Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
52. Anisa Hamil


__ADS_3

Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk," teriak Anisa di dalam kamar.


"An, Mama sudah mendapatkan alat ini. Segera bangun dan coba untuk periksa, jika ada dua garis merah berarti kamu memang sedang hamil." Lalu, Anisa pun meraih benda kecil dan panjang tersebut dari tangan bu Susi, setelah itu ia pun berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengetes dengan menggunakan urine sesuai petunjuk.


Sedangkan Bu Susi yang masih berada di kamar. Sekarang hampir mirip dengan setrika yang terus mondar-mandir tidak jelas.


Menantikan hasil dari Anisa, karena tidak dipungkiri bahwa ia begitu menaruh harapan pada menantunya tersebut.


Tidak lama kemudian, Anisa keluar dengan membawa alat tes tersebut dengan hati yang tidak bisa diungkapkan.


"An, bagaimana?" tanya bu Susi antusias saat melihat Anisa baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ma," tunjuk Anisa.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil juga. Terima kasih ya Sayang, karena sebentar lagi mama akan mendapatkan seorang cucu," ucap bu Susi yang langsung mendekap Anisa dengan perasaan bahagia.


Bagi Anisa ini adalah hal yang membahagiakan, bagaimana tidak, karena disaat usia pernikahannya dengan Samuel yang berjalan dua bulan ini. Justru sekarang Tuhan sedang memberikan kado terindah untuknya. Penantian yang selama ini ia harapkan, nyatanya terwujud pada saat menikah dengan Samuel.


"Iya Ma, pasti Mas Samuel seneng karena di hari ulang tahunya diberi kado berubah kabar ini." Anisa berujar dengan wajah berseri-seri, karena besok adalah hari kelahiran sang suami.


"Pasti Sayang, Samuel pasti akan bahagia." Jawab wanita yang berstatus mertua dari Anisa.


"An, kalau begitu kamu kembali istirahat. Mama akan membantu Mbok Yem untuk masak, mama juga berencana mau membuatkan kamu kacang hijau agar janin kamu tetap sehat." Setelah berkata bu Susi pun meninggalkan Anisa di dalam kamar.


"Terima kasih, Ma." Ucapan Anisa mendapat balasan dari Bu Susi.


Di dalam benak Anisa tidak menyangka bahwa, setelah menjalani liku-liku kehidupan saat menjadi istri Dirga, tapi sekarang. Sekarang justru Anisa diberikan kebahagiaan dengan berlipat ganda, mempunyai suami sebaik Samuel dan memiliki mertua seperti Bu Susi yang tidak pernah mengungkit masa lalunya seperti apa.


Lepas itu Anisa kembali berbaring, entah kenapa seluruh tubuhnya begitu sangat lemah dan untuk berdiri pun harus mengerakkan seluruh isi tenaganya, hingga akhirnya mata Anisa benar-benar terpejam.


Entah Anisa sudah tidur berapa lama, hingga terdengar bisikan yang membuatnya sangat terusik. "Sayang, bangunlah ini sudah jam delapan." Seketika Anita terbangun mendengar kata jam.


"Apa!" teriaknya karena sudah cukup lama juga Anisa tidur hingga tidak sadar kalau ternyata sekarang sudah jam delapan. Apalagi ia belum menjalankan ibadah sholat isyak karena ketiduran.


"Sayang, apa kamu segitu lelahnya karena pertempuran kita semalam?" sebuah pertanyaan yang membuat Anisa mendengus kesal, karena selama menikah Samuel menjadi sosok yang mesum dan pikirannya selalu dipenuhi oleh ranjang.


"Kalau kamu tahu kenapa setiap hari mengajakku bertarung, lihatlah semua ini kan karena kamu. Makanya aku sangat kelelahan dan sampai lupa waktu kalau belum sholat," cerocos Anisa karena ia sedikit kesal. Seperti tidak tidak ada pertanyaan lain sampai harus membahas soal ranjang.

__ADS_1


Cup.


Melihat Anisa beberapa hari belakangan ini begitu sangat cerewet. Membuat Samuel merasa gemas hingga tidak tahan untuk mengecup bibirnya yang selalu membuatnya candu.


"Kenapa malah menciumiku sih," dengus Anisa merasa kecolongan karena beberapa hari ini ia sering sebal jika Samuel kerap mencuri bibirnya.


"Kalau kamu terus manyun, maka aku akan menambahkannya lagi." Dengan tatapan tidak suka Anisa langsung membuang muka, entah kenapa akhir-akhir ini sikapnya terkadang aneh.


Terkadang benci dan terkadang kangen, itulah yang dirasakannya dan menurutnya hal itu sangat mengganggu. Tiba-tiba saja Anisa tersenyum saat teringat dengan mimpinya tadi, menatap Samuel dengan tingkah centilnya yang selama ini tidak pernah ia lakukan, tapi sekarang hal itu terjadi.


"Suamiku, mau kah kamu memberikan sesuatu padaku?" rengek Anisa dengan nada manja.


"Memangnya kamu mau apa? Shoping, beli tas, beli baju, atau kita berangkat bulan madu saja." Tawaran Samuel ditolak oleh Anisa dan menggelengkan kepalanya karena bukan itu yang ia mau.


"Aku tidak mau semua itu," kata Anisa.


