
"Kata Mas Dirga Mbak Anisa tidak ingat dengan siapapun, termasuk suamiku sendiri. Apa semua itu benar?" sebuah pertanyaan yang keluar dari bibir Laras, membuat Arum menghela napas dan sepertinya Arum juga berhak mengatakan yang sebenarnya.
"Iya, Anisa hilang ingatan. Bahkan denganku ataupun dengan Samuel, suaminya sendiri dia tidak ingat." Untuk sesaat Laras terpaku menatap tidak percaya, karena sudah kehilangan memorinya akibat ulah dari mantan istri dari Dirga selain Anisa.
"Lalu, bagaimana dengan kehamilannya?" dengan sedikit ragu, Laras mencoba bertanya soal kehamilan Anisa, karena sempat bertemu untuk terakhir kalinya sebelum kecelakaan itu terjadi menimpa mantan dari suaminya, karena yang ia tahu usia kehamilannya sudah menginjak bulan ke-enam.
Arum tidak menjawab, tapi Laras tahu ekspresi yang diberikan oleh Arum bahwa sesuatu sudah menimpanya lagi, tapi ia tidak tahu apa yang sudah dilewati Anisa semenjak mengalami kecelakaan.
"Maaf Mbak, bukannya aku berniat untuk—."
"Sudahlah, semua itu sudah menjadi takdir Tuhan. Kita pun tidak bisa menentangnya," kata Arum dengan sesekali menyesap cangkir yang berisikan minuman.
"Aku ikut prihatin Mbak, semoga Mbak Anisa secepatnya ingat lagi." Arum tersenyum saat Laras ikut sedih karena kejadian yang dialami oleh Anisa, tidak menyangka kejadiannya bisa se-fatal itu dan Laras pun sangat menyayangkan sikap Elisa.
Untuk sekarang Laras merasa lega karena sudah mendapatkan titik terang dari Arum, lalu ucapan Dirga pun benar jika Anisa melupakan semua orang termasuk suaminya sendiri. Tidak ada yang perlu ia cari lagi karena perkataan Dirga benar adanya.
"Mbak, kalau begitu aku izin pulang ya. Terima kasih untuk informasinya," kata Laras yang sudah berdiri dan keduanya pun saling berpelukan saat hendak berpisah.
"Hati-hati di jalan." Laras yang mendengar hanya bisa tersenyum saat Arum mengatakan hal itu dengan ramah.
Sepeninggalan Laras, Arum ikut berdiri untuk masuk ke ruangannya. Mengerjakan semua laporan dari seluruh kafe milik Anisa yang mana semua tanggung jawab diserahkan kepadanya dan hal itu, adalah suatu beban yang rasanya ingin sekali Arum menyerah.
Sedangkan di lain tempat.
Anisa yang saat ini tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Tiba-tiba saja mendengar suara bel dari arah depan dan ia pun seketika berdiri, untuk melihat siapa tamu tersebut karena merasa dirinya tidak memesan apa pun.
"Tumben siang-siang begini ada yang bertamu?" gumam Anisa sembari berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek.
Terdengar Anisa sudah membukakan pintu, terlihat juga seorang lelaki yang ia yakin bahwa orang itu adalah kurir. Terlihat kedua tangannya tengah membawa sebuket bunga dan entah apa maksud dari semuanya.
"Permisi Bu, ini ada paket dari seseorang untuk Ibu Anisa." Anisa yang mendengar hal itu dibuat tercengang karena merasa tidak memesan paket, ataupun ada orang telepon untuk menerima paket tersebut.
__ADS_1
"Maaf Pak, siapa pengirimnya?" tanya Anisa karena ia penasaran.
"Maaf Bu, tidak nama yang dicantumkan, tapi ini benar sesuai alamat yang saya terima dan juga atas nama Bu Anisa."
"Untuk namanya sama alamatnya betul saya, Pak." Saat Anisa membaca kertas yang diberikan oleh kurir, nyatanya semua benar dan sayangnya ia tidak tahu pengirim buket tersebut.
"Baik Bu, silahkan beri tanda terima jika betul Ibu penerimanya." Tidak banyak bicara, Anisa pun langsung memberikan tanda tangan dan menerima buket dengan bunga mawar yang dikirim orang yang tidak ada di catatan di buket tersebut.
Selepas orang itu pergi. Anisa langsung masuk dan memikirkan orang dari pengirim bunga tersebut. "Siapa ya yang mengirim bunga ini?" dalam gumamnya Anisa terus bertanya-tanya soal bunga yang ia pegang saat ini.
