tadi meminta mama untuk datang ke sini dan melihat keadaan di rumah ini? Tapi kenapa kalian asyik dengan itu." Bu Susi sengaja menunjuk apa yang ada di tangan Samuel dan menatapnya penuh keheranan.
"Mas, kamu nyuruh Mama datang?" tanya Anisa karena merasa jika antara dirinya dan suami. Tidak ada yang aneh apalagi keadaan serius, tapi kedatangan mertuanya cukup membuatnya terkejut.
"Tadi pagi suami kamu yang nyuruh mama untuk datang. Makanya sekarang ada di sini sekalian ajak Wati siapa tahu ada yang butuh bantuannya," sahut bu Susi pada Anisa.
"Mas, jelaskan." Anisa tidak menghiraukan perkataan dari bu Susi, karena ia harus memaksa Samuel untuk mengaku dengan apa yang terjadi. Sehingga mertuanya dengan posisi jauh harus rela datang, hanya untuk menjenguknya ke rumah dengan alasan yang tidak diketahui.
"Iya Sayang, aku tadi yang minta Mama untuk datang karena tadi kamu tidak ada. Sedangkan aku sudah lemas di kamar mandi," ujar Samuel menjelaskan.
"Ma, masuk dulu. Nanti akan aku jelaskan," kata Anisa dengan menuntun mertuanya untuk duduk. Sedangkan Wati minta izin untuk ke dapur menemui mbok Yem.
"Sekarang jelaskan, ada apa sih sebenarnya dan jangan membuat mama semakin penasaran!" sergah bu Susi karena merasa jika keduanya bertele-tele, makanya bu Susi langsung ππ©π¦ π΅π° π±π°πͺπ―.
"Mas Sam, dari kemarin muntah-muntah terus makanya sudah beberapa hari ini tidak kerja dan terpaksa bekerja dari rumah, entah aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Sedangkan tiap aku tanya habis makan apa dia tidak tahu," ucap Anisa yang menerangkan kronologinya seperti apa.
Ada kelegaan di hati bu Ning karena semua itu bukanlah hal yang serius.
"Dari sejak kapan kamu bertingkah aneh seperti ini?" tanya bu Susi pada Samuel yang masih asyik dengan buah yang dipegangnya. Padahal dua wanita yang tengah duduk berjejer, ingin rasanya mengeluarkan air liur karena melihat Samuel.
__ADS_1
"Sejak kemarin Ma, entah aku juga tidak tahu kenapa jadi orang aneh." Akhirnya Anisa lah yang menjawab karena Samuel lagi-lagi tidak peduli.