Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
85. Sadarnya Anisa dari kebodohan


__ADS_3

"Mengapa kamu mengajakku ke makam. Orang tuaku memang sudah meninggal, tapi bukan di sini makamnya?" sebuah pertanyaan lolos begitu saja, karena Anisa masih dibuat bingung oleh Dirga yang telah membawanya ke makam. Di mana batu nisan yang tertuliskan nama Ameera Binti Samuel dan situlah Anisa mulai bingung dan bertanya-tanya.


"Bacalah nama itu, itu adalah makam anak kamu bersama dengan Samuel. Buah hati yang kalian dapatkan selama menikah dan sayangnya kejadian nahas telah terjadi setahun lalu, hingga berakhir seperti ini." Dirga pun terpaksa mengatakan yang sejujurnya pada Anisa, dengan menunjukkan makam kecil yang mana kakinya berpijak sekarang.


Lalu dengan perlahan Anisa berdiri, menatap lekat nisan tersebut. Mencoba mencari kebenaran dengan yang dilihatnya saat ini.


"Ternyata kamu bukan hanya lupa dengan orang-orang yang ada di sekitarmu, tapi kamu juga begitu sangat bodoh karena cinta dan obsesi telah membuat kakimu melangkah begitu jauh." Dirga yang sangat geram akhirnya mencaci habis Anisa karena merasa jika mantan istrinya adalah wanita yang begitu bodoh setelah dirinya waktu itu.


"Nama ini kenapa ada nama Samuel?" dengan tatapan sendu, saat melihat gundukan tanah dengan bunga yang masih segar Anisa bertanya.


"Itu karena Samuel memang Ayahnya, Ameera meninggal saat kamu masih dengan keadaan koma. Ameera tidak mampu bertahan di usianya yang masih enam bulan waktu itu. hingga Tuhan lebih memilih mengambilnya karena ia tahu bahwa Ibunya akan sadar dengan sebuah kebodohan," ucap Dirga yang masih sakit hati dengan Anisa.


Untuk sesaat Anisa tertegun mencoba mengumpulkan kembali memorinya yang telah hilang hingga ada rasa aneh yang hinggap di dalam hatinya. Sebuah perasaan antara sedih dan ingin marah menjadi campur aduk.


Arghhh.


"Kepalaku." Anisa mulai merintih dengan kedua tangan memegang kepalanya.


"Bukankah semua bukti sudah ada, dari mulai saat kalian menjadi pengantin hingga buku nikah, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan kamu karena aku dulu pernah menjadi orang bodoh, bahkan lebih dari ini." Samuel terus bicara, meski Anisa kesakitan ia tidak peduli dan memberi sebuah dorongan dengan makian yang tak ada habisnya.


"Berhenti bicara!" hardik Anisa karena ia sudah tidak kuat lagi untuk merasakan rasa sakit di kepalanya, tetapi Dirga terus saja mengoceh.


Saat ini yang ada di ingatannya, ia pernah merasakan kehamilan, ia pernah menjadi seorang istri. Meski bayangan seorang pria tidak jelas dan itu hanya sekelebat melewati pikiran Anisa di mana masa-masa itu terasa indah dan sangat membahagiakan.


Sedangkan di rumah sewaktu tadi, acara sengaja dibubarkan dan Yuda bersama dengan Arum mengikuti ke mana Dirga membawa Anisa pergi. Saat ingin menolong adiknya, sayangnya tangan Yuda dicekal oleh mantan suami Anisa untuk tidak memberi pertolongan pada adiknya, karena Dirga ingin tahu respon dari Anisa setelah semuanya diungkapkan.


Saat itu juga Yuda mundur beberapa langkah karena sekarang ia tidak akan ikut campur. Bukannya Yuda tidak mau membawa ke makam Ameera, hanya saja lelaki itu tak akan sanggup ketika Anisa mengetahui semuanya dan semakin membuatnya benci kepada Samuel, itu mengapa sampai detik ini Yuda masih menyembunyikan soal makan keponakannya.


