
"Sudahlah, lebih baik dia pergi. Daripada terus menjadi hantu," gumam Anisa karena baginya lebih baik seperti itu agar tidak ada yang mengganggunya.
Setelah itu Anisa masuk dan tidak lagi menguping soal Samuel yang akan pergi meninggalkan kota tersebut. Entah apa alasannya sehingga Samuel memilih pergi, karena memang semalam sempat bertengkar hebat dengan Anisa.
Beberapa bulan kemudian.
Dari semenjak Samuel pergi, ada perasaan kehilangan yang terus menyiksa hati Anisa, ia tidak tahu soal hubungannya dengan Samuel di masa lalu, tapi perasaan itu tidak bisa dicegah meski mulutnya menolak, tidak dengan hatinya.
Untuk sejenak Anisa tidak akan memikirkan lelaki yang ia benci, karena hari ini adalah pertemuannya dengan Ferdy, Sayangnya ia belum mengatakan apa-apa pada Yuda, yang mana sosok tersebut akan datang untuk meminta restu dari sang Kakak akan rencana Ferdy yang ingin membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius.
Anisa yang sedari pagi tadi sudah gelisah, hingga Yuda curiga lalu memilih untuk bertanya apa yang sedang terjadi. "An, kamu kenapa? Kakak lihat dari pagi kok gelisah, sekarang coba beritahu kakak."
Untuk sesaat Anisa menetralkan degup jantungnya karena harapannya, bahwa Yuda akan menerima Ferdy disaat nanti datang. "Kak, ada yang mau aku omongin?"
Yuda menatap lekat ke arah sang adik. Ia yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi hingga membuat Anisa cemas, tapi Yuda juga masih belum tahu soal apa. "Soal apa? Sepertinya sedikit serius," ujar Yuda.
"Iya Kak, ini soal … soal lelaki yang mau meminangku–,"
Uhuk.
Uhuk.
Seketika kopi yang sudah masuk ke dalam rongga tenggorokannya, kini menyembur ke mana-mana karena begitu terkejut dengan penjelasan dari Anisa.
"Apa kamu gila!" bentak Yuda yang terlihat aura kemarahan dan begitu tercetak jelas karena sebuah pernyataan yang membuatnya begitu murka.
"Kak, kenapa justru Kakak membentukku. Harusnya Kakak bahagia karena ada lelaki yang akan menjadikan aku istri!" Anisa balik memarahi Yuda karena merasa tidak terima, ketika sebuah ucapan yang tidak bisa diterima oleh sang Kakak.
"An, bukan maksud kakak membentak kamu, tapi … ada hal yang tak bisa aku berikan saat kamu meminta restu–,"
Dengan cepat Anisa langsung menyela ucapan Yuda karena merasa baginya tidak adil. "Baik, aku cukup tahu jika Kakak memang tidak mau jika aku menikah, kan?"
"Bawa ke sini orang itu, segera suruh secepatnya menghadap padaku!" perintah Yuda, karena semua ini harus segera diakhiri. Ia tidak mungkin membiarkan Anisa menikah dengan orang lain, sedangkan statusnya masih menjadi istri Samuel walau tidak ada kata perpisahan yang terjadi. Semua itu memang murni karena kecelakaan yang terjadi pada Anisa, hingga lupa siapa dirinya dan siapa orang-yang pernah dekat dengannya, Anisa tidak bisa mengenalinya sampai detik ini.
__ADS_1
"Apa itu artinya Kakak setuju dan memberikan kami restu?" dengan perasaan bahagia karena Yuda telah memberikan restu kepadanya.
"Bawa ke sini dulu. Kakak ada urusan dan sekarang sudah waktunya pergi," kata Yuda dengan suara datarnya.
Sejenak Anisa terdiam, bahwa ia tahu jika Yuda tidak benar-benar memberi restu pada dirinya dan juga Ferdy.
"Kenapa dengan Kakak, aku merasa jika Kakak tidak bersungguh-sungguh untuk hal ini." Anisa masih meragukan ucapan dari Yuda, karena dari wajah sudah terlihat sangat tidak bersahabat.
Sedangkan di lain tempat.
"Apa benar jika Anisa akan menikah dengan Ferdy?" ternyata bukan hanya Yuda, tetapi Arum juga tahu dengan masalah di mana Anisa ingin menikah dengan Ferdy.
"Iya." Hanya itu yang terdengar dari bibir Yuda.
"Lalu, apa rencana kamu? Kalau sampai hal itu terjadi, lantas bagaimana dengan Samuel?" sebuah perkataan yang membuat Yuda semakin pusing memikirkan hal tersebut.
