Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
74. Kenangan di rumah Samuel


__ADS_3

Yah, sosok itu adalah Dirga, orang yang terus masih menyimpan rasa pada Anisa, meski dirinya sudah beristri. Nyatanya hati dan pikirannya tertuju pada mantan istrinya yang kini tidak lagi mengenalinya.


"Kenapa dengan Anisa? Kenapa juga dia sama sekali tidak mengenaliku?" dalam hati Dirga bertanya-tanya soal Anisa yang kini bagai orang lain dan tidak lagi seperti dulu.


Dengan seribu pertanyaan yang masih tersimpan di hati Dirga, lantas pria itu pun kembali ke mobil untuk segera pulang.


"Mungkin nanti aku harus menyelidikinya," gumam Dirga yang langsung meninggalkan pelataran minimarket.


Sedangkan Yuda dan Anisa kini tengah berada di perjalanan, untuk datang memenuhi undangan dari orang yang pernah berjasa kepadanya dulu.


"Kak, bisa jelaskan kenapa orang tadi mengaku bahwa dia adalah mantan suamiku?" Saat Yuda tengah fokus menyetir, sebuah pertanyaan lolos di bibir Anisa karena tidak dipungkiri bahwa ia penasaran dengan orang yang mengaku-ngaku tadi.


"Dia hanya lelaki gila, harusnya kamu tidak bertanya soal orang itu lagi." Sebuah jawaban yang membuat Anisa termangu, menatap arah depan karena tidak ada jawaban yang diterimanya.


"Apa Kakak pernah ada masalah sampai membenci orang itu?" Anisa tidak menyerah dan terus bertanya karena hal itu harus diketahuinya.


"Bisakah kamu tidak membahas orang asing!" seru Yuda dan Anisa diam.


"Maaf An, aku telah memarahimu. Aku hanya tidak mau kamu dibodohi oleh orang yang belum kamu lihat selama ini," kata Yuda karena saat ia membentaknya, Anisa tertunduk dan rasa tidak tega kini telah berada di depan mata.


"Tidak Kak, aku memang yang salah karena terus bertanya dari tadi." Jawab Anisa dan sekilas ia memperlihatkan sebuah senyuman pada Yuda.


Lebih dari setengah jam, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Yuda kini sudah berada di rumah Samuel.


Keduanya perlahan turun dan saat Yuda sudah berada di depan, justru Anisa masih mematung. Entah Anisa merasa jika pernah melihat rumah yang sekarang ia pijak, tapi tidak tahu kapan hal itu terjadi karena Anisa sendiri tidak dapat mengingat.


"An, kenapa?" sejenak Yuda menoleh kebelakang karena melihat sang adik hanya diam dan sesekali netranya menyusuri tiap tempat.


"Rasanya aku pernah bermimpi Kak, kalau tidak salah rumah ini yang ada di dalam bunga tidurku itu." Anisa memberi jawaban pada Yuda dengan netra masih melirik ke sana kemari.


"Mungkin saja ada sesuatu yang harus kamu lakukan lewat mimpi itu," kata Yuda karena ia tidak ingin berbicara pada Anisa soal rumah tersebut. Itu karena Yuda tahu bahwa Anisa tidak akan percaya dengan apa yang sudah disampaikannya.

__ADS_1


"Contohnya?" Yuda mengangkat kedua bahunya dan melanjutkan untuk kembali berjalan. Sedangkan Anisa masih berperang dalam pikirannya soal rumah yang ditempati oleh Samuel.


Sesampainya di depan pintu, saat Yuda ingin mengetuk tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok lelaki dengan penuh karismatik. Sehingga siapapun akan terpana dengan ketampanannya.


"Sam, tahu saja kalau sudah sampai." Samuel tersenyum sembari menunjuk ke arah atas.


"Astaghfirullah." Yuda menepuk keningnya karena ia lupa bahwa ada CCTV, yang selalu memantau siapa saja yang hendak bertamu.


"Mana Nisa?" tanya Samuel yang celingukan mencari perempuan spesial di dalam hatinya.


"Apa kamu buta dan tidak melihat!" sungut Yuda karena Anisa sejak tadi di belakang. Justru Samuel malah bertanya yang tidak masuk akal.


"Sepertinya kamu yang buta, melihat ke belakang apa ada Anisa? Sepertinya kamu melupakan perempuanku itu."


Sesaat Yuda menoleh untuk memastikan jika Samuel sedang mengerjainya.


"Ke mana Anisa?" Yuda berpikir sejenak ke mana adiknya yang tadinya ada di belakang, sekarang malah tidak ada.


"Baiklah." Setelah itu Yuda pun masuk untuk menemui orang yang di panggil 'Tante' olehnya. Orang telah banyak berjasa di mana selama Yuda remaja Ibu Susi lah yang mengurus hingga menyekolahkannya, hingga sampai di perguruan tinggi dan Yuda bagi Ibu Susi adalah anaknya. Anak yang selama ini ia rawat dan menjadi kebanggaan selain Samuel.


