
"Apa alasannya, kenapa saya tidak dapat menikahi Anisa?" masih terasa ngilu, meski begitu Ferdy tidak mengeluh karena kenyataannya yang lebih menyakitkan adalah, ketika dirinya sama sekali tidak mendapat restu untuk dapat menikahi Anisa, wanita yang sudah lama ia sukai.
"Itu karena Anisa masih ada hubungannya dengan Samuel,"kata Arumi yang ikut menjawab pertanyaan Ferdy.
"Apa maksudnya? Bukankah di antara Anisa dan Samuel tidak ada hubungan apa pun? Tolong beri saya alasan yang tepat, agar di sini bisa mendapatkan titik penjelasan karena sungguh saya tidak mengerti dengan ini semua.
Dengan dua bola matanya yang terus menatap Ferdy, Yuda berusaha untuk tidak terpancing oleh amarah. "Anisa dan Samuel adalah pasangan suami istri dan itu sebabnya, saya tidak akan memberi restu pada kalian."
"Anisa lupa ingatan setahun lalu pernah kecelakaan, hingga kehilangan masa lalunya." Arum lagi-lagi harus ikut serta untuk menjelaskan pada Ferdy tentang keadaan sahabatnya.
"Apa!" terkejut, itu sudah pasti dan bagi Ferdy, untuk saat ini sungguh sulit mempercayainya karena Anisa berkata bahwa tidak ada hubungan dengan lelaki manapun. Termasuk Samuel yang terus berusaha mendekati Anisa dan bagi Ferdy hal itu wajar. Akan tetapi, sebuah rahasia telah terbongkar hari ini juga.
"Tidak, saya sama sekali tidak percaya dengan yang kamu katakan." Ferdy mencoba menepis keraguan di dalam hatinya dan tidak menerima sebuah pengakuan juga, yang datang dari Arumi.
"Apa ini tidak cukup bukti."
Seketika mata Ferdy terbelalak, karena menemui kenyataan bahwa di depan matanya ada sebuah bukti, yang cukup membuat tidak mampu berkata-kata.
"Jadi, benar … kalau Samuel adalah suami dari Anisa?" dengan suara gugup, Ferdy mencoba untuk memastikan lagi. Bahwa apa yang ia lihat bisa jadi hanya sebuah editan karena di era serba digital semua itu tidaklah sulit dilakukan.
"Teliti dan lihat benar-benar. Apakah itu asli atau tidak," ujar Yuda memberi penekanan dengan suara datarnya.
"Sepertinya ini asli dan bukan editan, tapi aku sudah terlanjur mencintai Anisa lalu, mana mungkin aku meninggalkannya begitu saja." Di dalam hati Ferdy merasakan dilema, karena sebuah cinta yang terhalang oleh keadaan. Meski begitu ia tidak peduli karena baginya cinta harus diperjuangkan.
"Jadi, saya mohon jauhi Anisa dan bilang bahwa kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikah dengan adikku, saya harap juga kalau hubungan ini secepatnya kamu akhiri." Setelah mengatakan dan memohon pada Ferdy untuk memutuskan hubungannya dengan Anisa, Yuda pun beranjak dari ruangan Ferdy dan segera pergi dari bengkel tersebut, karena merasa jika sudah cukup lega karena sudah membuka rahasia sang adik.
Setelah Yuda dan juga Arum pamit, kini Ferdy dibuat tak karuan akibat ucapan yang baru saja ia dengar. Mungkinkah Ferdy akan mundur atau terus maju untuk memperjuangkan cintanya pada Anisa? Yang jelas-jelas sudah ada bukti bahwa wanita yang dicintainya sudah berpunya.
Saat Ferdy tengah bergelut dengan pikirannya. Sebuah dering ponsel membuatnya membuyarkan lamunannya. "Siapa yang menghubungiku?" Ferdy bergumam seraya meraih ponsel yang ada di meja dan dengan segera mengangkat.
📲"Halo, ini siapa?" tanya Ferdy saat itu juga.
📲"Maaf, ini dari pihak rumah sakit. Cuma memastikan bahwa Bapak anda sedang dirawat di rumah sakit ini," suara itu pun menimpali dan ia yakin bahwa sosok yang menghubunginya adalah dokter.
__ADS_1
📲"Ada apa dengan Ayah saya, kenapa bisa sampai dirawat di rumah sakit?" dengan perasaan takut jika terjadi sesuatu pada orang tua tunggal Ferdy, lantas lelaki itu masih berusaha untuk tenang walau dirinya begitu sangat khawatir.
📲"Menurut keterangan jika Bapak anda tengah pingsan di jalan. Untuk selanjutnya bisa datang ke rumah sakit Harapan Indah," ujar suara dibalik telepon tersebut.
📲"Baik, saya akan segera kesana." Setelah itu, ponsel dimatikan dan Ferdy pun langsung bergegas untuk ke rumah yang sudah diberitahu.
Beberapa saat kemudian.
"Yah, Ayah kenapa bisa pingsan?" tanya Ferdy ketika melihat Pak Pram sudah siuman dengan keadaan lemas.
"Mungkin darah rendah ayah kambuh, makanya tadi pas di jalan bisa pingsan." Jawab pak Pram dengan suara lemah seperti orang tidak mempunyai tenaga.
"Lagian kenapa Ayah tidak menyuruh orang saja sih jika ingin sesuatu. Kalau begini Ayah jadi diinfus, kan." Hanya senyuman yang diberikan oleh ayahnya, tidak ada kata lain selain hanya sebuah tawa kecil yang diberikan oleh orang tua tersebut.
