
"Harusnya kamu tidak pernah ada Mbak, karena kedatanganmu adalah petaka bagiku!"
Bakh.
Suara dorongan hingga membuat Anisa terjatuh dan kepalanya terbentur oleh dinding.
"Apa yang kamu lakukan pada istriku!" bentak Samuel yang melihat Anisa mengeluarkan darah di pelipisnya hingga Samuel Murka.
"Dasar wanita gila!" ucap Yuda bernada emosi karena sudah berani menyakiti Anisa.
"Sayang, apa yang sakit. Kita kembali ke puskesmas ya, karena aku tidak mau sampai kamu kenapa-kenapa!" ajak Samuel dengan perasaan khawatir.
"Tidak Mas, aku tidak apa-apa." Jawab Anisa yang mana tengah menahan sakit.
"Saya berharap kamu mati Mbak, saya di sini yang merawatnya dan saya juga yang menjaga sampai detik ini, apa salah jika saya mempunyai rasa?" ujar Lastri dengan sorot mata tajam, serta jiwa yang sudah dipenuhi oleh aura kebencian.
"Semua orang berhak memilikinya, termasuk kamu. Hanya saja perasaan yang kamu miliki bukan pada tempatnya—,"
"Persetan dengan semua itu." Lastri berucap dengan suara ketus karena memang, semua ini hanya karena kedatangan Anisa.
Andai Anisa tidak datang, andai Anisa mengikhlaskan Samuel yang tak pernah kembali. Mungkin sekarang dirinya sudah menikah dan menjalani hari bahagia bersama El, itulah yang ada di pikiran Lastri.
"Jika saya diminta untuk menikahi Lastri, saya pun mau asal. Saya tidak dilaporkan ke polisi," ucap lelaki yang diketahui bernama zaky dengan sedikit keberanian pemuda itu menyela.
"Tidak, saya tidak sudi menikah dengan kamu! Karena saya akan menikah dengan bang El saja dan tidak ada yang lain." Lastri menolak keras ketika seseorang yang sudah membuatnya hamil, ingin bertanggung jawab dan sayang wanita itu menolak dengan mentah-mentah.
"Pak, tolong urus anak Anda, jika tidak maka saya dengan terpaksa membawa ke rumah sakit jiwa. Untuk diperiksa kesehatannya," ucap Yuda ikut menyahuti.
"Tolong, jangan bawa anak saya … saya mohon," pinta pak Bagong dengan sangat.
"El, maafkan bapak karena bapak sudah menuduh kamu yang tidak-tidak." Kini pak Bagong berbalik dan menatap Samuel. Wajah tua itu begitu sangat menyedihkan, ketika anak yang dibanggakan kini telah hancur, hanya karena sebuah obsesi.
"Saya sudah memaafkan Lastri Pak, karena memang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri—."
"Aku tidak mau Bang, yang aku mau nikahi saya dan tinggalkan wanita gila itu."
"Lastri!" bentak pak Bagong.
"Pak, saya akan membawa putri Bapak demi kebaikan Lastri sendiri, setuju atau tidaknya."
"Lastri tidak gila, kenapa kamu terus memaksa dia untuk di bawa ke rumah sakit?"
Hahahaha.
Suara tawa Lastri membuat semua diam, termasuk pak Bagong. Setelah itu, lelaki yang bergelar ayah tengah menghampiri Lastri.
"Las, ingat Nak. Ada Tuhan yang bisa kamu mintai tolong," ucap pak Bagong menenangkan sang anak.
Hahahaha.
"Wanita itu harus mati Pak, biar aku yang membunuhnya. Semua ini tidak bisa dibiarkan karena bisa jadi setelah merebut calon suamiku, nanti akan merebut Bapak dariku." Lastri berontak dan terus ingin menyerang Anisa, sedangkan Samuel berusaha untuk menghalau agar Lastri tak sampai menyakiti istrinya.
"Lepas Pak, lepas. Aku ingin menyingkirkan wanita tidak tahu diri ini, sekarang Bapak lepaskan aku."
__ADS_1
"Tidak Las, nyebut dan ingat Gusti Allah Nak, Anisa tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang kamu perjuangakan, karena wanita itu memang istrinya El." Pak Bagong masih berusaha menenangkan Lastri di bantu oleh Bowo dan Zaki.
