
Beberapa hari kemudian, maka seperti biasa. Anisa mulai menjalani aktivitasnya di rumah, ia tidak tahu jika selama ini dirinya adalah pemilik dari berbagai ππ’π§π¦. Jadilah Arum yang harus kelimpungan mengurus usaha temannya itu, karena Anisa masih ragu jika benar dirinyalah pemilik asli. Hingga Arum mencoba mengajak ke salah satu usahanya, agar percaya jika di sana semua karyawan memanggilnya 'Bu' kata sapaan antara bawahan dan atasan.
"Kalau kamu tidak percaya, sekarang bersiaplah karena aku akan mengajak kamu untuk pergi." Anehnya, pada saat Arum mengatakan tentang statusnya, justru Anisa tertawa seakan semua itu hanyalah lelucon.
"Kamu jangan ngawur. Lagian sejak kapan aku punya usaha?" sebuah pertanyaan yang membuat Arum tercengang karena sebuah kalimat keluar dari bibir Anisa.
"Benar-benar ini orang," gumam Arum dengan berdecak sebal karena Anisa masih tidak percaya dengan ucapannya.
"Daripada kamu terus mengira kalau aku bohong. Sekarang siap-siap dan kita akan segera pergi karena tidak ada waktu untuk bercanda!" sungut Arum karena sudah tidak tahan dengan ocehan Anisa, yang mengira jika dirinya memang mengada-ngada.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu, tapi awas saja kalau sampai kamu bohong padaku." Sambil berlalu Anisa pergi untuk ganti pakaian karena ia juga butuh bukti, jika Arum tidak sedang membohonginya.
Tidak berapa lama kemudian, keduanya sudah berada di kafe. Yang letaknya tidak jauh dan sekitar 45 menit dari kediaman rumah Anisa.
Saat keduanya masuk keduanya sudah disambut beberapa karyawan.
"Siang Bu, siang Bu Bos!" sapa salah satu karyawan pada mereka berdua.
"Tuh, kamu lihat kan. Karyawan itu manggil kamu apa, apa kamu masih bisa menuduhku berbohong!" karyawan itu sendiri yang mendengar manajernya tengah memarahi pemilik dari kafe tersebut. Dibuat bingung karena sudah lama pemiliknya tidak datang dan sekali datang dirinya dibuat tercengang.
"Kenapa dengan beliau? Aku kok jadi bingung ya?" dalam hati karyawan itu dibuat bertanya-tanya.
"Jadi benar β¦ kalau aku pemilik dari tempat ini?" Arum hanya menghela napas saat Anisa bertanya soal yang sama sekali tidak lucu.
"Kita keliling saja, daripada kamu ngoceh."
Anisa hanya bisa tersenyum saat Arum mulai kesal dengannya.
Saat Anisa tengah melihat-lihat untuk mencari suasana baru, masih asik dengan minumannya. Tiba-tiba seorang pria menegurnya dan Anisa pun langsung menoleh untuk melihat pemilik dari suara tersebut.
"Ferdy!" Anisa bergumam seraya memastikan jika benar lelaki itu adalah Ferdy, orang yang beberapa hari ia kenal lewat pencopetan tersebut.
"Iya, ini saya. Apa kabar kamu?" Anisa menanggapi dengan kedua tangan terangkat dan hal itu menandakan jika dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Syukurlah, saya ikut senang kalau kamu baik-baik saja."
"Tentu," sahut Anisa.
"Makasih ya, Mbak." Saat Anisa tengah berbicara seorang pelayan memberikan makanan untuk Anisa.
"Iya, sama-sama, Bu." Lalu, pelayan itu pun kembali ke belakang.
"Kamu sendirian?" tanya Ferdy.
"Tidak, saya datang sama Arum, sahabatku." Jawab Anisa dengan suara lembutnya dan hal itulah yang membuat Ferdy, sempat mengagumi sikap Anisa.
"Maaf, saya kira kamu sendirian."
Anisa tersenyum karena tanpa sengaja saat melihat wajah Ferdy terlihat pelipis yang sudah dibanjiri oleh keringat.
"Kalau kamu tersenyum, semakin membuat jatuh hati kepadamu." Dengan hati yang tidak karuan, baru kali ini Ferdy menemukan sosok wanita yang bisa menggetarkan jiwanya.
"Ah, ya ada apa?" ucap Ferdy gelagapan.
"Kamu sedang membayangkan apa? Sepertinya bahagia sekali?" tanya Anisa dengan rasa penasaran yang ia miliki.
