
Dengan beraninya, Bu Marina masuk dan mencari sosok Anisa, hingga membuat anak-anak panti begitu sangat ketakutan.
"Minggir kalian!" bentak bu Marina pada anak-anak yang tengah bermain.
"Bu, bisa tidak anda bersikap sopan. Apalagi harus membentak anak-anak yang tidak mengerti," kata bu Ning memberi peringatan pada Bu Marina, yang masih yakin jika Anisa berada di dalam untuk sembunyi. Sedangkan Anisa memang sudah tidak berada di panti dari tadi pagi.
"Saya tidak peduli! Karena yang saya butuhkan adalah Anisa," dengus bu Marina dengan berani masuk ke dalam dan mengamuk tanpa sebab dan berusaha untuk menemukan Anisa, meski harus menggeledah rumah seseorang hanya karena sebuah ambisi.
"Jika anda tidak percaya silahkan dan cari sampai ketemu, tapi tidak dengan membentak anak-anak saya!" pekik bu Ning yang terlanjur kesal dengan ulah Bu Marina, karena terlihat anak-anak gemetar dan hal itu tidak baik bagi kesehatannya dan takut dengan berujung trauma.
Cukup lelah, hingga Bu Marina memilih menyudahi pencarian tersebut, karena nyatanya Anisa sama sekali tidak ditemukan di dalam rumah maupun di kamar dan juga dapur. Lantas wanita setengah baya itupun langsung melengos keluar dengan begitu angkuhnya.
"Ingat, saya akan terus mencari Anisa, jangan harap wanita itu bisa kabur dari tangan saya!" dengan nada ancaman bu Marina pergi tanpa mengucapkan satu kata pun dari mulutnya. Meski hanya sekedar meminta maaf pada Bu Ning, karena merasa tidak dihormati sebagai tuan rumah. Nyatanya hal itu sama sekali tidak dilakukan olehnya sama sekali.
"Astaghfirullah." Bu Ning seketika mengelus dadanya. Entah kenapa melihat sikap dari Bu Marina yang semakin menjadi. Tidak hanya itu, dendam yang semakin menguasai hatinya sudah membutakannya, karena tidak dapat melihat kebenaran.
"Semoga Tuhan selalu memberikan jalan taubat untuk Bu Marina, Amiin." Setelah berdoa dan meminta agar Bu Marina bisa secepatnya sadar, bu Ning pun kembali masuk untuk melihat keadaan anak-anaknya, karena tadi sempat takut karena ulah dari mantan besannya itu.
Sedang Bu Marina yang tengah bingung, untuk mencari Anisa yang tak kunjung ditemukan. Membuatnya begitu frustasi karena sudah cukup memakan banyak waktu, tapi hasilnya nihil.
"Aku harus mencari ke mana lagi, semua tempat sudah aku datangi. Satupun tidak aku temukan di mana Anisa berada," gerutu bu Marina di dalam mobil dengan wajah yang mulai cemas.
Pusing karena hari ini tidak dapat bertemu dengan Anisa, akhirnya Bu Marina memutuskan untuk pulang dan besok akan mencari kembali Anisa.
Sesampainya di rumah, ia terus memandangi sang putra. terlihat Dirga sedang merenung menatap langit yang begitu cerah. Di kursi roda inilah Dirga menghabiskan waktu hanya dengan melamun. Sampai-sampai tubuhnya tidak terurus lagi karena merasa ia sudah lelah dengan hidup, yang terus mempermainkannya dengan begitu senang.
"Apakah alam ingin bermain denganku? Sampai harus menyiksaku seperti ini," gumam Dirga.
Yah, sedari kepulangan Bu Marina, ia terus menatap sang anak. Beliau tahu yang dibutuhkan sekarang adalah Anisa, maka dari itu Bu Marina harus bisa mendapatkan wanita tersebut untuk diberikan pada Dirga, agar anaknya punya semangat lagi untuk hidup.
"Dirga, sampai kapan kamu akan seperti ini terus, Nak?" ucap bu Marina dengan tatapan sendu, karena Dirga adalah harta satu-satunya yang dimiliki. Dengan perlahan bu Marina berdiri di depan Dirga sebelum berlutut.
Tidak ada sahutan dari Dirga, hanya bisa diam, dan sesekali tertawa. Begitu sangat menyedihkan, bukan.
__ADS_1
Bu Marina berlutut meminta Dirga untuk melupakan masa lalunya. Meski Bu Marina tahu bahwa di sini beliau juga salah, tapi egonya mematikan semuanya. Seakan tidak peduli meski harus menjadi orang jahat.
Beberapa minggu kemudian.
"Nis, maaf aku dari seminggu lalu ada pekerjaan di luar kota, kamu tahu. Semua ini karena Kakak kamu yang gila ini," ucap Samuel dengan menatap Yuda dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa kamu menyalahkanku, yang dapat hasil nantinya juga siapa? Bukannya aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri."
Pletak.
Dua jari meluncur di kening Yuda dan hal itu membuatnya menatap tajam ke arah Samuel. "Apa kamu tidak ingin menikahi adikku? Makanya kamu berani padaku," kata Yuda dengan wajah ganasnya.
