
Seminggu sudah pertemuan antara Anisa dan Dirga waktu itu, dan hari ini adalah sidang pertama bagi Anisa, tidak dipungkiri jika hatinya merasakan debaran yang tak biasa.
Memasuki gedung pengadilan Agama, ada rasa bergetar di hati karena perpisahan antara dirinya dan Dirga akan segera berakhir. Tidak mudah mengulit kenangan yang sudah berjalan lima tahun. Suka duka pernah dirasakan, tapi ... mungkin inilah cara Tuhan menunjukkan bahwa jodoh mereka sampai di sini.
Dengan balutan Syar'i berwarna coklat. Tidak lupa jilbab dengan warna senada, semakin membuat Anisa tampil lebih anggun. Ada Arum juga yang setia menemani Anisa, karena tidak mau sampai sahabatnya luluh dan mencabut gugatan tersebut.
"An, kamu kuat." Arum memegang tangan Anisa, berusa memberi semangat untuknya.
Anisa pun mengangguk, dan tersenyum. "Makasih Rum, kamu selalu ada buat aku." Jawab Anisa.
Masih menunggu kedatangan Dirga, karena jadwal yang ditentukan kurang setengah jam lagi, dan berharap jika Dirga tidak akan mempersulit semua ini agar segera selesai.
Hati Anisa sudah tidak karuan karena harapan yang begitu besar, akan persidangan ini. Meski berat tetap saja Anisa harus mampu memilih jalan untuk bahagia, dan meninggalkan kelukaan yang selama ini terus menjadi momok baginya.
"An, sepertinya itu Dirga!" tunjuk Arum ketika melihat sosok pria yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Alhamdulillah, akhirnya Mas Dirga bisa datang." Jawab Anisa dengan sebuah perasaan lega, karena sosok yang di tunggu-tunggu akhirnya hadir juga dalam persidangan.
Sidang pertama sudah berlangsung dan Anisa mengatakan sesuai bukti-bukti yang sudah diajukan. Tidak lupa jika Dirga juga memohon agar bisa berdamai, dan hal itu membuat hakim memutuskan jika keduanya masih tahap mediasi.
Anisa tidak akan menyerah begitu saja, sidang masih berlanjut, dan berharap jika di sidang kedua semua akan menjadi sebuah apa yang diharapkan, karena ada kekhawatiran untuknya yakni takut ditolak.
Anisa tahu jika bercerai adalah sesuatu yang di benci oleh Allah, tapi ia hanya manusia yang behati rapuh. Tidak bisa menerima kenyataan jika sudah dikhianati. Apalagi Dirga menikah secara diam-diam.
Beberapa jam kemudian, Anisa dan Dirga sudah keluar dari ruang sidang. Berjalan beriringan dengan mata yang tak bisa lepas memandangi wajah istrinya itu. Dirga, begitu terpesona akan penampilan Anisa dan benar-benar takjub akan perubahannya.
Jika wanita lain akan berlomba-lomba mempercantik diri dengan caranya sendiri, tapi tidak dengan Anisa yang memilih hijrah dengan memakai pakaian yang lebih tertutup.
"An, kita masih bisa memperbaikinya, apa kamu benar-benar melupakan akan kenangan kita selama ini?" ujar Dirga mencari celah untuk bicara, dan tetap membujuk Anisa.
__ADS_1
"Bukan aku yang melupakan Mas, hanya saja kamu belum sadar akan hal ini." Jawab Anisa tegas.
"Jadi, kamu benar-benar ingin melupakan?" kata Dirga yang masih kekeh dengan ucapannya.
"Kenapa kamu masih belum sadar juga, apa aku harus membenturkan kepalamu di tembok Mas, agar kamu ingat siapa yang sudah melupakan kisah rumah tangga kita, kisah hidup yang sudah lima tahun kita hadapi! Lantas kamu masih belum sadar juga," kata Anisa panjang lebar karena Dirga tak cukup mengerti dengan kalimat yang diberikan oleh Anisa.
Dirga yang mendengar hal itu pun seketika diam. Entah kenapa semenjak dirinya telah berkhianat, membuat Anisa jauh lebih berani dalam berkata.