Saat ini Anisa sudah bermandikan keringat karena merasakan sakit yang luar biasa. Perlahan semuanya muncul dan menari-nari di atas kepalanya. Dengan susah payah ia berdiri sayangnya kedua kakinya tidak bisa menahan berat tubuhnya hingga Anisa limpung. Bersyukurnya ada Yuda yang langsung membawanya ke dalam dekapan tepat waktu.


"Anisa, kamu pasti bisa. Semua belum terlambat dan masih bisa diperbaiki," ucap Yuda sembari membelai wajah Anisa dengan lembut, rasa khawatir yang begitu besar yang diperlihatkan oleh Yuda, membuat Anisa tersenyum.


"Maaf Kak, maaf. Sekarang aku ingat siapa lelaki itu aku sudah mengingat kejadian di masa lalu," ucap Anisa dengan suara bergetar dan wajahnya pun mulai memucat karena rasa sakit yang tidak kunjung reda. Justru rasa sakit itu semakin menjadi sampai Anisa tak sanggup lagi untuk menahannya.

__ADS_1


"Iya An, aku sudah memaafkan kamu. Sekarang kamu bertahan ya, karena kakak akan membawa kamu ke rumah sakit." Yuda dengan wajah khawatirnya berusaha untuk memapah Anisa dengan sekuat tenaga.


Anisa yang saat ini berjuang melawan rasa sakit yang begitu hebat. Merasa tidak sanggup lagi untuk membuka matanya, hingga sekarang menyerah dan memejamkan begitu saja.


"Dir, tolong antar aku ke rumah sakit." Dirga langsung bergerak dan berjalan untuk membukakan pintu untuk Yuda.


Sesampainya di rumah sakit.


"Dokter, tolong adik saya!" teriak Yuda dengan langkah tergopoh ia memanggil seorang dokter yang terlihat tengah berjalan.


"Kenapa dengannya?" rupanya dokter tersebut mengenali Yuda.


"Nanti saya akan menceritakan, tapi sekarang tolong Anisa!" pinta Yuda.


"Baiklah, sekarang bawa ke ruang periksa."


Sesampainya di dalam, Anisa yang sudah diperiksa oleh Dokter Alex merasa keadaannya tidak ada yang serius dan akan segera disampaikan pada Yuda.


"Bu Anisa baik-baik saja. Tidak ada yang serius, mengingat ucapan Pak Yuda karena syaraf yang terlalu dipaksakan hingga membuat otot-otot tertarik dan terjadilah rasa sakit yang hebat, tapi tenang saja sebentar lagi adik Anda akan sadar." Dengan seulas senyuman dokter menjawab, lalu setelahnya lelaki ber-jas tersebut pergi meninggalkan Yuda dan Dirga.


"Dir, terima kasih untuk bantuannya." Yuda melirik sekilas ke arah Dirga.


"Sama-sama, aku hanya ingin menyadarkan Anisa, jangan karena lupa ingatan membuatnya bodoh dan terjebak dengan tipu muslihat akan adanya cinta sesaat. Lagian aku tidak mau Anisa mengalami seperti apa yang pernah terjadi padaku, karena sampai kapanpun kebodohan akan membawa kita ke arah penyesalan."


"Sekali lagi terima kasih, meski nanti Anisa akan membenci Samuel karena kematian Ameera yang tak bisa diselamatkan, paling tidak kita sudah menyadarkan siapa dan bagaimana posisinya saat ini."


Jika keduanya masih berada di rumah sakit, menunggu Anisa sadar. Sedangkan di lain tempat Pak Pram begitu murka dengan Ferdy karena tidak berkata jujur tentang siapa sosok Anisa.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat begitu keras di pipi Ferdy.


"Apa maksud kamu dengan menikahi istri orang, huh!" Pak Pram tidak habis pikir dengan pikiran putranya dan itu sangat memalukan baginya.

