
"Apa-apaan ini, dan siapa kamu bisa-bisanya memukulku!" sergah Dirga sambil mengelap bibirnya dengan tangannya yang sudah berdarah,
"Lagian siapa sih kalian, bisa-bisanya memukul suamiku!" sahut Elsa yang tak terima jika Dirga dipukuli oleh lelaki tidak dikenal.
"Apa kamu lupa padaku?" ujar Samuel tersenyum pada Dirga, setelah memberikan bogeman mentah pada lelaki tak tahu diri itu.
"Owh, jadi kamu selingkuhannya Anisa, ya?" kata Dirga dengan wajah menatap tidak suka pada Samuel.
Entah, kenapa bisa Dirga menyimpulkan jika keduanya telah memiliki hubungan. Di tambah sebuah pernyataan Ibunya tempo hari, yang semakin membuat Dirga yakin.
"Terserah apa yang kamu bilang. Begini kah caranya suami bersikap adil untuk membagi waktu pada istri-istrinya?" kata Samuel dengan satu tangan sudah berada di kerah baju Dirga, dan ingin sekali memberikan pajaran lagi pada sosok pria yang sudah mengkhianati, wanita yang ia cintai.
"Apa maksudmu! Aku tahu kamu suka dengan istriku bukan, makanya kamu terus berusaha untuk membuat Anisa meminta cerai padaku."
"Kalau memang iya kenapa, lelaki sepertimu tidak pantas dipertahankan karena memang kamu bukan suami bertanggung jawab!" tunjuk Samuel pada wajah Dirga.
"Jangan pernah menunjuk wajahku!" seru Dirga yang tak terima dengan perlakuan Samuel.
"Ingat, jika sudah tidak rasa cinta lagi. Maka lepaskan Anisa, jangan memberi harapan kalau berujung kamu menyakitinya." Ucapan tegas dari Samuel, semakin membuat Dirga percaya.
"Tentu dong, kami bahagia apalagi sebentar lagi akan ada kehadiran bayi mungil." Elsa yang tak sabar ikut menyahuti, karena untuk saat ini hanya ada dirinya dan juga Dirga.
"Sampai kapan aku tidak akan melepaskan Anisa! Ingat itu."
Bugh.
Satu bogeman mentah mendarat di pipi Dirga lagi.
"Anisa sedang berada di rumah sakit, tapi apa yang kamu lakukan! Kamu justru sedang berbahagia dengan wanita murahan ini," ucap Samuel tanpa punya rasa takut sedikitpun.
"Jadi, Anisa ada di rumah sakit. Kenapa aku begitu bodoh tidak mengetahuinya," gumam Dirga. Dengan wajah tidak percaya bahwa tadi pagi istrinya masih cukup baik, tapi saat sore hari ia datang. Sudah tidak menemukan Anisa, Dirga pikir jika istrinya sedang bersenang-senang dengan Samuel, dan semua ini di luar dugaannya.
__ADS_1
"Di mana dia sekarang?" terdengar suara kebingungan saat mendengar Anisa berada di rumah sakit.
"Mas, tapi aku mau kamu menemani belanja." Lagi-lagi Elsa merengek dan bergelayut manja di lengan Dirga.
"El, Anisa sedang membutuhkan aku!" kata Dirga pada istri sirinya tersebut.
"Aku tidak mau tau, jika kamu pergi maka aku akan pulang. Ke rumah orang tuaku karena kamu sudah tidak lagi peduli padaku," ancam Elsa pada Dirga, yang mana lelaki itu hanya me menghela nafas.
"Lepaskan dia, maka dengan senang hati aku akan menggantikan posisimu!" tukas Samuel, terdengar biasa. Namun, kalimat itu mampu membuat Dirga semakin terbakar oleh rasa cemburu.
"Yud, kita pergi!" perintah Samuel, dan diikuti oleh Yuda.
"Lihat kan Mbak Anisa, kalau hanya menaklukkan hati Mas Dirga, semua itu tidak akan sulit." Elsa membatin penuh kemenangan karena wanita itu telah berhasil melupakan istri sah nya, dan berpaling ke istri sirihnya.
