Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
100. Ketika Cinta ingin mencari jalan pulang


__ADS_3

"Pak!" El memanggil pak Bagong karena kalimatnya di jeda, hingga membuatnya penasaran untuk mendengar apa yang ingin disampaikan oleh lelaki dengan usia sudah di atas 40 tahun itu.


"Apa saya tega untuk mengatakan semua ini pada El." Di dalam hatinya pak Bagong begitu resah karena sebuah permintaan dari putrinya. Ia takut, takut jika El akan menolaknya dan mengira jika semua ini ada sangkut pautnya soal dirinya yang pernah di tolong beberapa bulan lalu.


"El, maaf karena bapak belum cukup uang untuk biaya kamu pulang. Bapak akan berusaha mengumpulkan upah yang akan bapak terima sampai banyak agar kamu bisa pulang," ucap pak Bagong mencoba mencari arah pembicaraan lain, karena sungguh tidak tega jika harus mengatakan hal tersebut pada El, meski begitu nanti akan diutarakan jika hatinya sudah siap.


"Tidak Pak, saya yang meminta maaf karena telah banyak merepotkan dan sampai harus memberi saya makan. Tetapi, justru bukan balasan yang Bapak dapatkan karena sebuah keadaan yang membuat saya tidak bisa bergerak.


Beberapa bulan lalu, El ditemukan terdampar dipinggir laut yang mana ada banyak nelayan yang bergantung dengan cara mencari ikan. Contohnya pak Bagong karena ketika sepi maka jalan satu-satunya ialah berlayar bersama teman-temannya. Hingga sosok El dengan keadaan kaki tertindih oleh batang pohon dan tidak sadarkan diri mereka beramai-ramai datang untuk membawa pergi El dari laut.


Butuh waktu jangka panjang untuk mengobati luka dalam yang dialami oleh El, hingga tanpa terasa jika dirinya kini berada di desa dengan mayoritas penduduknya bertani dan nelayan.


"Tidak El, semua ini memang sudah sewajibnya dan sesama umat saling tolong menolong." Pak Bagong tersenyum pada El, tidak dipungkiri bahwa lelaki bertubuh tegap alis tebal hidung bangir itu, semua itu adalah impian para wanita karena El adalah sosok lelaki yang sempurna.


"Saya akan membalas kebaikan Bapak jika saya sudah menjadi orang yang mampu." El tidak mengatakan identitas siapa dirinya karena rasanya tidak mungkin akan membuat orang percaya. Di tambah semua barang yang ia punya telah lebur tanpa sisa dan beruntungnya, Tuhan masih mengasihani dengan membiarkan dirinya tetap hidup.


"Bapak tidak butuh itu El, andai ada orang kaya dan baik hati. Ingin sekali akses jalan dibuat layak, jembatan gantung terbuat dari bahan cor. Sayangnya semua itu tinggal angan-angan karena sampai detik ini. Tidak ada perubahan sama sekali di desa yang sekarang kamu tinggali," ucap pak Bagong mengungkapkan sebuah impian yang belum menjadi nyata.


Setelah berbicara panjang lebar, keadaan sedikit hening. Mungkin memang pak Bagong harus mengatakan keinginan Lastri, di mana anak perempuannya sudah jatuh hati pada lelaki yang nyaris sempurna itu.


"El, apa boleh bapak mengatakan sesuatu?" El menoleh dan berpikir bukankah lelaki setengah baya itu sudah banyak bicara? Lantas apa yang ingin dikatakannya olehnya lagi.


"Silahkan." El pun merespons dengan baik ketika pak Bagong ingin mengutarakan sesuatu, entah apa yang membuatnya terus berbelit dan tidak langsung untuk mengatakannya.


"Apa kamu ada seseorang yang kamu cintai di desa ini, El?" dengan ragu-ragu pak Bagong bertanya, meski tidak tahu jawaban seperti apa yang nantinya akan diterimanya.


