
Yuda berkata dengan satu mata dimainkan, lalu ditujukan pada Arum.
"Apaan sih, genit banget jadi orang." Arum membatin menatap tidak suka karena Yuda begitu centil menurutnya.
Akhirnya sarapan telah selesai, Yuda dan Arum lantas berpamitan untuk pergi begitu juga dengan Bu Susi, yang ingin kembali ke rumahnya.
"Kalau begitu kalian hati-hati di jalan," ucap Anisa pada Yuda dan juga Arum dan tidak berapa lama kemudian di susul oleh Bu Susi.
Tidak terasa pernikahan Anisa dan Samuel sudah berjalan empat bulan. Hari ini Samuel dengan terpaksa harus bekerja dari rumah atas permintaan Anisa, istrinya meminta padanya untuk menemaninya di rumah.
Dengan tatapan manja dan tangan yang bergelayut di leher Samuel, Anisa pun berbicara dengan suara menggoda.
"Suamiku yang tampan, boleh ya kamu libur buat nemenin aku." Samuel yang mendengar permintaan Anisa pun dibuat terkekeh, pasalnya selama hamil Anisa terlihat manja dan hal itu membuat Samuel merasa bahagia.
"Memangnya apa yang akan kamu beri padaku sebagai imbalannya?" Samuel lantas bertanya dengan kedua alis terangkat.
Ckckc.
Anisa berdecak sebal karena permintaannya justru dibuat ladang kesempatan oleh Samuel. "Harusnya kamu yang ngasih aku, kenapa ini jadi terbalik." Samuel yang melihat Anisa tengah cemberut merasa gemas.
Belum sempat Samuel mengiyakan, justru Anisa menambahkan lagi. "Sayang, aku mau rujak bali."
"Alamak, apalagi ini." Samuel menepuk keningnya seraya melirik sekilas ke arah Anisa.
"Boleh, istriku yang paling cantik, paling imut dan paling baik. Nanti ya kita beli," ucap Samuel dengan napas lesu.
"Aku mau kamu beli sendiri dan itu di tempatnya langsung," kata Anisa dengan senyuman manja wanita itu berucap.
"Sayang, masa ia aku ke bali cuma beli rujak di sana!" keluh Samuel.
__ADS_1
"Jadi gak mau, ya." Seketika Anisa tertunduk karena sebuah penolakan dari Samuel.
Samuel yang melihat Anisa tiba-tiba mengeluarkan air mata pun, akhirnya tidak tega.
"Kapan aku berangkat?" tanya Samuel dengan tatapan sendunya, seakan pasrah dengan permintaan Anisa.
"Hari ini."
Huh.
Seketika mata Samuel melotot dan hendak melompat dari cangkangnya, karena permintaan Anisa yang terlalu mendadak meski sedikit mustahil. "Apa dia pikir perjalanan membutuhkan 30 menit dan sampai di sana! Ya Tuhan ... kenapa ngidamnya istriku harus sejauh ini," gumam Samuel yang mengeluh dalam hati karena sebuah permintaan yang nyeleneh.
"Kenapa? Tidak mau ya," kata Anisa dengan melipat bibirnya dan di dorongnya maju hingga terlihat manyun.
"Eh tidak kok Sayang, aku mau dan demi anakku yang yang ada di sini, lautan pun aku seberangi." Samuel menjawab dengan sesekali mengelus perut Anisa yang masih rata.
Akhirnya dengan terpaksa Samuel pun berangkat, demi memenuhi permintaan sang istri. Ia rela harus membelikan sebuah rujak bali dan harus membeli di tempatnya berasal.
Stop!.
"Kalau kamu dari tadi terus mengoceh, kapan berangkatnya. Ingat sampai di sana kamu harus menunjukkan bukti seperti foto agar aku percaya bahwa kamu telah ke sana!" oceh Anisa dengan antusias.
"Iya, iya. Ya sudah suamimu yang tampan ini mau berangkat," pamit Samuel dengan hati yang jengkel sebenarnya, tapi tidak dilihatkan karena ia begitu sangat menyayangi wanita berjilbab ya g sekarang tengah duduk di ruang tengah, menikmati segelas susu buatannya.
