
"Tunggu, kalian mau ke mana?" cegah suara tersebut, dan membuat Anisa seketika mendongakkan kepalanya. Guna melihat si pemanggil.
"Sam!" sapa Anisa yang tidak percaya dengan penglihatannya.
Bukannya saat Anisa mencuri pandangan Samuel masih berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya? Tapi sekarang justru sudah berada di depan Anisa.
"Sepertinya kita akan berjodoh, setiap aku ke sini. Maka kamu pun selalu ada," ucap Samuel dengan senyuman penuh kagum.
"Sam, ingat aku masih suami orang, dan tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu!" kata Anisa dengan ucapan penuh harap. Agar Samuel tidak lagi berkata seperti itu.
"Emang benar ya, pembinor itu tak selalu dirindukan." Jawab Samuel dengan ujung bibir terangkat, dan memberikan kesan jika dirinya begitu sangat menyedihkan.
"Maka aku menjadi sosok yang akan kamu rindukan," kata Samuel lagi.
"Dasar keras kepala," gumam Anisa yang tak habis pikir dengan pola pikir Dirga, yang begitu sangat pendek.
Tampan, kaya dan bertanggung jawab. Bukannya akan lebih muda untuk mendapatkan pasangan, seperti hidupnya yang sangat sempurna?
"Nis, aku kan belum selesai bicara, kenapa kamu mau pergi!" kata Samuel dengan nada menggoda.
"Aku mau pergi dan jangan membuat kesalahan padaku, Sam!" ujar Anisa yang semakin kesal akan ulah Samuel yang terus menghalanginya.
"Cantik," puji Samuel saat matanya tidak bisa berpaling dari wajah Anisa.
"Cie ... cie, ada yang lagi dapat pujian nih." Arum menyambar karena tidak tahan dengan ulah konyol Samuel. Yang terus menggoda Anisa.
"Jika sudah tidak ada yang dibahas. Aku pergi dan jangan mencari keributan denganku," kata Anisa dengan wajah kesal, ia lantas meninggalkan Samuel dan juga Yuda.
Tidak lupa kepergian Anisa meninggalkan salam, tapi sepertinya Samuel tidak mendengar dan hanya Yuda yang menjawab. "Sam, Anisa mengucap salam kenapa kamu diam?" tanya Yuda saat melihat Samuel masih dengan tatapan mengiringi kepergian Anisa keluar dari cafe.
"Sudah, tapi dalam hati. Kamu lihat Yud, bidadari bumiku semakin indah untuk dipandang, dan rasanya ada yang aneh di sini? Apa aku harus ke dokter spesialis jantung, untuk memeriksakannya?" kata Samuel dengan kedua tangan diletakkan di dadanya.
"Kenapa kamu semakin ke sini semakin bodoh!" kata Yuda yang geram akan sikapnya, entah mengapa sosok Samuel menjadi bucin, dan itu terlihat saat mengenal Anisa.
__ADS_1
"Orang akan menjadi bodoh ketika jatuh cinta, dan hal itu akan terjadi padamu nanti." Samuel tersenyum dan mengejek jika Yuda akan merasakan bagaimana menjadi lelaki bodoh nantinya. Pada saat jatuh hati dengan lawan jenis.
"Aku bukan seperti itu Sam, dan aku pun berani taruhan jika sampai benar-benar mejadi seorang budak cinta." Jawaban dari Yuda, membuat Samuel merasa tertantang.
"Apa yang aku dapat jika kamu kalah," kata Samuel dengan antusias.
"Kelak kamu menikah maka aku akan memberikan salah satu swalayan padamu, bagaimana?" ujar Yuda yang setuju jika kali ini kedua lelaku tersebut membuat sebuah tantangan.
"Baiklah, dan jika aku yang kalah. Maka aku akan memberikan rumah padamu," balas Samuel dan hal itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak.
"Deal."
Di lain tempat, Dirga yang tengah bekerja tidak fokus karena sedari tadi terus memikirkan Anisa, rasa keberatan akan gugatan yang sudah dilayangkan oleh sang istri. Membuatnya tidak bisa menerima.
Arghhhh.
