
"Cepat bawa, Sam!" perintah Yuda lagi, karena ia tidak mau adiknya kembali kenapa-kenapa. Sudah cukup kala itu telah membuat hatinya hancur, ketika semua peralatan medis tertempel di kulit Anisa.
Pesta sedikit berantakan karena kejadian di mana Anisa tidak sadarkan diri. Dengan secepat kilat, Samuel terus membawa Anisa ke rumah sakit dengan membawa mobil sedikit ugal-ugalan, ia tidak peduli jika oran-orang tengah menghakiminya dan yang penting adalah nyawa istrinya.
Saat ini, rasa takut yang dimiliki oleh Samuel belumlah hilang sepenuhnya, tapi sekarang hal itu terjadi lagi dan terulang pada memori waktu itu. Di mana beberapa tahun lalu pernah berada di posisi hancur, lalu sekarang terjadi lagi dengan keadaan yang berbeda.
"Nisa, aku tidak mau kehilangan kamu. Aku tidak kuat jika hal itu terulang lagi," oceh nya dengan terus menatap wajah Anisa yang kini memejamkan matanya dan bibir yang kering serta muka yang sudah pucat.
"Sam, jangan berpikir yang aneh-aneh. Siapa tahu kalau Anisa memang sedang lelah hingga membuat daya tahan tubuhnya menurun. Bukankah dari kemarin ia sibuk mempersiapkan dekorasi pernikahan Yuda," ujar bu Susi yang berusaha untuk menenangkan Samuel, meski hatinya sendiri sedang dilanda kecemasan, tapi Samuel lebih membutuhkan kekuatan untuk bisa lebih tegar lagi.
"Ma, aku takut. Takut jika Anisa akan meninggalkanku," ucap Samuel dengan air mata tak terbendung lagi. Meski ia adalah sosok lelaki, tapi jika sudah menyangkut keluarga atau seseorang yang begitu berarti, air mata akan mengalahkan jiwa lelakinya.
"Maka berdoalah, doakan supaya istrimu baik-baik saja."
Setelah itu tidak ada percakapan karena Samuel terus membawa mobil itu dengan sedikit kencang. Hingga kendaraan yang ia tumpangi kini sudah berada di depan rumah sakit.
"Suster tolong, tolong istri saya!" teriak Samuel dan seketika para suster berhamburan untuk membantu Samuel kini sedang berada digendongannya.
"Pak, ada dengan istri Anda?" tanya salah satu perawat.
"Saya tidak tahu Sus, karena tadi memang mengeluh kepalanya sakit." Jawab Samuel dengan napas tersengal.
"Bapak tunggu di luar!" cegah suster tersebut saat Samuel hendak ingin masuk juga, tapi suster menyuruhnya untuk tetap berada di luar ruangan.
"Sam, tenanglah." Bu Susi mengelus lembut punggung Samuel agar bisa sedikit tenang.
"Ma, mana bisa aku tenang ketika melihat Anisa lagi-lagi harus berada di tempat ini!" kata Samuel dengan wajahnya yang sudah dipenuhi oleh ketakutan karena harus kembali lagi masuk ke dalam rumah sakit.
"Maka kita tunggu hasilnya, kamu cobalah tenang." Dengan geram bu Susi bicara karena lelah dengan sikap Samuel yang terlalu kekanak-kanakan.
Samuel diam, setelah dapat keyakinan dari sang mama. Jika Anisa akan baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu pada istrinya.
Hampir 30 menit, akhirnya seorang dokter keluar dan Samel gegas menghampirinya.
"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?" Samuel langsung bertanya pada dokter yang bertugas memeriksa Anisa.
"Tenanglah Pak, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kita menunggu dokter lain yang akan memeriksa istri Anda," ujar dokter yang kini tengah menangani Anisa.
Samuel semakin cemas ketika dokter tersebut berkata seperti itu. Merasa tidak punya tenaga hingga ia memutuskan untuk berjalan kembali ke tempat semula dengan langkah lunglai.
