
Malam hari saat Anisa setelah selesai menghadap Sang Pencipta. Berniat makan malam dan mengajak suaminya juga.
"Mas, makan malam sudah aku siapkan, sekarang kita makan." Anisa lantas mengajak Dirga untuk makan, dan lelaki itu pun langsung merespon.
"Boleh, kebetulan aku sudah lapar. Setelah ini Mas mau izin untuk ke rumah Elsa, tadi sempat kirim pesan katanya mengeluhkan perutnya sakit." Dirga berujar dengan langkah menghampiri meja makan, yang terdapat di dapur.
Lagi-lagi ketidakadilan diperlihatkan oleh Dirga, bukannya sekarang Anisa baru pulang?
Bukannya Anisa juga baru beberapa jam berada di rumah mewah ini? Lantas kenapa lelaki yang berstatus suaminya tega, yang mana ingin meninggalkannya sendiri. Pada saat dirinya sudah kembali sesuai permintaannya.
Anisa yang hanya diam lantas membuat Dirga menegurnya ulang. Ia tahu bahwa hal ini akan menyakiti hati istrinya, tapi keadaan Elsa jauh lebih penting karena menyangkut anak yang dikandung oleh istri sirih nya itu. "An, aku mohon. Kasian Elsa jika terjadi sesuatu pada kandungannya."
Anisa langsung menoleh dan kedua tangan diletakkan di meja, dan tatapan yang tak bisa diartikan dengan satu helaan nafas ia pun berbicara. "Pergilah, usah peduli padaku. Elsa lebih butuh kamu daripada aku," kata Anisa.
"An, bukan aku tidak—."
"Jangan katakan apapun itu padaku, Mas." Anisa langsung menyela ucapan Dirga, karena semua itu akan membuatnya hatinya semakin terluka, dan memilih untuk menghentikan dengan tidak membalasnya.
Setelah Anisa berbicara tidak ada lagi percakapan setelahnya. Untuk sesaat suasana menjadi hening karena keduanya tengah fokus ke arah piring, yang ada di depannya.
Beberapa menit kemudian, makan malam sudah selesai dan Anisa juga sudah membereskan meja makan. Terlihat Dirga yang sudah rapi lalu menghampiri Anisa yang masih di dapur.
"An, Mas pergi dulu. Hati-hati di rumah," pamit Dirga pada Anisa.
Setelah berpamitan, Dirga tidak langsung pergi. Melainkan tetap berdiri dengan alis terangkat, karena ada yang janggal menurutnya. "An, apa kamu lupa dengan sesuatu?"
__ADS_1
Anisa yang sebelumnya tengah mencuci piring, seketika menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Soal apa, apa Mas ada pesan untukku." Jawab Anisa.
"Tidak, sepertinya aku yang lupa. Kalau begitu Mas pergi dulu," kata Dirga yang langsung melenggang pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Sedangkan Anisa mengangkat kedua bahunya. Mencoba masa bodoh dengan pertanyaan barusan.
Sepasang mata tengah menatap langit. Rasa terhimpit di setiap malam, karena sosok yang dipuja tak lagi ada di sampingnya.
Rembulan malam telah menjadi saksi saat Anisa ingin memulai kehidupan baru, nyatanya tak bisa ia terima.
Saat ini Anisa tengah dihadapkan dengan pilihan yang sulit, untuk memilih pergi menggapai kebahagiaan. Atau justru bertahan dengan berbekal kekecewaan.
"Tuhan, apa aku bisa menjalani semua ini? Apa aku bisa menerima takdir yang sudah engkau beri." Anisa hanya mampu berkata dalam hati, dengan tatapan yang tak lepas dari langit di atas sana.
"Andai aku punya orang tua. Mungkin sekarang aku bisa memeluk dan menceritakan akan kegundahan ini. Sayangnya orang tua ku memilih meninggalkan aku berada di panti," ucap Anisa lirih.
Klunting.
Sesaat pesan masuk di ponsel Anisa, lantas ia pun langsung membuka dan matanya terbelalak dengan sempurna. Ternyata yang berada di bawah adalah Samuel. Dengan pesan memintanya untuk turun.
"Hmmm ... sepertinya aku butuh sosok yang bisa menghiburku," gumam Anisa yang langsung keluar karena merasa jika dirinya juga butuh sebuah hiburan.
Di bawah.
"Nisa! Akhirnya aku bisa bertemu sama kamu juga," ujar Samuel dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa ke sini, kan aku sudah bilang kalau statusku—.
Ssssst.
Samuel langsung menutup bibir Anisa dengan satu jarinya.
" Tidak perlu di bahas karena aku juga sudah tahu. Sekarang yang aku butuhkan, mau kah kamu ikut aku jalan-jalan?" tanya Samuel yang langsung memotong ucapan Anisa.
Anisa tidak langsung menjawab, karena butuh berpikir sebelum mengambil keputusan. Sedetik kemudian, akhirnya ia pun mengangguk. "Baiklah, aku ikut denganmu dan ingat jangan malam-malam buat mengantarkan aku pulang." Anisa setuju dengan ajakan Samuel dan memintanya agar tidak terlalu larut, pada saat mengantarkan dirinya pulang.
Dengan senyuman yang tak henti-hentinya, Samuel setuju dengan permintaan Anisa. "Aku mengerti dan lagian aku lelaki yang tahu batasan. Dimana wanita harus pulang dipukul berapa," ujar Samuel membalas ucapan Anisa.
"Sebentar, aku ganti baju dulu, ya." Setelah mengatakan hal itt, lantas Anisa pergi masuk untuk mengambil tas nya.
.........
Setelah 30 menit, akhirnya Samuel berhenti di sebuah taman. Dimana para muda-mudi dengan asiknya bercanda gurau dengan sangat bahagia.
"An, kamu mau kembang gula?" keduanya tepat berhenti di penjual kembang gula, Samuel yang melihat itu mencoba untuk menawari wanita yang sekarang ada di sebelahnya.
"Boleh, karena aku tidak pernah makan." Jawaban Anisa membuat Samuel langsung melirik ke arahnya.
"Pernah, tapi cuma sekali. Bagi kami tidak mampu beli karena teman-teman di panti ada banyak. Jadi, mana mungkin Ibu panti sanggup untuk membeli," sambung Anisa lagi.
"Maksud kamu, kamu tumbuh ...."
__ADS_1
"Iya," sahut Anisa.