Tidak lama kemudian, seusai kepergian Samuel. Tiba-tiba saja Anisa ingin pergi membeli sesuatu di minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya kini.
"Mumpung di rumah juga sepi, sepertinya aku akan ikut keluar juga untuk beli sesuatu." Anisa berkata lirih dan sekarang sudah siap dengan dompetnya.
20 menit, akhirnya Anisa tiba di sebuah minimarket dan memilih apa saja yang dibutuhkan, termasuk membeli perlengkapan dapur. Seharusnya ia tadi mengajak Mbok Yem, berhubung sosok wanita tua itu masih sibuk. Jadilah Anisa berangkat sendiri dengan supir yang ada di rumahnya, lalu mengendarai mobil milik Samuel yang ada beberapa terparkir di garasi sesuai permintaan Anisa, tidak lupa juga memanggil Pak Rudi untuk memintanya menemaninya pergi karena rasa malasnya lah yang membuat Anisa terpaksa menyuruhnya.
__ADS_1
Anisa yang sudah ada di dalam telah memilih barang apa saja, hingga tidak mengetahui jika ada sepasang mata telah mengintainya.
"Ternyata setelah menghancurkan ku, kini wanita itu masih bisa hidup bahagia. Lihat saja aku tidak akan membiarkannya menikmati hidupnya di dunia ini," gumam wanita itu. Sorot matanya yang tajam dan kedua tangan terkepal hingga kulit-kulitnya terluka akibat terkena kuku panjangnya.
Dengan wajah kebencian wanita itu akan membalas sakit hatinya karena Anisa lah, ia harus kembali menjadi barang sewaan dengan tarif perjam atau bisa untuk semalam.
Harusnya sekarang wanita itu menikmati hasil yang sudah susah payah ia dapatkan, sayangnya wanita yang ada tidak jauh darinya. Telah merenggut kebahagiaan yang baru saja dinikmati untuk menjadi Nyonya.
Sedangkan Anisa yang sudah selesai membawa semua barang belanjaannya di kasir. Lalu, diikuti oleh wanita yang terus saja memantaunya sejak tadi dan sepertinya memang disengaja karena inilah cara yang akan membuat semakin gampang untuk membalas dendam.
Setelah sampai di luar.
Srakkk.
"Auh ... perutku sakit, Ya Allah siapa dia kenapa orang itu yang sudah mendorongku?" dalam keadaan kesakitan, Anisa bertanya-tanya siapa wanita yang sepertinya sengaja melukainya.
Di dalam mobil supir yang mengantarkan Anisa, langsung turun untuk melihat keadaan majikannya yang terlihat kesakitan.
"Nyonya!" Pak Rudi langsung membantu memapah Anisa karena saat di dorong tadi, ia seketika tersungkur dan saat itu juga perutnya merasakan sakit. Entah apa yang terjadi dan sepertinya Anisa akan membawanya ke dokter kandungan, untuk memeriksa keadaan kandungnya seperti apa.
"Nyonya, saya akan membawa anda ke rumah sakit." Pak Rudi yang melihat Anisa semakin kesakitan lantas mengusulkan untuk ke rumah sakit, karena supir itu tidak tega melihat Nyonya nya merasakan sakit.
Sedangkan di lain tempat, sosok wanita yang sengaja mendorong Anisa dengan sangat kasar tadi. Kini tengah tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi dari wajah yang dianggapnya sebagai musuh.
"Kamu lihat An, ini hanya permulaan dan awal sebagai pemanasan. Ada saatnya kamu merasakan apa yang pernah aku rasakan dan hal itu nanti akan kamu rasakan," lirih wanita itu dengan tangan memegang segelas jus jeruk lalu tidak lupa juga dengan sebatang rokok yang ia selipkan di jarinya.
"Aku lihat dari tadi kamu tertawa bahagia kenapa? Berasa nemu lotre saja kamu!" ucap temannya yang sedari tadi memperhatikan sikap aneh dari temannya.
"Ada saatnya aku cerita dan nanti juga akan membutuhkan bantuan kamu," sahut wanita yang sempat berbuat jahat pada Anisa.
__ADS_1
"Boleh la, asal cocok di saku." Wanita itupun tersenyum saat mendengar ucapan dari temannya.