Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
84. Mulai membongkar


__ADS_3

"Saya tidak tahu dan itu juga bukan urusan saya!" ucap Anisa dengan tegas. Seketika sepasang suami istri tersebut dibuat tercengang akan perkataan dari Anisa saat ini, karena begitu berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu.


"Ayo pergi!" ajak Anisa pada Ferdy dan keduanya memilih menghindar lalu melewati Dirga bersama istrinya.a


Sedangkan saat ini, keduanya masih dibuat bertanya-tanya dan bingung akan persoalan yang kini sedang terjadi pada Anisa yang terlihat sebuah perubahan dengan sangat terlihat.


"Mas, dia kenapa?" Laras mencoba bertanya pada Dirga, di mana lelaki itu juga tidak tahu menahu soal hal tersebut.


"Mas juga tidak tahu, sepertinya kita harus bertanya pada Yuda." Laras mengangguk dan langsung setuju dengan ucapan Dirga, karena semua ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


"Aku setuju Mas, karena biar bagaimana juga kita harus mencari kebenaran agar Mbak Anisa semakin salah jalan dan dibutakan oleh cinta."


Benar apa yang dikatakan oleh Laras, meski Anisa bukan siapa-siapanya. Tetapi, ia tidak rela jika karena cinta hingga membuat matanya buta juga. Sampai tidak bisa melihat kebenaran yang ada di depan mata kenyataan Anisa hindarinya. Membuat semua orang sedikit tidak suka akan sikapnya yang sudah di luar batas.


"Sayang, kita akan ke kantor Yuda, kamu ikut ya?" ajak Dirga karena menurutnya lebih cepat lebih baik.


"Tentu, aku akan ikut dengan Mas, karena aku tidak rela jika Mbak Anisa seperti ini." Jawab Laras.


Sedangkan di lain tempat. Yuda yang kini tengah dihadapkan dengan banyaknya berkas, tapi sayangnya tidak membuatnya segera menyelesaikan pekerjaannya. Semua itu karena Anisa yang selalu berusaha menolak semua kebenaran yang ada di depannya.


"Kalau begini caranya, kapan semua berkas akan selesai dikerjakan." Yuda bergumam seraya memijat pelipisnya, karena merasa tidak sanggup dengan tindakan Anisa.


Saat Yuda tengah menyandarkan kepalanya di kursi. Tiba-tiba saja sebuah ketukan membuatnya seketika menghela napas.


"Masuklah," sahut Yuda di dalam ruangan.


"Ada apa?" tanya Yuda pada sekretaris yang sekarang ada dihadapannya.


"Di luar ada yang mencari Bapak, namanya Dirga katanya." Jawab wanita tersebut pada bos nya.


"Mau apa dia," gumam Yuda.


"Baiklah, suruh masuk saja." Ucapan itu diangguki oleh wanita yang bernama Luna.


"Baik, Pak."


Tidak berselang lama, terlihat dua pasutri berjalan beriringan dan Yuda tahu siapa orang-orang tersebut.


"Dirga, ada apa? Kenapa menemuiku di sini?" tanya Yuda pada Dirga yang kini dengan gagahnya tengah menghadap sosok lelaki, yang berada di kursi kebesarannya.


"Ada yang ingin aku bahas padamu," ujar Dirga.


"Apa?"


"Soal Anisa."


Untuk sejenak Yuda mengerutkan keningnya dan dalam hatinya bertanya-tanya. Sekarang apa lagi yang sudah dilakukan oleh adiknya, sehingga Dirga bersama istrinya datang untuk menemuinya.


"Memangnya ada apa dengan Anisa?" tanya Yuda.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya … aku tadi bertemu dengan Anisa pada saat mengantar periksa istriku di rumah sakit …." Ada rasa berat saat Dirga ingin mengatakan sesuatu, ia takut jika ada salah kata hingga membuat Yuda sakit hati.


"Memangnya kamu bertemu dengan Anisa bersama siapa?"


"Dengan lelaki lain, tapi bukan Samuel."


Akhirnya dengan terpaksa, Yuda mengatakan pada Dirga dan menjelaskan tentang Anisa, sampai membuat dua pasangan itu tidak mampu berkata-kata.


