Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
22. Dituduh selingkuh


__ADS_3

"Bu, ini salah paham! Aku sama dia tidak ada hubungan apa-apa." Anisa mencoba menjelaskan jika antara dirinya dan juga Samuel tidak ada hubungan apa-apa, tapi semua itu nihil.


"Berani sekali kamu mengelak dari tuduhan ini. Jelas-jelas saya melihat dengan kedua mata saya sendiri, tapi kamu masih tidak mengaku," ujar bu Marina yang masih bersikeras menuduh Anisa selingkuh.


"Kenyataannya memang aku tidak selingkuh Bu, demi Allah!" ucap Anisa sampai harus menyebut nama Allah supaya Ibu mertuanya percaya.


"Wanita sepertimu tidak layak menyebut nama Allah, karena sekali selingkuh tetaplah selingkuh." Jawab bu Marina yang tak mau tahu dengan kejadian yang sebenarnya, dan terus mencaci maki menantunya.


"Lantas bagaimana dengan anak Ibu sendiri? Nyatanya menikah tanpa ada izin dari aku, dan itu pun secara sembunyi-sembunyi ...."


PLAKKKK.


Satu tamparan lagi mendarat di pipi Anisa.


"Seharusnya Dirga sudah lama aku minta untuk menceraikan kamu! Dasar wanita ja*ang," umpat bu Marina.


"Stop Nyonya! Jika Dirga ingin menceraikan Anisa, maka saya siap untuk menikahinya tidak perlu menghinanya." Wajah Bu Marina terlihat merah padam saat mendengar ucapan Samuel.


"Sam, tolong. Jangan memperkeruh keadaan," mohon Anisa pada Samuel.


"Kamu denger sendiri kan, bagaimana selingkuhan kamu berbicara. Apa kamu masih ingin mengeles?" kata bu Marina dengan tatapan sinis.


"Aku memang tidak selingkuh Bu, aku berani bersumpah kalau tidak seperti apa yang Ibu bilang, dan ini cuma salah paham." Ucapan Anisa tidak lagi dipercaya oleh Bu Marina, dan mereka tetap bersikukuh bahwa penglihatan dari sang mertua tidaklah salah. Hingga kedatangan Arum membuat semua diam.


"Ada apa ini! Kenapa ribut-ribut?" tanya Arumi pada ketiga orang tersebut. Dengan bergantian menatap orang yang berada di depan dan sampingnya.


"Teman kamu selingkuh dan tidak mau mengakuinya," kata bu Marina mulai membuka percakapan.


"Rum, aku tidak selingkuh dan Ibu salah paham padaku. Memangnya kamu percaya kalau aku selingkuh?" sela Anisa pada Arum.


"Bu, Rum, sebenarnya ada apa ini. Baru saja keluar dari kamar mandi lalu saat keluar sudah heboh!" seru Arum pada Anisa dan juga Bu Marina.


"Memangnya tadi kalian janjian?" tanya bu Marina.


"Kami memang ke sini berdua, dan saya tadi sempat ke kamar mandi karena perut sakit." Jawab Arum pada Bu Marina.


"Sekarang Ibu denger sendiri kan, kalau Ibu sudah salah paham dan menuduh aku selingkuh!" ujar Anisa menatap dalam ke arah mertuanya.

__ADS_1


Setelah itu. Tanpa banyak kata, Bu Marina pergi dengan kaki yang dihentakkan hingga menimbulkan suara.


Hufff.


Anisa menghela nafas, karena pada akhirnya masalah selesai juga.


"An, dia siapa?" Anisa seketika teringat dengan Samuel saat Rumi, bertanya.


"Ah iya, aku sampai lupa. Dia Samuel temenku dan sekalian kalian bisa berkenalan," ujar Anisa pada mereka berdua.


"Samuel."


"Arumi."


Keduanya sudah berkenalan dan kini mereka duduk kembali, setelah kericuhan yang terjadi.


"An, apa mertuamu berbuat ulah?" tanya Arum.


"Seperti yang kamu tahu." Jawab Anisa singkat.


Sedangkan di samping Anisa, Samuel yang tengah berdiri dalam hati tersenyum. Penuh kemenangan karena ternyata Tuhan sedang berpihak kepadanya.


