
"An, apa benar itu kamu?" Dirga mengucek kedua matanya, memastikan jika benar itu adalah Anisa, sosok wanita yang selalu dirindukan setiap hari.
"Iya Mas, ini aku." Jawab Anisa dengan senyuman yang mengembang.
"Aku kira kamu tidak akan datang," ujar Dirga.
"Maaf, baru sempat buat nengok kamu." Jawaban dari Anisa, hanya mendapat senyuman dari Dirga.
"Mas, sekarang kamu makan, ya." Saat Anisa sudah duduk, ia pun menawarkan makan untuk Dirga, karena Bu Marina bilang. Bahwa Dirga belum makan apa pun dari kemarin.
"Kamu makan ya, Mas, biar secepatnya pulih." Anisa menambahkan lagi, dengan telaten. Langsung mengambil mangkuk yang berisikan bubur.
Sedangkan Dirga tidak ada jawaban, tapi tidak juga menolak. Justru sekarang ini ia sudah siap menerima suapan dari Anisa.
Hanya demi permintaan mantan mertua, Anisa melakukan semua ini. Meski sedikit berat setidaknya ia bisa melakukannya karena ke depannya, sudah tidak bisa dilakukannya.
Tanpa terasa, bubur yang berada di dalam mangkuk telah tandas dan Anisa pun tersenyum, saat Anisa melihat Dirga mampu menghabiskan semangkuk bubur.
"Mas, minum obat ya. Biar aku ambilkan," kata Anisa yang langsung meraih obat di atas nakas.
"Terima kasih, An." Dirga berujar dengan tangan yang sudah memegang beberapa obat, dan setelah itu Dirga langsung meminumnya.
Selesai makan dan selesai minum, keadaan kembali canggung. Keduanya masih diam dan bergelut dengan pikirannya masing-masing, hingga Anisa yang harus membuka percakapan terlebih dulu.
"Mas, bagaimana keadaan Elsa, apa dia baik-baik saja?" tanya Anisa karena sudah beberapa hari. Anisa belum mengetahui soal keadaannya Elsa dengan bayinya, harapannya adalah jika si jabang bayi baik-baik saja.
"Jangan bicara soal wanita murahan itu!" seru Dirga yang langsung meradang, saat nama Elsa di sebut oleh Anisa.
"Kamu sudah menikahinya Mas, itu artinya dia juga masih tanggung jawab kamu!" ucap Anisa dengan menatap tidak suka karena begitu mudahnya, Dirga berbicara dan tidak ada rasa kasihan pada Elsa.
Dirga hanya diam, tidak berani untuk menjawab karena ia tahu bahwa ucapan Anisa, tidak bisa di tentang.
"An ...." Dirga kembali diam dan tidak melanjutkan ucapannya, antara ragu dan gengsi saat ingin mengutarakannya.
"Hem." Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Anisa.
__ADS_1
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Anisa lagi.
"Apa kamu sudah berubah pikiran dan ingin kembali padaku?" ucap Dirga yang masih mengharap cinta dari Anisa.
Anisa yang bingung, hanya bisa mengerutkan keningnya. Tidak tahu apa yang ingin disampaikan, kenapa justru menjadi rumit. Niat hati ingin membantu justru Dirga malah meminta lebih, sepertinya ini adalah sebuah kesalahan?
"Mas, kita sudah sepakat untuk bercerai. Jadi, jangan memintaku untuk kembali." Ucapan Anisa membuat Dirga bungkam.
Menurutnya, apa salahnya jika meminta untuk kembali menjadi keluarga lagi, lalu membenahi kain yang kusut.
"Apa kamu sudah benar-benar tidak mencintaiku, An?" tanya Dirga menatap dengan penuh harapan.
"Bohong Mas, jika aku tidak mencintai kamu. Nyatanya cinta yang aku beri telah kamu hancurkan," balas Anisa.
"Ya sudah, kalau begitu. Ini sudah sore aku mau pamit untuk pulang," ujar Anisa dan dengan segera menyambar tas yang ada di atas nakas.
"Hati-hati, An." Dirga berujar dengan wajah tertunduk.
"Tentu," jawab Anisa.
