
"Sam, bagaimana keadaan Anisa! Apa ada perubahan pada adikku?" Yuda datang dengan penuh harapan jika Anisa akan mengalami perubahan. Nyatanya lelaki yang menyandang sebagai suami Anisa itu hanya diam, entah apa yang ada dipikirannya sekarang hingga tidak kunjung menjawab.
"Sam, aku bertanya lagi. Bagaimana keadaan Anisa?" sampai Yuda harus mengulang pertanyaannya, tapi Samuel malah mengusap wajahnya dengan kasar dan terlihat wajah gusarnya semakin tercetak jelas.
"Kamu lihat saja, seperti apa keadaannya." Hanya itu jawaban yang diterima oleh Yuda.
"Apa kondisinya masih tidak ada perubahan?" tanya Yuda kembali.
"Kata dokter lihat besok, karena jika tidak ada perubahan maka operasi akan dilakukan lagi." Yuda dengan spontan menoleh ke arah Samuel, ia pikir minggu lalu Anisa sudah dioperasi, tapi kenapa akan ada operasi lagi. Itulah yang ada di pikiran Yuda karena menurut keterangan sudah tidak ada lagi yang perlu ditangani.
"Calon anakku akan dikeluarkan dengan paksa." Yuda yang mendengar seketika merasa tenggorokannya tercekat. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Kamu jangan bercanda, usia kandungan Anisa masih cukup muda. Kenapa harus dikeluarkan dengan paksa?" kata Yuda dengan wajah tak bisa disembunyikan karena melihat keadaan sang adik, membuat lelaki itu frustasi.
"Jalan satu-satunya harus di angkat agar keduanya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi." Saat Samuel berbicara, hanya ada suara helaan napas dari Yuda karena lelaki itu bingung harus berkata apa.
"Jaga Anisa, aku akan kembali setelah urusanku selesai."
"Kamu mau …." Samuel tidak lagi melanjutkan pertanyaannya, karena Yuda langsung melambaikan tangannya tanda bahwa tidak ada yang perlu ditanyakan.
"Aku tidak bisa memberitahumu untuk sekarang Sam, biar semua ini menjadi urusanku." Yuda berkata dalam hati, karena tidak mau jika Samuel tahu. Jika sampai hal itu terjadi maka hanya ada luapan emosi yang ada.
Selepas Yuda meninggalkan rumah sakit. Sekarang mobilnya telah menuju di pekarangan rumah tua, yang di huni oleh orang-orang yang berbuat salah seperti saat ini.
Byurrr.
Guyuran air garam telah membasahi kepala dua lelaki yang kini masih terpejam.
Brakkk.
Suara lemparan bak, membuat kedua pria seketika terlonjak karena kaget. Bukan itu saja, air yang disiramkan telah membuat mereka meringis kesakitan karena mengenai luka yang ada di wajahnya.
Arghhh.
"Apa salah kami? Kenapa kamu menangkap dan menyandra kita berdua?" dua orang itu nampaknya belum tahu, kesalahan apa yang ia perbuat.
Cih.
Yuda berdecak karena mereka berdua masih belum sadar kesalahan apa yang telah dilakukan. Hingga Yuda harus turun tangan sebelum keduanya tertangkap polisi.
"Ingat, jika perempuan yang kalian tabrak terjadi sesuatu padanya. Maka nyawa akan dibayar nyawa!" seketika keduanya terhenyak mendengarnya.
Setelah diam dengan tatapan penuh tanda tanya, kini dua preman suruhan itu pun baru menyadari. Bahwa wanita yang ia celakai adalah di mana bos nya yang menyuruh untuk menghabisi perempuan dengan nama Anisa.
"Siapa yang kamu maksud, kita tidak menyakiti seorang wanita." Salah satu dari preman tersebut mencoba menyela, karena ia yakin jika lelaki tengah menyekapnya sudah salah sasaran.
"Jangan pura-pura bodoh!" geram Yuda karena keduanya masih belum mengakuinya.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang kamu maksud?" akhirnya preman yang berkulit hitam itu pun bertanya karena feelingnya mengatakan, bahwa wanita itu adalah yang dimaksud oleh bos nya waktu itu.
"Apa yang kamu maksud wanita yang baru saja turun dari–,"
"Iya, benar." Yuda sengaja menyela ucapan dari preman tersebut dan kini wajah keduanya nampak ketakutan karena semua terbongkar.
"Ingat, nyawa akan dibayar nyawa jika adikku tidak bisa diselamatkan dan itu artinya, kalian juga harus ikut mengantarnya!" seru Yuda dengan tatapan sinis.
"Kami hanya di suruh, jika kita menolak maka istri-istri kami makan apa!"
"Jangan menyangkut pautkan tentang tanggung jawab kalian yang seharusnya memang ada. Ini soal nyawa! Kalian bisa menghidupi anak istri, tapi kalian lupa dengan seseorang wanita yang sedang hamil. Parahnya demi uang kamu dan kamu, berani menabrak adikku." Dengan bergantian menunjuk, Yuda berbicara dengan nada tinggi. Untuk saat ini ia tidak bisa tahan dengan alasan yang konyol.
