
Tiga hari setelah pertemuannya dengan Anisa, membuat Ferdy tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan wanita tersebut. Bayang-bayang yang selalu ada di dalam pikirannya, membuatnya tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.
Entah, perasaan yang ia miliki pada Anisa ini adalah benar atau salah. Pada kenyataannya Ferdy tidak bisa melupakan sosok yang selalu datang, dengan wujud bayang-bayang yang selalu hinggap di setiap waktu.
"Kenapa dengan otakku, lagi-lagi Anisa yang membuat aku seperti ini." Ferdy membatin lagi, memang dari semenjak dirinya bertemu dengan Anisa, ada perasaan berbeda yang ia miliki saat ini, entah perasaan yang selalu ingin dekat hingga Ferdy berniat untuk melamarnya, tapi ia juga harus memastikan semuanya agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
"Lagipula lelaki itu hanya mengada-ngada, mana mungkin jika Anisa benar istrinya. Sedangkan Anisa sendiri tidak mengakuinya,” batin Ferdy lagi karena memang terlihat jika lelaki tersebut suka dengan Anisa, jadilah orang itu membuat cerita palsu, seperti itulah yang ada di benaknya.
Saat Ferdy tengah asyik dengan lamunannya, sebuah suara membuatnya langsung merubah ekspresi menjadi datar.
“Fer, bukannya berangkat kerja malah melamun?” seorang pria dengan menggunakan baju santainya, tengah menghampiri Ferdy yang berada di teras.
“Bentar lagi, Yah. Ini kopi juga belum habis,” ujar Ferdy menimpali orang tua tersebut yang tidak lain adalah Ayahnya.
“Itu karena kamu dari tadi melamun, lagian cepatlah cari istri agar kamu tidak melamun terus.” Sejenak ferdy menatap dalam ke arah ayahnya, kenapa juga sepagi ini masih saja harus membahas seorang istri.
“Apa hubungannya antara istri dan melamun? Ayah kenapa pagi-pagi sudah bahas itu sih!” Ferdy mendengus kesal karena mood nya sudah hancur, justru sekarang ditambah dengan pertanyaan dari lelaki tua yang bernama Pramana.
“Kenapa kamu semakin bertambah umur semakin bodoh, tentunya kamu tidak lagi kesepian dan terus melamun seperti ini kan, apalagi kalau kalian punya anak.” Mata Ferdy membulat karena memang itu adalah permintaan Pak Pram karena merasa jika beliau sudah waktunya untuk mempunyai seorang cucu.
“Bilang saja kalau Ayah mau cucu kan, kenapa harus mengejekku dan mengatakan kalau aku ini bodoh!” dengan wajah yang kesal Ferdy berkata, karena ia bosan jika ayahnya selalu memintanya untuk secepatnya menikah. Bukan karena tidak mau, melainkan dirinya belum ada yang pas meski ada beberapa yang dekat dengannya.
"Kenapa tidak dengan Melly saja, dia cantik dan baik. Sepertinya kalian juga cocok," kata pak Pram.
"Yah, bukan aku tidak mau menikah. Hanya saja masih belum menemukan pengganti Lili yang bisa membuat hati ini bergetar," terang Ferdy.
"Seiring berjalannya waktu cinta itu tumbuh."
"Tidak semudah itu, lagian aku menjadi duda baru juga dua tahun. Kenapa harus buru-buru menikah jikalau hidupku masih berantakan!" ucapan tegas dari Ferdy membuat sang ayah bungkam.
"Sudahlah, aku mau berangkat kerja dulu."
__ADS_1
Ferdy lelaki berusia 36 tahun, lelaki dengan gelar duda yang telah sukses di dunia otomotif. Memiliki berbagai bengkel di beberapa tempat dan usaha yang dijalaninya cukup ramai. Sayangnya nasib rumah tangganya berakhir tragis karena istrinya meninggal disebabkan oleh penyakit mematikan, yang mana Ferdy tidak pernah tahu apa yang sudah terjadi pada Lili.
Ada banyak wanita yang berusaha mendekatinya dengan tubuh seksi dan rayuan maut, yang jadi senjata utamanya. Namun, tak sekalipun Ferdy terpengaruh oleh tubuh yang molek dari tiap perempuan tersebut, tapi kenapa pada saat dirinya bertemu dengan Anisa, gairah itu muncul secara tiba-tiba.
Sedangkan di lain tempat, kini Arum sedang bersama dengan Yuda, yang mana Kakak dari Anisa itu sedang mengantarkan Arum untuk berangkat bekerja.
"Yud, bagaimana caranya agar Anisa segera sembuh dari ingatannya?" Yuda pun sempat melirik ke arah Arum dan setelah itu kembali fokus menyetir.
"Semua usaha sudah kita coba, nyatanya Anisa belum bisa mengingat jadi dirinya yang sesungguhnya. Aku pun tidak tahu harus berbuat apalagi," ujar Yuda karena memang, sudah berbagai cara sudah ia coba, nyatanya sampai detik ini pun tidak ada yang berubah dari dalam diri Anisa.
