
Beberapa bulan kemudian, Anisa sudah sah bercerai dengan Dirga, lalu untuk saat ini dirinya masih fokus dengan pekerjaan yang digelutinya.
Sayangnya, Dirga masih tetap menjadi seorang yang lumpuh meski sudah terapi sekalipun.
Saat ini, di rumah Dirga sudah berkumpul dari Bu Marina, Elsa, dan juga Dirga sendiri.
Elsa yang duduk dengan tenang karena ia juga baru pulih. Menatap tajam ke arah Dirga dan menyalahkan jika anaknya meninggal semua itu karenanya . "Mas, ini saat nya aku minta cerai padamu, ingat kamu sudah membunuh anakku!" kata Elsa dengan wajah penuh kebenciannya.
"Bukan aku yang membunuh, tapi kamu sendiri yang membunuh karena berusaha untuk membohongiku." Dirga pun menimpali dengan sangat santai.
"Tidak bisa, di sini orang yang salah adalah kamu dan juga Anisa, maka dari itu aku akan membuat perhitungan dengannya!" suara tegas dari Elsa, semakin membuat Dirga meradang.
Andaikan kakinya bisa berjalan, andaikan salah satunya tidak lumpuh. Mungkin saat ini Brian sudah memberikan pelajaran pada Elsa, sayangnya Dirga sekarang hanyalah lelaki yang tidak berguna dan mengandalkan kursi roda.
Dasar wanita tidak tahu diri!" umpat bu Marina karena merasa jika sudah dipermainkan oleh Elsa.
"Jangan ikut campur Bu, ini bukan urusan kamu." Elsa dengan nada tidak suka langsung menyuruh Bu Marina diam, agar tidak ikut dengan urusannya.
"Elsa Pitaloka, aku talak kamu dan mulai sekarang kita sudah bukan suami istri!" suara lantang dari bibir Dirga, hanya disambut senyuman oleh Elsa.
"Aku tidak perduli, ingat! Aku akan membuat kalian hancur karena gara-gara ulah kalian juga aku kehilangan anakku." Elsa yang tidak terima karena anak yang ada di dalam kandungannya dinyatakan meninggal, di situlah ia murka.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain jika kamu juga salah!" pekik Dirga.
"Diam! Kamu hanyalah seorang yang lumpuh dan ingat rumah dan harta kamu adalah milikku. Jadi, lebih baik kamu pergi dari sini, pergi!" bentak Elsa dengan menunjuk wajah Dirga.
"Tega kamu Elsa! Kamu tadinya bukan siapa-siapa dan sekarang kamu tega mengusir kita," ucap bu Marina tidak terima.
"Untuk kamu Dirga, kamu sungguh bodoh karena sudah membiarkan harta kita di kuasai oleh perempuan lampir ini." Bu Marina menatap tajam ke arah Dirga, tidak menyangka jika semuanya hancur, dalam hitungan detik saja dan salahnya Dirga kenapa bisa-bisanya memberikan pada Elsa.
"Elsa memintaku untuk mengalihkan sebagian harta untuk masa depan anak kita nanti Bu, aku tidak tahu jika akan berakhir seperti ini." Bagi Dirga, marah pun tak ada gunanya karena sekarang dirinya hanya bisa diam bak patung.
__ADS_1
"Kalian berdua jangan banyak bicara, lebih baik sekarang kalian pergi dari rumahku." Elsa pun dengan berani mengusir mantan suami dan Ibu mertuanya, yang dulu pernah ada di pihaknya.
"Ingat, semua yang kamu lakukan pada kami. Akan dibalas oleh Tuhan, ingat itu."
Bu Marina dan juga Dirga langsung keluar dari rumah yang dulu akan diberikan untuk Anisa, sebagai hari jadi pernikahannya. Namun, sekarang tinggal penyesalan karena rumah itu sudah menjadi milik Elsa.
Sebuah kebodohan yang dilakukan oleh Dirga dan untuk saat ini. Ia akan kembali ke rumah di mana dulu banyak kenangan bersama dengan Anisa. Meski rumah tidak terlalu besar nyatanya mantan istrinya sekalipun tidak menuntut. Walau yang diberikan pada Elsa jau lebih besar dan dua kali lipat mewahnya.