"Maaf Tuan, kami minta maaf." Yuda tertawa terbahak-bahak saat kedua pria itu memohon maaf.
"Apa kalian tidak berpikir jika semua ini terjadi pada istrimu yang sedang hamil hah! Sekarang jawab. Di mana letak hati nurani kalian demi uang tega melenyapkan nyawa seseorang."
Bukh.
Bukh.
Bukh.
Dengan hati yang sudah tersulut emosi dan rasa dongkol kian menjalar, Yuda beberapa kali memberi pukulan pada dua lelaki tersebut.
"Kami hanya di suruh, wanita itu mempunyai dendam pada adik kamu." Kini kedua tangan Yuda mulai bisa diajak tenang saat mendengar penuturan dari mereka.
"Bos Elsa!" kata preman tersebut.
Kini Yuda tahu siapa sosok wanita yang dimaksud dan itu pasti adalah mantan istri Dirga.
"Mantan istri Dirga," gumam Yuda dan ternyata kedua preman itu mendengarnya.
"Iya, dia memiliki dendam pada adik kamu dan ingin wanita itu mati."
Tanpa menjelaskan apa pun Yuda pergi dan meninggalkan tawanannya.
Dengan dada yang bergemuruh Yuda kini pergi dengan membawa kemarahan dan akan memberikan pelajaran untuk Elsa, yang ia tahu bahwa itu adalah mantan istri sirih Dirga yang setahun lalu keguguran dan bercerai setelah beberapa saat di rumah sakit.
Entah apa motif dari ini semuanya karena ia juga tidak tahu pasti, tapi kenapa justru Anisa lah yang harus menerimanya bukan Dirga, lelaki yang menceraikannya.
Beberapa saat kemudian.
Brakk!.
Suara meja digebrak dengan begitu kerasnya sehingga semua mata tertuju ke arahnya.
"Di mana Elsa?" tanya Yuda dengan mata yang sudah tersulut emosi.
__ADS_1
"Elsa, Elsa siapa Bung?" balik tanya seseorang bartender.
"Elsa, wanita jal*ng yang menjajakan tubuhnya di tempat."
"Maksud Bung, Elsa itu." Bartender itu pun menunjukkan telunjuknya ke arah meja yang tidak jauh dari Yuda karena yang ia tahu di club hanya ada satu nama Elsa.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Yuda segera menuju meja yang dikerumuni oleh banyak lelaki hidung belang.
Srakkkk.
"Auh," pekik suara wanita yang telah diseret paksa oleh Yuda.
"Hai Bung, lepaskan wanita ini. Dia sudah kami pesan untuk menemani kami semua!" ujar salah satu dari ketiga pria tersebut.
Bukan sebuah jawaban yang diberikan oleh Yuda, tapi sebuah tatapan yang membuat mereka semua bungkam.
"Kamu! Wanita licik. Ingat jika terjadi sesuatu pada Anisa maka nyawamu berada di tanganku," ucap Yuda dengan wajah merah padamnya, tidak lupa ia menggenggam erat tangannya seolah nyawanya akan hancur berada digenggaman Yuda.
"Apa maksud kamu, siapa yang kamu maksud–."
Arghh.
Elsa memekik kesakitan karena sekarang tangan Yuda berada di leher Elsa hingga wanita itu tidak bisa berkata-kata.
"Bung, jangan membuat keributan di tempat ini." Satu laki-laki mencoba menahan tangan Yuda dan memberi peringatan.
"Jangan mencoba menghentikan aku. Jika kalian semua ingin selamat dari kepungan polisi," kata Yuda, menyerang balik lelaki tersebut.
Lelaki itu pun berangsur mundur dan tidak ingin membuat masalah dengan Yuda, selebihnya tidak mau jika polisi akan membawanya juga.
"Ingat, kamu akan membayar lunas dengan nyawa kamu ini jika sampai terjadi sesuatu pada Anisa."
Arghhh.
"Le-paskan." Dengan suara seraknya Elsa berkata.
"Ingat, jika ada yang berani mendekat maka kalian juga akan berurusan denganku!" ancam Yuda pada semua penghuni 'Bar' dan ia tidak segan akan menutup tempat maksiat tersebut.
"Tunggu!" suara lelaki dari atas tangga membuat Yuda menoleh.
Meski suara dentuman musik yang begitu keras, tidak membuat Yuda salah dalam mendengar.
"Mau kau bawa ke mana pela*curku?" tanya lelaki dengan pakaian sedikit bajin*an.
"P*lac*rmu akan aku bawa untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukannya," ujar Yuda dengan wajah tenang tanpa ada kegusaran sedikitpun.
"Apa maksudnya, jangan seenaknya kau membawa penghasil uangku."
__ADS_1