Bagi Samuel, hal ini akan menjadi kesempatan untuknya. Untuk merebut Anisa dan akan menjadikan wanita itu ratu di hatinya.


"Sam!" tegur Anisa karena terlihat jika Samuel telah berada di dunia lain dengan segala angan-angannya. Hingga tidak memperdulikan panggilan dari Anisa.


"Sam," panggil Anisa untuk kedua kalinya.


"Eh, iya An, ada apa?" jawab Samuel dengan dada berdekup.


"Apa kamu akan tetap berdiri di situ hingga nanti? Aku mau pulang karena badanku tiba-tiba meriang," kata Anisa pada Samuel, dan tentunya Samuel yakin jika semua itu hanya akal bulus Anisa, karena tidak mau memperpanjang percakapan dengan temannya itu.


"Mau aku antar ...,"


"Apa kamu ingin aku mendapat masalah lagi!" sela Anisa karena baginya itu sama saja jika dirinya ingin mati.


"Maaf, baiklah dan hati-hati." Ucapan Samuel diangguki oleh Anisa, sebelum mengucap salam dan benar-benar pergi.

__ADS_1


Anisa lupa bahwa di cafe masih ada Arum, tanpa peduli ia tetap meninggalkannya karena rasa kesalnya pada sahabatnya itu. Hingga tidak mau menatapnya.


Sepertinya Anisa marah, karena aku terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya." Arum yang tengah berbicara, membuat Samuel langsung memandangnya.


"Kalau untuk kebaikan kenapa tidak, berarti kamu perduli padanya, Kan." Samuel menjawab ucapan Arum, dan ia tahu bahwa wanita itu tengah mengajaknya bicara.


"Iya, sayangnya Anisa tidak mau mendengarkan aku dan lebih memilih bertahan dengan lelaki brengsek." Dengan amarah yang menggebu. Arum berbicara.


"Kamu suka dengan Anisa, kan?" tanya Arum, ia kembali berbicara dan saat ini Samuel lah yang dibuat bingung.


"Apa maksud kamu!" kata Samuel menatap bingung ke arah Arum.


"Tinggalkan katakan, suka atau tidak." Jawab Arum yang ingin tahu reaksi Samuel saat dirinya bertanya.


Untuk sesaat Samuel dibuat bimbang oleh perempuan yang baru saja ia kenal, dan hal itu membuatnya tidak nyaman akan pertanyaan tersebut.


"Aku tahu, kalau kamu sedang menyukai Anisa! Jika itu benar maka rebut dia dari tangan Dirga, suami yang tega mengkhianati sahabatku." Lagi-lagi Samuel dibuat tidak percaya dengan pernyataan barusan. Bagaimana bisa wanita itu, justru menyuruhnya untuk merebut Anisa dari tangan suaminya.


Apa sebegitu bencinya pada Dirga, sampai harus menyuruhnya untuk menghancurkan rumah tangga orang.


"Kenapa kamu memintaku untuk merusak rumah tangga mereka?" tanya Samuel dengan wajah datarnya, dan nyaris tanpa ekspresi.


"Jangan munafik, tanyakan pada hati kamu sendiri. Seberapa besar kamu menginginkan Anisa, meski harus merusak rumah tangganya."


Saat itu juga Samuel dibuat ternganga akan penuturan Arum. Tidak menyangka jika wanita itu bisa membaca pikiran seorang Samuel.


"Aku rasa urusan kita sudah cukup, ingat! Buat Anisa jatuh hati padamu dengan begitu dia akan menemuka tempat ternyaman bersama kamu." Ucapan Arum lagi-lagi membuat Samuel menatap tak percaya, tapi ia juga akan semakin berusaha keras sampai Anisa menjadi miliknya.


"Biarlah predikat pebinor akan melekat di tubuhku," gumam Samuel, karena bertambah lagi orang yang ingin Anisa berpisah.


Di rumah Anisa.


Plaaaak.


"Apa-apaan kamu Mas! tiba-tiba menampar aku ...,"


"Karena semua itu pantas untuk kamu, ingat kamu masih istriku dan jangan pernah berhubungan lagi. Dengan lelaki mana pun, kamu mengerti!"

__ADS_1


__ADS_2