
"Sam, kamu duluan ya, aku dan Anisa mau mampir sebentar ke rumah Yuni." Samuel mengangguk dan di sinilah Ferdy layaknya orang bego karena merasa tidak diundang hingga merasa malu. Yang akhirnya memilih untuk pergi.
"Bang, saya izin pulang."
"Silahkan," timpal Yuda.
"An, saya pamit." Yuda beralih pada Anisa.
"Iya, terima kasih untuk pagi tadi." Anisa dengan senyuman kecil menjawab.
Setelah sampai di rumah sakit.
"Kondisi Bu Anisa semakin membaik dan semoga secepatnya pulih. Sebentar saya akan membuatkan resep untuk Ibu," kata dokter karena memang hari ini adalah jadwal untuk Anisa.
"Dok, sampai kapan aku menjadi orang terlupakan?" dengan rasa tak tertahankan akhirnya Samuel memilih bertanya pada Dokter Alex.
"Ajaklah ke tempat-tempat di mana kalian berdua pernah ke sana, ingatkan dengan momen kebersamaan kalian sewaktu dulu. Mungkin dengan begitu, perlahan Bu Anisa bisa sedikit demi sedikit bisa ingat dengan masa lalunya. Samuel yang mendengar hanya bisa menganggukkan kepalanya, dengan apa yang dikatakan oleh dokter maka semua akan berubah seperti dulu.
"Iya Dok, semoga saja Anisa bisa mengingat orang-orang yang ada disekelilingnya." Dokter pun mengangguk tanda bahwa ia setuju dengan ucapan Samuel.
Dirasa sudah selesai kontrol. Samuel pun sengaja ingin mengajak Anisa ke panti. Siapa tahu dengan begitu, memorinya akan berputar dalam mengingat masa lalunya yang dulu.
"Yud, pergilah dengan Arum, karena aku ingin mengajak Anisa ke panti." Yuda yang mendengarnya pun setuju. Panti adalah tempat pertama bagi Anisa setelah perpisahan dengan Yuda.
"Baiklah, karena aku juga ingin berpacaran seperti orang lain. Kamu urus Anisa," kata Yuda.
"Dengan senang hati." Jawab Samuel karena pada akhirnya ia akan berjalan-jalan Anisa.
Selepas Anisa keluar dari kamar mandi. Lantas ia pun buru-buru mengajak sang Kakak untuk segera pulang, tapi sayangnya Yuda malah memintanya untuk ikut dengan Samuel.
“Kak, yuk pulang.” Anisa pun langsung mengajak Yuda untuk pulang.
“An, kamu pulang dengan Samuel ya, kakak ada urusan dengan Arum soalnya.” Anisa pun sadar jika keduanya juga butuh jalan-jalan. Jadi, Anisa pun terpaksa mengiyakan ucapan sang Kakak.
__ADS_1
“Baiklah dan selamat bersenang-senang,” ucap Anisa dan keduanya pun lantas pergi.
Arum juga akan percuma menjelaskan, karena nanti Anisa tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya. Jadi, biarkan waktu yang akan menjawab.
Sekarang tinggal Anisa dan Samuel, maka akan seperti biasa jika antara Anisa maupun Samuel pasti keduanya akan terlihat layaknya orang yang baru kenal. Rasa canggung yang mereka miliki tidak akan merubah keadaan jika masih ada yang tidak mau mengalah.
“Ayo!” akhirnya Samuel pun membuka mulutnya untuk bicara.
Anisa tidak menjawab dan hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Samuel.
“Nis, kita akan ke panti sebentar ya, karena aku kangen dengan anak-anak!” Samuel hanya ingin mencari alasan untuk membuat Anisa bisa mengingat kejadian di masa lalunya.
“Boleh, karena saya juga ingin bermain dengan anak-anak.” Jawab Anisa dengan suara datar.
“Nis, apa kamu tidak bisa bicara dengan sedikit hangat padaku?” ucap Samuel karena dirinya merasa risih dengan kata ‘Saya’ dan maka dari itulah Samuel meminta Anisa untuk tidak berbicara formal. Terlebih ini bukan kantor atau sedang bertemu dengan orang penting.
“Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan seperti itu.” Jawab Anisa dengan suara iritnya.
“Nis, ini aku suami kamu. Kenapa kamu melupakan aku,” keluh Samuel dalam hati,
Tanpa terasa sudah hampir dua satu jam lebih. Keduanya sudah sampai di halaman panti. Tampak menyenangkan saat para anak kecil itu tengah bermain bersama.
Anak-anak yang berada di luar yang tengah melihat Anisa, ada yang masuk dan juga ada yang bertanya kabar soal Anisa yang pernah terbaring lemah di rumah sakit.