Tanpa wajah bersalah, Dirga masih tetap menemani Elsa belanja kebutuhan Calon si jabang bayi.
Lalu, untuk Samuel, lelaki itu sedikit puas karena sudah menghajar lelaki seperti Dirga, yang tak pernah bisa adil sampai kapan pun. Meski nyatanya Dirga tak kunjung sadar akan kesalahannya.
Pada saat masuk, terlihat Anisa yang ingin meraih minum, tapi tidak sampai karena tiang infus.
"Sebentar Nis, aku akan mengambilkannya untuk kamu!" seru Samuel yang bergerak cepat, lalu mengambil gelas untuk wanita tersebut.
"Terimakasih," ucap Anisa setelah menerima gelas tersebut.
"Maaf karena kita pergi sedikit lama," kata Samuel lagi.
Sesaat mata Samuel menangkap sebuah mangkuk yang berisikan nasi beserta lauknya, dan Samuel yakin jika Anisa belum makan. "Nis, mau makan?" tawar Samuel.
"Aku tidak menyukai makanan di rumah sakit." Jawab Anisa dengan melirik ke arah mangkuk tersebut.
"Tetap saja kamu harus makan," ujar Samuel yang berusaha membujuk Anisa untuk tetap makan.
__ADS_1
"Sudah aku bilang kalau aku, tidak suka makanan rumah sakit!" kata Anisa dengan intonasi tinggi, agar Samuel tidak memaksanya lagi.
"Mau makan apa, biar Yuda akan membelikannya untuk kamu." Samuel tak kehilangan akal, dan berusaha membujuk Anisa untuk makan, karena dengan begitu tubuhnya akan segera pulih dan bisa segera pulang juga.
"Belikan aku nasi goreng," ujar Anisa menatap wajah Samuel dengan amat lekat.
"Nis, perutmu sedang bermasalah. Sebaiknya kamu makan lainnya ya, nasi goreng itu lekat dengan minyak." Mendengar akan hak itu, Anisa langsung mengerucutkan bibirnya, dan membuat Samuel semakin gemas karena Anisa tengah marah.
"Ok, ok. Aku akan membelikannya untuk kamu, dan lepas ini makan yang banyak supaya badan gemuk." Samuel pun akhirnya pasrah dan dan menyuruh Yuda untuk keluar lagi membawa makanan yang sudah di pesan oleh Anisa.
Anisa sekarang tengah memainkan jari-jarinya, karena rasa bosan mulai melingkupi. Hingga sebuah deheman membuat Anisa melirik ke arah suara tersebut.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Samuel tiba-tiba. Bukannya lelaki ingin ikut campur, tapi hanya ingin memastikan jika Anisa dapat memilih dengan pilihan yang tepat.
"Entahlah, aku belum memikirkan akan hidupku kedepannya." Jawab Anisa tanpa peduli jika lelaki itu tengah menatapnya dengan intens.
"Harusnya ada pilihan yang bisa kamu ambil, karena ini semua demi masa depan kamu juga." Saat Samuel bicara, tetap tak ada respon dari Anisa, dan lelaki itu pun yakin jika memang Anisa sengaja untuk menghindar.
"Tangan kamu kenapa?" justru Anisa membahas tangan Samuel, yang terlihat memar dan hal itu membuatnya ingin tahu, akan apa yang sudah terjadi pada lelaki yang kini masih menemaninya di rumah sakit.
"Bukan apa-apa," elak Samuel yang tak ingin jika Anisa mengetahui apa yang sedang terjadi kepadanya.
"Kamu sedang berbohong padaku Sam, jawab aku. Apa kamu baru saja berantem?" tanya Anisa yang terus berusaha untuk mencari kebenarannya.
"Kalau pun aku sudah berkelahi. Semua itu tidak ada urusannya dengan kamu, ingat! Jangan bertanya soal ini."
Setelah mengatakan, Samuel menjauh dari Anisa karena tidak mungkin baginya, kalau harus jujur tentang tangannya yang memar.
Waktu malam kian larut, dan Samuel masih setia menunggu Anisa, yang masih terbaring.
Untuk pertama kalinya sosok Samuel berada di rumah sakit. Setelah kematian sang ayah, tiga tahun silam.
__ADS_1