
Part 10
Melihat Alesa menarik kursi ingin duduk kembali, Saera melarang dan memerintahkan agar Alesa berdiri di samping Fasya. Alesa pun menurut walaupun dalam hati Alesa menggerutu.
Saera pamer kemesraan di depan Alesa, sepertinya Saera mengaja melakukan itu, agar Alesa sadar diri kalau Fasya hanya miliknya. Dan hanya dia satu-satunya istri Fasya.
"Sayang! Suapi dong," ujar Saera bergelayut manja, seraya matanya melirik ke Alesa.
Melihat tingkah Saera seperti anak kecil, Alesa tertawa dalam hati. Namun di tawa terasa geter, seperti ada yang nyeri di ulu hatinya.
"Dikira aku cemburu. Bodoh amat," batin Alesa mengalihkan pandangannya.
Tiga puluh menit Alesa diberi tontonan gratis yang sangat memuakkan. Pegal kaki Alesa berdiri. Rasanya Alesa mau muntah, melihat sepasang suami yang sengaja memanasinya.
"Uhuk... uhuk... uhuk," Alesa pura-pura batuk dan keselak.
Spontan Fasya menoleh ke belakang, berdiri lalu menyodorkan gelas air putih memberikan ke Alesa.
"Kamu kenapa?"
"Keselek kemesraan," jawab Alesa enteng.
"Kamu cemburu?" Tiba-tiba Saera ikut beranjak dan berdiri di samping Alesa.
"Cemburu! Cemburu sama siapa. Laki seperti dia. Ogah," jawab Alesa seraya mengibaskan tangan ke wajah Saera.
"Baguslah kalau begitu. Yuk sayang kita ke kamar." Saera menggamit lengan Fasya, mengajaknya pergi dari situ
"Dan kamu! Bersihkan meja makan," titah Saera, lalu mareka berdua secara bergandengan meninggalkan meja makan menuju ruang tengah.
"Biar bibik saja yang bereskan. Non istirahat saja," ujar Sri asisten rumah tangga Fasya, saat melihat Fasya dan Saera menghilang di balik dinding pembatas.
"Tidak apa-apa. Bik. Aku biasa kok kerja kayak begini."
Di kampung Alesa sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah, dari beres-beres halaman, beres-beres rumah, nyuci, nyetrika dan masak. Itu memang pekerjaannya, jika uminya sedang berada di warung ibu Dahlia.
Bahkan memanjat genteng Alesa pernah, memperbaiki atap rumah yang bocor. Bekerja di kebun, ikut mendodos dan mengangkut sawit pakai angkong pun dia pernah. Pekerjaan apa yang belum pernah dilakukannya, rasanya semuanya sudah.
Setelah selesai membereskan dapur. Alesa masuk ke kamar, sambil meluruskan kaki, Alesa rebahan seraya memainkan ponsel bututnya. Drama hidupnya yang baru terjadi tadi cukup membuat lelah lahir bathinnya.
Semua sudah terlanjur terjadi, Alesa sudah tidak mungkin mundur, uang sudah diterima Abdurrahman dari Fasya. Jika dia minta cerai, dan Fasya meminta uangnya kembali. Selain uangnya sudah terpakai, pengobatan abinya pun akan gagal.
Dan Alesa juga tidak mungkin pulang ke kampung, apa kata orang-orang nanti, putri dari pak Abdurraham yang disegani di kampungnya, baru satu hari menikah sudah diceraikan suami. Pastilah meraka akan beranggapan Alesa tidak bisa menjadi istri yang baik.
"Aku harus tetap berada di sini, sampai semua baik-baik saja." batin Alesa.
Beban pikiran Alesa terlalu berat, seharusnya dia sekarang nikmati indahnya usia remaja bersama teman-temannya di kampus. Namun semuanya lenyap gara-gara orang tuanya tak punya uang. Dan dia harus menikah. Malangnya lagi dia menikah dengan om-om berumur tiga puluhan delapan tahun dan sudah beristri.
Alesa tidak bisa menbayangkan, bagaimana jeleknya alibi keluarga dan tetangga dekat, jika mereka mengetahui kalau Alesa berstatus perebut suami wanita lain. Apalagi emak-emak disekitar rumah abinya sangat elergi mendengar kata-kata pelakor. Merinding bulu kuduk Alesa membayangkan tudingan-tudingan yang akan didapatkannya.
