
Keesokan paginya.
Anisa yang merasa tak perlu lagi memasak karena Dirga tidak akan pulang menurutnya, jadi sekarang lebih memilih santai dengan tanamannya di belakang rumah, dan tidak juga berharap jika suaminya akan pulang. Teringat akan kata-katanya semalam, membuat Anisa membuang jau harapannya.
Pada saat tengah asik menyirami bunga, terdengar sebuah suara hentakan sepatu yang membuat Anisa mengernyitkan dahi.
Bukankah suaminya bilang akan menemani istri mudanya itu, dan Anisa pikir jika tidak mungkin jika Dirga akan pulang, selebihnya ia sangat menjaga kandungan Elsa.
Semakin dirasakan semakin dengan suara tersebut. Hingga sebuah suara membuatnya langsung menoleh.
"An, kenapa di meja tidak ada sarapan?" sumber suara tepat ada di belakangnya, sehingga ia tahu jika itu adalah suaminya.
"Memangnya siapa tahu kalau kamu akan pulang, Mas. Bukannya semalam kamu juga bilang akan menemani Elsa!" kata Anisa dengan kerutan yang semakin terlihat karena heran dengan kedatangan suaminya. Yang tiba-tiba menanyakan makanan.
"Elsa, badannya lemas. Makanya Mas kemari untuk sarapan sebelum berangkat kerja," ujar Dirga memberitahu karena memang di rumah istri mudanya. Dirga belum sempat sarapan karena sebuah alasan yang diberi oleh Elsa.
"Sebentar aku akan membuatkan kamu sarapan." Dirga pun mengangguk dan itulah yang membuat lelaki itu tidak mau sampai menceraikan Anisa, karena semarah apapun wanita yang sudah dinikahinya pasti akan tetap mengurus keperluannya , meski akan berujung diam.
Sedangkan di dapur. Anisa dengan cekatan membuatkan sarapan untuk Dirga, berupa tumis tauge dan dan tahu. Sedangkan lauknya hanya telur. Namun, Dirga rupanya tidak sabar untuk segera makan.
"An, apa sudah?" Dirga bertanya sambil langkahnya menuju ke arah meja makan.
"Sudah, dan segeralah sarapan." Jawab Anisa datar.
"Oh ya, An. Mas boleh bawa lauk karena Elsa tubuhnya lemah jadi biar dia juga bisa menikmati masakan kamu yang membuat Mas nagih," ucap Dirga meminta separuh masakan dari Anisa untuk di bawah pulang, karena semenjak menikah dengan Elsa. Dirga jarang makan di rumah dengan alasan lelah, dan sebelum itu juga Dirga masih terus menikmati masakan Anisa.
Sedangkan Anisa menatap tidak percaya pada suaminya. Bisa-bisanya masih bisa memikirkan madunya. Lalu tanpa punya perasaan sedikitpun akan dirinya, dan berpikir jika semua itu menyakiti hati Anisa atau tidak. Dirga berucap seakan-akan semuanya akan baik-baik saja. "Bawalah, sisakan sedikit untuk aku." Jawaban Anisa membuat Dirga berbinar.
Saat Dirga makan, Anisa pergi meninggalkannya karena tidak mau menatap lelaki yang sudah asing baginya, asing dengan sikapnya, asing dengan segalanya.
__ADS_1
Setelah selesai makan. Dirga pamit dengan membawa kotak makan, tidak ada ciuman di kening yang setiap dilakukan oleh Dirga.
Dirga semakin jauh dari pandanganya dan Anisa hanya menatap dengan mata sendu. "Ini kah yang kamu bilang adil Mas, apa ini yang kamu berian di hari-hari selanjutnya." Anisa hanya bisa membatin tidak ingin menangisi sosok lelaki yang sudah merajai hatinya selama lima tahun ini.
Ponsel Anisa bergetar, buru-buru ia melihat dan segera pergi dari ambang pintu. "Arum!" batin Anisa.
"Tumben ini anak ngajak ketemu di cafe?" batin Anisa bertanya-tanya.
Setelah mengiyakan Anisa langsung bersih-bersih, dan segera bersiap untuk menemui Arumi.
Pukul 9:30, sesampainya Anisa di cafe. Ternyata Arum sudah berada di sana terlebih dulu.
