
"Jangan mengada-ngada. Anisa tidak seperti apa yang kamu katakan barusan!" ucap Dirga saat Arum mulai memperlihatkan betapa bejatnya dirinya.
"Kita lihat saja, sampai dimana kamu menyembunyikan kebusukan itu pada sahabatku! Ingat semua akan berjalan sesuai karma." Di sinilah Dirga mulai gusar. Ia tidak mau bahwa istrinya akan mengetahui bangkai yang selama ini ia sembunyikan dengan apik, tapi masih tercium juga.
"Jika hal itu terjadi, maka orang yang akan aku beri pelajaran adalah kamu, karena semuanya cuma kamu yang tahu!" Dirga menunjuk wajah Arum, tapi perempuan itu hanya tersenyum. Tidak ada rasa takut yang terlintas dibenaknya sama sekali.
Dirga langsung melengos pergi. Meninggalkan Arum. Dengan hati dan pikiran yang tiba-tiba kalut. Dirga berusaha menenangkan hatinya terlebih dulu, agar rasa itu tidak sampai terbawa pulang dan membuat Anisa curiga.
"Apa yang terjadi saat Anisa tahu semuanya? Apa dia bisa memaafkan aku?" semua seakan menjadi satu. Berkecamuk di dalam hati Dirga.
...............
Pukul tujuh malam. Dirga sudah ada di rumah dan seperti biasa maka kepulangannya akan disambut oleh sang istri.
"Assalamualaikum," ucap Dirga saat melihat Anisa berada di ruang tamu.
"Waalaikumsalam Mas, sini tasnya." Anisa meraih tasnya dan juga punggung tangan suaminya. Mencium dengan penuh hikmat, dengan sesekali menyibakkan anak rambutnya.
"Mas, itu apa?" Anisa menatap bungkusan yang terdapat di tangan kiri Dirga.
"Oh ini. Martabak kesukaan kamu," ujar Dirga yang langsung memberikannya pada Anisa.
"Makasih, Mas."
"Sama-sama sayang, ya sudah kalau begitu aku bersih-bersih dulu ya." Lantas Dirga pun pamit untuk mandi karena hari ini benar-benar lelah.
Sedangkan Anisa nampak tersenyum saat membuka kotak berisikan makanan kesukaannya. Tidak menyangka jika Dirga akan membelikannya. Seakan suaminya mengerti jika dirinya sudah lama tidak makan martabak manis dengan dilengkapi parutan keju.
Pada saat Anisa tengah menikmati makanan tersebut. Sebuah suara membuatnya langsung menoleh.
"Sayang, uang bulanan kamu sudah Mas transfer, ya!" kata Dirga pada Anisa.
Bau segar kian menyeruak ke dalam rongga hidung Anisa, untuk sesaat wanita itu tidak memperdulikan akan perkataan Dirga, karena bau harum membuatnya seakan terhipnotis akan aroma khas sabun mandi.
"Hye, sayang!" Dirga menegur Anisa lagi, dan seketika sang pemilik nama tersadar.
__ADS_1
"Eh Mas, maaf karena aku sempat melamun." Anisa menimpali dengan hati yang tak karuan.
"Hayo ... kenapa? Jangan bilang kalau kamu sedang terpesona padaku," goda Dirga pada Anisa.
Anisa yang merasa malu, langsung tertunduk karena apa yang dikatakan oleh suaminya adalah benar.
"Tuh kan, wajah kamu mirip kepiting rebus." Anisa tersipu malu karena Dirga bisa sedetail itu. Saat memandangi wajah istrinya.
Memangnya siapa yang tidak terpesona pada laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. Tampan berwibawa, dan sopan tuturnya. Membuat nilai kualitasnya begitu amat sempurna.
"Maaf, tadi Mas bilang apa? Kok aku lupa?" tanya Anisa saat teringat akan ucapan Dirga.
"Oh itu. Mas sudah kirim uang ke ATM, kamu." Jawab Dirga atas pertanyaan Anisa.
"Makasih Mas, Mas selalu mengirimkan uang padaku. Padahal sisa yang kemarin saja masih ada," ujar Anisa memberitahu jika uang bulannya yang bulan lalu masih ada, dan sekarang mendapat tambahan lagi. Anisa berujar sambil terus mengembangkan senyuman.
"Tidak masalah, bisa kamu gunakan apapun yang kamu mau. Oh ya, Mas ada pertemuan habis ini, jadi Mas minta izin buat keluar sebentar ya." Akhirnya Dirga mengatakan keinginannya juga, dan ia yakin jika istrinya akan memberi izin kepadanya.