Jadi, mau tidak mau, ikhlas tidak ikhkas. Dia harus menerima pernikahan ini. Hanya ada dua pilih buat Alesa. Tetep pasrah menjadi istri Fasya yang kedua atau pergi dari rumah ini. Tapi jika dia pergi. Bagaimana kalau Fasya mencarinya ke kampung dan mengatakan kalau dia kabur, berita itu tentu sangat memalukan abi dan uminya.
"Berpikir Alesa, berpikir," gumam Alesa sambil menekan-nekan pelipisnya, hingga wajah berkerut.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Alesa menajamkan telinganya, memastikan kalau suara langkah itu berhenti di depan pintu kamar yang dihuninya.
Tok
Tok
Tok
Alesa menatap ke depan, ketukan di daun pintu itu terdengar sangat lembut. Handle pintu bergerak karena ada yang memutar dari luar. Sialnya Alesa lupa mengunci pintu.
Saat pintu kamar terkuak. Alesa bergegas meletakkan ponsel bututnya, lalu memejamkan mata pura-pura tertidur lelap. Namun, Alesa memicingkan mata, ingin memastikan siapa orang yang masuk.
"Fasya," batin Alesa.
Menyadari kalau yang datang Fasya. Tiba-tiba debar jantung Alesa berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya. Rasa gugup dan cemas bermunculan dibenaknya, kamar yang tadi adem seketika gerah, keringat mulai bertahta di dahi dan punggung Alesa.
Fasya mendekat, kemudian naik ke tempat tidur, dan duduk di sebelah Alesa. Fasya memiringkan tubuhnya ke arah Alesa, sejenak menatap tubuh wanita yang dibalut gamis dan masih memakai cadar itu.
Perlahan tangan kiri Fasya terangkat, dia bermaksud membuka niqab yang dikenakan Alesa. Sementara Alesa yang sedang berpura tidur dan mengetahui gerakan Fasya, terpaksa berakting menggeliat sempurna dan merubah posisinya membelakangi Fasya.
"Alesa Bangun! abang tahu kalau kamu hanya berpura-pura," ujar Fasya mencengkram bahu Alesa.
"Ya Allah. Apa Fasya akan meminta jatahnya," gumam Alesa lagi.
Hati dan perasaan Alesa berperang. Walaupun umur Alesa masih bau kencur, Tapi dia tahu sedikit tentang kewajiban istri dan hak suami. Jika istri menolak keinginan suami, maka sepanjang malam malaikat akan mengutuk istrinya.
__ADS_1
"Please! Para malaikat, ku mohan jangan kutuki aku," doa Alesa dalam hati.
"Alesa! Jangan lebay. Abang ke sini hanya ingin membuat kontrak perjajian pernikahan kita." Fasya memaksa Alesa berpaling padanya.
Mendengar ucapan Fasya, spontan Alesa berpaling dan bangkit, duduk di samping Fasya. Fasya menyodorkan selembar kertas yang berisi beberapa poin perjanjian. Alesa membaca perjanjian itu satu persatu yang isinya.
Fasya akan memenuhi semua biaya hidup Alesa, pengobatan abi dan biaya sekolah adiknya.
Alesa tidak boleh bercerita pada siapapun tentang pernikahan mereka.
Tidak boleh keluar rumah tanpa ijin Fasya.
Menuruti semua perintah Fasya.
5 Tidak boleh meminta pulang kampung.
"Kenapa aku tidak boleh pulang kampung? Bagaimana jika aku rindu sama abi dan umi?" tanya Alesa protes, dia keberatan dengan persyaratan terakhir.
"Gampang. Kamu bisa video call sama umi dan abi."
"Video Call, mana bisa hape aku kameranya rusak," ujar Alesa.
"Mana? Sini lihat hapemu," ujar Fasya seraya mengambil hape Alesa di tempat tidur.
"Hah! Hape seperti ini masih di pakai," ujar Fasya melempar hape Alesa ke tempat tidur
Fasya kaget melihat layar hape Alesa retak seribu. Hapenya pun samsung jadul keluaran tahun 2010. Hape seprerti layaknya masuk tong sampah.