"Kenapa jadi seperti ini," rutuk Dirga, mengusap kasar wajahnya karena lagi-lagi Anisa lah yang jadi alasannya.
Lelaki dengan hem panjang, yang saat ini berada di depan laptop, karena mengerjakan desain sebuah mall. Pikirannya tengah kacau, dan Elsa pun mencurigai jika Dirga sedang ada sesuatu.
"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Elsa dengan wajah bingung. Berniat mengantarkan minuman pada sang suami, tapi terlihat Dirga yang tergesa-gesa.
"Aku keluar sebentar, karena ada urusan." Jawab Dirga terkesan dingin, dan tidak biasanya lelaki itu berbicara ala kadarnya.
"Urusan apa? Apa ini soal istri pertama kamu?" tanya Elsa dengan rasa penasaran.
"Tidak perlu tahu aku pergi ke mana, yang jelas bukan urusan kamu!" kata Dirga, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya. Meninggalkan Elsa yang masih diam mematung, sikap dingin dari suaminya, mampu membuat wanita itu terlihat kesal.
Elsa yakin jika semua ini ada sangkut pautnya dengan Anisa, istri pertama dari suaminya.
"Apa aku harus mengikuti? Karena aku yakin jika Mas Dirga sekarang sedang menemui wanita itu," gumam Elsa yang tengah mengambil kesimpulan. Bahwa suaminya tengah menemui istri tuanya.
Dalam hati Elsa, ia sama sekali tidak rela, jika dirinya terus menurus dijadikan istri kedua. Predikat istri satu-satunya akan segera didapatkan, jadi Elsa harus berhasil menyingkirkan Anisa.
__ADS_1
Yah, dengan tekat yang bulat. Elsa mengikuti ke mana suaminya pergi. Kesempatan baginya untuk mengetahui dimana tujuan Dirga.
Di panti.
"Semoga Anisa ada," gumam Dirga karena tadi sempat datang ke rumah yang di tempati oleh istrinya. Namun, di sana tidak ditemukan. Jadilah datang ke panti.
Di panti sendiripun terlihat agak sepi karena sekarang waktunya sholat ashar.
Cukup lama sosok Dirga menunggu, hingga seorang wanita yang sedikit muda. Tengah berjalan menghampiri.
"Mas Dirga!" sapa gadis muda itu.
"Eh, kamu Ta, Anisa mana?" tanya Dirga setelah menimpali panggilan dari Tari.
"Sepertinya di dalam, bantu Ibu masak, Mas." Jawab Tari karena saat ingin membuang sampah. Netranya tanpa sengaja melihat kedatangan suami dari Anisa.
"Mas bisa minta tolong," kata Dirga karena memang Tari sudah seperti adiknya sendiri, jadi semua itu tidak membuat kaku saat berbicara.
"Sebentar ya Mas, Tari akan panggilkan Mbak Anisa." Jawab Tari, lalu gadis itu langsung berjalan meninggalkan Dirga di teras panti.
Beberapa saat kemudian, terlihat Anisa tengah keluar dari dalam.
Mata Dirga tidak berkedip saat melihat Anisa semakin mempesona. Sudah beberapa hari tidak bertemu dan hal itu membuat Dirga begitu sangat mengagumi paras istrinya. Di tambah jilbab yang dikenakan semakin membuat Anisa jauh lebih cantik dan Anggun.
"Mas!" tegur Anisa saat lelaki itu tidak berkedip sedikitpun.
"Ah, iya, ada apa?" ucap Dirga setelah mendapat teguran, barulah ia sadar dan terlihat panik.
"Ada urusan apa kamu datang, bukannya urusan kita nantinya ada di pengadilan?" ujar Anisa yang merasa risih akan kedatangan Dirga.
Jika dulu Anisa begitu sangat mencintai Dirga, patuh pada setiap apa yang diucapkan. Mencoba menjadi istri yang sesungguhnya, tapi semua itu masihlah terlihat kurang.
Lalu, untuk sekarang. Seakan Anisa tidak mengenal Dirga karena sikapnya kembali acuh, seperti saat beberapa tahun silam.
__ADS_1