"Lalu, bagaimana dengan nasib Elsa yang kamu tahan itu?" Arum sudah mengetahui semuanya dan memang Elsa juga harus mempertanggungjawabkan, atas kekacauan yang pernah ia perbuat. Elsa dijatuhi tiga tahun dan anak buahnya dua tahun, karena otak dari semua ini Elsa yang merencanakan," ucap Yuda saat menjelaskan pada Arum.
"Aku berharap jika mereka akan sadar dan tidak lagi mengulangi perbuatannya. Sekarang lebih baik kita fokus pada kesembuhan Anisa," jawab Arum dengan menyuguhkan seulas senyuman untuk Yuda.
"Maaf ya Arum, karena masalah ini jadi kita harus menunda acara pernikahan kita." Yah, harusnya keduanya menikah pada saat Anisa pulang dari rumah sakit, sayangnya. Keadaan membuat keduanya mengurungkan niatnya karena posisi saat ini, Anisa butuh sosok pendamping mengingat setelah terbangun dari koma dan berhasil melewati masa kritis, tatapi justru Anisa kehilangan seluruh memorinya.
"Tenanglah, aku tidak menuntut semua itu sekarang. Untuk sekarang kita harusnya lebih fokus ke Anisa agar semuanya bisa kembali normal dan mereka juga bisa bersatu dalam sebuah hubungan, yaitu rumah tangga. Intinya kita harus berusaha menyakinkan Anisa, kan." Yuda dibuat bangga atas kepedulian Arum pada Anisa, karena wanita itu pun sama sekali tidak mempermasalahkan jika harus menunda pernikahannya sampai Anisa sembuh.
Tidak terasa keduanya sampai di area parkir, yang mana Arum dan Yuda berpisah untuk menuju ke tempat kerjaan masing-masing.
"Sekarang kamu masuklah, jangan lupa untuk menjaga kesehatan dan nanti aku akan menjemputmu." Maka seperti itulah ketika Yuda memberi nasehat pada Arum.
"Kamu ini, sudah seperti Mak-mak saja. Sangat cerewet," ketus Arum karena setiap bertemu selalu saja membuat Arum gemas.
"Harus, karena itu untuk kebaikan kamu. Segeralah masuk," ucap Yuda yang seketika meninggalkan area parkir dan tidak lupa. Lambaian tangan mengiringi kepergian Yuda hingga lelaki itu tidak terlihat.
Arum pun masuk dan tidak disangka bahwa saat dirinya akan memutar balik, seseorang sudah berdiri tegak. Menunggu kedatangan Arum yang sudah dinanti-nanti.
"Mbak Arum," sapa Laras.
"Kamu kan istrinya Dirga, mau apa kamu ke sini?" tanya Arum dengan ramah.
__ADS_1
"Iya Mbak, maaf sedikit mengganggu waktunya sedikit." Arum pun dibuat bingung karena tiba-tiba saja Laras, istri dari Dirga ingin menemuinya sedangkan ia sendiri tidak membuat masalah.
"Aku tidak ada masalah dengan suami kamu, kenapa kamu datang untuk menemuiku?" tanya Arum.
"Bukan itu yang aku tanyakan Mbak, jadi Mbak tidak perlu takut."
Hufff.
Terdengar helaan napas lega, karena memang jika Arum tidak melakukan sebuah kesalahan.
"Kita masuk saja yuk, gak enak kalau kita berbicara dengan posisi seperti ini." Arum pun langsung mengajak Laras untuk masuk ke dalam, entah apa yang ingin Laras bahas nantinya.
Saat Arum dan Laras masuk, sebuah sambutan diberikan pada keduanya, ya itulah karyawan Arum karena pada saat hendak membersihkan meja, karyawan tersebut melihat kedatangan Arum.
"Pagi, Bu!" sapa karyawan lelaki itu.
"Pagi juga, oh ya. Minta tolong buat 𝘊𝘢𝘧𝘧𝘦 𝘭𝘢𝘵𝘦𝘦 dua ya," pinta Arum.
"Baik, Bu."
Arum dan Laras sudah duduk dan kini keduanya tengah berhadapan muka. Rasanya tidak sabar untuk Arum mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Laras.
"Sekarang jelaskan, ada masalah apa sehingga kamu menemuiku?" tanya Arum dengan muka yang tidak bisa dibohongi karena sudah sangat penasaran.
"Ini bukan soal serius kok, aku cuma memastikan jika yang dibilang sama Mas Dirga adalah benar, makanya aku sengaja cari tahu." Arum yang tidak paham kini mengerutkan keningnya, semakin ke sini semakin membuat Arum penasaran dengan perkataan Dirga yang sudah disampaikan pada Laras.
"Soal apa? Jangan membuat aku semakin penasaran dengan kata-katamu. Memangnya Dirga sudah bicara apa pada kamu juga?"
"Ini tentang Mbak Anisa!"
"Memangnya kenapa dengan Anisa?"
__ADS_1