
"Anisa masih tetap diam menunggu seseorang keluar, karena ia merasa asing dengan mobil tersebut.
Setelah itu.
"Arum!" gumam Anisa setelah melihat pemilik dari mobil tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Arum pada Anisa yang sedari tadi melongo menatap tidak percaya, karena mobil tersebut sedikit mewah.
"An!" tegur Arum.
"Eh iya, ternyata kamu, Rum." Anisa yang baru sadar seketika menimpali ucapan Arum.
"Ngelamun mulu kamu, awas kesambet lho." Ucapan dari Arum, membuat Anisa mencabikkan bibirnya, karena kesal. Ia kira tadi mobil mewah milik siapa, tidak tahunya itu adalah milik Arum.
"Tumben ke sini gak telepon dulu?" tanya Anisa, karena tidak biasanya Arum datang dengan tiba-tiba.
"Iya, ada yang mau aku bahas ke kamu." Jawab Arum dengan sebuah tatapan, yang tidak biasa.
"Memangnya soal apa? Sepertinya ada yang serius," ujar Anisa dengan alis terangkat.
"Iya, yang pasti. Kamu harus menjalankan usaha kamu sendiri tanpa aku," kata Arum, dan seketika Anisa menatap dalam ke arah arah sahabatnya itu.
"Memangnya kamu tidak mau bekerja sama denganku lagi, atau ...." Anisa menjeda ucapannya karena tidak mau berburuk sangka pada Arum.
"Iya, aku mau menikmati hidup tanda dibayangi pekerjaan. Untuk kedepannya kamu yang Handle," ujar Arum karena ia sedikit lelah dengan pekerjaannya, dan saat ini lah waktu yang tepat untuk membuktikan jika Anisa bukan sosok yang harus selalu, direndahkan agar semua orang tahu siapa Anisa yang sebenarnya.
"Maaf An, inilah saatnya kamu berdiri tanpa aku." Arum bergumam dalam hati, dan semua itu memang ia sengaja dan sudah direncanakan. Saat Dirga mulai mengkhianatinya.
Huff.
Sesaat Anisa menghela nafas karena sesungguhnya ia tidak rela, jika Arum meninggalkannya sendiri. Mengurus ke-empat cafe di berbagai cabang.
__ADS_1
Melihat Anisa tidak bereaksi. Membuat Arum menepuk bahunya, "An, kamu harus bisa menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya, dan inilah saatnya. Agar tidak ada lagi orang yang menghina kamu, meski sedari kecil hidup di panti. Nyatanya kamu bisa mewujudkan apa yang kamu inginkan selama ini," ucap Arum panjang lebar. Ia terus menyakinkan Anisa untuk dapat mengelola usahanya dengan mandiri.
"Rasanya berat Rum, jika kamu tidak membantuku." Jawab Anisa dengan wajah lesu.
Bukannya menjawab Arum justru tersenyum, seakan menertawakan Anisa yang tak bisa hidup mandiri dan terus bergantung padanya.
"Aku yakin jika kamu mampu, aku tetap membantumu tetapi tidak menggeser posisimu. Sebagai pemilik asli dari ke-empat cafe yang sebenernya adalah milik kamu." Saat Anisa mendengar penuturan dari Arum, akhirnya Anisa pun mau.
"Baiklah, terimakasih untuk semuanya." Jawab Anisa dengan begitu haru. Memeluk sahabatnya yang begitu perhatian, menganggapnya lebih dari teman. Lalu, tidak sekalipun Arum meninggalkan Anisa meski keadaan terpuruk sekalipun.
Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh Arum, bahwa sekaranglah ia memperlihatkan siapa dirinya, agar semua orang tidak memandang sebelah mata. Meski Anisa berada di lingkungan panti, tidak menyerah untuk sebuah usaha.
Hari-hari yang dilalui Anisa sekarang jau lebih indah, karena tidak ada orang-orang yang mengusiknya lagi. Menata masa depan untuk dirinya kelak, dan menyekolahkan adik-adiknya agar mendapat pendidikan yang lebih baik lagi.
Dua minggu sudah Dirga berada di rumah sakit, dan sidang kedua tanpa dihadiri oleh Dirga karena kecelakaan tersebut.
Sedangkan di kamar inap, Dirga yang sudah sadar hanya bisa diam dan dengan tatapan nanar nya, seakan masih tersisa sebuah penyesalan.
"Dirga, kamu makan, ya. Sudah beberapa hari ini kamu tidak mau makan, apa kamu tidak kasihan dengan Ibu dan juga Elsa!" kata bu Marina yang terus berusaha membujuk Dirga akan mau makan.
