
"Ada saatnya kamu tahu An, untuk saat ini aku ingin menjalaninya lebih dulu." Di saat Kakak beradik itu saling melempar candaan dan sesekali mengejek. Arum, yang termenung dan hanya berbicara dalam hati soal perasaannya.
Arum yang melihat dua keluarga saat ini sudah bersatu terlihat begitu bahagia. Namun, ada sesuatu yang memegang erat jemari Arum dan ia tahu siapa pelakunya. Tanpa menolah Arum pun merasa jika tangan itu telah memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tuhan, jika memang dia jodohku. Makan tunjukan jalan menuju yang lebih baik lagi, tapi jika dia bukan jodohku maka biarkan perasaan ini lepas dari pandangannya." Arum berbicara dalam hati, meminta kepastian pada Sang Illahi jika lelaki yang ada didekatnya adalah jodoh pilihan Tuhan.
Semua orang tengah asik bercanda gurau hingga tidak melihat jika sekarang sudah jam 10, sedangkan Bu Ning yang menyadari buru-buru berdiri dan hendak pamit pada Anisa dan juga Bu Susi. "Bu, An, ini sudah malam ibu ingin pulang." Suara bu Ning membuat semua orang seketika saling pandang.
"Sekarang masih sore Bu, kenapa buru-buru pulang?" tanya Anisa dengan nada tidak rela.
"An, ini sudah jam sebelas malam, kasihan adik-adi kamu kalau ibu sampe pulang semakin malam!" kata bu Ning.
Dengan helaan napas sedikit berat, Anisa pun akhirnya mengizinkan Bu Ning untuk pulang meski ingin sekali wanita itu menginap. "Biar di antar sama Mas Samuel ya Bu, karena ini sudah cukup malam —."
"Bu Ning biar sama aku saja, An!" sahut Arum dengan tiba-tiba.
"Tidak bisa Rum, kamu menginap saja di sini. Kamar tamu masih banyak tinggal pilih yang mana," tawar Anisa, karena ingin bahwa Arum dan Yuda dapat menginap untuk malam ini saja.
"An, aku punya rumah. Lagian ini masih jam 11 dan karena itu aku akan segera pulang," kata Arum yang terus memaksa untuk pulang.
"Tidak! Kalian akan tetap di sini."
"Untuk Kakak juga, aku mau Kakak nginap. Tidak ada penolakan dari kalian semua titik," ucap Anisa lagi dengan suara penekanan.
"Kalian menginap lah dan jangan membuat istriku marah, ingat Anisa sedang hamil!" sahut Samuel.
Akhirnya Yuda dan Arum hanya menghela napas, saat suaminya juga ikut membela karena keinginannya agar keduanya mau menginap.
"Apa ini bisa dikatakan ngidam?" tanya Arum dengan mata menatap ke arah Bu Susi, meminta jawaban atas sebuah pertanyaannya.
__ADS_1
"Bisa jadi, nanti kalau kamu sudah menikah dan akan ingin semua keinginanmu itu terpenuhi." Seketika Arum tertegun saat mendengar penuturan dari bu Susi.
"Apa iya kalau aku nanti akan menjadi seperti Anisa, semua keinginan harua dituruti?" dalam hati Arum pun bertanya-tanya soal apa yang ia dengar barusan.
"Baiklah, jika itu untuk keponakanku. Maka aku akan menurutinya dan akan menginap di sini untuk semalam," ucap Arun dengan diiringi sebuah senyuman agar Anisa senang.
"Baiklah, semua sudah sepakat akan menginap di sini dan aku akan mengantar Bu Ning pulang ke panti." Dirasa semua sudah tidak ada masalah, lantas Samuel langsung mengajak Bu Ning untuk segera pergi dan supaya Bu Ning juga bisa segera istirahat.
"Sam, tunggu, aku ikut!" ucap Yuda menghentikan langka Samuel.
"Ayo!" ajak Samuel.
Lantas kedua pria itu pun pergi untuk mengantar Bu Ning, kembali ke panti asuhan.
Pagi hari yang begitu cerah, terlihat mata hari sudah ikut masuk karena sebuah pantulan dari jendela. Anisa yang semua pulas kini mulai terusik akan cahaya yang menembus kaca, lalu melewati sela-sela yang ada di kamarnya.