__ADS_1


"Maaf Yah, aku terpaksa karena sebuah tuntutan." Saat itu juga pak Pram terdiam, karena di sini ia juga andil dalam masalah tersebut. Namun, lelaki berusia lanjut itu tidak ingin merusak seseorang dengan sebuah ikatan yang sudah dilakukan oleh Ferdy. Hal itu juga yang membuatnya begitu malu dan merasa namanya tercoreng di depan banyaknya orang.


"Tidak dengan cara seperti itu kan? Jika kamu bisa mencari yang lain. Lantas kenapa harus Anisa?" tanya pak Pram dengan hati yang pilu.


"Aku kira Anisa masih sendiri, tapi ternyata aku salah karena Yuda datang menemuiku dan meminta untuk menjauhi adiknya. Disaat itu juga aku hancur Yah, tapi semuanya aku tepis lagi pada saat mendengar orang yang berarti bagiku berada di rumah sakit."


Akhirnya air mata Pak Pram jatuh juga karena semua ini memang salahnya. Andai tidak terlalu memaksakan kehendak mungkin hal ini tidak akan terjadi.


"Maafkan ayah, mulai sekarang ayah tidak akan menuntut kamu asal. Hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi," kata pak Pram dengan wajah sedihnya.


"Aku yang minta maaf, karena belum bisa memenuhi keinginan Ayah." Setelah pertengkaran yang terjadi, keduanya berpelukan.


"Sekarang temui keluarga Anisa, minta maaflah karena kamu sudah membuat masalah semakin rumit."


"Iya Ayah, aku akan ke sana nanti untuk meminta maaf karena kekhilafanku membuat semua berantakan." Jawabnya.


Keesokan paginya.


Anisa sudah berada di rumah dan hanya berdiam diri di dalam kamar. Sosok Arum yang tak pernah meninggalkan Anisa dalam keadaan apa pun. Sekarang juga tengah menemani sahabatnya yang tengah bersedih atas peristiwa yang membuat kehancuran baginya.


"Nis, aku telah melakukan kesalahan. Apa Suamiku akan memaafkan aku?" Saat ini tatapan Anisa begitu sangat menyedihkan, sebuah kenyataan yang tak mampu ia terima, membuat kehilangan sosok yang sangat begitu berarti.


"Jika kamu menyesali dan meminta maaf, pasti suamimu akan memaafkan." Jawab Arum datar.


"Aku harap kamu tidak berbohong jika memang Samuel entah pergi ke mana." Untuk sesaat Arum masih harus menyeimbangkan gelagatnya yang bisa saja Anisa mengetahui jika dirinya tengah berbohong, karena setahun lalu Samuel pernah menitipkan Anisa kepadanya, lalu tempo hari adalah di mana percakapan terakhir dan setelahnya sampai detik ini, Arum maupun Yuda sudah tidak mendengar kabar Samuel lagi.


"Aku tidak tahu An, aku juga tidak mengetahui perihal Samuel yang memilih pergi dari kota ini!" tekan Arum berusaha untuk menyakinkan Anisa.


"Aku harap kamu dan kakak tidak akan pernah membohongiku."


"Sekarang bangkitlah dan tata hidupmu yang sempat berantakan, sembari mencari tahu Samuel berada di kota mana. Aku pun yakin jika suamimu masihlah sangat mencintai kamu dan aku juga bisa menjaminnya," ucap Arum dengan netra menatap wajah sayu nya yang kini telah diambang penyesalan hanya karena tidak pernah mempercayai kenyataan.


Anisa tertunduk karena kebodohannya sampai membuat Samuel pergi dari hidupnya. Sekarang pun ia tidak tahu karena semua akses sudah di tutup total olehnya. Satu-satunya teman yang dimiliki adalah Yuda, tetapi lelaki itu juga tidak tahu dan setelah keputusan Anisa tempo hari, nomornya sudah tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Aku takut jika Samuel melupakan aku, aku takut jika hal itu sampai terjadi. Aku pun tidak akan sanggup untuk melihat kenyataannya—,"


"Maka seperti itulah yang dirasakan oleh Samuel waktu itu," sahut Arum.


__ADS_2