"Sebaiknya kita mengumpulkan bukti-bukti dulu, karena jika seperti ini kita butuh usaha keras agar semua berjalan lancar." Yuda setuju dengan usul Dirga, meski segala upaya telah dilakukan nyatanya hasilnya nihil.


"Memangnya apa rencana kamu, kita semua sudah memberikan bukti-bukti pada Anisa dan buku nikah juga sudah di tunjukkan. Kenyatannya semua itu tidak menghasilkan. Itu karena Anisa masih bersikeras menolak sebuah bukti-bukti yang sudah ada," ucap Yuda menjelaskan jika semuanya gagal.


"Serahkan padaku, biar semua aku yang urus. Aku hanya butuh doa dari kalian semua dan berharap dengan langkah yang aku ambil ini akan membuahkan hasil."


"Tentu, aku berharap jika kali ini akan berhasil."


"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu," ucap Dirga karena dirasa sudah lebih dari cukup akan informasi yang ia dapatkan.


"Baiklah dan hati-hati di jalan."


Setelah kepergian Dirga, Yuda merasa sedikit kelegaan karena mantan iparnya tersebut. Masih mau membantunya meski ia sendiri tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan oleh Dirga.


Beberapa hari kemudian, kini Anisa yang berada di rumah tengah duduk bersantai. Namun, terdengar suara ketukan dan seketika Anisa terbangun untuk melihat.


"Ibu!" Anisa sedikit terkejut dengan kedatangan Ibu Ningsih bersama dengan Arum secara tiba-tiba dan tidak memberitahu jika akan datang.


Yah, semenjak kecelakaan terjadi setahun lalu. Anisa tidak pernah lagi mengunjungi panti, di mana ia tumbuh besar di sana.


"Masuklah Bu, Arum juga masuk." Setelah mendapat izin, kedua wanita dengan berbeda usia saat ini telah melangkah masuk ke dalam.


"An, kenapa kamu tidak pernah datang ke panti. Adik-adikmu sangat rindu karena hampir setahun kamu tidak pernah terlihat," ucap bu Ning yang kini menatap dalam ke arah Anisa, ada seberkas kerinduan yang kini ditahan oleh wanita tersebut.


Yah, rindu yang tak bisa ia lupakan pada sosok Anisa karena kasih sayangnya yang terlalu besar pada anak asuhnya. Hingga detik di mana Anisa pernah berjuang, bu Ning lah yang selalu ada.


"Maaf Bu, aku tidak berniat untuk menghindar, tapi …." Anisa menggantungkan ucapannya karena tidak tahu, alasan apa yang akan diutarakan pada ibunya.


"Ibu tahu An, ibu juga tidak memaksa kamu untuk berkunjung ke sana. Asal kamu baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup." Suara lembut dari bu Ning. Mampu membuat Anisa terharu karena ia merasa begitu sangat dihargai walau dirinya bukanlah anak kandung dari pemilik panti tersebut.


"An, kita tidak lama karena Ibu ada tanggungan anak-anak panti. Jadi, kita pamit ya."


"Maaf ya Bu, aku sudah merepotkan Ibu dan juga Arum." Bu Ning tersenyum dan tidak lupa memberikan 𝘱𝘒𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘒𝘨.


"Ini adalah udang kesukaanmu, semoga kamu suka ya. Maaf cuma ini yang bisa ibu berikan," ucap bu Ning.


Dengan wajah berbinar Anisa menerima pemberian dari ibunya sebelum benar-benar keluar dari rumahnya.


Keesokan paginya.


Anisa sudah siap dengan kebaya yang akan digunakan untuk acara ijab qobul. Di mana hari ini adalah hari bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari Ferdy.

__ADS_1


Namun, apa yang ada dibayangkannya, tak seindah kenyataannya karena Dirga tidak pernah muncul untuk memberikan bukti yang akurat, sehingga membuat anggota keluarga dari Anisa merasa cemas. Dibalik itu Ayah dari Ferdy juga sudah sehat dan tidak ada alasan demi sebuah keinginan, jika orang yang diharapkan sudah punya kehidupan lain.