"Tidak, aku tidak akan memaksamu untuk tetap berhenti menjadi asistenku. Asalkan kamu tetap merestui hubunganku dengan Anisa," pinta Samuel dengan ramah, tidak akan mempermasalahkan jika Yuda ingi keluar dan fokus kepada usahanya, karena wajah Samuel mulai pucat saat kalimat terakhir diucapkan oleh Yuda.
"Bagus, kalau begitu belajarlah mulai sekarang menjadi suami yang baik." Yuda berujar dengan wajah yang sulit diartikan. Sedangkan Samuel sudah pasang kuda-kuda intuk menerkam Yuda, karena merasa telah dipermainkan.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Samuel dengan kedua tangan disilangkan.
"Apa!" teriak Samuel dengan sangat kencang.
"Apa kamu pikir sekarang ada di tengah hutan dan berteriak sesukamu!" dengus Yuda dengan kesal.
"Sial, seperti ini orang sengaja mau mengerjai." Samuel membatin karena Yuda sekarang suka dengan bermain ancaman, hal itu membuatnya ingin sekali mematahkan leher Yuda karena sudah dipermainkan.
"Pilih menikah atau tidak sama sekali!" seru Yuda dengan menyipitkan sebelah matanya.
"Baik, baiklah aku akan membuatkan kalian minum. Terutama untuk kamu Anisa, spesial pokoknya." Dengan senyuman menggoda lantas Samuel langsung pergi ke dapur.
Sedangkan di ruang tengah, Anisa tak habis pikir dengan kelakuan Yuda yang begitu senang menjahili Samuel, Anisa hanya bisa tertawa kecil saat melihat ketakutan di wajah lelaki tersebut. Rasa takut yang dimiliki oleh Samuel, membuat Anisa yakin bahwa kali ini pilihannya tepat.
Tidak lama kemudian, Samuel sudah membawa dua cangkir teh hangat untuk masing-masing, Anisa dan juga Yuda. "Nis, minumlah mumpung masih hangat." Cangkir yang disodorkan oleh Samuel dan terima Anisa, dengan senyuman mengembang. Kata terima kasih tidak luput dari bibir Anisa dan Samuel pun membalas dengan senyuman juga.
"Hahahaha ... rasain kamu, ini akibatnya jika bermain-main denganku." Samuel bergumam dalam hati. Tidak sabar menyaksikan tentang seseorang yang akan masuk ke dalam jebakannya, ia pikir itu adalah hal yang pantas di dapatkan karena sudah berani padanya.
__ADS_1
Anisa sudah memegang cangkir tersebut dan siap untuk meminum minuman yang dibuatkan oleh Samuel, begitupun dengan Yuda yang ingin mencicipi minuman buatan calon adik iparnya itu.
Satu, dua, tiga.
"Samuell!" Yuda berteriak sekeras mungkin hingga membuat Anisa terlonjak kaget dan hampir saja cangkir miliknya jatuh, tapi beruntungnya itu bisa dicegah meski bajunya terkena tumpahan teh panas.
"Dasar sialan, kamu sengaja mengerjaiku, ya?" bentak Yuda pada Samuel dengan wajah merah padam.
"Kak, sudahlah. Mungkin Sam tidak sengaja," kata Anisa yang mencoba meredan kemarahan sang Kakak.
"Mana minuman kamu?" ucap Yuda dengan tangan yang sudah siap menerima.
Jika rasanya beda, maka kamu memang ingin mengejaiku!" sungut Yuda yang sudah memegang cangkir milik Anisa.
Satu tegukan.
Dua tegukan.
Hingga berakhir dihabiskan, rasanya begitu nikmat dan enak. Lantas kenapa punyanya seperti ikan asin?
"Lihat ini aku sudah menghabiskan, berarti kamu memang ingin mengerjaiku." Yuda pun langsung menjungkir cangkir milik Anisa sebagai bukti.
"Salah siapa, jadi orang sok berkuasa." Dalam hati Samuel menggerutu dan begitu puas telah berhasil memberikan minuman dengan rasa yang katanya mirip ikan asin.
"Anggap saja kamu sedang ke pantai sekalian nyelam dan minum airnya," ucap Samuel tanpa dosa sedikitpun.
"Dasar sialan!" gerutu Yuda.
Sedangkan Anisa tidak kaget lagi dengan pertengkaran antar keduanya.
"Maaf, tadi tidak sengaja dan salah ambil." Nada bersalah dari Samuel membuat Anisa kasihan karena sedari tadi lelaki tersebut, terus mendapat amukan dari Yuda.
"Tidak sengaja apanya, ini minuman rasanya sangat asin. Apa kamu ingin mencobanya? Nih minum," ucap Yuda menyodorkan cangkir tersebut di hadapan Samuel. Alhasil sosok Yuda pun tidak berhenti untuk mengoceh karena memang sedang dikerjai. Hany saja Samuel pandai mencari muka sampai Anisa pun ikut membelanya.
__ADS_1