
"Hai ipar laknat, ke mana adikku?" tanya Yuda ketika melihat Samuel.
Glek. Terdengar suara di mana Samuel tengah bersusah payah menelan ludahnya sendiri, karena ada sebuah pertanyaan dari Yuda yang ia juga tidak tahu ke mana istrinya pergi.
"Justru aku ke sini untuk mencarinya," sungut Samuel dengan nada malas ia terpaksa jujur pada Yuda.
"Apa!" teriak Yuda karena saking terkejutnya saat mendengar penuturan dari Samuel, hingga rahang yang keras menampilkan bahwa laki-laki itu sedang menahan emosi.
"Awas saja kalau sampai tidak ketemu, maka akan aku gantung kamu ya!" seru Yuda lagi karena tidak dapat menerima bahwa Anisa telah hilang dan tidak tahu keberadaannya.
"Yud, daripada kamu uring-uringan tidak jelas kenapa tidak kamu telepon." Mendengar Arum yang memberikan usul, buru-buru Yuda langsung meraih ponselnya karena ia juga lupa bahwa dengan ponsel, akan membuatnya tahu ke mana Anisa berada.
"Percuma, karena ponsel Anisa ada di kamar." Samuel seketika menyahut karena saat Yuda sudah susah payah telepon, tapi sayangnya tidak ada yang mengangkat.
"Bagaimana ceritanya Anisa tidak ada di rumah? Kamu tahu, ini semua tidak lucu!" kata Yuda dengan wajah memerah dan rasa ingin memberi pelajaran pada Samuel sudah tidak tertahankan lagi.
"Kamu tidak bisa menyalahkan aku begitu saja, aku baru saja pulang dari bali dan itu semua atas permintaan Anisa, jadi wajar kalau aku tidak tahu soal apa pun itu." Suara tegas dari Samuel, membuat Yuda seketika terdiam dan rasanya ada yang aneh jika Anisa tiba-tiba meninggalkan rumah tanpa membawa benda keramat.
"Bukannya bulan depan baru ada jadwal di bali?" tanya Yuda sedikit penasaran.
"Anisa minta rujak khas bali dan harus beli di tempatnya langsung, apa kamu puas."
Ingin rasanya Yuda dan Arum tertawa, tapi keduanya mencoba untuk menahannya karena permintaan Anisa sungguh di luar nalar.
"Jika kalian ingin tertawa, maka tertawalah karena itu adalah permintaan adik kesayanganmu. Bukan soal pelitnya masalahnya kenapa harus jauh-jauh ke bali hanya untuk beli rujak," ujar Samuel membeberkan.
"Mungkin Anisa ingin kamu sekalian jalan-jalan," sahut Yuda.
Ckckck.
Samuel berdecak sebal karena jawabannya menurut Yuda sangat tidak masuk akal.
"Sudahlah, sekarang cari Anisa sampai dapat. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Anisa," kata Yuda yang segera menghampiri Samuel yang sedari awal berdiri.
__ADS_1
"Mau cari ke mana?" tanya Arum.
Yuda tidak menjawab dan justru lelaki itu malah berbicara dengan Samuel, yang ingin mengajaknya untuk pergi ke rumahnya, guna memastikan mata Samuel tidak rabun.
"Sam, kita cari di rumah kamu. Siapa tahu dia ada di sana sama Mbok Yem dan kamu tidak tahu," ucap Yuda.
"Aku sudah mencarinya di sekeliling rumah, tapi tidak ada satupun orang di rumah." Samuel pun mencoba membeberkan perihal hilangnya Anisa yang entah ke mana.
"Siapa tahu kamu rabun, jadi sekarang kita segera pergi." Lantas Yuda pun mengajak Samuel dan Arum untuk kembali ke rumah Anisa, karena Yuda yakin jika sang adik masih berada di rumah.
Cukup lumayan, memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah Samuel, saat Samuel sudah berada di dalam dan gerbang yang sudah terbuka ia melihat mobil yang biasanya di pakai untuk mengantar istrinya ke mana-mana.
"Bukannya ini mobil tadi gak ada ya? Kok sekarang sudah main parkir," gumam Samuel dengan kerutan kening naik turun.
"Kenapa melamun?" suara Yuda membuat Samuel seketika terhenyak karena sedikit terkejut.
"Tidak, tidak ada apa-apa." Jawab Samuel.
"Buruan masuk," titah Yuda karena lelaki itu sudah tidak sabar untuk melihatnya ke dalam.
