
"Nis, kamu kenapa?" tanya Samuel karena merasa jika ada yang berbeda dari raut wajah dari wanita tersebut.
"Ti-dak ada, Sam." Tidak mungkin Anisa bertanya karena rasanya jika Samuel juga tidak mengetahui apa yang aneh dengan rasa dari lauk tersebut.
"Jika tidak ada masalah, sekarang lanjutkan makannya." Anisa tidak menjawab dan mulai menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulutnya.
"Kenapa dengan perasaanku ini, aku seperti pernah merasakan makanan, tapi aku juga tidak tahu merasakan menu ini?" dalam hati Anisa terus bertanya-tanya tentang menu yang sudah disediakan oleh kepala yayasan yang ada di panti di mana Anisa pernah tinggal dulu.
Samuel dan dan Bu Ning pun nampak saling pandang karena merasa ada kejanggalan yang terjadi, tapi itu hanyalah sesaat karena pemilik panti tersebut sedikit senang karena dengan begitu. Rencananya akan berhasil.
"Semoga kamu sedikit mengingat An, jika makanan itu adalah makanan favorit kamu." Bu Ning membatin dan berusaha untuk tetap tenang, karena bu Ning sendiri yakin jika semua akan berjalan sesuai alurnya.
"Bu, eum …." Anisa tampak ragu untuk mengatakannya, hingga suaranya pun menggantung.
"Ada apa, An?" tanya bu Ning lembut.
"Tidak jadi." Bu Ning yang melihat pemandangan tersebut langsung tersenyum karena terlihat jika Anisa tengah menatap sesuatu yang ada fi meja.
"Kalau mau ibu akan mengambilkannya untuk kamu," tukas bu Ning yang mana jika Anisa ingin udang bumbu merah tersebut.
"Tidak Bu, aku tadi hanya bercanda—."
"Sudahlah tidak apa-apa. Ibu akan membawakan untuk kamu, nanti bisa kamu buat makan dengan Kakak kamu." Anisa tertunduk karena sedikit malu, karena merasa jika dirinya sudah memalukan. Hanya karena makanan tersebut Anisa harus meminta, sedang di dalam hati Samuel tengah tertawa dan dia tahu betul menu favoritnya.
"Kenapa wajahnya sangat lucu ketika malu," batin Samuel saat melihat Anisa dengan wajah seperti udang rebus.
"Sebentar ya An, Ibu akan mengambilnya karena di belakang masih ada sisa." Anisa hanya mengangguk tanpa berucap.
Bu Ning yang sudah meletakkan makanan tersebut di wadah, lalu dengan segera membawanya ke depan untuk diberikan pada Anisa.
“Syukurlah kalau Anisa menyukainya. Itu tandanya pertanda baik sudah berada di depan mata,” gumam Anisa.
Sesampainya di luar, tidak lupa Bu Ning memberikan makanan tersebut pada Anisa, dengan hati-hati Anisa juga segera mengambilnya.
“Bu, ini sudah siang. Kita mau pamit dulu.” Bu Ning mengangguk dan tidak lupa mengatakan sesuatu pada mereka.
“Kalau begitu kalian hati-hati ya. Sampaikan salam ibu pada nak Yuda,” kata bu Ning.
“Tentu Bu, kita akan menyampaikannya.”
__ADS_1
Setelah berpamitan pada pemilik panti tersebut. Anisa dan juga Samuel pun pergi dari halaman panti.
“Nis, apa kamu suka dengan udang balado?” pertanyaan itu sontak saja membuat Anisa langsung menoleh.
“Iya, ini sangat enak dan ….” Anisa berhenti dang menggantung ucapannya lagi.
“Apa ada masalah?” tanya Samuel.
“Entah mengapa bahwa aku merasa jika pernah makan menu ini, tapi aku juga tidak tahu kapan dan di mana.” Tak ada respon dari Samuel karena dirinya tengah berperang dengan pikirannya sendiri.
“Apa ini artinya jika Anisa telah mengingat sesuatu?” batin Samuel.
“Sam, kamu kenapa?” tegur Anisa karena Samuel hanya diam dengan wajah seperti seseorang yang tengah terbebani.
“Tidak, jika kamu suka aku bisa membuatkan kamu seperti yang di masak oleh Ibu Ning.” Anisa yang mendengar hal itu dibuat cukup kagum karena ternyata Samuel bisa membuatnya.
“Boleh kapan-kapan dibuatkan,” kata Anisa antusias.
“Sekarang pun aku bisa membuatkannya,” ujar Samuel.
