
"Maaf."
Anisa tersenyum saat mendengar kata maaf dari Samuel.
"Apa yang perlu di maafkan. Kalau kenyataannya memang benar," kata Anisa menggelengkan kepala dan memberikan sebuah senyuman manis pada Samuel.
"Manis," ucap Dirga tanpa sadar.
"Kembang gula kan memang manis," balas Anisa.
"Eh iya, lupa kalau dia memang manis." Jawab Samuel sedikit gelagapan dan beruntung Anisa tidak mengerti dengan ucapannya yang keluar dari mulutnya, tanpa permisi terlebih dulu.
"Ada-ada saja," gumam Anisa.
Keduanya asik berjalan dengan menikmati kembang gula, dan sekarang Anisa lupa akan masalah yang tengah ia hadapi.
"Nis, kita makan itu yuk. Kebetulan aku lapar," ajak Samuel dengan jari menuding ke arah penjual nasi goreng.
"Boleh," timpal Anisa yang lantas mengiyakan.
"Pak, nasi goreng dua ya, jangan lupa paket spesial!" kata Samuel saat memesan nasi goreng.
"Boleh Den, bentar ya." Dengan cekatan penjual nasi goreng itu lantas membuatkan dua porsi pesanan Samuel.
Beberapa menit kemudian.
"Ini paket spesialnya," ucap penjual tersebut.
"Makasih ya, Bang." Samuel pun langsung menerima dua piring nasi goreng.
"Sama-sama. Semoga pacarnya suka ya, Den." ucap penjual tersebut.
__ADS_1
Samuel tersenyum saat mendengar, berbeda dengan Anisa tengah menahan kesal. Akibat ucapan dari penjual nasi goreng yang mengatakan jika dirinya adalah kekasih dari Samuel.
"Tentu suka Bang, dan satu lagi. Doakan kami agar segera menikah ...,"
Auhhh.
Ucapan Samuel benar-benar menguji kesabaran Anisa. Hingga dengan terpaksa kaki Samuel diinjak dengan sangat keras sampai pemilik kaki berteriak. "Makanya jangan ngawur kalau ngomong," ujar Anisa dengan sorot mata yang tajam.
Samuel bukannya meminta maaf. Justru malah tertawa, seakan itu adalah bagian dari Doa yang ia harapkan. "Kalaupun nantinya kita menikah kenapa? Memangnya kamu gak pengen punya anak lucu-lucu seperti mereka." Dengan bangganya Samuel berujar, dan mata yang terus memandangi keluarga yang tengah menggendong. Anaknya satu persatu, dan begitu sangat bahagia.
"Dasar lelaki brengsek!" umpat Anisa.
"Ingat Nis, meski aku lelaki brengsek. Namun, aku sosok pria yang setia." Jawab Samuel dengan bangga.
"Yakin sekali, kalau kamu adalah lelaki yang setia. Pada kenyataannya semua itu hanya bualan yang diucapkan para lelaki, tapi kalau sudah dapat maka dengan gampangnya mencari kesempurnaan di luar sana!" kata Anisa panjang lebar, karena semua itu gambaran dari Dirga, yang mana saat dulu berjanji setia nyatanya sekarang racun yang disuguhkan kepadanya. Kata setia yang selalu dikatakan olehnya setiap hari. Semua itu semata-mata hanya untuk menutupi kesalahannya pada Anisa.
"Sepertinya kamu ada pengalaman, makanya bisa menilai lelaki seperti yang kamu bilang?" kata Samuel dengan tatapan untuk meminta penjelasan jika yang dikatakan adalah benar.
"Tidak dengan semua para lelaki yang ada di dunia ini. Hanya saja lelaki yang seperti kamu sebutkan tidak bersyukur, dengan apa yang sudah dia dapatkan. Orang itu lupa bagaimana dulu pernah berjuang, tapi setelah mendapatkan justru kekecewaan yang diterima oleh si pasangan tersebut."
Benar apa yang dikatakan oleh Samuel, dan Anisa setuju dengan sudut pandang yang dijabarkan oleh lelaki yang berada di sampingnya itu. Mungkin saja Dirga adalah salah satunya, tidak bisa menerima keadaan karena Anisa tak kunjung memiliki anak dari benihnya. Hingga penghianatan ia lakukan dengan alasan butuh seorang pewaris dari hartanya.
"An," panggil Samuel.
"An!" ulang Samuel dan disitulah ia baru sadar saat Samuel menepuk bahu Anisa.
"Eh, iya ada apa?" kata Anisa yang terlihat gelagapan.
"Maaf."
Saat itulah mata mereka bertemu, Samuel yang tengah mengusap bibir Anisa seakan detak jantung mereka berdua tak bisa di kontrol.
__ADS_1
Melihat Anisa mendelik kan mata, membuat Samuel buru-buru melepaskan jarinya yang tengah menempel bibirnya, yang terdapat nasi.
"Maaf, makanya kalau makan jangan seperti anak kecil. Jadi belepotan, kan."
Anisa yang merasa tidak nyaman buru-buru membuang muka dan mengusap bibirnya.
"Apa kamu marah?" kata Samuel.
"Percuma aku marah, karena sudah terlanjur kamu sentuh. Lain kali bilang dan jangan asal pegang!" kata Anisa dengan bibir yang bergetar.
Entah mengapa saat ini rasanya sungguh diluar dugaan.
Anisa kan nyaman saat dengan Samuel. Mampu melupakan segalanya saat dengan lelaki tersebut.
Harusnya dia tak punya perasaan aneh karena status keduanya berbeda.
"Aku mau pulang. Sekarang sudah jam sembilan," pinta Anisa.
"Habiskan, setelah ini aku akan mengantarkan kamu, dan ... untuk tadi maaf karena sudah lancang," ucap Samuel, karena merasa jika tak seharusnya hal itu terjadi.
..........
Pukul 22:00 malam, Anisa yang baru saja pulang dengan membawa perasaan aneh. Sama halnya dengan Samuel, karena semakin dekat perasaan itu semakin kian menjadi.
Samuel yang tengah berada di balkon. Tidak mengetahui jika Yuda sedari tadi melihatnya sedang galau. Ia yakin bahwa saat ini Samuel tengah memikirkan Anisa.
"Apa sudah puas kamu bermain dengan istri orang, Sam?" seketika Samuel menoleh.
"Sialan kamu, jangan membuat orang salah paham dengan ucapan kamu, Yud!" sungut Samuel yang tak suka dengan kata-katanya.
"Ok, aku ralat ulang. Bagaimana perasaan kami setelah puas bertemu dengan pujaan hati wahai Tuan Samuel yang terhormat!"
__ADS_1
Bukannya Samuel menjawab justru lelaki tersebut, malah senyum tidak jelas. "Sepertinya aku memang menyukainya." Jawab Samuel dengan raut wajah yang bahagia.