"Tidak ada Pak, memangnya kenapa?" dengan enteng El menjawab karena memang tidak ada satupun wanita, yang ia sukai meski sering berjumpa dengan gadis-gadis yang berada di desa tersebut.


"Syukurlah," ucap pak Bagong dengan mengelus dadanya. Yang mana semakin membuat El dibuat bertanya-tanya.


"Tidak ada El, hanya perasaan lega karena kamu memang sedang tidak jatuh cinta pada gadis di kampung ini."


Bagi El itu sangat mustahil karena ada hati yang selalu ia jaga. Meski untuk sekarang keadaan membuatnya terpisah jauh.


"Apakah kamu mau menikahi Lastri?"

__ADS_1


Uhuk.


Uhuk.


Seketika El tersedak salivanya sendiri, karena begitu sangat terkejut ketika sebuah kalimat membuatnya melotot sempurna.


"El, kamu tidak apa-apa, kan?" dengan perasaan campur aduk, pak Bagong dengan terpaksa mengatakan semua ini. Agar masalah percintaan sang anak segera berakhir dengan lelaki yang sudah diberi kepercayaan untuk menjaga dan diberi sebuah tanggung jawab jika El menjadi dari bagiannya.


“Tidak apa-apa Pak, ini sudah wajar terjadi karena tidak sengaja,” timpal El.


“Begini El, saya berniat untuk menikahkan kamu dengan Lastri, karena anak bapak sudah jatuh hati dengan kamu. Semenjak awal keberadaanmu di rumah ini,” ujar pak Bagong menjelaskan apa yang sudah dikatakan oleh Lastri kepadanya.


“Pak, apa Bapak percaya jika saya sudah mempunyai wanita lain, tapi bukan berasal dari desa ini,” ujar El yang sudah waktunya jujur untuk mengatakan jika dirinya sudah memiliki seseorang dan tidak mau membuat keadaan menjadi salah paham.


“El, bukankah kamu bilang jika tidak punya wanita lain, lantas sekarang apa!” seru pak Bagong yang merasa tertipu dengan pernyataan yang sudah diberikan oleh El.


“Pak, jauh sebelum saya berada di tempat ini. Saya sudah mempunyai hubungan khusus dengan seorang wanita dan ialah istri saya,” ucap El membeberkan akan siapa dirinya agar tidak terjadi salah paham.


“Jika kamu memang sudah menikah, lantas mana buktinya? Cincin pun kamu tidak memakainya!” dengus pak Bagong merasa dibodohi oleh El.


“Nyatanya tidak ada bukti yang kamu berikan kepada saya El, itu berarti kamu sedang berbohong dan menolak permintaan saya.” Dengan wajah penuh kekecewaan, pak Bagong berujar


“Pak, saya tidak berbohong dan berani bersumpah jika saya sudah menikah sejak dua tahun lalu.” Entah cara apalagi yang akan digunakan oleh El untuk menyakinkan pak Bagong, bahwa dirinya sudah mempunyai keluarga yang memang kini telah berpisah jauh, karena sebuah kecelakaan.


“Bapak tidak memaksa kamu, hanya saja saya sedikit kecewa karena kamu tidak jujur.” Setelah berbicara, lantas pak Bagong berdiri dan pergi meninggalkan El, yang kini sedang merasa bersalah. Niat hati ingin jujur nyatanya semua itu dianggap pembohong karena tidak ada bukti yang ditunjukkan.


“Ya Allah, sekarang aku harus berbuat apa dengan keadaan seperti ini. Andai aku tidak punya keluarga mungkin saja aku masih bisa mempertimbangkan, sebagai bentuk balas budiku.” Di sela-sela hatinya yang dilema, El mencoba berbagi keluh kesah dengan Sang Pencipta.


Tanpa disadari bahwa Lastri telah mendengar semuanya yang dikatakan oleh El, begitu juga dengan kalimat terakhirnya di mana masih ada kesempatan untuk wanita itu meratui hati El kedepannya.


Di lain tempat dengan jarak yang jauh.