"Sam, apa kada dokter. Anisa baik-baik saja, kan dan kenapa wajahmu semakin jelek?" Samuel yang mendengar semakin kesal karena di saat seperti ini, justru bu Susi sengaja mengejeknya.
"Ma, Mama niat bertanya atau ingin mengejekku sih!" dengus Samuel.
"Maaf."
__ADS_1
"Katanya akan ada dokter khusus untuk memeriksa Anisa." Mata bu Susi seketika membulat lebar, jika benar seperti itu. Artinya Anisa berada di keadaan serius sampai harus ada dokter khusus.
Pada saat Samuel dan bu Susi menunggu hasilnya dengan sebuah kecemasan yang melanda. Terlihat Dokter Mila tengah berjalan dengan langkah tergesa-gesa.
"Ma, bukankah itu Dokter Mila?" gumam Samuel ketika melihat dokter muda itu masuk ke dalam ruangan.
Bu Susi sedikit heran kenapa ada Dokter Mila yang masuk ke dalam ruang periksa, di mana Anisa berada sekarang dan dalam hatinya sekarang sedang bertanya-tanya.
"Kita tunggu setelah dokter keluar saja," kata bu Susi memberitahu agar Samuel tidak mengganggu saat dokter tengah memeriksa keadaan Anisa.
"Iya, Ma." Samuel patuh dan mencoba mengikuti saran dari mama nya.
Menit kemudian, suara dokter tengah memanggil nama Samuel. "Pak, kita bisa bicara sebentar."
Samuel sekarang antara bingung dan tidak tahu harus memulai darimana. Tidak terlihat wajah menegangkan dari Dokter Mila juga saat keluar dari ruangan.
"Boleh, memangnya kenapa dengan istri saya? Bukankah tadi sudah ada Dokter yang menanganinya. Lantas sekarang kenapa beralih ke Dokter?" Dokter Mila tersenyum dan seperti biasa jika kedua tangan dimasukkan ke dalam saku kebanggaannya.
"Itulah yang akan saya bahas," ujar dokter itu.
"Baik, sekarang katakan padaku, Dok."
"Begini Pak, untuk sebelumnya saya mengucapkan selamat untuk Bapak." Samuel yang mendengar benar-benar dibuat bingung dengan ucapan yang disampaikan oleh Dokter Mila.
"Dok, bisa beritahu saya maksud Dokter apa?" tanya Samuel yang sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari dokter tersebut.
Mata Samuel terbelalak menatap tidak percaya. Merasa jika Anisa selama ini baik-baik saja dan tidak meminta yang aneh-aneh juga, itulah yang membuat Samuel sedikit meragukan kalau Anisa memang hamil.
"Dokter yakin?" tanya Samuel untuk memastikan.
"Tentu, kandungannya baru tiga minggu. Harap jaga istri Bapak, karena janinnya masihlah sangat rentan dan tidak boleh kecapean." Dokter pun langsung menjelaskan kenapa Anisa bisa sampai tidak sadarkan diri. Itu disebabkan karena awal kehamilannya dan hal itu sudah wajar.
"Baik Dok, terima kasih untuk penjelasannya." Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Kini Samuel sudah memasuki ruang periksa dengan hati yang begitu bahagia, antara senang dan terharu tengah menyatu di hatinya.
"Sayang, terima kasih ya. Untuk kado terindahnya," ujar Samuel dengan menciumi wajah Anisa dengan penuh haru.
"Sama-sama, Mas." Jawab Anisa sedikit lemah.
"Setelah aku mengurus administrasi kita pulang, ya!" ajak Samuel dengan wajah berseri-seri.
Sedangkan Samuel telah melupakan sang mama. Hingga ia baru teringat jika bu Susi masih berada di luar ruangan.
"Astagfirullah!" Samuel menepuk jidatnya dan hal itu tidak luput dari pandangan Anisa.
"Kenapa?" tanya Anisa dengan keheranan.