Samuel yang ada di luar, tiba-tiba saja melihat Anisa di taman yang tidak terlalu besar. Hanya ada beberapa bunga yang ditanam di taman kecil tersebut, dengan perlahan Samuel menghampiri Anisa yang begitu terlihat bahagia saat tangannya menyentuh bunga-bunga tersebut.


"Bunga itu ditanam oleh seseorang yang sangat berharga bagiku, orang dengan hati serta wajahnya bagai bunga yang kamu pegang. Tetapi, sekarang orang itu telah berubah menjadi duri yang selalu mengenai jari ini meski aku tidak sengaja menyentuh gagangnya." Mendengar Samuel berbicara, seketika Anisa menoleh. Menatap dengan lekat wajah lelaki yang ada di sampingnya.


"Bunga ini tidak akan menyakitimu, jika kamu juga tidak mengambilnya secara paksa bukan, lalu di mana salahnya saat durinya mengenai jari kamu?"


"Bukan, bukan aku yang memaksa, tapi bunga itu telah layu tidak seperti saat orang itu merawatnya. Hingga aku harus memetiknya agar tumbuh bunga yang cantik seperti mata wanita itu, seperti hatinya dan seperti wajahnya yang berseri-seri. Sayangnya, sebelum aku melakukan duri itu telah melukaiku di sini," kata Samuel yang menunjuk hatinya yang terluka oleh seseorang.


"Jika merasa tersakiti kenapa tidak mencari orang yang bisa memahami kamu, mengerti kamu dan sosok itu tentunya sepadan dengan bunga ini."


"Tidak semudah bibir berucap jika hati dan pikiran kita masih dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu. Bayang-bayang yang mana telah mengisi kekosongan di hati dan mewarnai hari-hariku, jika aku bisa maka aku akan mencari bunga yang lain yang lebih indah dan lebih menawan, sayangnya tidak ada pemilik lain selain orang yang sudah menjadikan bunga-bunga ini tumbuh bermekaran."

__ADS_1


Kini Anisa mengerti bahwa tidak ada perempuan lain selain orang yang telah menyakitinya. Meski berulang kali dikecewakan, tapi Samuel masih menyimpan cintanya sebesar apa Anisa tidak tahu.


"Itu jalan yang sudah kamu ambil, jadi kamu tidak bisa menyalahkan duri ini–."


"Tidak Nis, takdir, takdir sedang mempermainkan aku. Meski aku tidak menyentuh bunga itu sekalipun, tapi durinya selalu menusukku. Aku tahu Tuhan sedang menguji kesetiaanku lewat rasa sakit ini, meski sakit jika aku masih bisa melihat bunga ini tumbuh dengan sangat cantik aku rela jika durinya menusuk sebagian dari tubuhku."


Anisa menatap bangga pada Samuel, terlihat wajah sendunya dan entah mengapa setiap bertatapan dengan Samuel Anisa merasa jika wajah itu tidaklah asing baginya.


"Apa dia hidup bahagia dengan jalannya sekarang?" tanya Anisa dengan suara lirihnya.


"Aku tidak bisa mengatakan orang itu hidup bahagia atau tidak. Pada kenyataannya orang itu hanya mampu mengingat masa sekarang dan melupakan masa dulu, melupakan segalanya dengan menjadi orang yang berbeda meski tubuhnya sama."


"Kamu pernah berpikir jika ada orang yang ada di hatimu, masih setia menanti meski keadaan sudah berbeda?" sejenak Anisa terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa karena selama ini dirinya tidak pernah dekat dengan seseorang hingga detik ini.


Sebuah jawaban yang sulit sampai Anisa pun tidak sanggup untuk mengatakannya. Di samping itu, perihal statusnya masih belum bisa ia terima yang mana jika dirinya adalah istri dari Samuel.


"Apa kamu tidak bisa menjawab?" tanya Samuel dan Anisa menggeleng.


"Itu karena kamu tidak pernah merasakan sebagai orang yang dilupakan maupun sosok yang terlupakan." Lagi-lagi Anisa tidak mampu menjawab, hanya dian sesekali mendengarkan ucapan yang menyayat hati dari Samuel.


"Ikut aku," ajak Samuel karena Anisa perlu tahu isi di dalam rumahnya seperti apa.


Anisa tidak berontak atau menolak dan mengikuti langkah Samuel, hingga keduanya sampai di ruang tamu.


"Lihat di ruangan ini. Apa kamu mengenali foto yang ada di beberapa tembok," titah Samuel dan Anisa pun menurut.


"Bukankah itu foto pengantin kamu," tunjuk Anisa.


"Iya, foto di mana aku berhasil mempersunting seorang wanita yang selalu aku puja hingga kita berdua dipersatukan oleh pernikahan." Jawab Samuel.


"Tunggu, kenapa mempelai wanita itu mirip …." Ucapan terhenti karena tiba-tiba kepalanya merasa kesakitan.

__ADS_1


"Argh … kepalaku, sakit!"


__ADS_2