"Sam, kamu sungguh si*alan. Bukankan dia orang yang kamu cari? Aku harap setelah pulang dari beli rujak kamu tidak amnesia!" gerutu Yuda dengan melemparkan tatapan tajam ke arah Samuel.
"Apa iya, ya. Aku sedang lupa padahal orangnya ada di rumah?" dalam hati Samuel bertanya-tanya.
"Sam, sepertinya kamu habis terbentur makanya kamu lupa jika orang yang kamu cari sedang menikmati makanannya." Arum pun tak kalah heboh dan ikut menimpali dan sepertinya ada kesalahan dalam pandangan Samuel.
Sedangkan sosok wanita yang sedari tadi terus menikmati oleh-oleh yang di bawa oleh orang tercintanya. Lalu, Sekarang menatap ketiga orang itu penuh keheranan karena mereka semua hanya mampu berdiri tanpa menyapanya.
"Kalian darimana?" tanya wanita berjilbab bergo itu dengan mulut yang dengan buah.
"Kita semua sedang mencari kamu, aku kira kamu hilang karena dari tadi aku panggil-panggil gak ada respon." Jawab Samuel dengan tatapan bingung.
"Memangnya aku ke mana? Kok kamu cari gak ada," ujar Anisa dengan kedua alis terangkat.
__ADS_1
"Mana aku tahu, yang aku denger ponsel kamu ada di kamar dan kamu nya gak ada. Di tambah Mbok Yem sama Pak Rudi juga gak ada," terang Samuel dengan kedua tangan berada di angin-angin.
"Kamu saja yang ngantuk. Orang aku dari tadi di rumah dan ada di kamar mandi, sedangkan Pak Rudi dan Mbok Yem ke pasar. Masih menyangkal kalau aku pergi!" kata Anisa dengan dua bola yang sedang melotot karena dirinya dinyatakan hilang oleh suaminya.
Sedangkan Arum dan Yuda tidak bisa menahan tawa akibat ulah Samuel, yang menurutnya itu lucu. "Tertawa saja terus, seneng kan kalau aku diomeli sama Anisa!" gerutu Samuel pada dua orang yang sedari tadi terus tertawa.
"Eh kalian, kenapa ikut ke sini juga. Terus sejak kapan itu tangan gandeng mulu?" cercah Anisa yang tengah menyadari bahwa Arum dan Yuda tengah bergandengan tangan.
Seketika keduanya pun dibuat salah tingkah dan langsung melepaskan tangannya masing-masing.
"Mereka tadi sudah tertangkap basah olehku, Sayang. Sepertinya Yuda dan sahabatmu itu telah resmi menjadi sepasang kekasih," sahut Samuel.
"Siapa yang pacaran, kita cuma lagi ...." Arum berhenti bicara saat Yuda memegang kembali tangan Arum.
"Maaf, tanpa sepengetahuan kalian berdua aku dan Arum telah resmi menjadi pasangan kekasih."
Uhuk.
Uhuk.
Anisa seketika tersedak dan Samuel dengan cepat mengambilkan minuman untuk sang istri.
"Sayang, hati-hati." Setelah mengambilkan minuman untuk Anisa, Samuel pun dengan lembut mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Lihat saja, aku bisa lebih seperti kalian. Enak saja main memanasi aku dengan gaya seperti itu," gerutu Yuda saat melihat kemesraan antara pasutri tersebut.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa dan sekarang aku mau penjelasan dari mereka berdua!" kata Anisa sembari menunjuk ke arah Yuda dan Arum.
"Sekarang jawab, kenapa Kakak menyembunyikan hubungan dengan Arum?" tanya Anisa dengan napas naik turun.
"Maaf, An. Bukan kita sengaja untuk menutupi hubungan kami, tapi aku dan Arum masih butuh jalan untuk mencari tempat yang nyaman. Lagian Kakak juga tidak mau gegabah untuk memilih calon istri karena Bagi Kakak menikah satu kali seumur hidup," kata Yuda memberi penjelasan pada Anisa, agar adiknya mengerti dan tidak salah paham.
"Apa yang dikatakan Kakak kamu ada benarnya An, kita masih menyesuaikan hati kita masing-masing. Bukankah semua itu butuh proses dan tidak bisa buru-buru," kata Arum ikut menimpali.
__ADS_1
Anisa pun terdiam bahwa semua itu ada benarnya, kini masa lalu yang pernah ia rasakan tiba-tiba terlintas dipikirannya.