"Kakak!" suara teriakan dari anak-anak. Membuat Anisa seketika berhenti untuk berjalan.
"Eh anak-anak, senang bisa bertemu dengan kalian." Bukan, bukan ini yang dimau oleh anak-anak dan semuanya anak yang berada di dekat Anisa dibuat aneh dengan tingkah Anisa yang tak se-ramah dulu.
"Kak, apa Kakak melupakan kita semua?" sebuah pertanyaan lolos di bibir mereka semua. Sedangkan Anisa yang dibuat bingung kini tengah menatap Samuel, dengan harapan jika akan diberi jawaban agar Anisa tidak salah paham.
"Anak-anak. Kakak Anisa nya sempat sakit dan baru sembuh, jadi kalian harap bisa memakluminya ya. Sekarang kembali bermain ya karena Kakak mau masuk buat nemuin Ibu," ucap Samuel yang berusaha untuk membuat anak-anak tidak merasa sedih karena Anisa tidak dapat bersikap hangat pada mereka. Bukan salah mereka atau salah bocah-bocah itu. Semua ini memang karena keadaan jadi Samuel hanya berdoa jika suatu hari Anisa bisa pulih..
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Nak Samuel, Anisa!" sambut bu Ning saat melihat kedatangan mereka.
"Bu." Samuel pun langsung memberi salam dan diikuti oleh Anisa.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya bu Ning pada mereka.
"Alhamdulillah baik Bu, ini kita baru pulang dari rumah sakit untuk mengecek kesehatan Anisa." Jawab Samuel.
Bu Ning yang kini tengah berdiri, langsung menyambut tangan Anisa dan merangkulnya layaknya Ibu dan anak. "An, ibu merindukan kamu." Tidak ada respon dari Anisa. Namun, bu Ning tidak peduli dan terus merangkul Anisa.
"Nis, dia orang yang pernah berjasa dalam hidup kamu." Anisa menoleh dan menatap Samuel, seakan lelaki itu tahu segala tentangnya. Tetapi, justru dirinya tidak dapat mengingat satu orang pun yang pernah menemaninya saat dulu.
"Maksudnya berjasa untuk apa? Aku tidak mengerti dan bisakah kalian menjelaskannya!" nada bingung kian semakin terlihat menghiasi wajahnya. Ingin sekali Samuel bilang jika Anisa pernah berada di tempat ini, tapi lelaki itu terlalu takut jika akan berakibat fatal apalagi sampai harus membuat Anisa kesakitan.
"Tidak ada apa-apa. Samuel memang suka bercanda jadi kamu jangan terlalu memperdulikannya," sahut bu Ning yang tak mau terjadi sesuatu pada Anisa.
Anisa mengangguk dan sepertinya apa yang dikatakan oleh Bu Ning adalah benar, jika Samuel orang yang suka bercanda karena Anisa juga mengalaminya di mana Samuel yang jahil dan iseng.
"Iya Bu, Samuel memang suka iseng." Anisa pun ikut menimpali dengan keadaan canggung, karena selama berada rumah. Ini pertama kalinya ia pergi dan berada di panti juga.
"Kalian pasti lapar kan, ya sudah ibu mau masakin buat kalian dan tunggu di sini sebentar." Bu Ning lantas segera pergi ke dapur, dengan harapan jika nanti Anisa makan, maka akan bisa mengingat sedikit makanan itu.
"Bu, tidak usah. Kita ke sini untuk melihat panti dan sekaligus mau memberikan ini," kata Samuel yang mencegah untuk tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan untuknya dan juga Anisa.
"Tidak apa-apa, Nak. Siapa tahu Anisa mau minum obat dan perlu makan untuk jadi syarat utama," balas bu Ning, tidak lupa wanita paruh baya itu mengedipkan satu matanya dan Samuel pun mengerti.
Tidak membutuhkan waktu lama. Anisa dan Samuel punya dipanggil untuk makan. Kini sekarang sudah ada di meja makan dan ditemani beberapa menu kesukaan Anisa sewaktu dulu.
"An, biar ibu ambilkan. Kamu tinggal menunjuk," kata bu Ning dan tadinya Anisa yang malu entah kenapa sekarang tiba-tiba bisa akrab walau ada sedikit rasa canggung.
"Aku mau yang itu Bu," tunjuk Anisa.
Bu Ning pun langsung mengambilnya, yang mana lauk tersebut adalah menu kesukaan Anisa dari semenjak kecil.
__ADS_1
Deg!
"Rasa ini, kenapa rasanya aku pernah makan?" dalam hati Anisa bertanya-tanya. Sejenak ia pun terdiam saat satu suapan masuk ke dalam mulutnya.