Surga Kedua Suamiku

Surga Kedua Suamiku
94. Samuel ngidam (Jebakan batman)


__ADS_3

"Sam, apa itu enak?" tanya bu Susi lagi ketika Samuel memakan dengan begitu lahapnya, tanpa punya rasa ngilu di sedikitpun giginya.


"Mama mau coba." Samuel langsung mengangkat buah itu dan memberikannya pada mamanya.


"Tidak Sam, terima kasih karena aku tidak suka buah itu." Jawab bu Susi dengan sesekali bergidik ngeri ketika melihat buah yang disukai oleh orang hamil. Meski begitu bu Susi dulu tidak suka buah tersebut.


Yah, buah yang dimakan oleh Samuel adalah buah mangga yang masih mentah. Hal itulah yang membuat bu Susi dan juga Anisa rasanya ingin mengeluarkan air liurnya karena pasti rasanya asem, buah mangga muda yang minta Samuel dengan lahap lelaki itu terus memakan hingga tanpa diduga sudah menghabiskan satu buah.


"Sudahlah, mama mau tidur capek. Udah heboh sama kalian taunya cuma ngidam," ucap bu Susi sedikit jengkel.


"Kalau begitu Mama tidur dan pasti capek kan, setelah perjalanan jauh." Anisa ikut menimpali karena tidak tega melihat mertuanya kelelahan.


Pukul tujuh pagi.


Masih tatap sama, karena pagi ini Samuel terus memuntahkan semua isi perutnya. Walau lelaki bergelar suami Anisa itu belum makan apa pun.


"Mas, kita periksa ya. Aku takut jika kamu kenapa-napa," pinta Anisa yang tak tahan lagi kala melihat Samuel tengah terkapar tidak berdaya dan sama sekaki tidak ada tenaga.


"Tidak, aku tidak mau." Samuel dengan gamblang menolak permintaan Anisa.


"Kamu butuh diperiksa. Dengan begitu dokter akan memberikan obat anti mual, kan." Anisa dengan tubuh dan hati yang nyeri, berusaha menyakinkan sang suami agar mau diperiksa.


Dari dalam kamar, terlihat bu Susi baru saja keluar dan pada saat itu juga langsung berjalan ke arah Samuel.


"An, masih tetap sama?" tanya bu Susi.


"Iya Ma, aku khawatir dengan keadaannya karena semakin kurus dan lemah." Jawab Anisa dengan perasaan tidak karuan.


"Sam, kamu harus diperiksa agar dokter bisa memberikan obat pereda mual. Memangnya kamu mau terus begini?" kata bu Susi pada Samuel.


"Tidak Ma, bahkan aku tidak mau kalau menjadi seperti ini terus." Samuel menimpali dengan wajah pucatnya.


"Maka dari itu, aku akan memanggil dokter untuk ke sini." Bu Susi yang tak tahan lagi langsung menghubungi salah satu temannya yang kebetulan seorang dokter.


"Terserah Mama, aku mau tidur."


Hampir dua minggu Samuel tidak bekerja karena tubuhnya tidak cukup tenaga, walau hanya berjalan rasanya tidak mampu.


Beberapa jam kemudian. Dokter sudah berada di kediaman Samuel dan bersiap untuk memeriksa keadaan pasien tersebut.


"Sus, di mana anak kamu?" tanya dokter yang akan memeriksa Samuel.


"Di atas, kita naik."


Setelah sampai di atas, dokter pun memeriksa Samuel dan dengan sangat teliti mencari penyebab dari gejala yang dialami oleh Samuel.


"𝘚𝘪𝘯𝘥𝘳𝘰𝘮 𝘤𝘰𝘪𝘷𝘥𝘢𝘥, di mana istri yang sedang mengandung di trimester pertama dan ketiga. Maka suami lah yang akan mengalami hal seperti ini, jika kebanyakan wanita yang mengalami. Namun, untuk kasus ini berbalik karena rasa emosional dan empati pada anda terlalu besar, maka terjadilah kasus ini." Dengan seksama Anisa mendengarkan apa yang diterangkan oleh dokter tersebut.

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu, Dok?" tanya Anisa dengan rasa penasaran yang begitu besar.


"𝘚𝘪𝘯𝘥𝘳𝘰𝘮 𝘴𝘪𝘤𝘬𝘯𝘦𝘴𝘴 namanya, di mana setiap pagi akan merasakan ini, tapi suami Anda lah yang mengalami dan hal ini wajar kok. Nanti akan saya kasih vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mual itu sendiri," ujar dokter ketika memberitahu.


"Kapan berakhirnya Dok, aku tidak kuat jika seperti ini terus?" Dengan wajah pucat serta suara lemahnya, Samuel mengeluhkan hal itu.


"Mungkin empat atau bisa jadi lebih."


"APA!"


Suara yang semula lemah kini langsung nyaring, saat mendengar penuturan dari dokter tersebut dan Samuel pun kembali lemah.


Ketiga wanita itu pun dibuat tertawa oleh tingkah Samuel, karena dengan keadaan lemah pun. Lelaki itu masih bisa membuat ulah.


"Ini vitaminnya dan jangan lupa di minum, kalau begitu saya izin pamit." Setelah dokter memberikan beberapa obat pada Samuel, ia pun berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih ya Dok, karena telah sudi ke rumah untuk memeriksa suami saya."


"Sama-sama, kalau begitu saya pergi ya. Sus, aku pamit."


"Hati-hati dan makasih ya," ucap bu Susi.