"Lepaskan aku! Aku mau wanita itu mati," teriak Lastri.
Sedangkan Yuda kini sudah memikirkan matang-matang untuk membawa Lastri ke rumah sakit jiwa agar segera mendapat penanganan yang lebih baik lagi.
"Wo, kamu segera pergi. Waktu saya sudah tidak banyak lagi, segera hubungi pihak puskesmas ke sini dan Lastri harus segera diperiksa kejiwaannya." Yuda sengaja menyuruh Bowo untuk pergi dan untuk sementara yang menangani Lastri, adalah Zaky dan pak Bagong.
Beberapa saat kemudian, suara ambulans telah memenuhi telinga para warga. Hingga semua berbondong-bondong untuk melihat dan berasumsi siapa yang sakit. Tetapi, semua orang seketika merasa merinding kala Lastri mengamuk dan mencoba lepas dari dua lelaki dengan kedua tangan kekarnya.
"Pak, tolong bawa wanita itu, karena dia terus mencelakai adik saya!" pinta Yuda pada dua orang yang diperkirakan petugas puskesmas dan satu lagi supir yang ikut keluar.
"Baik Pak, tapi maaf sebelumnya. Rumah sakit jiwa cukup jauh dari desa dan itu memakan waktu cukup lama," jelas sopir tersebut.
"Tidak masalah, saya di sini yang bertanggung jawab." Dengan tegas Yuda mengambil alih semuanya, tujuannya agar segera ditangani oleh pihak rumah sakit.
"Baik, jika Bapak yang akan bertanggung jawab, saya akan membawa, tapi sebelumnya saya ingin memberikan bius agar pasien tidak berontak." Yuda pun mempersilahkan selama tidak membahayakan janin yang ada di kandungan Lastri.
Sesaat, Lastri kembali meronta karena dua petugas dengan seragam khasnya, tengah menghampirinya.
"Lepas! Jangan ada yang mendekat. Jika tidak, maka aku akan benar-benar membunuhnya." Lagi-lagi suara racauan itu terdengar dengan begitu lantang.
"Las, sudahlah. Laki-laki yang kamu cinta itu sudah punya kehidupan, jadi aku mohon buang obsesimu itu dan aku berjanji akan menikahimu—."
"Tahu apa kamu tentang cinta? Wanita gila itu sudah menghancurkan kehidupanku dan mengambil apa yang sudah aku punya," pekik Lastri.
"Kamu salah, Las!" pekik Zaky.
Selang beberapa menit, petugas itu dengan cepat memegang lengan Lastri.
Mungkin sekitar satu menit. Lastri mulai terkulai lemas dan Zaki pun membopong wanita tersebut ke dalam ambulans.
Setelah Lastri tidak sadarkan diri akibat bius, kini pak Bagong hanya menatap sedih karena anaknya.
"Pak, saya minta maaf." Samel menghampiri pak Bagong dengan merekatkan tangannya di pinggang Anisa.
"Tidak El, kamu tidak salah. Semua ini salah bapak yang tak bisa mendidik Lastri dan juga salahnya juga. Entah kenapa bisa semua ini terjadi? Cinta yang yang sudah membutakan hatinya hingga tidak bisa membedakan," ucap pak Bagong dengan raut yang tak bisa di artikan.
"Pak, terima kasih Bapak telah bersedia menampung dan merawat saya. Saya janji akan ingat dengan kebaikan yang sudah Bapak berikan pada saya, saya sangat bersyukur karena adanya Bapak sampai detik ini nyawa saya masih ada."
"Tidak El, karena semua itu memang harus dilakukan. Kita hidup memang diwajibkan saling menolong." Sosok lelaki tua, meski masalah yang dialaminya cukup berat. Namun, sebuah senyum yang diperlihatkan seakan menunjukkan ketegaran hatinya.
"Sam, An, kita pulang. Kasihan Akbar jika kita lama-lama di sini," kata Yuda yang ingin mengajak semuanya untuk pulang.
"Yud, memangnya siapa Akbar?" tanya Samuel penasaran.
"Dia anak kita Mas, namanya Akbar dan usianya sudah menginjak tiga bulan." Anisa seketika menimpali.
"Alhamdulillah." Suara tangis yang tak tertahankan, Samuel langsung memeluk Anisa dengan sangat erat.