"Pulangnya jangan larut malam ya, Mas?" pinta Anisa dengan penuh permohonan.
"Mas, usahakan ya. Agar tidak pulang malam," balas Dirga.
Lagi-lagi Anisa hanya ditemani oleh keheningan malam. Tanpa ada suami yang menemani, entah sampai akan Anisa akan terus sendiri di sepinya malam, dan hanya berteman kan oleh kegelapan.
Tak bisa dipungkiri jika Anisa menginginkan teman di setiap malam. Rindu akan bercanda bersama sebelum pergi ke alam mimpi, bercengkrama mengingat masa muda sewaktu dulu. Namun, sekarang hanya tinggal kenangan dan sepertinya tidak akan pernah terjadi lagi.
.........
Menjelang pagi.
Seperti biasa, Anisa akan bangun untuk memenuhi panggilan dari Sang Pencipta. Berdoa di atas sajadah dan meminta agar rumah tangganya akan selalu dipenuhi oleh kebahagiaan.
Saat Anisa sholat tadi, Dirga sudah bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Tepat saat dirinya selesai mengadu pada Sang Khaliq. Bau harum shampo memenuhi seisi kamar.
"Sejak kapan Mas Dirga keramas?" Anisa bertanya-tanya dalam hatinya. Mengenai suaminya yang sudah mandi dan segar, tapi yang membuatnya aneh. Keramas di pagi buta, dan ini kali pertama Anisa melihatnya karena sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri, jadi Anisa yakin matanya tidak salah dalam melihat.
__ADS_1
"Mas, tumben?" sepertinya Dirga menyadari akan keanehan istrinya, dan buru-buru meletakkan handuk agar tidak terlihat gugup.
"Oh ini An, semalam bau asap rokok rambut Mas, makanya mutusin buat keramas." Jawab Dirga dengan santai.
Memang jawabannya masuk akal, jika seperti itu. Lantas Anisa pun memahami dan tersenyum pada Dirga.
"Ya sudah buruan, keburu waktunya habis." Anisa pun langsung menyuruh Dirga secepatnya sholat, karena tidak mau waktunya akan habis dan sia-sia.
Anisa menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap Dirga untuk sesaat. "Mas, lain kali jadilah imamku?" setelah mengatakan hal itu Anisa keluar dari kamar.
Sedangkan Dirga mematung, entah apa yang sekarang ada dipikirannya.
Jam yang berputar semakin cepat. Hingga tanpa terasa bahwa sekarang sudah menunjukkan angka tujuh. Beruntunglah semua sarapan siap disajikan dan sekarang tinggal memanggil suaminya.
Anisa yang sudah berada diambang pintu, mendengar sebuah percakapan antar telepon. Meminta Dirga datang. Anehnya belum sempat Anisa mendengarkan lebih lama, telepon sudah terputus.
"Siapa yang sedang dihubungi oleh Mas dirga?" di dalam benak Anisa bertanya-tanya, hingga suara tepukan membuatnya sadar seketika.
"An, sejak kapan kamu berdiri di sini?" ujar Dirga.
"Mas, baru saja."
"Tadinya aku mau manggil kamu, tapi karena aku takut ganggu jadinya milih nunggu di sini." Anisa lantas me jelaskan akan dirinya yang sedari tadi berdiri.
"Oh, teman Mas ada yang sakit. Lalu memintaku untuk melihatnya! Maklum teman Mas kan bujang lapu. Akhirnya Mas lah yang harus repot," ucap Dirga mengatakan soal yang ada di telepon barusan.
"Oh, ya sudah yuk turun." Anisa mengajak Dirga untuk segera turun karena takut jika suaminya akan kesiangan.
Makan malam telah usai, dan Dirga pun sudah pergi juga. Untuk saat ini hanya menyisakan dirinya yang ada di rumah sendirian.
Saat tengah asik menyirami bunga. Sebuah getaran ponsel membuat Anisa menghentikan aktivitasnya.
Sebuah pesan masuk dikirim oleh seseorang.
π"Datanglah ke alamat ini." Bunyi pesan yang dikirim barusan.
__ADS_1
π"Memangnya ada apa? Lalu kenapa aku harus ke sana?" Anisa membalas isi pesan tersebut.
π"Nanti juga kamu akan tahu. Lebih baik sekarang pergilah, dan jangan sampai melewatkan momen yang berharga." Anisa masih dibuat bingung oleh pesan tersebut. Namun, rasa penasarannya yang lumayan besar. Memutuskan untuk Anisa mengikuti ucapan seseorang tadi, dan segera pergi ke alamat yang tertera di pesan.