"Itulah yang ingin aku bahas. Jika Samuel tahu, aku tidak tahu apa yang terjadi nantinya. Jalan satu-satunya adalah menemui Ferdy," ucap Yuda, karena selain cara itu tidak ada lagi.
"Sepertinya memang begitu, terus kapan rencana kamu untuk menemuinya?" tanya Arum.
"Ya sudah, sekarang saja agar semuanya segera terselesaikan."
Pada akhirnya Yuda dan Arum memilih untuk menemui Ferdy di bengkelnya, dengan begitu semuanya bisa dicegah sebelum terlambat.
Setengah jam telah berlalu dan keduanya sudah sampai di depan bengkel Ferdy, dengan perlahan Yuda pun turun dan temani oleh Arum.
"Siang, maaf mau tanya. Ferdy–nya ada?" Yuda langsung menghampiri para karyawan dan bertanya ke salah satu pekerja Ferdy.
"Mas ini siapanya, ya?" tanya karyawan tersebut.
"Kita temannya, kami berdua datang karena memang ada yang ingin dibahas bersama dengan bos kalian." Jawab Yuda sopan.
"Ada Mas, masuk saja nanti di dalam ada orang kok. Untuk menunjukkan ruangan bos," kata karyawan itu lagi.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu kita masuk ya, Mas."
Setelah bertanya-tanya dengan pegawai Ferdy, lalu Yuda pun diarahkan untuk masuk dan jadilah mereka berdua berjalan untuk ke dalam bengkel untuk menemui Yuda.
Tepat, pada saat Ferdy ingin pergi. Terlihat jika sosok itu adalah Yuda, untuk memastikan jadilah dirinya menghampirinya.
Benar, bahwa matanya tidak kabur dan yang dilihat memang Yuda, Kakak dari kekasihnya.
"Bang, tumben ke sini? Ada perlu apa kok kayaknya serius gitu?" tanya Ferdy basa-basi.
"Ada hal yang ingin bahas dengan kamu, apa ada waktu untuk itu?" tanya Yuda dengan menaikkan kedua alisnya.
Ferdy pun tersenyum dan benar, jika tidak ada masalah. Mana mungkin seorang Yuda datang menemuinya. "Soal apa? Baiknya kita bicara di ruanganku saja. Agar terlihat nyaman saat kita mengobrol bukan, lagian rasanya tidak pantas jika Bang Yuda datang ke sini dengan posisi seperti ini." Tidak ada ekspresi yang diperlihatkan oleh Yuda, hanya wajah dingin dan datarnya yang disuguhkan pada Ferdy.
Sesampainya di ruangan, Ferdy pun menyuruh Arum dan Yuda untuk duduk. Tidak lupa mengambil minuman dingin yang tersimpan di kulkas mini yang ia letakkan di ruangannya.
"Sekarang katakan, ada apa dengan Bang Yuda ingin menemui saya. Anisa baik-baik saja kan dan tidak terjadi apa-apa dengannya," oceh Ferdy dengan rasa tidak sabar.
"Apa benar kamu mencintai adikku?" sebuah kalimat membuat Ferdy tertegun sebelum berakhir dengan sebuah tawa.
Terdengar sangat lucu hingga membuat Ferdy tertawa, menurutnya itu adalah pertanyaan konyol. Hanya karena ingin memastikan sampai membuat Yuda menanyakan hal seperti itu.
"Jawab saja. Iya atau tidak dan saya butuh jawaban itu," ujar Yuda lagi.
Setelah itu Ferdy kembali dengan wajah yang serius, karena tampang Yuda sudah membuatnya takut.
"Iya, saya memang menyukai Anisa dari semenjak bertemu. Di situ juga di sini sudah mulai tumbuh rasa ingin memiliki hingga, Anisa mau dan menerima cinta saya."
Bugh!
Tanpa diminta, sebuah bogeman mentah melayang ke arah pipi Ferdy, mungkin saking kerasnya hingga bibir lelaki tersebut mengeluarkan darah.
"Yud, jangan pakai kekerasan!" cegah Arum yang mana Yuda sudah terlanjur melakukannya.
__ADS_1
"Kenapa Abang menampar saya? Di mana letak kesalahan akan kata-kata yang baru saja saya katakan?" dengan menahan rasa panas akibat tamparan dan rasa perih, akan rasa sakit di bibir. Membuat Ferdy mempertanyakannya.
"Itu karena kamu pantas mendapatkannya dan ingat satu hal, bahwa saya tidak akan pernah setuju kalian menikah!" tekan Yuda memberi peringatan pada Ferdy.