"Aduh. Jangan dilempar," Alesa meraih benda pipih kesayangan, lalu mengusap-usap dan menekan tombol offnya, untung masih nyala.
Hape itu di belinya tiga tahun yang lalu, penuh perjuangan Alesa dapatkan, dia harus lembur ikut mengambil upah mencungkil pinang siang dan malam, baru bisa membeli hape scan itu dengan harga enam ratus ribu. Dan hapenya itu terbeli olehnya karena masa pendemi yang mengharuskan belajar secara daring.
"Kamu tanda tangani perjanjian ini, saya akan belikan kamu hape baru," titah Fasya menyerah sebuah pena.
Sekali lagi Alesha membaca perjanjian itu.
"Bolehkah aku menambah dua poin perjanjian ini?" Tanya Alesa, dia merasa perjanjian yang dibuat Fasya tak ada satu pun yang memihak padanya.
"Yang ke enam. Abang tidak boleh menyentuhku, selama aku berada di rumah ini."
"Hahaha..... Apa kau kira aku tertarik pada wanita bercadar sepertimu. Hah!"
Mendengar permintaan Alesha. Fasya tertawa, dia merasa lucu, bagaimana bisa Alesha sepede itu, kalau Fasya akan tertarik padanya.
"Jangan mimpi Alesha. Aku tak akan pernah meminta hakku padamu." ujar Fasya menegaskan.
"Syukurlah kalau begitu. Berati aku boleh menambahkan poin ke enam di perjajian ini."
"Tidak perlu. Kamu tidak usah khawatir, aku akan menepati kata-kata ku. Kalau aku sampai kapan pun tidak akan tertarik padamu. Camkan itu!" Tegas Fasya.
"Satu lagi apa?" Tanya Fasya.
"Ijinkan aku kuliah," jawab Alesa.
"Oh, kalau itu gampang. Besok aku pastikan kamu sudah bisa ke kampus."
"Serius," ujar Alesa, matanya berbinar bahagia, dia sama sekali tak pernah membayangkan kalau bisa memijakkan kaki di kampus.
"Baiklah kalau begitu," ujar Alesha seraya meraih tangan Fasya dan meletakkan di atas kepalanya.
"Bersumpahlah demi Saera istrimu, kalau abang tak akan menyentuhku dan mengijin aku kuliah."
"Baik. Aku akan mengijin kamu kuliah dan tidak akan menyentuhmu selama kamu berada di rumah ini," ujar Fasya dengan yakin.
"Abang yakin dengan sumpah abang?"
"Sangat yakin, kan aku sudah bilang tadi, tidak akan tertarik padamu. Anak kecil," ujar Fasya seraya mencuil hidung Alesha.
"Lihat saja. Apa kau benar-benar tak tertarik padaku," batin Alesha.
"Ayok cepat tanda tangan," ucap Fasya membuyarkan lamunan Alesha.
Tangan Alesha menari di atas kertas putih dan dia membubuhkan tanda tangan di atas materai sepuluh ribu.
"Besok pagi cepat bangun. Siap-siap aku akan mengantarmu ke kampus."
__ADS_1
"Besok? Aku sudah ngampus?"
"Iya! Aku sudah daftarkan ke salah satu kampus swasta di kota ini. Sebelum kamu memintanya dan itu janji aku pada abi waktu akan membawamu ke Pekanbaru."
"Terima kasih. Bang!" ucap Alesa seraya berlonjak girang, spontan memeluk Fasya. Saking gembiranya, Alesa jadi lepas kontrol.
"Ini bukan aku yang menyentuhmu ya," bisik Fasya di telinga Alesa. Kesempatan itu malah dimanfaatkan Fasya mendekap tubuh mungil Alesa.
"Abang!"
Terdengar suara Saera yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar, menatap Fasya dan Alesa yang sedang berpelukan secara bergantian.
"Apa-apaan ini!" Saera menarik tangan Alesa, hingga pelukannya terurai.
"Dasar perempuan murahan! dia yang memeluk abang," ucap Fasya menjelaskan ke Saera, dia tidak mau kalau istrinya itu salah paham.
