
"Istri anda mengalami Amnesia dan itu didapatkan dari rasa trauma karena kecelakaan. Adapun benturan yang membuat syaraf tidak bisa lagi bekerja dengan normal dan mengingat masa lalunya," kata dokter yang mencoba menjelaskan.
"Apa bisa kembali mengingat?" kata Samuel dengan penuh harap jika semua itu masih bisa.
"Amnesia dengan jenis ππ¦π΅π³π°π¨π³π’π₯π¦. Ini mengakibatkan tidak bisa mengingat kehidupan di masa lalunya dan hanya ada kehidupan yang baru. Maka dari itu istri Bapak saat saya tanya tentang nama, semakin mencoba mengingat dan semakin dalam untuk diingat. Maka yang terjadi seperti tadi dan hal itu tidak bisa kita paksa," jelas dokter.
"Lalu saya harus bagaimana, Dok?" tanya Samuel yang belum puas dengan penjelasan Dokter Alex.
"Dengan cara mengulang masa-masa kebersamaan kalian, tapi ingat. Jangan terlalu dipaksakan dan hal itu akan semakin memperburuk keadaan. Kenangan dan benda bisa dibuat acuan untuk sedikit demi sedikit membentuk memori masa lalu, itulah yang harus anda lakukan." Mendengar hal itu. Samuel hanya terdiam dan rasanya sungguh sulit jika kenangannya selama ini harus dilupakan oleh Anisa.
"Baik Dok, saya akan berusaha." Dengan wajah lesu dan rasa semangat yang redup, Samuel menjawab.
Setelah menjelaskan, Dokter Alex pun pergi dan kini hanya tinggal Samuel dan juga Yuda.
"Yud, tolong bantu aku. Bantu aku untuk membuat Anisa mengenaliku," ucap Samuel pada Yuda yang kini tengah terduduk dengan tatapan lelahnya.
"Semua ini kan terjadi karena kamu, andai hal itu tidak terjadi mungkin semua tidak akan hancur." Dengan nada sinis Yuda menjawab dan hal itu pasti membuatnya terpukul karena sang adik tidak dapat mengenalinya.
Setelah Yuda pergi kini tinggal Samuel. Ia mengusap wajah kasarnya karena benar-benar frustasi dengan apa yang terjadi saat ini.
Bagi Samuel kehilangan sosok wanita tercintanya di saat wanita itu sendiri melupakan segala kenangan yang pernah ada. Jika kematian membuatnya takut kehilangan, nyatanya Samuel sudah merasakan hal itu dengan wujud ada tapi hati dan pikirannya mati. Sehingga Anisa tidak lagi tahu siapa sosok Samuel yang kini dengan sedih meratapi nasibnya karena terlupakan dan dilupakan.
Dua hari sudah, Anisa sadar kini wanita itu masih belum diizinkan untuk pulang karena masa penyembuhan setelah menjalani operasi kedua. Anisa juga tidak tahu jika dirinya pernah hamil dan sayangnya tidak sampai melahirkan, andai hal itu diketahui entah apa yang terjadi pada Samuel.
"An, ini kakak. Lihatlah foto yang ada di dompet kamu dan samakan dengan yang ini," kata Yuda yang langsung menunjukkan foto bayi Anisa yang masih tersimpan hingga kini.
"Jadi, menurutmu aku masih punya Kakak?" tanya Anisa dengan wajah penasaran karena yang ia tahu selama di rumah sakit hanya ada pengakuan dari Yuda sebagai saudara.
__ADS_1
"Iya, nama kamu Anisa dan kamu juga adalah adik dari kakak." Jawab Yuda dan masih berusaha untuk menyakinkan Anisa bahwa dirinya dan Yuda adalah saudara.
"Sekarang kamu makan dulu ya, ada Samuel yang akan menemani kamu karena kakak ada urusan sedikit di luar sana." Yuda sengaja berkata seperti itu karena ingin keduanya dekat. Di samping itu supaya Anisa bisa merasakan firasatnya sebagai seorang istri dengan naluri yang ia punya.
"Baik Kak, kamu hati-hatilah di jalan."
Yuda mengangguk dan tersenyum dan tatapannya kini beralih pada Samuel, untuk mengambil hati Anisa lagi karena tidak mungkin terus memaksa mengingat jika Samuel adalah suaminya.
