
Saat Yuda mendengar suara dari Anisa, tiba-tiba saja pria itu berdiri dan dengan cepat langsung memeluk wanita yang tak lain adalah Anisa.
"Cahaya!" peluk Yuda pada sosok Anisa.
Anisa yang tidak tahu apa-apa pun langsung terkejut dan wajah bingungnya, menghiasi suasana yang saat ini menampilkan sebuah pertanyaan besar baginya.
"Tunggu, kenapa kamu memelukku Yuda! Sungguh kamu tidak sopan." Anisa berujar dengan tangan yang terus mendorong tubuh Yuda, karena merasa jika asisten dari Samuel begitu berani.
Lagi-lagi Anisa dibuat bingung, karena tidak ada satupun yang berusaha untuk membantunya lepas dari tubuh Yuda. Hal itu juga membuatnya merasa jika ada yang ganjal.
"Apa kalian tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" kata Anisa dengan kedua tangan yang terangkat, sedangkan Yuda masih memeluk tubuh Cahaya dengan begitu erat dan rasanya enggan untuk melepaskannya.
"Akhirnya kita dipertemukan lagi Cahaya, setelah terpisah selama 27 tahun dan aku tidak menyangka bahwa kamu masih hidup dan tumbuh cantik." Yuda berujar seraya terus mengelus punggung Anisa, wanita yang selama ini di cari olehnya. Sedangkan Anisa masih menanti jawaban dari semua orang yang berada di ruang tamu.
"Lepaskan aku! Karena aku butuh penjelasan dari ini semua. Jadi, bisa kamu melepaskan aku." Anisa meminta Yuda untuk melepaskan pelukannya, agar bisa bertanya tentang apa yang sedang terjadi sekarang.
Mata Anisa terus menatap satu persatu antara Bu Ning dan juga Samuel, seakan meminta penjelasan tentang hal ini.
"Nis, dia Kakak kamu." Ucapan Samuel sontak membuat Anisa mundur dan membekap mulutnya, rasanya tidak mungkin baginya karena tidak ada tanda-tanda bahwa Yuda adalah saudara kandungnya.
Suara isak tangis tidak bisa ia tahan. Antara percaya dan tidak karena semua ini sangatlah cepat baginya. Lalu, kenapa bisa sampai mengaku jika ia adiknya dan memanggilnya Cahaya? Bukannya namanya selama ini Anisa, nama yang diberikan oleh Bu Ning sewaktu dulu hingga sekarang.
"Sam, mana mungkin hal itu terjadi. Aku memang anak yatim dan tidak tahu di mana dulu aku tinggal dan di rawat oleh siapa? Hingga aku tiba-tiba ada di sini?" cercah Anisa dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.
Seolah meminta jawaban pada Samuel, hingga Anisa terus menatapnya agar ia tahu apa yang sedang terjadi, karena sekarang dirinya dengan keadaan bingung.
Belum juga Samuel membeberkan apa yang terjadi. Sebuah sumber suara membuat mereka semua seketika terpaku, hingga terlihatlah sosok perempuan dari luar dan secara perlahan berjalan mendekat.
"An, dia memang Kakak kamu." Suara dari arah pintu membuat mereka semua terkejut saat sosok yang tengah berdiri tepat di ambang pintu.
__ADS_1
"Arumi!" ucap Anisa tidak percaya.
"Iya An, Yuda memang Kakak kamu. Aku sudah menyelidikinya dari kemarin dan ini adalah bukti yang kuat bahwa kalian adalah saudara kandung," ujar Arum dengan menyodorkan kertas yang berisikan bukti bahwa, antara Anisa dan Yuda memang mempunyai ikatan darah.
"Ja-jadi, kamu su-dah tau tentang semua ini?" tanya Anisa yang terus menitihkan air mata. Hingga semuanya juga ikut larut dalam tangis, tapi sebuah tangisan bahagia.
Arum mengangguk dan semuanya sudah terbongkar karena hasil lab mengatakan jika keduanya memang saudara kandung. "Ini hasil tes DNA, sengaja aku ambil dari masing-masing dari rambut kalian dan sesuai dugaanku."
Anisa lantas menerima kertas tersebut dan membaca dengan seksama. "Ternyata benar, kalau aku dan kamu adalah saudara?" Anisa pun bertanya pada Yuda, menatap wajah lelaki yang sudah ia temui dari beberapa bulan lalu.
Begitupun dengan Yuda, tidak menyangka bahwa pertemuan antara Samuel dan juga Anisa, telah membawanya bertemu dengan sang adik, yang selama ini ia rindukan dan ia bawa ke dalam doa. Berharap suatu saat keajaiban datang kepadanya.