"Sudahlah, mungkin hanya orang iseng. Kalaupun Samuel rasanya aneh, tapi bisa jadi dia juga sih." Setelah meletakkan bunga tersebut. Anisa kembali duduk hingga tanpa sadar matanya terlelap dengan sejuta mimpi.
Sore hari, samar-samar terdengar suara adzan dikumandangkan dan Anisa pun seketika terbangun. "Ya Allah, ternyata aku tertidur cukup lama. Sampai suara adzan pun baru aku dengar," gumam Anisa yang langsung berdiri untuk bersih-bersih, untuk segera menghadap Sang Ilahi.
Setelah selesai, Anisa pun gegas untuk turun. Merasa bosan karena di rumah hanya sendiri, Anisa mencoba untuk mencari udara segar di luar sana.
Benar saja, Anisa sekarang sudah ada di taman. Melihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain. Entah kenapa tiba-tiba saja air matanya jatuh tanpa diminta.
"Apaan sih aku ini. Kenapa harus menangis," gumam Anisa seraya mengusap air matanya.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil berhenti dan terus memandangi Anisa, memastikan jika ia tidak salah orang. Setelah yakin jika itu Anisa maka turunlah perempuan itu.
"Kamu ini sudah 30 tahun, kenapa masih menangis mirip bocah saja!" terdengar suara itu berada di sampingnya. Anisa langsung menoleh untuk melihat dan memastikan jika orang itu, tengah berbicara kepadanya.
"Eh kamu Rum, kenapa bisa tahu kalau aku ada di sini?" Anisa pun bertanya dengan rasa heran.
"Kamu ini kenapa sih? Ya jelas tahu lah. Orang taman ini ada di dekat jalan raya dan aku juga bisa tahu karena kamu tepat di pinggir jalan!" ucap Arum dengan menggeleng kecil.
"Ya Allah … kenapa aku tidak berpikir seperti itu, maaf ya." Dengan diiringi tawa kecil, Anisa berkata karena memang dirinya benar-benar melupakan hal itu.
"Ya sudahlah, kamu kenapa mewek? Macam orang habis di palak saja."
"Gak tau, tanpa aku minta tiba-tiba saja cairan bening ini keluar." Jawab Anisa dengan kedua bahu terangkat.
__ADS_1
"Naluri keibuanmu cukup peka An, aku yakin akan hal itu. Lantas bagaimana jika suatu saat kamu tahu dengan kenyataannya yang kamu alami saat ini, apa kamu juga akan marah padaku?" beberapa kali Anisa memanggil Arum, nyatanya wanita itu tidak menggubris dan terlena dengan pikirannya.
"Arumi!" bentak Anisa hingga Arum terperanjat karena bentakan Anisa membuatnya kaget.
"An, kenapa?" dengan nada bingung. Arumi mencoba bertanya dengan sesekali menetralkan detak jantungnya.
"Kamu yang kenapa? Dipanggil dari tadi bukannya menjawab, malah melamun tidak jelas!" gerutu Anisa karena Arum mengacuhkannya.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibir Arum.
"Memangnya apa yang lagi kamu pikirkan?" sedikit penasaran, Anisa mencoba untuk bertanya.
"Masalah kerjaan, pusing karena kamu tidak membantuku sama sekali." Dengan suara tegas Arum berkata dan mengeluh karena semua pekerjaan hanya Arum yang mengerjakannya.
Sesaat Anisa menatap ke arah Arum, merasa jika ada yang disembunyikan dan sepertinya bukan itu, yang sedang mengganggu pikirannya.
"Ada apa? Kenapa kamu terus menatapku seperti itu?" kata Arum.
"Tidak, hanya memastikan jika kamu benar-benar butuh bantuan. Terus berusaha berbicara padaku agar aku mau membantumu," ujar Anisa yang sengaja berbohong untuk menutupinya dari Arum.
Ckckck.
Arum berdecak sebal. Bukannya ikut membantu, justru semakin membuat Arum kesal dengan perkataan konyol menurutnya.
"Dasar," umpat Arum.
"Rum, aku mau mengatakan sesuatu?"
Arum menoleh karena keadaan sedikit mencekam. "Memangnya apa yang mau kamu tanyakan?" tanya balik Arum.
"Tadi siang aku mendapatkan kiriman bunga," kata Anisa memberitahu.
"Ya bagus dong, berarti kamu sangat spesial di hatinya." Jawab Arum turun senang.
__ADS_1
"Bukan itu yang jadi masalah," kata Anisa.
"Lantas apa!" pekik Arum karena ternyata apa yang dikatakan adalah salah.