"Harusnya aku bahagia karena sebentar lagi akan menikah, tapi kenapa rasanya ada yang tertinggal di sini. Kakak, Arum dan Ibu. Semua tidak ada yang mengatakan selamat padaku," batin Anisa yang kini berada di depan kaca.


Dengan hati tidak karuan, Anisa berusaha menepis prasangka yang ada di hatinya. Dengan sejuta keyakinan lalu Anisa melangkah untuk keluar. Tepat pada saat dirinya membuka pintu, Arum sudah berdiri di depan kamar Anisa.


"Ayo!" dengan nada sedikit ketus Arum mengajak Anisa untuk segera turun.


Anisa mengangguk dan mengikuti langkah Arum, sesampainya di bawah. Tidak banyak tamu yang diundang cuma beberapa saja, karena Anisa tidak mau mempunyai banyak tamu.


Penghulu sudah datang, ditemani Yuda, yang kini hanya menunjukkan muka masamnya. Tidak ada raut kebahagiaan yang terlihat, nyatanya Dirga juga tidak bisa menepati janjinya. Yang mana ingin membantunya untuk meyakinkan adiknya.


"Siap semuanya?" tanya penghulu karena sudah hampir setengah jam menunggu dan sekaranglah waktunya untuk mengucapkan kata sakral."


"Insya Allah kitaβ€”,"


"Tunggu!"


Semua mata terbelalak saat seseorang itu datang dan sempat menghentikan prosesi ijab qobul, belum sempat kata sakral terucap di bibir Ferdy sayangnya tiba-tiba saja ada gangguan yang mana. Ada lelaki dengan tubuh tegapnya tengah menatap ke arah di mana meja tersebut ada di antara para mempelai.


"Akhirnya datang juga, berharap jika lelaki itu berhasil. Dengan begitu semua kekacauan akan berakhir," gumam Yuda dalam hati.


"Kamu orang yang tempo hari kan, kenapa datang dan tiba-tiba mengacau di acara ini?"


Lelaki tersebut hanya menanggapi dengan senyuman sebelum ia mengatakan dan membongkar semua di depan orang.


"Maaf Pak, pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan karena mempelai wanita masih berstatus istri orang, sampai detik ini keduanya masih belum resmi dan ini buktinya bisa cek asli atau palsu."


Penghulu pun menerima berkas-berkas yang sudah diberikan oleh lelaki yang kini menatap tidak suka pada Ferdy, karena dianggap telah mengambil kesempatan agar bisa menikahi Anisa.


"Ini asli. Walau pernikahan kalian hanya sebatas sirih, tapi saya tidak bisa melakukan ini semua dan itu sama halnya dengan saya melanggar sumpah."


Yuda, Arum, dan Ibu Ningsih, sekarang bisa bernapas lega karena gagalnya pernikahan antara Ferdy dan Anisa.


"Sekarang ikut aku!" ajak Dirga dengan terpaksa menarik tangannya.


"Kamu sudah menggagalkan pernikahanku, sekarang justru kamu ingin membawaku kabur!" pekik Anisa yang begitu marah pada Dirga.


"Aku mohon ikut aku, agar kamu tahu siapa kamu yang sesungguhnya."


"Apa sih mau kamu?" Anisa berusaha berontak, tapi Dirga terus memaksanya untuk tetap ikut dengannya.


Berharap akan ada pertolongan dari Yuda, tetapi nihil karena lelaki itu tampak tenang dan tidak ada rasa khawatir sedikitpun.


"Jangan berontak karena aku hanya menunjukkan sesuatu padamu," ucap lelaki tersebut.


"Untuk para undangan, saya mewakili keluarga besar Anisa mohon untuk bubar."


Huhuhu.

__ADS_1


Terdengar sorak beberapa tamu undangan meski mengatasinya secara tidak sopan, tapi sekitar 10 orang akhirnya pergi juga.


Semenjak berangkat hingga sekarang, tidak ada percakapan sama sekali. Hanya ada kerutan kecil karena sekarang Anisa tengah berada di makam.


__ADS_2