Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
75. Masa lalu yang terlupakan


__ADS_3

"Nis, kamu kenapa?" dengan panik Samuel bertanya.


"Aku tidak tahu, saat melihat foto itu.Tiba-tiba kepalaku sakit dan rasanya mau pecah," ucap Anisa yang terus memegang kepala yang telah terbalut oleh jilbab.


"Kita duduk dulu ya, aku akan mengambilkan air untukmu."


Anisa menurut dan langsung duduk di ruang tamu dengan sekuat tenaga memandangi foto tersebut.


"Kenapa dengan foto itu? Kenapa rasanya tidak asing bagiku, tapi aku tidak tahu siapa dia." Anisa terus meracau karena hampir semua foto mirip dengan wajahnya.


"Ya Allah, berikan aku petunjukku siapa aku ini." Dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh keringat, di tambah kepala yang semakin menjadi. Membuat Anisa rasanya tidak sanggup untuk mencari sebuah jawaban sendiri.


Setibanya Samuel datang dan langsung memberikan minuman pada Anisa, sedikit bisa membantu meredakan rasa sakit yang ada di kepalanya.


"Nisa, minum." Anisa langsung meraihnya dan meminumnya hingga habis.


"Kamu istirahatlah, ada kamar yang tidak pernah aku tempati. Siapa tahu kamu butuh istirahat untuk meredakan rasa sakit itu," ucap Samuel.


Tepat pada saat Anisa masih berada di sofa. Bu Susi dan juga Yuda langsung dibuat cemas oleh keadaan Anisa yang sekarang, terlihat sangat pucat.


"An, kamu kenapa?" pertanyaan terulang lagi oleh orang yang berbeda. Yuda langsung mendekati Anisa untuk memastikan keadaan sang adik, kenapa sampai bisa rasa sakit itu datang lagi.


"Aku tidak tahu Kak, tadi hanya mencoba mengingat wanita yang jadi mempelai bersama dengan Samuel, tapi kenapa justru kepalaku semakin sakit." Anisa mencoba mengeluhkan rasa itu pada Yuda, karena apa juga Anisa tidak tahu kenapa bisa kepalanya sesakit ini.


"Kamu bawa istirahat sebentar ya, Sayang. Agar tidak semakin menjadi," sahut bu Susi yang takut dengan keadaan Anisa.


"Sam, antar Anisa ke kamarnya." Mendengar mama nya menyuruh untuk untuk mengantarkan Anisa, lantas Samuel pun buru-buru berdiri.


Sekitar dua menit. Anisa sudah berada di dalam kamar, di mana kamar yang terlihat rapi dan merasa di kamar ini Anisa pernah tidur.


Lagi-lagi sebuah kenyataan yang tidak mampu untuk ia ingat, rasanya Anisa tidak sanggup jika harus menjalani hidup seperti ini. Terlalu lelah baginya, karena sebuah bayangan yang tak nyata selalu hadir di dalam pikirannya.

__ADS_1


"An, abaikan kamar ini. Segera pejamkan mata agar hati dan pikiran kamu bisa tenang. Dengan begitu juga rasa sakit yang kamu rasakan akan segera hilang," ucap Samuel yang masih berusaha untuk menenangkan Anisa.


Tidak berapa Anisa telah menghilang dari dunia nyata dan sekarang dirinya sudah berada di alam mimpi.


"Ya Allah, jika semua ini takdirmu. Maka aku ikhlas menerima asal Anisa tidak merasakan kesakitan lagi," dalam gumamnya, Samuel menatap pilu ke arah Anisa.


"Sam, aku yakin jika Anisa akan kembali seperti dulu. Kita hanya butuh waktu untuk membantunya kembali ke dalam masa lalunya," ujar Yuda dengan menepuk bahu Samuel.


"Aku tidak tahu Yud, aku mampu atau tidak karena sudah tiga bulan Anisa tidak ada perubahan. Aku lelah dengan berpura-pura menjadi sosok orang lain, nyatanya aku adalah suaminya."


Yuda tidak dapat mengatakan apa pun karena ia tidak tahu dan tidak merasakan ada di posisi Samuel, tapi Yuda pernah merasakan kehilangan yang membuatnya tak lagi bisa merasakan kebahagiaan.


Kehilangan seseorang yang begitu berarti sudah pernah ia rasakan, kehilangan saudara juga pernah menimpanya. Namun, ia yakin jika suatu hari dirinya akan dipertemukan dan hal itu tidak luput dari Doa, yang selalu ia panjatkan.


"Aku tidak membantu kamu, tapi aku yakin jika kamu adalah lelaki setia." Setelah itu Yuda keluar dari kamar Samuel.


"Nis, apa kamu bisa dengar aku. Bahwa aku sangat mencintai kamu," gumam Samuel yang tidak mau keluar dan terus menunggu Anisa sampai wanita itu bangun.


