Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
24. Biarkan aku pergi, Mas.


__ADS_3

"Aku sangat membutuhkan kamu An, tapi di samping itu kehamilan Elsa jauh lebih penting."


Dengan kepala yang semakin berdenyut. Sebisa mungkin Anisa bangun, dengan nafas yang memburu dan wajah pucat, sepertinya perempuan itu harus menyelesaikan masalahnya secepat mungkin.


"Pilih aku atau ... dia!" tatapan Anisa sekarang jau lebih menyeramkan dibandingkan tadi, dan mungkin inilah saatnya dirinya berkata tegas.


"Kamu mengancamku, An?" Dirga membalas tatapan Anisa, tak terpikir sejauh mana istrinya merasakan sesak di hatinya akan Dirga, yang tak bisa adil sejak beberapa bulan lalu.


"Apa menurut kamu itu sebuah ancaman, Mas. Apa kamu tidak bisa membedakan pilihan dan ancaman!" dengan senyuman yang diterbitkan oleh Anisa, ia lantas memberikan pilihan pada sang suami.


Sebuah pilihan yang harus tetap Dirga pilih, karena Anisa sudah lelah, dan ia pun memutuskan untuk mengalah. Mengalah bukan berarti dirinya kalah, hanya saja yang saat ini dibutuhkan Anisa adalah kedamaian dalam hatinya menyerah untuk bahagia, rasanya itu pantas dilakukan oleh Anisa.


"Jangan memberi Mas pilihan, karena Mas sangat mencintai kalian berdua, dan untuk kali ini. Mas mohon tolong terima Elsa sebagai madu kamu," ucap Dirga tanpa rasa penyesalan sedikitpun.


"Mas minta maaf, karna belum bisa memberi keadilan untuk kamu, tapi Mas juga berjanji akan berusaha semaksimal mungkin. Menjadi sosok suami yang bertanggung jawab," ucap Dirga lagi, mencari kebenaran demi nafsu sesaat, dengan dalih pernikahan yang sudah dilaksanakan selama tiga bulan lamanya, lalu dengan mudahnya bicara untuk Anisa dapat menerima Elsa, sebagai madunya dan harapan Dirga juga, jika kedua istrinya akan akur dan hidup tentram.


Dengan tatapan sendu, Anisa mencoba berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Yang pada akhirnya nanti akan tumpah juga.


"Aku memaafkan semuanya Mas, sekarang dan nanti ...." Ucapan itu terjeda saat Anisa berusaha untuk mengirup oksigen untuk sesaat saja. Yang ia rasa begitu sesak meski hanya berucap, rasanya sungguh tidak sanggup mengatakannya.


"Aku sudah ikhlas jika kamu ingin hidup dengan Elsa, tapi ... tolong, tolong lepaskan aku karena aku tak akan sanggup. Untuk menjalani semua ini dan sekarang waktunya aku menyerah dengan keadaan yang sekarang."


Seketika Dirga menatap tajam Anisa, dengan kedua tangan yang terkepal. Bibir yang sudah tak bisa ia tahan untuk mengatakan bahwa, Anisa adalah wanita egois. Akan tetapi, ia masih sadar tak seharusnya berbicara seperti itu, karena meski begitu Anisa adalah cinta pertamanya.


Apa susahnya tinggal menerima Elsa sebagai madunya, dan hidup rukun. Seperti itulah yang ada di pikiran Dirga sekarang.


Akhirnya dengan langkah gontai, Dirga pergi tanpa berucap sepatah kata pun. Tak ada ekspresi yang diperlihatkan lagi pada Anisa. Hingga kepergian Dirga, diiringi sebuah dering dari ponsel miliknya. Namun, Anisa tak menghiraukannya karena pusing kepalanya semakin menjadi, dan penglihatannya semakin buram juga.

__ADS_1


"Aghhh ... kepalaku, berat dan kenapa mataku berkunang-kunang?" Anisa memegangi kepalanya dan merasakan pandangannya semakin kabur.


Sesaat kemudian.


"Bagaimana keadaan Nisa?" sosok lelaki yang begitu sangat khawatir terhadap Anisa, tak bisa lagi ia tahan. Untuk melihat keadaannya secara langsung, meski jarak yang lumayan jauh. Samuel tidak peduli.