"Sepertinya yang dikatakan Elsa ada benarnya, jika saja dia tidak kehilangan anaknya mungkin semua ini tidak akan terjadi pertengkaran waktu itu disebabkan oleh Anisa, iya Anisa seorang wanita yang tidak tahu diri." Bu Marina membatin dan memikirkan jika kata-kata yang diucapkan Elsa memang benar.
Dua bulan ini Bu Marina sudah cukup lelah mengurus Dirga yang lumpuh, sedangkan Anisa bisa senang-senang dengan pekerjaannya sekaligus menikmati karena dia sudah menjadi janda, hal itu membuat Bu Marina marah dan merasa tidak adil.
Di lain tempat.
Anisa sedang bersama dengan sahabatnya untuk mencari tempat, yang nantinya akan digunakan sebagai anak cabang dari usahanya.
Yah, selama ini Anisa telah berhasil merintis usaha bersama dengan Arum, mendirikan cafe dan resto dengan berbagai menu.
Ada beberapa cabang yang sudah dikantongi oleh Anisa, dari semenjak belum menikah dengan Dirga, ia sengaja menyembunyikan identitasnya.
"Kenapa An, kenapa kamu sedari menatap ke sana terus?" tanya Arum karena sedari tadi ia mengomel, tapi tidak mendapat tanggapan dari Anisa.
"Aku seperti mengenal orang berdiri di sana," ujar Anisa menunjuk ke arah depan.
"Memangnya siapa dia?" kembali Arum bertanya.
"Seperti ...." Anisa menjeda ucapannya karena sosok itu sudah menoleh.
"Bu Marina! Itukan mantan mertua kamu." Arum langsung menyahut dan mengatakan jika siapa orang itu.
"Itu yang ingin aku katakan," ucap Anisa.
__ADS_1
"An, dia berjalan ke sini sepertinya." Arum menepuk lengan Anisa, agar ikut melihat juga.
"Biarlah, paling juga bertanya kabat," kata Anisa.
Arum diam pun diam, karena Bu Marina terus berjalan mendekati mejanya. Entah kenapa Arum merasa jika kali ini bukan kabar baik yang akan didapatkan oleh Anisa.
"An!" sapa bu Marina.
"Apa kabar, Bu?" timpal Anisa.
"Ada yang ingin ibu bicarakan, ini soal Dirga dan ibu harap kamu mau membantu." Ucapan dari bu Marina sedikit membuat Anisa bertanya-tanya.
"Memangnya ada apa dengan Mas Dirga? Bukannya dia masih bai-baik saja?" dalam hati Anisa bertanya-tanya.
"Memangnya Ibu butuh bantuan apa? Sekiranya aku bisa, pasti aki bantu." Jawab Anisa.
"Rujuk dengan Dirga!"
Deg.
"Apa-apaan ini," gumam Anisa dalam hati.
"Bu, mana mungkin hal itu terjadi. Sedangkan aku dan Mas dirga sudah bercerai!" sanggah Anisa, menatap tidak percaya dengan ucapan dari mantan mertuanya.
"Ini semua juga karena kamu, anggap saja membalas kebaikan Dirga selama menjadi suamimu. Merawatnya sampai dia sembuh dan menjalani hari-harinya dengan biasa," kata bu Marina dengan gamblang.
"Memangnya apa yang diberikan anak Ibu padaku? Sehingga Ibu meminta aku untuk membalas kebaikan dari Mas Dirga selama ini, apa Ibu pikir selama menikah sampai bercerai aku mendapatkan hartanya banyak!" seru Anisa karena perkataan dari Bu Marina sungguh keterlaluan.
"Lantas di mana kesalahanku, sehingga aku harus menanggung semuanya?" kata Anisa lagi dengan wajah datar ia berbicara. Tidak menyangka yang ia kira bahwa Bu Marina akan bertobat dan membenahi kesalahannya, ternyata masih tetap menyalahkannya.
"Saya tidak mau tahu An, sekarang atau besok kamu harus menikah dengan Dirga, cam kan itu!" nada ancaman diberikan oleh Anisa, hal itu membuat Arum yang semula diam merasa tidak suka.
__ADS_1
"Bu, jangan memaksakan kehendak. Semua ini terjadi karena keegoisan anda dan juga Dirga, jadi anda tidak berhak menuntut Anisa!" ucap Arum berapi-api karena semakin dibiarkan, maka akan semakin menjadi.
"Diam!" bentak bu Marina, yang tak suka jika Arum ikut campur ke dalam urusannya.