__ADS_1
"Di luar ada Mama, aku melupakannya karena saking bahagianya." Jawab Samuel dengan menggaruk tengkuk lehernya, hanya untuk sebuah alasan.
Ckckckck.
"Kamu itu, kenapa bisa sampai lupa!" pekik Anisa yang terlanjur kesal pada Samuel.
"Saking senangnya." Jawab Samuel dengan enteng.
Samuel sudah keluar dan menyuruh bu Susi untuk masuk, siapa sangka. Jika wanita yang sudah berusia lanjut, tapi masih terlihat segar dan cantik itu langsung memeluk tubuh Anisa dengan diiringi tangis bahagia.
"Sayang, selamat ya. Akhirnya mama sebentar lagi akan punya cucu," ucap bu Susi dengan wajah yang berseri-seri.
"Ini semua juga berkat doa Mama, kita diberi kesempatan lagi oleh Tuhan." Dengan senyuman yang mengembang, Anisa menjawab.
"Sekali lagi selamat ya, mama senang karena rumah akan rame sebentar lagi." Saking senangnya bu Susi terus memeluk tubuh Anisa.
Sedangkan di rumah Yuda.
"Yud, bagaimana dengan keadaan Anisa! Aku sungguh mengkhawatirkannya." Dengan cemas Arum berbicara.
"Tenanglah Rum, siapa tahu sebentar lagi Samuel akan memberi kabar. Kita juga tidak mungkin meninggalkan rumah apalagi ada beberapa tamu yang masih ada," ujar Yuda yang mencoba menenangkan Arumi.
Dari arah luar. Terlihat bu Ning terlihat gelisah dan Arum tahu apa penyebabnya. "Bu, tenanglah, semoga Anisa tidak kenapa-napa."
Siapa yang tidak khawatir, pasti semua orang akan merasakan hal itu. Apalagi saat melihat Anisa tidak sadarkan diri dan dengan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit.
“Apa mereka kita bubarkan, untuk melihat keadaan Anisa di rumah sakit?” usul Yuda.
“Tidak Nak, itu bukan ide yang bagus. Kita lebih baik menunggu kabar dari Samuel saja,” ucap bu Ning yang tidak mau sampai Yuda dan Arum, harus menyuruh parah tamu untuk pergi hanya karena ingin melihat Anisa.
“Baiklah.” Akhirnya keduanya pun pasrah dan aka menunggu kepulangan Anisa.
Dua pengantin yang sedang dilanda kecemasan, dengan terus memegang ponsel. Berharap jika Samuel akan segera menghubunginya untuk memberi kabar soal Anisa nyatanya sampai acara usai dan rumah kembali seperti biasanya, Samuel tidak kunjung memberi kabar. Jadilah Yuda semain khawatir pada sang adik yang tak tahu keadaannya seperti apa sekarang.
“Belum ada kabar ya dari Samuel?” tanya Arum ketika melihat wajah cemas lelaki yang beberapa jam telah sah menjadi suaminya itu.
“Belum ada,” jawab Samuel singkat.
“Kenapa tidak kamu hubungi, dengan begitu kita tahu akan kabarnya.”
“Sepertinya memang harus,” sahut Yuda.
Belum sempat menekan tombol hijau untuk menghubungi Samuel, karena ada pesan masuk dari Samuel lewat aplikasi hijau dan uda pun segera membaca, akan pesan yang dikirim oleh adik iparnya itu.
“Ada apa lagi?” tanya Arum dengan raut wajah yang sudah amat penasaran.
__ADS_1
“Ada pesan dari Sam, katanya mereka sudah pulang dari satu jam yang lalu dan sekarang Anisa sedang istirahat, entah aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.” Yuda pun menjelaskan pada Arum jika Anisa baik-baik saja. Hal itu juga yang memuatnya sedikit tenang karena tidak ada yang perlu di khawatirkan.
“syukurlah dan aku akan memberitahu Ibu soal ini, agar tidak terus mencemaskan Anisa.” Ucapan Arum disetujui oleh Yuda karena bu Ning juga harus tetap tahu tentang keadaan Anisa.