Anisa sedang menimang anaknya dengan diiringi nyanyian lirih, terlihat juga jika bu Susi datang dengan membawa makanan serta minuman untuk menantunya yang kini, tengah berdiri sejak tadi. Entah kenapa dari pagi Akbar rewel dan terus menangis, anehnya tidak demam atau ada sesuatu yang terjadi pada bayi mungil itu.


“An, biar mama gantikan ya. Kamu makanlah agar Asi mu bisa melimpah,” kata bu Susi yang kini ingin mengambil alih Akbar, agar Anisa bisa makan dan juga minum.

__ADS_1


“Iya Ma, aku tidak tahu dengan Akbar karena biasanya tidak seperti ini.” Sedikit khawatir dengan keadaan Akbar karena dari semenjak pagi, ini yang pertama rewelnya Akbar.


“Jangan cemas, bayi sudah biasa mengalami seperti ini dan ingat … kamu jangan pernah memikirkan sesuatu yang tidak penting karena bisa saja, rewelnya Akbar karena kamu banyak pikiran.” Mendengar ucapan dari bu Susi, membuat Anisa seketika tertunduk karena memang benar. Saat ini Anisa tengah memikirkan sesuatu yang tiba-tiba saja sosok suaminya hadir di dalam pikirannya.


“Apa aku salah jika memikirkan Mas Sam Ma? Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan itu hadir memenuhi isi kepalaku,” ujar Anisa yang memilih jujur ketika bayangan Samuel tengah mengganggunya.


“An, itu hanya perasaan rindu yang kamu simpan, tapi tidak tersampaikan. Mama yakin jika Samuel sudah tenang di surganya Allah. Kamu jangan memikirkan hal-hal yang sudah menjadi masa lalu berupa kenangan, tapi ingat namanya ketika kamu berdoa di setiap selesai sujud.”


Anisa terdiam, ketika bu Susi memberi nasehat kepadanya dan ketika ingin memakan sesuap nasi yang sudah disiapkan oleh bu Susi, tiba-tiba suara bel memenuhi ruangan.


“Siapa ya Ma, kalaupun kakak dan Arum ingin ke sini. Pastilah akan memberi kabar terlebih dahulu,” kata Anisa yang kini sudah berdiri untuk melihat tamu di depan.


“Coba deh kamu lihat,” titah bu Susi.


Sesampainya di depan Anisa mengerutkan keningnya ketika mendapati seorang pemuda dengan ransel yang berada di tangannya, hingga terpaksa memanggil bu Susi.


“Ma—.”


“Ini lihatlah, apa benar.” Lelaki itu pun dengan tutur sopannya memberikan kertas pada Anisa dan ia pun, membaca secara seksama untuk memastikan jika pria tersebut tidak ada niatan jahat.


“Alamat rumah ini benar dan maaf, Anda siapa ya?”


Belum sempat lelaki itu menjawab, sebuah pemandangan yang membuatnya semakin bingung, karena terlihat ada sosok yang begitu sangat ia kenal, yakni Yuda.


“An, sebaiknya kita masuk. Agar bisa leluasa untuk mengobrol!” ajak Yuda tanpa didampingi oleh Arumi.


“Kak, setidaknya beri aku penjelasan sedikit, dia siapa?” ucap Anisa yang mana masih mempertanyakan pemuda dengan tampilan aneh dan juga terlihat, wajah lelahnya semakin menghiasi.


“Nanti kita bahas.”


Dengan terpaksa, Anisa mengajak Yuda dan lelaki asing itu masuk. Siapa sangka pada saat pemuda itu masuk, netranya terus mengelilingi seisi ruangan, dengan sesekali mengerutkan keningnya.


“Berarti benar apa yang dikatakan olehnya bahwa dia sudah punya keluarga,” gumamnya dalam hati dengan sesekali menetap satu demi satu bingkai foto Samuel.


“Kak, sekarang jelaskan. Siapa pemuda ini!” desak Anisa pada Yuda karena tercium gelagat aneh dari pemuda tersebut.

__ADS_1


__ADS_2