"Anisa, masih di dalam dengan keadaan lemah. Dokter bilang Anisa telat makan dan terlalu banyak beban, makanya drop seperti sekarang." Arumi menjelaskan pada Samuel, akan yang terjadi pada Anisa, karena yang ia tahu. Sehari setelah pertemuan Samuel masih melihat jika Anisa baik-baik saja.


"Apa yang terjadi setelah pertemuan di cafe kemarin?" tanya Samuel yang ia yakin. Bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi pada Anisa, wanita yang begitu dikaguminya.


"Entahlah, aku juga kurang tahu. Yang aku tahu sewaktu datang ke rumahnya Anisa sudah dengan keadaan tidak sadar," ujar Arum, dengan menatap wajah Anisa yang masih belum sadarkan diri.


Dengan kaki yang perlahan melangkah, mata lelaki itu tidak bisa dibohongi bahwa, ia juga merasakan sakit. Saat wanitanya tengah terbaring tak berdaya dengan slang infus.


"Apa aku harus membawa kabur Nisa, bagaimana menurut kamu?" ucap Samuel meminta pendapat.


"Tidak Sam, itu bukan ide yang bagus. Jangan membuat Anisa benci padamu, biarkan masalahnya di selesaikan." Jawab Arum yang menolak dengan ide Samuel yang ingin membawa pergi Anisa.


"Apa kamu ingin aku membalaskan dendam Anisa, agar lelaki itu bisa merasakan seperti apa saat hidupnya hancur!" kata Samuel dengan netra menatap dalam ke arah Arum.


"Aku pun tidak perlu menjelaskan, karena otak kamu cukup cerdik untuk sebuah kalimat yang aku lontarkan."


Samuel hanya meliriknya, dan kembali lagi pandangannya beralih pada Anisa.


Pukul lima sore. Sampai saat ini pun Anisa masih belum memperlihatkan tanda-tanda sadar dan membuka matanya, hingga Arum pun izin pamit pulang untuk bersih-bersih.


"Sam, aku bisa minta tolong?" kata Arum.

__ADS_1


"Apa yang bisa aku bantu, kebetulan sebentar lagi asistenku akan datang." Samuel berujar sembari meregangkan otot-ototnya karena hampir empat jam, lelaki itu berada di RS, hanya demi Anisa dan meninggalkan pekerjaannya.


"Aku mau pulang, jadi ... bisakah kamu menemani Anisa sampai dia sadar!" kata Arum yang harus terpaksa meminta bantuan pada Samuel.


"Pergilah, biar di antar oleh asistenku. Sepertinya dia sudah ada di lobby," ujar Samuel pada Arum.


"Tidak terimakasih, karena aku bawa kendaraan sendiri." Jawab Arum yang menolak secara halus.


"Baiklah, hati-hati."


Setelah kepergian Arumi, Samuel pun kembali masuk ke dalam. Untuk melihat Anisa apakah sudah sadar atau belum.


Baru saja Samuel hendak meletakkan bokongnya di sofa. Sebuah ketukan membuatnya urung untuk duduk.


"Ah, rupanya kamu." Setelah membuka pintu, ternyata yang datang adalah Yuda dengan kedua tangan dipenuhi oleh tentengan.


"Maaf telat, aku beli beberapa makanan dulu dan beli buah-buahan untuk Anisa!" kata Yuda sambil menunjukkan isi di dalam kantong.


"Terserah, sekarang aku cuma mau tidur. Kamu tetap jaga wanitaku," kata Samuel, dengan tubuh yang sudah dibaringkan.


Beberapa menit kemudian, Samuel sudah berada di alam mimpi, sedangkan Yuda pergi ke kamat mandi, karena panggilan alam membuatnya harus segera menuntaskannya.


Sedangkan Anisa perlahan membuka mata, lalu menatap di sekeliling ruangan. Nampak aneh dengan ruangan yang ia tempati.


Bukankah tadi dirinya tidur dengan kamar bernuansa biru laut, dengan gorden merah? Lantas kenapa sekarang ada di ruangan serba putih, dan lagi. Bau obat kian menyeruak ke dalam hidungnya dan membuatnya semakin teliti akan dimana dirinya berada.


"Samuel!" dengan kerutan di dahi, dan perasaan heran karena tiba-tiba melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya. Tengah tertidur pulas di sofa, dan begitu sangat tampan..

__ADS_1


Sempurna, itulah pujian untuk Samuel.


"Eh kamu, sudah sadar?" suara dari ambang pintu. Membuat Anisa seketika menoleh dengan wajah bingung.


__ADS_2