Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
48. Datang ke rumah Samuel


__ADS_3

"Tanteku yang cantik. Ini kenalin Anisa, dia adik saya." Akhirnya Yuda pun membuka mulut untuk mengatakan siapa sosok yang digandeng olehnya.


"Bukannya Anisa itu calon mantu, tante ya, tapi kenapa kalian bisa sedekat itu?" bu Susi lantas bertanya dengan nada penasaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih, kenapa kepalaku pusing hanya karena gara-gara mereka." Bu Susi mendengus kesal, di hatinya sampai keluar sebuah umpatan karena tidak mengerti dengan muda-mudi yang berada di depannya.


"Ma, alangkah baiknya kalau kita duduk. Jangan menjadi Mama yang durhaka karena membiarkan kita seperti patung," ujar Samuel karena hampir 20 menit, dirinya dan kedua Kaka beradik itu berdiri.


"Baiklah, sekarang kalian masuk dan jangan lupa kalau kamu berhutang penjelasan pada mama." Ucapan bu Susi mendapat persetujuan dari Samuel dan ketiganya pun akhirnya masuk dan lekas menuju sofa.


Setelah itu.


"Sekarang jelaskan," pinta bu Susi yang tidak sabar dengan yang terjadi sekarang.


"Bukannya Yuda tidak punya adik dan dulu pun kamu yang menolongnya, bukan begitu, Sam?" kata bu Susi lagi yang sulit mencerna dengan yang terjadi sore ini.


Sedangkan Anisa hanya bisa diam. Menyimak percakapan antara Samuel Yuda, dan juga bu Susi. Rasanya tidak sopan jika harus langsung menyahut akan siapa dirinya yang sesungguhnya.


"Ma, Anisa ini kekasihku dan calon menantu Mama, sedangkan Yuda adalah Kakaknya Anisa yang baru beberapa minggu keduanya dipertemukan." Jawaban yang diberikan oleh Samuel, cukup membuat Anisa lega tetapi tetap saja semua itu tidak mengurangi rasa takutnya saat ini. Sedangkan Bu Susi nampak terkejut saat mendengar pengakuan dari Samuel soal Anisa.


"Hah, jadi kalian beneran saudara?" ujar bu Susi tak mengurangi rasa terkejut yang sempat hinggap di hatinya.


"I-iya Tante," jawab Anisa dengan suara gemetar.


"Cantik, jadi kapan kalian menikah?" tanya bu Susi the to poin, tanpa banyak basa-basi dan langsung masuk intinya.


"Tante ... kalau saya hanya seorang janda bagaimana?" seketika wajah tua itu nampak kehilangan semangat karena tidak menyangka. Bahwa Samuel telah jatuh hati kepada seorang janda.


"Sam, Yud, kalian bantulah Pak Joko dan Mbok Yem untuk membakar ikan. Mama mau bicara serius pada Anisa dan bukankah seorang calon menantu dan juga calon mertua harus bisa dekat? Jadi inilah yang ingin kita lakukan." Sebuah permintaan dari bu Susi dan Samuel pun setuju, karena apa yang di katakan oleh Mamanya ada betulnya.


"Yud, yakin saja dan tidak akan terjadi pada adik kamu." Lantas Samuel pun menarik tangan Yuda setelah berbicara.


Di halaman depan dan kebetulan ada tempat duduk panjang, yang diletakkan di taman. Kini keduanya sudah duduk dan Anisa merasa jika dirinya adalah seorang pencuri. Di intimidasi dengan sebuah pengakuan, itulah yang saat ini terjadi kepadanya.


"Anisa, bagaimana kamu bisa menjadi janda? Mama tidak mempermasalahkan status kamu. Hanya ingin tahu kenapa memilih menjadi janda?" ucap bu Susi dengan ramah, tapi berbeda dengan Anisa yang mulai meragukan akan keyakinan yang diberikan oleh Samuel waktu itu.


"Apa Tante—," panggil sama 'Mama' jangan tante lagi." Potong bu Susi pada Anisa dan menolak sebutan 'Tante' entah kenapa tidak mau, hanya beliau yang tahu alasannya.

__ADS_1


"Ba-ik Ma-ma," ucap Anisa dengan suara kaku karena masih belum terbiasa dengan panggilan tersebut. Apalagi dengan sosok yang baru saja ia kenal bahkan belum ada satu jam itu.


"Bagus, sekarang ceritakan. Mama tidak mau Samuel menikah dengan orang yang salah, bukan soal kamu janda tidaknya. Mama cuma mau Samuel benar-benar mencari sosok istri yang tepat meski itu hanyalah seorang janda, buat Mama hal itu tidak jadi masalah yang jelas asal usulnya kenapa jadi janda."


"Bukan Mama tidak suka dengan janda, tahu kan kamu berita jaman sekarang, ngakunya bujangan tapi sudah beranak. Ngakunya janda tapi nyatanya sudah bersuami," terang bu Susi lagi dan hal itu membuat Anisa terkekeh karena Mama dari Samuel begitu seleksi dalam tahap pemilihan.


"Suami saya berselingkuh hingga menikah diam-diam, lalu dengan alasan kalau saya mandul. Nyatanya tiga kali cek semuanya bagus, parahnya mertua saya mendukung anaknya menikah hanya demi sebuah keturunan." Bu Susi yang mendengar itu pun lantas tidak bisa berkata-kata.