"Ayah sudah tua, jadi kalau sakit itu pasti. Kelak kamu juga akan merasakannya," ucap pak Pram.
"Jika dijaga maka masih bisa dicegah." Jawab Ferdy langsung menyela perkataan ayahnya, karena merasa bosan setiap kali sang anak mengingatkan maka jawaban seperti itulah yang selalu diucapkan oleh ayahnya.
"Segeralah menikah dan bawa calon kamu ke sini. Agar ayah bisa melihat dengan nyata jika benar kamu mempunyai seorang kekasih," lirih pak Pram dan hal itu membuat Ferdy semakin dilema, karena lagi-lagi sebuah permintaan dari ayahnya.
"Ayah menunggu momen itu Fer, dengan begitu ayah akan merasa tenang saat ada seorang istri yang telah mengambil alih pekerjaan ayah saat ini dan nanti."
Yah, memang selama ini. Pak Pram lah yang selalu menyiapkan segala sesuatunya disaat Ferdy, ingin berangkat kerja sampai makan pun beliaulah yang melakukannya. Jika ditanya kenapa tidak mengambil seorang pembantu? Jawabannya karena Pak Pram menolak dan tugas itu lebih baik dilakukan sendiri.
"Kenapa Ayah membuatku takut," ucap Ferdy.
"Maka segera bawa kemari calon kamu." Wajah pucat pak Pram semakin membuat Ferdy sedih karena tadi ia hanya mendengar jika ayahnya hanya kurang darah sampai membuat vertigonya kambuh, tapi mengapa setiap kata yang diucap membuat Ferdy seperti akan kehilangan sosok seseorang yang selama ini berperan sebagai Ayah sekaligus Ibu untuknya.
"Apa aku harus menemui Bang Yuda, ya sepertinya harus, karena tidak ada cara lain lagi." Ferdy bergumam seraya langkahnya meninggalkan ayahnya yang tengah tertidur dengan wajah damainya.
Dengan secepat mungkin, tidak terasa jika Ferdy kini sudah sampai kediaman rumah mewah milik Yuda, dengan keadaan terdesak ia pun langsung mendekati gerbang.
"Iya Mas, mau cari siapa ya?" tanya penjaga pada Ferdy yang kebetulan melihat gerak-gerik lelaki sedikit asing.
__ADS_1
"Bapak baru ya, makanya tidak mengenal saya!" ucap Ferdy karena memang selama ini terlihat tidak ada penjaga dan hari ini, rumah mewah tersebut dijaga oleh petugas keamanan.
"Tidak Mas, karena di sini baru tiga hari." Jawabnya pada Ferdy.
"Oh, pantas saja. Saya mau cari Yuda apakah ada di rumah?" tanya Ferdy sopan.
"Ada Mas, sebentar." Jawab penjaga itu dengan ramah.
Tidak berapa lama kemudian, Yuda bersama penjaga itu pun keluar untuk menemui Ferdy yang sudah menunggu di depan rumah.
"Mau apa kamu datang kemari?" dengan sinis Yuda bertanya.
"Bang, tolong bantu saya. tolong untuk kali ini saja karena cuma Abang yang bisa," ucap Ferdi dengan wajah memelas.
"Aku bukan Tuhan, kenapa kamu meminta bantuanku. Lagipula kamu juga orang kaya, mengapa harus susah payah datang kemari."
"Bang, saya tahu Abang bukan Tuhan. Kenyataannya cuma Abang yang bisa membantu saya menyelesaikan masalah!" ucap Ferdy memohon.
Terdengar helaan napas panjang dari Yuda, sebelum memutuskan untuk bertanya soal apa. "Katakan, apa yang membawamu ke sini hingga membutuhkan bantuanku?"
"Ikut saya, agar tidak ada salah paham lagi. Kalau saya tidak membawa Abang, takutnya semua itu mengarah jika hanya memanfaatkan keadaan," ujar Ferdy karena memang saat ini hanya Yuda yang bisa membantu.
Dengan berat hati, Yuda terpaksa ikut dan masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di tempat, Yuda mengerutkan keningnya karena Ferdy telah membawanya ke rumah sakit. "Kenapa kamu membawaku ke rumah sakit, bisa kamu jelaskan?" Yuda tidak bisa diam dan hanya memandangi tempat tersebut, tanpa bertanya maksud dan tujuan Ferdy.
"Nanti juga Abang akan tahu, kenapa saya membawa ke sini."
Tidak ada percakapan lagi, Yuda masih berusaha mengalah dan menuruti kemauan Ferdy untuk saat ini. Jika sampai di luar batas maka, Yuda harus tegas.
Tidak lama kemudian, Ferdy sudah membawa Yuda ke dalam ruang inap. Di mana sosok lelaki tua itu masih terbaring dengan selang infus, yang masih terpasang di pergelangan tangannya.
"Sekarang katakan, kenapa kamu membawaku kepada orang tua itu?" dengan sedikit geram, karena Ferdy tidak kunjung mengatakannya dan terkesan berbelit. Membuat Yuda menatap jengah pada Ferdy.
__ADS_1
"Dia adalah Ayah saya, maksud dan tujuan saya membawa Abang ke sini semua itu semata-mata untuk beliau. Ayah saya ingin melihat anaknya menikah karena permintaannya maka saya membawa Abang ke sini untuk merestui—."
Plakk.