"Baik, semua masalah sudah selesai kalau begitu kami mohon izin untuk pulang." Pak Bagong pun tersenyum meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Hati-hatilah kalian, jika ada waktu mainlah ke rumah ini."
__ADS_1
"Tentu Pak, jika suami saya sudah bisa berjalan dengan normal maka disitulah suami saya akan berkunjung." Jawab Anisa dengan cepat.
Semuanya sudah siap dan sudah saatnya pulang ke kota kelahiran.
"Tunggu!" pada saat ketiga orang sudah berjalan, suara Bowo menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Wo?" tanya Yuda.
Bowo tidak menggubris pertanyaan Yuda dan lebih memilih menatap ke arah Samuel.
"Apa yang kau mau dariku," kata Samuel yang ia yakini bahwa Bowo sedang menagih janjinya.
"El, bawa aku juga untuk pulang ke tempatmu. Aku ingin memulai hidup baru dan itulah hutang yang harus kamu bayar," kata Bowo.
"Wo, di sini kamu orang terpandang. Kenapa harus jauh-jauh pergi hanya demi menyembuhkan luka yang tak seberapa itu," ujar Samuel.
"Yang kaya orang tuaku bukan aku, di sini keinginanku adalah menjadi orang yang mandiri dan melupakan semua kisahku di desa. Mencari pendamping di kota kelahiranmu apa salahnya dan juga, kamu sudah berjanji apa pun akan kamu kabulkan jika aku bisa membawa istrimu ke sini." Samuel tak lagi bisa berkata-kata karena memang sebuah janji sudah diucapkan dan tidak mungkin mengingkarinya.
Dengan suara helaan napas, Samuel mengangguk.
"Ajak aku bekerja denganmu juga," ucap Bowo lagi.
"Mintalah pada dia, karena aku tidak memiliki pekerjaan."
Setelah penuh dengan pertimbangan. Semuanya kini telah berada di pesawat yang mana akan kembali ke kampung halamannya.
Cukup melelahkan meski hanya dua hari, karena semua tak seindah apa yang pernah dibayangkan oleh Anisa.
Akhir dari segala lika-liku kehidupan yang dilalui oleh Anisa, ternyata benar. Jika Tuhan memiliki rencana dibalik semua masalah yang menerjang rumah tangga Anisa dan juga Samuel.
"Terima kasih Ya Allah. Engkau telah mengembalikan suami hamba dengan keadaan tanpa kekurangan apa pun. Terima kasih atas rasa nikmat yang engkau beri dan hamba telah menerima hasil yang sangat indah ini," gumam Anisa dengan kepala yang terus bersandar di dada Samuel.
Pagi hari.
Setelah memakan waktu yang lumayan melelahkan, akhirnya semuanya sudah sampai di rumah bu Susi yang ada di kota B.
"Samuel!" ucap bu Susi yang mana langsung memeluk sang anak yang hampir tidak bisa dikenali.
"Mama, aku merindukan Mama. Maaf aku terlalu pergi hingga membuat kalian sedih," kata Samuel.
"Tidak Nak, jangan meminta maaf. Kembalinya kamu sudah cukup membuat mama kembali semangat menjalani hari-hari," timpal bu Susi.
Oe … oe … oe.
Terdengar suara tangisan Akbar, di mana sekarang berada di gendongan mbak Wati dan sekarang diambil alih oleh Anisa.
"Sayang, ini anak kita? Begitu sangat tampan." Samuel pun menyambut penuh cinta kasih saat baby Akbar ada di gendongan Anisa.
"Iya Mas, ini anak kita." Jawab Anisa dengan seulas senyuman.
Akhirnya dua keluarga yang tadinya sempat berpisah dan sudah berbagai rintangan telah dilalui, tapi sekarang. Semuanya menyambut Samuel dengan penuh kebahagiaan.
Ingat, Tuhan maha adil dan selalu tak pernah salah untuk membuat skenario pada hambanya. Di mana Bowo yang memilih pergi dan memulai kehidupan baru dengan menjadi Asisten Yuda, sedangkan Lastri sendiri. Di tengah kehamilannya yang semakin bertambah, dirinya masih berada di rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Cinta telah menjadikan sebuah obsesi hingga lupa diri, karena mata dan hatinya sudah dikuasai oleh sebuah keinginan yang tak bisa diraih.
Bersambung.