Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
49. Ketika kesabaran telah habis


__ADS_3

Akhirnya kesabaran Anisa habis sudah. Dengan keterpaksaan Anisa menampar mantan mertuanya itu, hingga pegawai minimarket pun memintanya untuk keluar. Tidak ingin ada keributan di dalam hingga dengan terpaksa Anisa pun keluar dengan keadaan hati yang panas.


Namun, siapa sangka jika Bu Marina tidak bisa menerima tamparan tersebut. Hingga jilbab Anisa di tariknya dengan sangat kencang dan Ania masih berusaha intuk mempertahan, meski hampir terjungkal.


"Bu, lepaskan jilbab Anisa!" pinta Yuda karena Anisa masih berusaha memegangnya agar tidak sampai terlepas. Hingga Yuda harus turun tangan agar Bu Marina tidak lagi membuat masalah pada Anisa.


"Jangan pernah ikut campur karena kamu hanyalah orang lain! Apalagi hanya sebatas selingkuhan, cih, begitu sangat menyedihkan kalian." Bu Marina masih berusaha melepaskan penutup kepala Anisa, karena merasa tidak pantas dan tidak mencerminkan akan sikapnya. Yang ternyata adalah seorang wanita murahan dan di matanya sosok Anisa sekarang adalah penggoda pria.


"Cukup, Bu! Anisa adalah adik saya dan jaga ucapan anda jika tidak mau berakhir di kantor polisi." Seketika Bu Marina melepaskan jilbab Anisa, mulutnya menganga lebar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.


Bu Marina mundur dua jengkal dengan perasaan tidak percaya dan dibuat terkejut oleh pernyataan Yuda, bahwa Anisa adalah adiknya.


"Tidak, ini tidak mungkin. Pasti kalian berbohong dan ingin menutupi aksi bejat kalian, kan?" dengan suara serak bu Marina membeberkan jika semua ini hanyalah akal bulusnya, hingga bersandiwara sebagai saudara. Bukankah saat Dirga meminang Anisa masih seorang yatim piatu, lantas bagaimana semua ini bisa terjadi dan hal ini lah yang membuat Bu Marina sulit mempercayainya.


"Untuk apa saya berbohong dan inilah kenyatannya. Bahwa Anisa memang adik saya, sebentar lagi Anisa akan menikah dengan Samuel, saya sangat berharap jika anda tidak menggangunya lagi!" cercah Yuda sekaligus memberi peringatan agar Bu Marina tidak lagi memaksa sang adik, karena semua itu bukan haknya dan selepas perpisahan antara Dirga dan Anisa, Bu Marina bukanlah siapa-siapa lagi untuknya.


"Apa ini lelucon?" ucap bu Marina dengan wajah yang tak bisa disembunyikan atas rasa ketidak percayaannya.


"Apa kami terlihat sedang membuat lelucon?" tanya balik Yuda dengan mata menatap lurus ke arah Bu Marina.


Sejenak Bu Marina terpaku menatap tidak percaya, bahwa sekarang dirinya sudah salah sangka. Mengira bahwa Yuda selingkuhannya, tapi di luar itu Bu Marina sudah salah sangka. Menuduh Anisa yang tidak-tidak.


"Apa anda masih mau menghina dan mencaci maki Anisa! Dengan tuduhan yang sama sekali tidak dilakukannya?" ucap Yuda berapi-api.


"Sudahlah Kak, mungkin saja Bu Marina tidak tahu makanya bisa menyimpulkan seperti itu." Sayangnya Yuda tidak menggubris ucapan Anisa.


"Kalau saja anda seorang laki-laki. Mungkin saya sudah menghabisi nyawa anda," ucap Yuda dengan wajah penuh dengan aura membunuh.


"Maaf, maafkan saya." Hanya itu yang terucap dari bibir bu Marina.


"Sekarang pergi dan jangan pernah muncul di hadapan Anisa ataupun saya, paham!" bentak Yuda sekali lagi, karena jika tidak diberi pelajaran. Maka Bu Marina tidak punya efek jera dan dengan begitu maka beliau akan berpikir ulang untuk mencari masalah.


Bu Marina dengan perlahan mundur dan ada keinginan untuk kabur, tapi sayang tiba-tiba saja terdengar suara benturan yang sangat keras.

__ADS_1


Brakkkk!


Alhasil. Semua orang berkumpul untuk melihat seseorang yang tengah terkapar tidak berdaya. Anisa dan juga Yuda, seketika mencari bantuan untuk membawa korban ke RS, terdekat agar segera mendapatkan penanganan.


"Bagaimana Kak, keadaan Bu Marina?" tanya Anisa pada Yuda yang saat ini menyaksikan darah yang bercecer di jalan.


"Kakak berharap jika Bu Marina baik-baik saja dan kita doa'akan saja supaya keadaannya secepatnya membaik." Anisa pun mengangguk karena bagaimanapun Anisa juga harus tahu keadaan mantan Ibu mertuanya.


Tidak berapa lama. Sebuah ambulance sudah siap mengangkat tubuh Bu Marina dan segera meletakkannya di brankar untuk secepatnya di bawah ke rumah sakit.


"Kak, apa ini kesalahan kita?" dengan nada ketakutan Anisa berucap.


"Tidak An, kita tidak salah. Bu Marina berusaha untuk kabur, tapi sayangnya Tuhan membuatnya jera dengan cara seperti inu." Jawab Yuda karena semua itu pantas diterima oleh Bu Marina.


"Aku takut Kak, takut jika disalahkan lagi karena kecelakaan ini." Anisa terus menggenggam tangan Yuda dengan begitu sangat erat.