"Sam, titip Anisa."
"Tentu."
Sekarang Yuda telah meninggalkan Anisa dengan Samuel. Berharap keduanya akan akrab dengan kebiasaan yang sering bersama. Dengan begitu Anisa sedikit demi sedikit bisa mengingat setiap momen yang telah diingatkan oleh Samuel.
"Nis, mau aku suapi?" dengan ragu-ragu Samuel mencoba menawarkan diri.
"Aku bisa sendiri. Lagian kenapa di sini terus, kalau kekasih kamu atau istri kamu marah bagaimana?"
"Kamu bilang apa? Bukannya mendengarkan malah sibuk sendiri. Siapa tadi yang istri kamu, atau memang kamu lelaki yang sudah beristri?"
"Ah, maaf maksudku kamu itu mirip dengan istri temanku." Jawab Samuel yang sekarang sudah salah tingkah.
"Nis, aku Samuel dan aku juga suami kamu. Aku mohon tolong ingat aku," batin Samuel yang kini rasanya tidak sanggup lagi untuk menahannya. Namun, lagi-lagi ia teringat ucapan Dokter Alex yang menyuruhnya untuk tetap sabar.
Oh.
Anisa hanya ber-oh ria karena dirinya tidak begitu kenal dengan sosok Samuel. Jadilah Anisa tidak perlu seakrab layaknya teman atau orang terdekatnya.
__ADS_1
"Sekarang kamu makan ya, atau mau aku suapi. Tangan kamu juga masih belum bisa digerakkan kan, jadi apa salahnya menerima bantuan!" kata Samuel yang ingin mencuri kesempatan pada Anisa.
Sejenak Anisa berpikir bahwa memang tangannya yang satu belum bisa diangkat dan yang satu masih terpasang infus. Antara mengiyakan atau menolak karena rasanya sungguh aneh jika disuapi oleh lelaki yang tidak dikenal.
Sedangkan Samuel sudah terlanjur dan sedikit membuang rasa sungkannya. Saat Anisa masih memikirkan sesuatu, tiba-tiba sendok telah tertempel di bibirnya.
"Jika kamu kelamaan mikir. Yang ada nanti tidak jadi makan dan sekarang buka mulut," titah Samuel yang kini sudah memegang mangkuk bubur dan sendok.
Tanpa protes Anisa pun menuruti ucapan Samuel dan kini dengan perlahan ia membuka mulut, untuk menerima suapan tersebut.
"Nis, aku bahagia saat menyuapi kamu seperti ini. Aku tahu kamu adalah wanita baik dan sekarang semua itu terlihat di depan mataku. Jika tatapan kamu merasa asing padaku. Maaf jika aku telah membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga," batin Samuel yang masih dirundung penyesalan karena tanpa wanita itu tahu. Bahwa lelaki yang berada di depannya saat ini telah membuatnya kehilangan kebahagiaannya.
Tanpa ada perbincangan yang berlebihan. Anisa membuat isyarat kecil bahwa dirinya sudah kenyang dan menyudahi makannya.
"Minumlah." Samuel memberikan minuman pada Anisa.
"Terima kasih," ucap Anisa yang langsung menerima gelas tersebut.
Tanpa mereka sadari di luar banyak yang sengaja mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka. Hal itu juga membuat Arum tidak bisa membendung tangisannya, karena disaat Anisa berjuang justru dirinya disibukkan oleh pekerjaan yang ditinggalkan Anisa pada saat sakit.
"Yud, aku merasa malu karena sudah menjadi teman yang tak bisa setia β¦."
Stttt.
Arum menghentikan ucapannya karena Yuda telah menutup bibirnya dengan telunjuk.
"Sudahlah, lagian Anisa tidak akan ingat siapa kamu. Bahkan dengan aku ataupun dengan Samuel," ujar Yuda yang membuat Arum dipenuhi oleh tanda tanya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Bukankah mereka berdua suami istri dan terlihat jika Samuel tengah menyuapi Anisa!" kata Arum dengan perasaan bingung ia berkata.
"Jika ingin tahu, maka masuklah. Dengan begitu kamu akan tahu respon Anisa seperti apa. Jika aku yang menjelaskan maka kamu sulit untuk mempercayainya."