“tidak, tidak. Ini kan udah dikasih sama Ibu panti, jadi aku akan memakannya terlebih dulu.” Samuel terkekeh saat melihat ekspresi Anisa, begitu sangat menggemaskan menurutnya.
"Benarkah?"
"Tentu, ya sudah kita mampir ke sebentar ke bandara ya. Soalnya Mama hari ini pulang jadi sekalian kita menjemputnya," kata Samuel yang mana membuat Anisa bingung, karena selama ini dirinya belum pernah melihat orang tua dari Samuel.
Samuel sepertinya sudah tahu akan tatapan Anisa kepadanya, lalu ia pun mencoba memberi tahu. Siapa wanita yang ia panggil tadi, sehingga Anisa tidak lagi penasaran. "Mama Susi, beliau adalah Mamaku dan kebetulan saat kamu masih koma, Mama harus segera berangkat ke luar kota untuk melihat bisnisnya di sana yang tengah mengalami masalah."
Anisa yang mendengar pun akhirnya mengerti dan sekarang tidak lagi bertanya.
Sekitar satu jam.
Sesampainya di bandara, Samuel dan Anisa masih menunggu di ruang tunggu. Bu Susi belum terlihat sedangkan pesawat sudah Landing.
"Mama kemana sih, kok gak ada kelihatan." Samuel sedikit kesal lantaran menunggu ibunya yang tak kunjung terlihat.
"Mungkin masih ada suatu tempat," kata Anisa yang mencoba membuat suasana sedikit tenang.
Tidak berapa lama kemudian, terlihat seorang wanita dengan berjalan tergesa-gesa menghampiri putranya dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Sam!" teriak wanita itu yang tak lain adalah Ibu Susi.
"Mama!" sahut Samuel dengan rasa rindu yang tidak bisa tertahan. Samuel pun memeluk sang Ibu dengan rasa bahagia.
Setelah puas berpelukan, wanita tersebut melepaskan dan melirik ke arah tempat duduk. Betapa bahagianya wanita itu saat melihat Anisa.
"Sayang, kamu kok peluk mama!" tegur bu Susi karena terlihat Anisa hanya diam seakan tidak saling kenal di antara keduanya.
"Maaf Tante—,"
"Apa mama tidak salah dengar," sahut bu Susi karena Anisa memanggil layaknya orang lain.
"Kenapa Tante terkejut?" dengan wajah polosnya Anisa masih memanggilnya dengan sebutan 'Tante' dan hal itu membuatnya tidak suka.
"Sam, di mana Anisa ku yang asli. Kenapa Anisa yang ini tidak mengenaliku?" kata bu Susi pada Samuel yang kini lelaki tersebut, juga ikut bingung karena memang mama nya tidak tahu, kalau selama ini menantunya sudah tidak dapat mengenali semua orang. Termasuk dirinya yang yang berstatus suaminya.
"Ma!" Samuel langsung menarik mama nya dan langsung memberitahu jika selama ini Anisa sudah kehilangan memori masa lalunya.
"Jadi, selama ini … maafkan mama Sam, karena tidak tahu keadaannya selama di rumah sakit."
Yah, setelah memakamkan sang cucu. Bu Susi harus berangkat ke kota S untuk melihat usahanya yang ada di bidang konveksi. Bu Susi harus terjun langsung ke pabriknya karena ada masalah di sana.
"Iya, Ma. Bahkan Anisa tidak ingat siapa aku," ucap Samuel dengan nada lemahnya.
"Ya sudah, kita bahas nanti saja di rumah. Kasihan Anisa jika kita terus membicarakannya," ujar bu Susi yang memilih menyudahi obrolan tersebut karena merasa tidak enak dengan sosok menantunya.
"Nis, kita pulang yuk. Ini hampir mau sore." Anisa langsung berdiri dan mengekori kedua orang yang ada di depannya sekarang.
Pukul empat sore.
Kini Anisa sudah di antarkan ke rumahnya dan Yuda juga sudah menunggunya. "Akhirnya kamu pulang juga," kata Yuda.
"Iya, tadi aku ajak ke bandara buat jemput Mama." Jawab Samuel.
"Tante udah balik?" tanya Yuda.
"Iya, sedikit syok dengan yang dilihatnya tadi."
"Entah, kapan Anisa akan menjadi Anisa ku yang dulu. Aku rindu sosok Anisa sebagai istriku, aku rindu disaat pulang kerja dia menyambutku dengan penuh senyum …." Samuel tidak melanjutkan ucapannya karena merasa tidak sanggup karena ini adalah ujian terberatnya setelah melewati masa-masa sulit.
__ADS_1