"Rum, maaf aku terlambat." Ucapan Anisa hanya di respon dengan sebuah senyuman oleh sahabatnya.
"Duduklah, kita nikmati kebersamaan hari ini." Arum tersenyum pada Anisa seakan ia tahu bahwa sahabatnya sedang membutuhkan sosok teman untuk menghilangkan semua beban pikiran, yang sudah terjadi kepadanya.
"An, apa baik-baik saja?" tanya Rumi, pada Anisa dengan tatapan yang begitu dalam.
"Kenapa tidak pergi saja, usiamu masih cukup muda. Masih ada bahagia yang akan menantimu An, ingat lelaki yang sudah berbohong maka akan seterusnya seperti itu." Bukan niat Arumi untuk membuat Anisa menyerah. Hanya saja ia tak bisa lagi melihat sahabatnya yang terus bersama dengan lelaki macam Dirga, lelaki yang tak pernah jujur, lelaki yang hanya menang sendiri dan mementingkan perasaannya. Tanpa peduli akan Anisa yang terus setia meski telah di torehkan luka.
"Aku berharap jika Mas Dirga akan memperbaiki kesalahannya Rum, bukannya setiap orang punya salah. Termasuk aku dan kamu juga," kata Anisa, karena ia pikir dengan mencoba bertahan siapa tahu suaminya akan berubah dan adil. Mungkin saat ini Elsa sedang hamil makanya perhatiannya ditujukan kepadanya terus.
"Aku hanya memberitahu karena aku tidak mau. Kalau kamu semakin kecewa dengan cara mempertahannya," cetus Arumi pada Anisa.
"Kalau kamu lelah, pergilah di masa depan masih ada banyak orang yang menyayangi kamu!" ujar Rumi dan Anisa yang mendengar hanya tersenyum.
Percakapan sejenak terhenti karena pesanan baru saja datang.
Di tempat yang sama, tapi beda meja. Seseorang tengah menatap Anisa dengan mata yang tidak berkedip.
__ADS_1
Tempat favorit dari lelaki tersebut. Tak heran jika kerap datang walau sekedar menikmati kopi.
"An, aku ke kamar mandi sebentar ya, kamu jangan ke mana-mana." Anisa mengangguk dan kembali menikmati Cappucino yang ia pesan barusan.
Di ujung sana, tepat kepergian Rumi. Sosok lelaki yang terus memandanginya akhirnya berdiri. Berniat untuk menghampiri Anisa yang tengah duduk sendiri.
"An!" sapa lelaki tersebut.
"Samuel! Sejak kapan kamu ada di sini?" Anisa bertanya dengan wajah yang bingung.
"Sudah lumayan dari 20 menitan, sedang menunggu seseorang, tapi sampai hampir jam 10 orangnya juga belum muncul." Samuel pun menjelaskan kenapa dirinya bisa berada di cafe yang sama dengan Anisa.
"Oh, kamu sendiri atau sama asisten kamu itu?" Anisa teringat lantas langsung bertanya karena sosok yang selalu bersama dengan Samuel, sudah seperti perangko yang tak bisa dilepas dengan mudah.
"Sendiri, Yuda akan menyusul nanti siang." Jawab lelaki tersebut.
Keduanya akhirnya sama-sama diam, dan larut dalam pikiran masing-masing. Ini adalah pertemuan keempat bagi keduanya. Entah sepertinya Tuhan sedang ingin mengajaknya bermain, karena semakin bertemu. Rasa tak nyaman mulai menyinggahi hatinya.
Tidak jauh juga dari tempat Anisa. Sosok wanita dengan tatapan benci, tengah berjalan menghampiri Anisa.
Plaaak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Anisa.
"Kenapa anda datang main tampar orang!" seru Samuel yang tidak terima jika wanitanya mendapat kekerasan dari seseorang.
"Diam kamu! Karena dia pantas mendapatkannya," geram wanita itu.
"Bagus ya kamu, suami kerja kamu enak-enakan selingkuh di sini." Ucapan dari wanita yang tegah menuduhnya selingkuh. Membuat Anisa meradang, tapi sebisa mungkin ia akan menahan.
__ADS_1
"Siapa yang selingkuh sepertinya ...,"
"Jangan banyak alasan, karena sudah terbongkar kedok kamu yang sesungguhnya."