Bu Marina sudah tidak sanggup lagi, saat melihat kondisi Dirga untuk sekarang, beliau terus mengusap air matanya karena begitu sangat terlukanya Dirga saat ini. "Jika kamu merasa lapar, makan ini ya. Ibu mau cari sesuatu dulu," ucap bu Marina dan langsung pergi meninggalkan Dirga sendiri di ruangan dimana dirinya di rawat.
Setelah itu. Di depan pintu Bu Marina menangis sejadi-jadinya, tidak kuat melihat kenyataan yang dihadapi oleh sang anak. Putra semata wayangnya, yang kini tidak bisa lagi bergerak.
"Ya Allah, apa ini yang dinamakan karma? Karena sudah zalim pada Anisa, yang sama sekali tidak salah!" gumam bu Marina dengan mata mengarah ke atas, memohon ampunan dari Sang Pencipta karena merasa. Kalau ia dan juga anaknya sudah sangat keterlaluan hingga sekaranglah, Tuhan membalas dengan berlipat ganda.
"Tidak, aku tidak boleh menangis. Anisa saja tidak pernah mengeluarkan air mata, meski aku telah menyakitinya. Sekarang aku harus ke sana untuk meninta bantuannya," ucap bu Marina lirih dan setelah itu. Beliau berdiri dan meninggalkan rumah sakit.
Sedangkan lain tempat.
Anisa yang baru saja pulang dari jalan-jalan bersama dengan Arum, siapa sangka pada saat pulang ke panti. Ia dikejutkan dengan sosok yang tak asing baginya.
__ADS_1
Merasa was-was, karena ia takut jika orang itu akan membuat keributan di dalam panti.
Anisa yang berusaha tenang, dengan perlahan melangkahkan kakinya. Untuk masuk dan melihat ada apa sampai membawa wanita yang kerap mengganggunya itu datang.
"Assalamualaikum," sapa Anisa saat sudah berada di teras depan rumah.
Keduanya pun saling menoleh dan menimpali salam dari Anisa. "Waalaikumsalam," timpal dua orang wanita dengan serentak.
"Anisa!"
Anisa yang terkejut hampir saja terjatuh karena Bu Marina tiba-tiba saja datang dan memeluk sosok yang hampir saja terhuyung ke belakang.
"Bu Ma-marina, ada apa ini?" tanya Anisa dengan suara terbata, ia sedikit kebingungan dengan suasana saat ini.
"Izinkan ibu memeluk kamu sebentar saja, An." Bukan jawaban yang didengar oleh Anisa, tapi sebuah permintaan yang ia dengar. Lalu, netra Anisa menatap ke arah Bu Ning dan memberikan kode lewat tatapan.
Seakan tahu apa yang terjadi. Bu Ning hanya menanggapi dengan sebuah senyuman, dan memperlihatkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Cukup lama keduanya berpelukan, lalu keduanya kembali duduk dengan perasaan canggung. Itulah yang dirasakan Anisa saat ini.
"An, ibu mau minta maaf. Atas apa yang selama ini ibu perbuat, tolong maafkan semua kesalahan kami, ibu dan Dirga." Mendengar hal itu, Anisa begitu tertegun. Rasa haru tidak bisa ia jelaskan, karena pada akhirnya mantan mertuanya menyudahi perseteruan yang sudah sejak lama terjadi.
"Bu, sebelum Ibu meminta maaf. Aku sudah memaafkan semuanya, Ibu atau pun Mas Dirga." Jawab Anisa dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan.
"Kamu memang wanita baik, An. Ibu telah salah memisahkan kalian," ucap bu Marina.
"Sudahlah Bu, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang ada hanya menata masa depan, untuk menuju lebih baik Lagi." Ucapan Anisa membuat Bu Marina begitu bangga, dan di sisi lain juga menyesal karena tidak pernah melihat sisi baik dari mantan menantunya itu.
"Oh ya, bagaimana kabar Mas Dirga dan juga Elsa?" tanya Anisa yang seketika membuat wajah tua itu nampak murung dan tertunduk.
"Bu, apa ada masalah lain?" tanya Anisa lagi.
__ADS_1
"An, ibu mau minta tolong. Tolong jenguk Dirga, karena setelah sadar. Dia hanya murung dan tidak mau makan, ibu takut An takut kalau ...." Ucapan itu terhenti karena merasa tak mampu lagi bibir bu Marina untuk melanjutkan.
"Bu, nanti aku akan ke sana! Jadi Ibu tenang saja." Jawab Anisa dengan seulas senyuman, dan di balas oleh Bu Marina.