Tanpa berkata lagi, Anisa meninggalkan Dirga yang masih mematung dengan sejuta pikirannya.
Setelah sampai di mobil, Anisa hanya diam dan tidak banyak bicara, hal itu membuat Arum mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan anak ini?" batin Arum bertanya-tanya.
Sedangkan Anisa masih diam, dengan menatap ke arah samping.
Anisa yang mendengar Arum tengah menegurnya, membuat wanita itu lantas menoleh, dan melirik untuk sesaat.
"An, apa tadi ada masalah?" ulang Arum lagi.
"Mas Dirga memintaku untuk mencabut gugatan yang aku ajukan. Di tambah kita dalam masa mediasi," ujar Anisa memberitahu akan masalahnya.
"Lalu kamu mau menerima begitu saja, setelah apa yang dilakukan pria itu pada kamu, begitu?" ucap Arumi yang tak suka jika Anisa akan kembali pada Dirga.
"Tidak Rum, aku tetap ingin bercerai dengannya." Jawab Anisa, dan ucapan itu membuat Arum merasa lega.
"Baguslah, lantas bagaimana dengan hasil pemeriksaannya? Apa sudah ada hasil," kata Arum yang mengingatkan kalau Anisa tengah membuat tantangan.
"Astaghfirullah, aku sampai lupa." Anisa menepuk jidatnya dan hampir saja melupakan kalau akan melakukan tes kesuburan pada Dirga.
__ADS_1
"Ya sudah, kenapa tidak sekalian saja. Ajak mertua kamu yang gila itu juga, agar tahu hasilnya seperti apa." Arum pun menjawab sekaligus menyarankan Anisa untuk mengajak Marina, untuk ikut serta dan melihat hasilnya nanti.
"Apa aku harus mengikuti saran dari Arum, dan mengajak Ibu?" dalam hati Anisa masih bimbang saat Arum memberi saran.
Seolah Arum tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Anisa, dan ia pun berusaha untuk menyakinkan wanita yang ada di sebelahnya sekarang.
"Alangkah baiknya orang tua macam dia tahu, agar tidak terus-terusan menyalahkan kamu. Yang katanya mandul itu," ucap Arum karena ia tidak mau jika Anisa lagi-lagi direndahkan dan dihina hanya karena tidak bisa mengandung.
"Baiklah." Jawab Anisa yang mengikuti saran dari Arum.
"Kapan kamu akan melakukanya?" tanya Arum karena ia tidak sabar untuk melihat hasil dari pemeriksaannya, dan apakah keluarga Dirga masih bisa berbicara. Setelah tahu kenyatannya dan terus menyalahkan Anisa.
"Besok, dan hari ini aku akan memberitahunya. Untuk datang ke rumah sakit," ujar Anisa dan dengan begitu masalah satu persatu akan segera selesai.
"Bagus, secepatnya lebih baik." Jawab Arum.
Kurang lebih dari satu jam, Arum dan Anisa sudah sampai di panti. Terlihat tidak jauh dari mobil Arum berhenti, sosok lelaki dengan senyuman penuh kebahagiaan tercetak jelas dibibir lelaki itu.
Sayangnya, satu lagi pria dengan wajah murung tengah duduk dengan sesekali melempar pandangannya ke arah bocah perempuan. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
Sedangkan Anisa dan Arum masih berada di dalam mobil, melihat pemandangan tersebut. Membuat keduanya berpikir jika sangat beruntung kelak yang menjadi istrinya.
"An, itu orang kenapa? Kok wajah terlihat murung." Arum berujar dengan pandangan yang masih sama, menatap lelaki yang tengah menyendiri.
"Kenapa tidak kamu tanya, dia murung karena apa?" sahut Anisa menimpali ucapan Arum.
"Aku tidak terlalu mengenalnya jadi rasanya agak kaku, kalau kamu kan sudah tahu siapa dia." Jawab Arum dengan rasa penasaran yang begitu besar.
"Terus yang harus bertanya aku gitu, tidak Rum, aku tidak suka mengurusi urusan orang."
__ADS_1