Tidak berapa lama kemudian. Anisa dan Yuda sudah sampai di rumah sakit, keluarga Bu Marina juga di sudah dihubungi. Memintanya untuk datang ke rumah sakit untuk menemani pasien.


Saat Yuda melihat seorang dokter keluar dari ruang rawat. Yuda buru-buru memanggilnya untuk bertanya soal keadaan Bu Marina. "Dok, bagaimana keadaan pasien? Apa ada yang serius?" tanya Yuda pada dokter tersebut.


"Dia adalah mantan mertua adik saya, kita tadi sempat bertemu sebelum kejadian." Yuda lantas membeberkan siapa dirinya pada dokter.


"Pasien terkena benturan pada kepalanya dan karena itulah sampai sekarang belum sadar, tapi Bapak tenang saja karena tidak ada luka yang serius. Untuk kakinya sepertinya ada yang cedera dan kemungkinan akan lumpuh, tali itu juga hanya sementara, asal rajin cek up pasien dapat berjalan lagi." Mendengar hal itu Yuda pun ada sedikit merasa lega karena lukanya tidak begitu serius.


"Terima kasih untuk jawabannya, Dok." Dokter itupun mengangguk dan meninggalkan Yuda.


Pada saat Anisa merasakan kecemasan. Tiba-tiba sosok kelaki dengan menggunakan kursi roda datang menghampiri Anisa dan Yuda, saat sedang duduk di depan kamar inap. "An, bagaimana keadaan Ibu?" dengan suara paniknya Dirga lantas bertanya.


Sayangnya yang menjawab bukanlah Anisa, tapi Yuda karena Anisa masih sedikit syok dan tidak mampu untuk berbicara banyak. "Ibu kamu mengalami cedera di kepalanya akibat benturan dan kakinya ada yang cedera juga, tapi kata dokter masih bisa sembuh besar kemungkinan." Penjelasan yang didengar oleh Dirga membuatnya sedikit tenang, karena luka di kepala dan di kaki tidaklah cukup parah.


"An, kita pulang. Dirga sudah datang dan kamu juga butuh istirahat," ajak Yuda karena terlihat Anisa masih dengan keadaan rasa bersalah.


Andaikan tadi tidak bertengkar mungkin saja hal itu tidak akan terjadi.

__ADS_1


Mungkin jika Bu Marina tidak kabur, semua ini tidak akan terjadi juga.


Sayangnya, setelah mendengar pengakuan tersebut. Justru Bu Marina malah tertabrak dan semua orang pasti akan menyalahkannya juga. Biarpun semua bukan salahnya Anisa sepenuhnya.


"Kak, apa kita tidak bisa menunggu sampai Bu Marina sadar." Yuda tahu apa arti dari ucapan sang adik.


"Bukan kakak tidak mau menemani kamu, An. Hanya saja ada kerjaan yang harus kakak urus," ujar Yuda dengan sesekali menghela napas.


"Tunggu! Apa ini maksudnya? Kenapa kamu memanggilnya Kakak. Bukankah dia adalah asisten dari Samuel teman kamu?" Dirga yang melihat hal itu dibuat bingung hingga memilih untuk bertanya karena tidak mengerti kenapa Anisa memanggil Yuda dengan sebutan 'Kakak'.


"Dia adikku, jadi jangan pernah lagi menyakiti Anisa jika tidak mau berurusan denganku!" suara Yuda sedikit menakutkan, saat nada ancaman diberikan pada Dirga.


"Sejak kapan kalian menjadi saudara? Bukannya Anisa yatim piatu saat aku nikahi dan hanya hidup di panti?" dengan nada bingung Dirga bertanya lagi. Terkejut, itu pasti karena yang ia tahu mantan istrinya adalah seorang yatim.


"Tidak perlu kamu tahu akan hal itu, karena kamu adalah orang yang tidak penting baginya." Hardik Yuda dan seketika Dirga diam.


Seperti keadaan yang sebelumnya. Dirga tiba-tiba tertawa tidak jelas lalu menangis tersedu-sedu bagai orang tidak waras.


"Kak, apa yang terjadi?" tanya Anisa saat melihat Dirga layaknya orang lain.


"Sepertinya mantan kamu sedang kumat, makanya seperti itu." Sungguh tanggapan yang membuat Anisa tidak suka, karena Yuda sama sekali tidak punya rasa empati terhadap Dirga.


Tidak berselang lama, terlihat sosok lelaki tua tengah berjalan dengan sedikit tergesa-gesa.


"Anisa! Kenapa kamu ada di sini?" tanya suami dari Bu Marina kini yang terlihat cemas.


Sekarang Anisa sedang berada di tempat yang begitu sulit. Melihat Dirga seperti ini di tambah kedatangan mantan mertuanya dan bertanya soal keberadaannya. Membuat Anisa merasakan denyutan hebat pada kepalanya.


"Pak, keadaan Dirga sedang tidak baik-baik saja. Lihatlah dia seperti seseorang yang tidak waras," kata Yuda dan Pak Yoga pun tidak merasa sakit hati, saat mendengarkan ada kata tidak mengenakkan.


Akhirnya dengan terpaksa Pak Yoga bercerita mengenai keadaan Dirga yang semakin buruk. Rasa bersalah yang selalu ia bawa terus menghantuinya.


Setelah mendengarkan cerita tentang Dirga, membuat Anisa begitu terpukul karena mantan suaminya terus mengingatnya karena sebuah rasa bersalah yang begitu besar.

__ADS_1


Sesaat mata Anisa menatap ke arah Yuda, isyarat yang diberikan oleh Anisa membuat laki-laki di sampingnya mengangguk.


__ADS_2