Keduanya kembali berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, lalu sekarang Tuhan mendengarkan atas semua doa yang ia panjatkan setiap hari.
Hari ini adalah hari bahagia di panti, saat dua saudara dipertemukan kembali dan itu semua adalah sebuah anugerah yang diterima oleh Anisa dan juga Yuda.
"Kak, lantas kenapa aku bisa berada di panti?" sebuah pertanyaan diberikan pada Yuda.
"Waktu itu usiamu baru dua tahun. Di mana ada bencana yang membuat penduduk kampung berhamburan untuk mencari perlindungan, semua itu berawal dari kesalahanku yang meninggalkan kamu lalu ...." Yuda berhenti sejenak, mengatur nafas yang rasanya tak sanggup lagi ia lanjutkan.
"Pelan-pelan saja," ucap Arum pada Yuda.
"Kamu, kakak tinggal dan saat aku Ibu, dan juga Bapak kembali ternyata di rumah sudah tidak ada siapa-siapa, hanya ada puing-puing yang sudah berserakan dan rumah itu sudah menjadi kenangan pahit. Beruntungnya Ibu dan Bapak tidak menggantungku karena kesalahan yang begitu sangat fatal, hingga rasa bersalah kakak bawa sampai sekarang." Saat semuanya mendengarkan cerita Yuda, semua larut dalam kesedihan.
"Lantas kenapa Kakak bisa menebak jika aku adalah adik kamu?" tanya Anisa kembali, yang masih penasaran dengan semua kejadian ini.
"Bukankah jika seseorang punya ikatan darah, maka firasat itu selalu ada? Dan itulah yang aku rasakan dari semenjak bertemu dengan kamu." Sebuah jawaban yang membuat haru bagi semuanya.
"Sam, terima kasih dan ini semua berkat kamu. Kalau saja di antara kalian berdua tidak ada pertemuan, mungkin aku tidak pernah tahu bahwa Anisa adalah Cahaya." Yuda begitu sangat berterimakasih pada Samuel karena semua ini berkatnya juga.
__ADS_1
"Anggap itu sebagai jawaban atas doa kamu," balas Samuel.
"Nis, selamat ya buat kamu, karena pada akhirnya kamu menemukan keluargamu kembali." Tidak lupa Samuel juga memberi selamat pada Anisa, karena ternyata selama ini wanita itu masih memiliki saudara.
"Makasih, Sam." Sebuah senyuman terlihat begitu menggemaskan dan hal itu, membuat Samuel semakin jatuh cinta kepadanya.
"Jadi, bagaimana, Yud?" tanya Samuel pada Yuda yang sama sekali tidak dimengerti oleh lelaki yang sekarang menjadi Kakak dari Anisa.
"Apanya? Kamu sungguh tidak sopan. Meminta restu tapi memanggil aku dengan sebutan tidak sopan," dengus Yuda yang sengaja ingin mengerjai Samuel.
"Cih, mentang-mentang sudah jadi saudaranya Anisa, mau meres kamu ya, ingat sebelum ini kamu bukan siapa-siapa." Samuel membalas Yuda dengan kata yang tak kalah sinis, karena sepertinya sosok asistennya itu sekarang lebih berani.
"Ingat, jika Cahaya menikah maka aku yang akan menjadi walinya. Memangnya kamu masih bisa menikah tanpa restuku!" sungut Yuda dengan wajah mengejek, seakan puas karena hari ini ia bisa mengerjai Samuel.
Ckckckck.
"Dasar, mencari kesempatan dalam kesempitan." Samuel berucap dengan nada tidak suka karena sekarang Yuda lah yang berkuasa, atas Anisa dan menerima pinangannya juga.
"Sam, ingat. Nyawa kamu sekarang ada di tangan Yuda," ujar Arum ikut menimpali.
Hahahaha.
Semuanya menertawakan Samuel karena sekarang dibuat mati kutu oleh Yuda, terlihat juga bahwa Anisa begitu bahagia melihat dua orang lelaki yang selalu bersikap konyol. Mampu membuatnya selalu tertawa karena ulah dari Samuel dan Yuda.
"Anisa sudah dewasa Sam, jadi urusan perasaan aku telah menyerahkannya pada dia, karena Anisa juga berhak untuk memilih. Terlebih aku sudah tahu latar belakang kamu yang begitu sangat menyedihkan itu," ucap Yuda yang mulai menanggapi permintaan Samuel saat ingin meminang Anisa.
"An, atau Cahaya. Kakak yakin jika Samuel adalah lelaki yang tepat, kakak merestui."
Anisa yang mendengar hal itu, kini kembali diberi pilihan mengambil keputusan untuk menerima Samuel, atau menolak untuk menata masa depan.
__ADS_1