Hari-hari yang dilalui oleh Anisa dan Samuel, tanpa terasa sudah memasuki bulan kedua kehamilan Anisa.


Tidak ada rasa apa pun yang dirasakan Anisa dan benar. Jika seorang suami berperan lebih banyak, tingkat emosi yang tinggi terhadap istrinya. Seperti dialami oleh Samuel sekarang ini.


Sedang Kan Yuda dan Arum, di mana sekarang adalah hari kepulangannya setelah menjalankan bulan madu, selama sebulan penuh. Lalu, untuk sekarang kedua pengantin baru itu memutuskan untuk mengunjungi Anisa, karena tsudah lebih dari sebulan mereka tidak dipertumukan.


"Sayang, aku sudah tidak sabar untuk melihat Anisa dengan perut buncitnya." Dengan seulas senyuman Arum sekarang tengah membayangkan perut sahabat sekaligus adik iparnya.


"Kenapa tidak sabar sekali kamu, kita juga bisa kan untuk membuatnya. Bagaimana?" Arum seketika menatap tajam ke arah suaminya kini karena kalimat yang terucap rasanya begitu membuatnya kesal.


"Bahkan kamu selalu membuatnya, tapi belum berhasil. Itu karena kamu keseringan," ujar Arum dengan senyuman tidak suka.


"Hai, itu kan sudah menjadi makananku sekarang." Jawab Yuda tak mau kalah.


"Kalau keseringan juga tidak bagus, kan!" sanggah Arum.


"Sudah-sudah, kenapa kita jadi bahas soal makanan sih. Itu adalah menu wajib jadi tidak bisa dikurangi porsinya," tukas Yuda menjelaskan dan permintaannya sudah tidak bisa diganggu gugat.


Tidak terasa jika keduanya sudah sampai, mungkin karena ada bumbu tambahan jadilah mobilnya meleset dengan begitu cepat, sampai-sampai mereka kini berada di perumahan di mana Anisa tinggal.


"Tumben ini gerbang gak di gembok?" Yuda bertanya-tanya dan Arum hanya mengangkat kedua bahunya.


"Mungkin lupa," sahut Arum.


Akhirnya pasangan pasutri itu pun masuk dan pada saat Yuda ingin mengetuk pintu. Terdengar suara ******* hingga membuat keduanya menelan ludah.

__ADS_1


"Sayang, apa mereka sedang kikuk-kikuk?" tanya Yuda dengan sesekali melempar pandangan ke arah sang istri.


"Mana mungkin, masa iya siang-siang mereka nanem padi." Jawab Arum sedikit kurang percaya, karena ia juga merasa jika suara di dalam sedikit tidak beres.


Arum dan Yuda hanya bisa diam dan menunggu seseorang di dalam selesai bermain dengan asumsi yang ada dipikiran mereka.


Sedangkan di dalam Anisa dan Samuel sudah bercucuran keringat, karena merasakan seluruh tubuhnuya mulai gerah.


"Mas, ini gara-gara kamu sih, makanya aku jadi lemas." Anisa mendengus kesal karena semua ini ulah dari suaminya.


"Kok aku, kamu senddiri tadi yang minta di atas. Makanya aku nurut apa mau kamu," ucap Sanuel tak mau kalah.


"Iya, tapi gak harus gini juga. Rasanya enak dan sungguh nikmat, tapi …." Anisa menggantung kalimatnya karena tidak kuat dengan sensasi yang ia dapatkan.


"Tuh kan, keringatan, tapi enakkan dan lebih dapat rasanya?" tanya Samuel.


"Iya Mas, aku pun sangat ketagihan dan ingin lagi dan terus lagi." Jawab Anisa dengan sesekali mengusap pelipisnya.


"Kita lanjut nanti ya Sayang, aku sudah tidak kuat."


Ssssttttt.


Aaaaaahhhhh.


"Tuhkan, keluar."


Setelah des*han kecil Samuel ingin menyudahi acaranya karena sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankannya.


"Jadi, kamu menyerah. Cuma segini saja kekuatan kamu?" ejek Anisa ketika Samuel memilih menyerah.


"Ya, mau bagaimana lagi. Meski aku pria nyatanya aku juga punya kelemahan," elak Samuel.


Huhhhhh … ahhhh.


Dengan satu tarikan Samuel angkat bendera karena sekarang dirinya benar-benar menyerah.


"Ya sudah, kalau begitu aku mau turun." Anisa pun seketika turun, tapi sebelum hal itu terjadi. Suara pintu terbuka dan terlihatlah dua orang menatap hingga mulutnya menganga lebar.


"Ka-lian sedang apa?" dengan suara terbata Yuda bertanya.


"Huh, kalian! Kenapa bisa masuk dan tidak mengetuk pintu dulu!" sergah Samuel karena saat dirinya tengah menikmati sesuatu, tiba-tiba saja Yuda dan Arum datang.


"Kita sudah dari tadi di luar, hanya saja kalian yang kelewat batas karena di sembarang tempat. Memangnya tidak ada tempat lain ya," ucap.Yuda dengan penuh keterpaksaan ia berbicara.


"Kalian saja yang tidak sopan," dengus Anisa.


"Huh, kenapa kalian masih rapi?" sebuah pertanyaan membuat Anisa dan Samuel semakin bingung dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa sih Rum, apa maksud kalau kita masih rapi?" tanya balik Anisa karena tidak mengerti dengan perkataan dari Aru.


__ADS_2