"Iya An, saya sedang menyukai wanita berjilbab dan orangnya begitu lemah lembut. Sopan dalan bertutur dan karena itu juga saya sempat memujanya dalam Doa, berharap Tuhan akan menurunkan memberikan wanita itu padaku."
"Jadi, Ferdy ini masih bujang dan belum menikah?" batin Anisa karena ia kira bahwa sosok lelaki yang ada di dekatnya itu sudah berumah tangga, karena terlihat jika Ferdy seumuran dengan Kakaknya.
"Jika kamu memang suka, kenapa harus di tunda jika hal itu untuk kebaikan dan menuju ibadah?"
"Benar apa yang dikatakan oleh Anisa, tapi β¦ apa mungkin jika wanita itu mau menerimaku? Sedangkan dia ada di depan mata. Jika Anisa tahu bahwa orang yang aku maksud adalah dia, lantas apa dia akan marah?" sebuah pertanyaan timbul dibenaknya. Ferdy belum bisa mengatakan jika Anisa-lah orang yang ia maksud.
"Saya tidak tahu An, setelah saya berhasil menyatakan cinta padanya. Mungkin bisa jadi dia akan marah karena kebetulan pertemuan kita cukup singkat. Saat saya mengutarakan akan isi hati ini, untuk selanjutnya saya tidak bisa memastikan bahwa wanita itu akan membenciku." Anisa menatap dalam ke arah Ferdy.
"Kamu kan belum mencoba, semua butuh proses." Anisa berujar dengan sesekali memberi semangat pada Ferdy.
__ADS_1
"Mungkin nanti β¦."
"Eh, Rum. Kamu kok lama banget sih?" belum sempat Ferdy mengatakan sesuatu, tapi Anisa terlanjur memotongnya karena melihat Arum yang tengah berjalan ke arahnya.
"Iya maaf, di dapur ada sedikit masalah. Jadilah aku membantu para karyawan," jelas Arum yang semakin membuat Ferdy bingung.
"Oh, ya sudah yuk makan. Udah keburu dingin juga karena kamu kelamaan," tukas Anisa melihat menu yang dihidangkan sudah hampir dingin.
"An, dia siapa?" Arum bukannya menjawab, justru bertanya soal lelaki yang sedari tadi diam di samping Anisa.
"Oh, dia Ferdy temanku. Kita baru beberapa hari juga kenal karena kebetulan waktu di pasar dompetku pernah kecopetan," ujar Anisa yang menjelaskan bagaimana awal pertemuannya dengan Ferdy.
"Oh begitu, ya sudah yuk makan." Terlihat dari raut wajah Arum sedikit menyimpan rasa tidak suka pada Ferdy dan lelaki itu pun melihat hal yang serupa. Entah, tidak ada tampang jahat ataupun mesum. Kenyataannya sekarang Ferdy terlihat layaknya pria yang tak dihargai.
"Eum β¦ maaf kalau saya mengganggu waktu kalian," ujar Ferdy yang merasa tidak enak.
"Tidak masalah," kata Arum menimpali.
"Syukurlah, kalau begitu saya pamit karena sudah ada janji juga dengan seseorang." Ferdy pun berpamitan karena merasa asing saat bersama dengan Anisa, ketika ada pihak ketiga bersamanya.
"Maaf ya, bukan kita menolak untuk mengajak kamu bergabung." Anisa sengaja berbicara seperti itu, agar Ferdy tidak merasa tersinggung. Kenyataannya Arum terlihat tidak suka dengan sosok lelaki yang beberapa waktu lalu ia kenal.
"Tidak apa-apa, kebetulan saya di sini juga sedang menunggu seseorang dan sekarang orangnya sudah berada di sini. Jadi, saya juga harus pergi untuk menemuinya."
Anisa mengangguk dan bersyukur jika Ferdy tidak marah kepadanya. Hanya karena tidak diajak gabung bersamanya dan hal itu tidak mungkin terjadi juga.
"Lelaki yang baik," gumam Anisa.
"Apa An, kamu bicara apa?" tanya Arum karena sekelebat telinganya mendengar bahwa Anisa sedang berbicara.
"Oh, ini itu makanan yang sangat enak." Jawab Anisa yang sengaja berbohong, karena tidak mungkin ia mengatakan jima bibirnya tanpa sadar telah memuji Ferdy.
"Ya sudah lanjutkan, setelah ini kita pulang karena hari sudah sore." Anisa mengangguk dan langsung menghabiskan makanan yang ada di depannya.
__ADS_1