Tidak menyangka bahwa masih ada Ibu yang tega bersekongkol dengan sang anak, hanya demi sebuah keturunan. Entah mengapa ia begitu sangat membenci mantan suami Anisa dan juga mantan mertuanya, meski tidak tahu wajah aslinya.


"Maaf, karena saya terlalu banyak bertanya hingga tanpa sengaja. Menggores luka di hati kamu," kata bu Susi dengan tangan mengelus pucuk jilbab yang dipakai oleh Anisa.


"Tidak Ma, semua itu sudah berlalu dan sekarang saatnya saya melangkah menuju masa depan." Jawab Anisa mencoba tegar, meski di hatinya masih tersimpan rasa sakit. Namun, dengan perlahan semua luka akan pulih.


"Baiklah, aku rasa para lelaki sudah selesai. Sekarang kita makan," ajak bu Susi pada Anisa dan ia pun mengangguk.


Beberapa menit kemudian.


Semuanya sudah berkumpul di meja makan dan berbagai menu sudah siap di santap. Namun, sebelum itu Samuel berbicara pada sang Mama. "Ma, Anisa tidak Mama apa-apakan, kan?" tanya Samuel jika sang Mama tidak bicara aneh-aneh pada kekasihnya itu.


"Iya, tadi mau Mama makan, tapi sayangnya terlalu sempurna jadinya Mama tidak jadi melakukannya." Dengus bu Susi.


"Kalau kamu mau menikah, hilangkan dulu sikap manjamu itu!" kata bu Susi, meski usia Samuel sudah 33 tahun nyatanya dia tetaplah lelaki yang manja, meski di luar sana sang anak terlihat kejam dan tidak segan memecat karyawannya. Yang tidak bersungguh-sungguh dalam bekerja.


"Ma," rengek Samuel karena Bu Susi sukses membuatnya malu di depan Anisa.


"Biarkan, toh sebentar lagi kalian akan menikah. Biar Anisa tahu sisi jelek dari kamu," ujar bu Susi.


Samuel mencabik kesal karena Bu Susi lebih membela Anisa daripada dirinya yang akak kandungnya sendiri.


Sedangkan Anisa tidak percaya dengan semua ini awalnya. Ia kira sosok Bu Susi terlihat kejam dan sombong, nyatanya semua itu berbalik. Beliau adalah pribadi yang ceria dan juga bisa menghargai dirinya, tanpa memandang sebuah status.


"Sekarang kalian makan, tuh lihat calon mantu Mama dari tadi anteng dan tidak seperti kalian!" bela bu Susi pada Anisa.


Waktu yang begitu cepat hingga tanpa terasa jika sekarang sudah jam enam sore. Setelah pertemuannya dengan Bu Susi, Anisa dan Yuda pulang dengan mengendarai motor karena permintaan Anisa, karena jarak antara rumahnya dan juga milik Samuel tidaklah jauh.


"Kak, aku ingin beli sesuatu. Apakah kamu mau mengantarkan aku sebentar karena kita mumpung ada di luar?" kata Anisa karena ia ingat ada barang yang habis di kamarnya.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan pergi ke mana?" tanya Yuda dengan sedikit berteriak karena suara memang keduanya sedang berkendara.


"Ke supermarket." Jawab Anisa.


Setelah Anisa berbicara soal tempat yang ingin di datanginya. Motor Yuda pun di pacu dengan kencang dan menerobos jalanan yang lumayan rame.


Setibanya di supermarket.


Anisa mulai memilih barang apa saja yang dibutuhkan. Namun, tanpa di sangka tangan seseorang telah menahannya, untuk mengambil barang tersebut di jejeran rak.


"Cincin, bukankah ini milik ...." Tak sampai Anisa melanjutkan akan sebuah terkaan yang ada di hatinya, karena ternyata ia sudah tahu cincin itu milik siapa.


"Akhirnya saya menemukan kamu juga An," ucap dari seseorang wanita yang selalu ambisius untuk mendapatkan Anisa.


"Kenapa Ibu mencariku? Aku rasa di antara kita sudah tidak ada masalah, bukan?" kata Anisa yang tak habis pikir dengan sosok wanita yang selalu mencari masalah kepadanya.


"Kita memang tidak ada masalah, tapi anakku yang bermasalah karena kamu!" cercah bu Marina.


Yah, tadi Bu Marina berniat ingin membelikan deapres untuk Dirga, dan beruntungnya sekarang justru dipertemukan dengan Anisa. Sosok yang selalu ia cari dalam beberapa minggu ini.


"Sudah aku bilang Bu, aku tidak akan kembali pada Mas Dirga! Kenapa Ibu selalu memaksakan kendak padahal aku sudah menolak!" pekik Anisa yang sepertinya sudah kehabisan kesabaran.


Dari kejauhan Yuda melihat ada yang tidak beres dan buru-buru menghampiri sang adik, karena ia yakin jika ada sesuatu di dalam sana.


"Ada apa ini?"


"Oh, jadi kamu ganti selingkuhan Ya, bagus sekali."


Prok.


Prok.


Prok.


Bu Marina bertepuk tangan dan sekarang ia tahu kenapa Anisa menolak untuk kembali pada Dirga, ternyata Anisa telah memiliki selingkuhan lain dan hal itu membuat Bu Marina semakin membencinya.


"Lepas saja jilbab kamu itu. Kalau hanya menutupi kebusukan! Saya tidak menyangka jika kamu ada adalah perempuan ja*lang berkedok sok alim, dasar perempuan murahan."

__ADS_1


Plaaak.


__ADS_2