Samuel lupa tujuannya mengundang Anisa untuk apa. Nyatanya sampai sekarang Samuel masih enggan untuk meninggalkan istri yang melupakannya. Hingga kedatangan Ibu Susi membuat lelaki tersebut seakan ingin mengadu pada mama nya, akan rasa kehilangan dari separuh jiwanya kini.


"Sam, mama yakin jika semua ini ada hikmahnya. Intinya kamu jangan pernah menyerah dan terus memperjuangkan cinta kamu," kata bu Susi pada Samuel.


"Iya Ma, aku akan sabar untuk itu dan berharap dengan perlahan Anisa bisa mengingatku." Bu Susi tersenyum pada Samuel dan terlihat sebuah kelegaan di hati wanita tersebut.


"Baiknya kamu keluar, kasihan Yuda jika kamu terus di sini."


Dengan berat hati Samuel meninggalkan Anisa yang tertidur dengan sangat pulas. Menutup pintu dengan perlahan karena tidak mau mengganggu waktu tidur Anisa.


"Tidurlah yang nyenyak Nis, semoga mimpi indah hadir di dalam tidurmu." Sebelum benar-benar meninggalkan Anisa, Samuel menatap wajah teduh istrinya itu dan berkata lirih.


Sedangkan di lain tempat.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa?" tanya Laras karena sedari pulang dari luar. Ada perubahan dari dalam diri Dirga.


"Mas!" bentak Laras lagi.


"Eh iya, ada apa?" dengan suara gelapan Dirga menjawab.


"Kamu itu dari tadi kenapa sih, apa jangan-jangan kamu habis kesurupan?" Dirga hanya melotot saat Laras mengira jika dirinya seperti orang yang sedang kesurupan.


"Mana ada, Sayang." Dirga menanggapi dengan dibarengi sebuah gelengan dan di jaman yang modern masih saja percaya dengan hal seperti itu.


"Terus kenapa kamu dari tadi kok aneh, pulang bukannya ganti baju dan melepaskan sepatu malah asik melamun?" Dirga menghela napas karena sepertinya istrinya itu harus tahu, tentang yang terjadi siang tadi.


"Anisa–,"


"Ada apa dengan Mbak Anisa?" sahut Laras dengan cepat.


"Dia tidak mengenalku Sayang, aneh. Awalnya mas kira itu adalah orang yang kebetulan mirip, nyatanya ada Yuda di sana juga." Laras mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan dari sang suami. Rasanya aneh jika mantan istri dari suaminya tidak mengenal orang yang pernah menjalin bahtera rumah tangga dengan suaminya dulu.


"Mungkin Mbak Anisa berpura-pura saja Mas, secara dia juga sudah bersuami dan tidak mau mengungkit masa lalunya, benar begitu kan." Sejenak Dirga memikirkan akan ucapan dari istrinya itu dan dalam hatinya. Apa benar semua itu kalau Anisa hanya berpura-pura untuk tidak mengenalinya? Rasanya sungguh aneh jika memang itu benar. Kenyataannya ada Yuda juga dan bukan Samuel yang bersama dengan mantan istrinya tersebut.


"Entahlah, mas juga tidak tahu. Seandainya memang betul mana mungkin yang menemani adalah Yuda, bukan Samuel dan membuat mas aneh. Di mana Yuda mengatakan jika pertemuannya denganku adalah suatu hal yang buruk," jelas Dirga karena memang seperti itulah yang diterimanya tadi siang.


"Aneh sih Mas, karena aku juga penasaran dengan apa yang kamu jelaskan tadi." Entah kenapa Laras merasa jika dirinya juga perlu tahu dan membuktikan, jika semua itu adalah permainan Anisa yang tidak mau berurusan dengan Dirga.


"Aku yakin jika Mbak Anisa sengaja menghindar dari Mas Dirga, karena tidak mau ada salah paham yang terjadi." Laras membatin dan meyakini bahwa semua itu adalah bohong.


"Ya sudah, mumpung ingat Mas mau ganti baju dulu." Laras tidak menanggapi suaminya dan masih asyik dengan pikirannya kini.


Lagipula Laras juga yakin bahwa masih ada ruang untuk Anisa, karena sampai detik ini pun. Dirga tidak bisa melupakan mantan istrinya itu.


"Aku tahu Mas, bahwa kamu masih cinta pada Mbak Anisa dan aku yakin itu. Hanya saja aku memilih diam karena aku meyakini jika nanti hanya ada namaku di hati kamu," gumam Laras dalam hati.

__ADS_1


"Untuk kamu Mbak Anisa, aku bangga karena sampai sekarang Mas Dirga masih menyimpan rasa itu padamu." Laras bergumam seraya langkahnya meninggalkan ruang keluarga tersebut, karena ia harus menyiapkan makan siang untuk sang suami.


__ADS_2