Samuel yang merasa bingung, karena dari ketiga pilihan. Semuanya tidak membuat Anisa terkecoh oleh tawaran yang diberikan oleh Samuel. "Memangnya kamu mau apa? Apa pun yang kamu inginkan suamimu ini pasti akan menuruti permintaanmu." Sebuah jawaban yang membuat Anisa begitu bahagia dan berbunga-bunga karena sebentar lagi ia akan menikmati apa yang ada di dalam mimpinya.


"Belikan aku mangga muda, dan jangan lupa sama jeruk bali."


Uhuk.


Uhuk.


"An, kamu sedang bercanda kan, kenapa tiba-tiba meminta buah mangga dan jug jeruk bali!" kata Samuel dengan wajah bingung.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


"Kamu jahat, kamu sudah tidak cinta denganku lagi. Beli mangga dan jeruk tidak akan membuatmu bangkrut," kata Anisa dengan sebuah isak tangis karena Samuel tidak kunjung membelikannya.


"Eh, kenapa kamu jadi nangis gini sih, Sayang." Samuel benar-benar bingung dengan sikap anisa dengan cepat berubah marah dan dengan cepat juga melupakan apa yang terjadi, lalu marah-marah lagi dengan alasan yang tidak bisa ia cerna.


"Aku gak mau tahu yang penting sekarang belikan aku dua buah itu. Kalau tidak beberapa hari ke depan kamu akan tidur di luar!" marah Anisa karena Samuel tidak dapat menuruti kemauannya.


Sedangkan Samuel yang mendengar hal itu langsung ketakutan, karena untuk saat ini dirinya tidak bisa tidur jika tidak ada guling yang bernafas.


"Baiklah aku akan membelikan, yang penting kamu tidak mengusirku dari kamar." Jawab Samuel yang pasrah dengan permintaan sang istri yang sangat nyeleneh menurutnya.


"Tidak, selama apa yang aku mau kamu bisa memberikannya padaku."

__ADS_1


Ckckck.


Dengan berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Membuat Samuel ingin sekali bertanya pada Bu Susi perihal Anisa yang semakin hari semakin terlihat perubahannya. Samuel hanya takut jika istrinya itu habis terjungkal hingga mengakibatkan amnesia.


Di bawah, Samuel yang melihat Bu Susi sedang menata piring dengan Mbok Yem, mencoba bertanya akan keadaan Anisa, karena sosok Anisa yang sebelumnya kalem dan sama sekali tidak cerewet, tapi hari ini istrinya itu hampir saja membuat kepalanya hampir pecah.


"Ma, aku boleh tanya sesuatu?" kata Samuel.


Bu Susi berhenti untuk menata menu makan makan. Sejenak wanita itu menatap wajah putranya dengan lekat. Tidak tahu apa maksud dari ucapannya Samuel yang mengundang seribu pertanyaan.


"Memangnya apa yang mau kamu tanyakan," ujar bu Susi.


"Ini soal Anisa," kata Samuel.


"Memangnya kenapa dengan Anisa?" bu Susi mengernyitkan dahinya karena sama sekali tidak mengerti.


"Iya, Anisa terkadang marah terkadang baik, apalagi hari ini ia terus merengek minta Mangga muda dan Jeruk bali, kan aneh." Bu Susi hanya diam dan cukup membatin dalam hati karena tidak mungin ia mengatakan jika Anisa sedang hamil.


"Mungkin saja sedang pengen, lagian kalau perempuan seperti itu wajar karena bisa jadi kalau perempuan sedang haid, kebanyakan seperti itu." Jawaban dari bu Susi, cukup membuat Samuel lega karena tidak terjadi hal yang buruk pada istrinya itu.


Setelah itu. Selama satu jam lamanya Samuel telah berhasil membawa pulang buah yang ingin dimakan oleh Anisa.


Tepat saat dirinya pulang. Ternyata Samuel sudah mendapati istrinya tidur lagi dan hal itu membuat Samuel sedikit merasa keanehan. Nyatanya tidak biasnya Anisa seperti ini, tidur terus menerus tanpa jeda.


"Baru satu jam bangun sekarang sudah tidur lagi," gumam Samuel dan meletakkan kembali buah yang di pesan oleh Anisa ke dalam kulkas.


Keesokan paginya. Anisa yang sudah membawakan tas untuk Samuel dan lelaku itupun bersiap berangkat kerja. Namun, matanya terbelalak saat melihat kotak kecil yang diberikan oleh Anisa kepadanya.


"An, ini apa?" tanya Samuel dengan penasaran.


"Selamat ulang tahun suamiku, ini adalah kado dariku dan jangan membukanya jika belum sampai di kantor." Samuel semakin menebak-nebak jika apa yang ada di dalam kota tersebut..


"Memangnya isinya apa?" tanya Samuel.


"Nanti kamu bakal tahu isi di dalamnya.


"Ingat untuk tidak membukanya karena, yang aku mau kalau kotak tersebut. Di buka di kantor dan aku harap kamu menyukainya meski harganya tidak seberapa," omel Anisa yang semakin cerewet saja.


"Baiklah Tuan putri, aku janji bahwa kotak ini akan aku buka di kantor. Ya sudah suamimu yang tampan ini berangkat dulu," pamit Samuel pada Anisa, setelah ucapan salam Samuel pun semakin tidak terlihat.


Di kantor.


"Ini kira-kira apa, ya?" gumam Samuel bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2