Eummmm
"Sayang, kamu sudah bangun?" saat Samuel tengah bersiap untuk berangkat kerja, ia melihat sang istri baru saja terbangun.
"Hai suamiku yang tampan, kenapa tidak membangun aku!" terlihat jika Anisa sedikit cemberut dan Samuel dapat melihat hal itu.
"Kamu sedang lelah dan sedikit lemas. Makanya suamimu ini tidak membangunkan karena kasihan," ujar Samuel yang mendekat ke arah Anisa.
"Mau mandi?" tawar Samuel.
"Sebentar," timpal Anisa.
"Suamimu yang tampan ini sudah menyiapkan air hangat. Biar tidak terlihat loyo layaknya yang selesai di gempur, sebaiknya istriku yang cantik ini segera mandi." Dengan sejuta jurus rayuan maut, Anisa akhirnya berangkat juga untuk mandi.
__ADS_1
"Aku tidak mandi ya, rasanya mau muntah kalau lihat air." Sebuah rengekan terdengar manja di telinga samuel hingga ingin sekali mengurung istrinya di dalam kamar.
"Kalau saja aku tidak kerja, mungkin sudah aku kurung di dalam kamar." Samuel membatin karena saking gemasnya.
"Suamiku, ada apa dengan kamu?" Anisa yang melihat Samuel tengah melamun, ia pun lantas bertanya kenapa dengan suaminya.
"Ah, tidak kok. Mau aku seka, meski tidak mandi kamu harus tetap wangi." Sebenarnya Anisa sudah malas untuk mandi, tapi karena tidak mau membuat kecewa Samuel ia pun terpaksa harus menurutinya.
Entah kenapa akhir-akhir ini Anisa merasa bahwa ada yang ada, kebersihan adalah yang yang terpenting dalam hidup manusia. Nyatanya tidak dengan Anisa yang sekarang menjadi jorok karena jarang mandi.
Sedangkan di kamar mandi, Samuel dengan telaten mengelap tubuh sang istri. Tidak merasa terbebani, justru lelaki itu bersyukur bahwa dirinya yang seorang kepala rumah tangga. Nyatanya bangga karena bisa membantu mengurus semuanya, termasuk hal kecil seperti ini.
Sedangkan di bawah.
Yuda, Arum, dan juga Bu Susi. Menanti Samuel beserta Anisa tetapi tidak kunjung turun, padahal mereka sudah sangat kelaparan karena sekarang sudah jam delapan pagi. "Bu, apa mereka masih menikmati mimpi di pagi hati?" Arum yang kesal langsung membuka percakapan.
Belum sempat Bu Susi dan juga Yuda menimpali, tapi ternyata Anisa dan Samuel sudah lebih turun. "Kalian pasti ngomongin kita, ya?" ujar Samuel tiba-tiba.
"Lagian kamu itu lagi ngapain sih di kamar sampai baru muncul!" sungut Yuda yang mulai jenuh karena terlalu lama menunggu.
"Tanya saja nih sama adik kesayangan kamu. Kita di kamar sedang ngapain dan sedang apa lalu berbuat apa," kata Samuel melirik ke arah Anisa.
Yuda pun yang mulai penasaran tanpa banyak pikir langsung bertanya pada Anisa. "Memangnya kalian sedang ngerjain apa, sampai kita di sini mau ubanan." Anisa malah tertawa saat mendengar Yuda mengomel tiada henti, bagaikan rel kereta api.
"Sudahlah, itu kita bahas nanti dan sekarang lebih baik kita segera sarapan." Semua seketika diam saat bu Susi mulai angkat bicara.
Akhirnya penghuni rumah tersebut sarapan dan Yuda pun setelah ini akan pamit, untuk melihat cafe milik Arum karena Anisa membutuhkan bantuannya.
"Sam, An, lepas selesai makan aku akan balik. Kerjaan numpuk dan aku harus melihat cafe kalian," ucap Yuda pada pasangan yang akan bergelar orang tua sebentar lagi.
__ADS_1
"Kan ada Arum, jadi tidak terlalu berat, kan?" sahut Anisa.
"Tentu, tapi harus profesional juga kan, karena pekerjaanku tidak hanya satu." Jawab Yuda.