"Awas! kalau berani dekat-dekat dengan suamiku," Saera menarik tangan Fasya memaksanya ke luar dari kamar Alesa.
"Ye... Aku cuman pinjam sebentar," jawab Alesa.
Tentu saja jawaban Alesa menjadi bomerang bagi Saera, dengan cepat Saera mengangkat tangannya ingin menyerang Alesa, spontan Alesa mengelak, karena sudah menyadari, kalau Saera akan arogan padanya.
"Awas! Kalau berani menggoda suamiku," ancam Saera.
"Dia suamiku juga," ujar Alesa lagi, seraya menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Awas kau Alesa!" Teriak Saera sambil menggedor-gedor pintu kamar.
"Sudah! Jangan ladani gadis kecil itu," ujar Fasya merengkuh bahu Saera.
"Abang! Awas kalau ke kamar Alesa lagi," ketus Saera merajuk.
"Janji! Tak akan ke kamar Alesa lagi," ujar Saera lagi dengan wajah ditekuk, Saera mengangkat jari kelingkingnya.
"Iya. Janji," ujar Fasya menautkam jari kelingking ke jari Saera.
Sementara Alesa bersorak gembira, dia melompat-lompat di atas tempat tidur, rasa takut dan cemas yang tadi bergelayut di hatinya buyar begitu saja. Paling tidak apa yang dipikirnya tentang Fasya yang akan meminta haknya. Tidak benar.
Untuk sementara Alesa merasa aman, dia tidak perlu was-was harus memenuhi kewajiban sebagai istri Fasya. Dia merasa bebas sekarang, beban yang terasa berat sudah terasa plong.
Seraya merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Alesha meraih ponsel bututnya mengecek beberapa pesan whatsapp yang masuk.
(Selamat berbulan madu dan jangan lupa share pengalamannya) ujar Meka sahabatnya di kampung dalam goresan chat yang diakhiri dengan emoji love. Alesa hanya membalas emoji ngakak chat dari Meka.
(Assalamualaikum) masuk chat baru dari nomor Bambang.
Deg... Jantung Alesa berdetak kencang saat membaca ucapan salam dari kakak kelasnya yang sudah satu tahun tak bertemu dengannya. Ah baru ucapan salam sudah membuat Alesa bahagia. Bagaimana kalau ungkapan cinta, bisa-bisa Alesa strok ringan.
"Tumben Bambang ngechat," batin Alesa.
(Waalaikum salam) Alesha mengirim balasan chat Bambang. Tiba-tiba hatinya bertaburan bunga-bunga love.
(Apa kabar?kamu sudah luluskan Sa? Kuliah di mana?) masuk lagi chat dari Bambang.
Ternyata Bambang hanya menanyakan status alesa. Apakah dia sudah menjadi mahasiswa. Ada bias kecewa di wajah Alesa.
"Alesa! Kamu yang terlalu berharap, selama ini Bambang terlihat biasa saja padamu," batin Alesa mengurut dadanya yang sedikit sesak, mengingat kalau dia bertepuk sebelah tangan.
(Belum tahu. Bang! masih nyari kampus yang cocok dan murah) jawab Alesha sekenanya.
(Semoga dapat kampus yang sesuai ya) balas Bambang lagi.
(Aamiin, terima kasih) jawab Alesa.
(Maaf Bang. Alesha off dulu ya)
Alesa sudah tak niat meneruskan chatnya, dia juga tidak ingin tahu kabar dan di mana Bambang kuliah, karena semua yang berhubungan dengan Bambang akan membuatnya bimbang.
"Kamu harus move on dari Bambang. Alesa!" batinnya lagi.
(Tunggu. Sa! Bolehkah abang menelponmu sebentar).
(Maaf! Sa sudah ngantuk) balas Alesha, lalu mematikan data selulernya.
Alesa mendekap ponselnya. Bayang wajah Bambang tiba-tiba lekat mengusiknya. Sudah satu tahun di tidak pernah bertemu laki-laki itu, laki-laki yang telah mengusik hari-harinya. Tiba-tiba dua bulir kerinduan menetes di sudut netranya.
"Aku cinta kamu," batin Alesa.
Bersambung
__ADS_1