Setelah itu, Anisa benar-benar pergi dan meninggalkan Dirga, merasa jika semua sudah ia selesaikan.
"Nis, kamu sedang apa?" tanya lelaki tersebut.
"Aku kira siapa, habis melihat keadaan Mas Dirga dan ini mau pulang." Jawab Anisa dengan wajah datar.
"Kenapa dengannya? Kenapa bisa berada di rumah sakit?" ujar Samuel karena beberapa minggu lalu, ia masih bertemu dengan Dirga.
"Dua minggu lalu Mas Dirga kecelakaan. Dia harus di rawat di rumah sakit karena cukup parah luka yang di alaminya," ungkap Anisa kepada Dirga.
"Mudah-mudahan lekas sembuh," timpal Samuel.
"Oh ya, jika mau bisa aku antar untuk pulang ke panti. Itupun kalai kamu bersedia," tawar Samuel pada Anisa.
"Aku sedang menunggu angkot, jika kamu mau pulang silahkan." Anisa pun berbicara dengan sangat sopan.
__ADS_1
"Dasar keras kepala," batin Samuel karena merasa jika Anisa masih tidak peka padanya.
"An, tidak baik seorang wanita pulang sendiri. Sekarang masuklah biar aku antar," ucap Samuel.
"Belum juga jam enam, apa yang mau di takutkan!" celetuk Anisa karena memang sekarang masih jam setengah enam.
"Sudahlah, jangan membantah dan sekarang lebih baik kamu masuk. Kurang beberapa menit sudah masuk magrib," ucap Samuel dan Anisa pun menurutinya. Di karenakan ia ia tidak mau ketinggalan sholat, jadilah ikut dengan Samuel.
Lalu, Samuel keluar dan membukakan pintu untuk Anisa, hingga keduanya sudah berada di dalam dan Samuel dengan segera tancap gas.
"An!" panggil Samuel.
"Iya," sahut Anisa.
"Jika aku menyukaimu. Apa kamu mau menerimaku?" ujar Samuel.
"Kamu tahu Sam, masa iddah yang aku jalani masih panjang. Untuk saat inipun aku belum memikirkan soal cinta, cinta yang dulu pernah aku sanjung. Nyatanya sudah menghancurkan aku," jelas Anisa panjang lebar.
Bagi Anisa, untuk merajut cinta lagi. Rasanya masih enggan karena pernah gagal dalam suatu hubungan, membuatnya masih berpikir panjang.
"Apa kamu trauma?" tanya Samuel.
"Tidak, tapi aku ingin membenahi diriku dari kegagalan yang pernah aku alami." Jawab Anisa tersenyum tipis.
"Aku akan menunggu untuk itu, jika kamu memberiku satu kesempatan. Aku akan membuktikan kalau aku bisa mendapatkan cinta dari kamu," ucap Samuel penuh harap.
"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan bukan, semua itu hak kamu dan juga mereka. Aku hanya tidak mau pada akhirnya membuat kecewa kamu," sahut Anisa dengan cepat.
"Aku yakin, bahwa semua itu akan berhasil." Jawab Samuel penuh keyakinan, untuk menaklukkan hati Anisa dan apa pun itu. Ia tetap berusaha meski harus berjuang agar bisa bersama dengan Anisa.
Setelah itu, tidak ada percakapan di antara keduanya. Keadaan kembali hening dan suasana sedikit canggung karena Anisa tidak mengira bahwa, Samuel begitu semangat untuk mendapatkan tempat di hatinya.
Tidak terasa, sampai akhirnya mobil yang dikendarai oleh Samuel, sudah berada di depan panti dan Anisa pun langsung melepaskan seat belt untuk segera turun dari mobil.
Tidak lupa Anisa juga mengucapkan terima kasih pada Samuel, yang sudah berkenan untuk mengantarkannya pulang. "Terima kasih, Sam." Anisa berkata dengan seulas senyuman.
__ADS_1
Tidak lupa, Samuel pun membalas ucapan Anisa. "Sama-sama."
Setelah turun dan Anisa masih berdiri di depan gerbang panti. Menatap kepergian mobil Samuel hingga benar-benar tidak terlihat olehnya.